
Ara semakin tak habis pikir dengan ucapan Gerry, memang benar jika itu bukan pekerjaannya namun jika tahu, mengapa lelaki itu membelikan makanan untuknya?
"Jika kau tahu, mengapa membelikan makanan dan memaksa ku makan? Itu kan bukan pekerjaan mu!"
"Iya terserah saya!"
Ara dengan tenang mengatur nafasnya "Sabar Ara, sabar! Bunga, mengapa kau memperkerjakan orang aneh dan menyebalkan seperti ini?" Ingin rasanya Ara berteriak, namun ia sadar ini adalah kantor. Orang bisa mengira ia orang gila
Dengan perasaan emosi yang tak terkendali, Ara memutuskan untuk makan saja.
"Terserah kau, menyebalkan!"
Gerry menahan tawanya, sungguh ia menikmati perkelahian kecil di antara keduanya. Walau Gerry orang yang begitu dingin, namun ia juga sangat usil jika merasa sudah dekat.
Sedangkan Ara, uring-uringan mendapatkan teman kerja seperti Gerry.
Mengapa Gerry satu ruangan dengan dia? Padahal tugasnya menjadi asisten pribadi Bunga. Seharusnya ia di rumah untuk menemani Bunga, namun tidak! Gerry tetap di kantor dan menganggu Ara setiap hari
Setelah selesai makan, Ara pun merapikan semua bungkusan dan membuangnya ke tong sampah. Ia mengingat rambutnya yang panjang agar tidak berantakan kemana-mana.
Ara keluar ruangan, Gerry yang sudah selesai dengan pekerjaannya mengikuti tanpa sepengetahuan Ara
"Sungguh menyebalkan! Namun tidak apa-apa, setidaknya aku bisa lepas dari lelaki aneh itu. Bodoh sekali aku ya, kenapa merasa Dag Dig Dug ser saat bersamanya. Ah sekarang tidak lagi!"
Ara mendumel dalam perjalanannya, langkahnya juga terburu-buru kesal. Karyawan menegur dan memberikan hormat, walau dirinya kesal ia tidak pernah melampiaskan kekesalannya kepada orang lain.
Ia pun membalas senyuman dan menyapa karyawan.
"Lihat lah, semua orang sangat ramah kepada ku. Namun mengapa lelaki satu itu begitu menyebalkan! Selalu saja ingin mengajak bertengkar!"
Ara sampai di tempat minuman yang ia inginkan
"Bu, saya mau redvelvet ya satu, terus Boba taro ya Bu satu,"
"Saya juga Bu!"
Ara mendengar suara yang tidak asing baginya, ia menoleh ke belakang
"Kau! Kau mengikuti ku?"
Pria itu adalah Gerry "Mengapa kau mengikuti ku sampai sini?"
"Tidak! Saya memang ingin ke sini!"
"Alasan!"
__ADS_1
"Terserah!"
Gerry menjauh, mencari tempat duduk yang sangat nyaman menurutnya. Sebelum pergi, ia datang lagi
"Bu, yang bayar punya saya nona ini ya?"
Mata Ara terbelalak, bagaimana bisa Gerry memintanya untuk membayar minumannya?
"Kau gila? Seharusnya kau yang traktir aku, kenapa sekarang meminta traktiran padaku?"
"Lelaki macam apa kau ini?"
Ara semakin mendidih dengan Gerry, namun pria itu tetap santai
Ara tersenyum, ia seakan memikirkan ide untuk memberikan pelajaran kepada Gerry
Ia melihat sekeliling, jam istirahat tentu saja membuat restauran itu sangat ramai.
"Huhu, aku memang tidak beruntung. Memiliki pacar yang selalu menghabiskan uang ku padahal ini sudah tanggal muda, namun ia menyimpan gajinya dan menghabiskan uang ku huaaaaaaaa!"
Gerry panik dan syok melihat Ara yang menangis, seperti anak kecil di lantai dengan menggesekkan kedua kakinya
"Nona apa yang anda lakukan? Bangun lah!"
"Huaaaaaaaa, kamu jahat. Kamu menghabiskan uangku, bahkan untuk minum saja kamu menyuruh ku bayar, Sayang. Dan kamu mengancam jika aku tidak membayar punya mu maka kau akan memutuskan hubungan kita huhu, huaaaaaaaa,"
Gerry begitu malu dengan perbuatan Ara, bahkan tidak sedikit yang memberikannya cibiran pedas
~Lelaki tidak bermodal!
~Wajahnya saja yang tampan namun tidak ada modal untuk membeli minumannya pasangannya yang membayar!
~Hey, kau ini pria mengapa kau sangat buruk kepada wanita?
~Iya, kau membuat dia merasa sedih, lelaki seperti apa kau?
Bahkan ada yang menyiram Gerry dengan minuman, Ara menahan tawanya. Ia masih berakting menangis
Gerry mulai kesal, ia pun membayar tagihan itu. Lalu menarik tangan Ara pergi dari sana
"Huaaaaa! Lihat lah, ia pasti ingin memukul aku. Kalian siapa pun, tolong lah aku wanita yang tak berdaya ini huaaaaaaaaaa!" Ara semakin berteriak, menangis di buat-buat, untuk Gerry di berikan pelajaran.
Gerry memutar otak, jika ia tetap keras orang akan memukulinya.
"Sayang, apa yang kamu katakan? Ayo, kita pulang. Maaf ya, tadi tidak memberimu minum obat. Semuanya saya mohon maaf dengan kekacauan yang terjadi, namun pacar saya ini habis keluar dari rumah sakit jiwa. Saya lupa memberikan obat yang telah dokter suruh makanya ia bertingkah seperti ini,"
__ADS_1
Mata Ara terbelalak, ia pun menghentikan tangisannya
"Apa aku tidak salah dengar? Ia mengatakan aku tidak waras? Kurang ajar!" Batin Ara, Gerry memeluk Ara dan membawanya pergi dari tempat itu
"Tuan, tunggu! Ini minuman kalian!" Penjual memberikan minuman yang sudah ia bungkus kepada Gerry, ia pun mengambilnya dan tak lupa mengucapkan terimakasih banyak
~Astaga, ternyata wanita itu tidak waras
~Kasihan ya? Masih muda dan cantik namun mengalami gangguan jiwa
Gerry menahan tawanya, Ara terlihat kesal. Kini, ia yang merasa malu karena di sangka tidak waras oleh orang lain.
Setelah sampai di dalam kantor, Gerry menatap Ara dengan sorotan yang tajam
"Apa? Kenapa kau melihat ku seperti itu? Lepaskan tangan mu dari ku!"
Sebenarnya Ara sedikit takut, namun ia tidak memperlihatkan ketakutannya
"Apa yang sudah nona lakukan? Anda membuat saya malu!"
"Hahaha!"
Gerry mengerutkan dahinya, bukannya merasa bersalah. Ara malah tertawa, sambil menikmati redvelvet yang ada di tangannya
"Apakah ini sebuah lelucon nona?"
Ara mengangguk "Iya, itu anggap saja pelajaran untuk mu karena sudah menyebalkan. Dan kau, meminta ku untuk membayar tagihan mu bukan? Ya sudah, aku sudah membayarnya haha!"
"Dasar tidak waras!"
"Apa katamu?" Ara berkacak pinggang, menantang Gerry "Lagipula, itu hukuman untuk orang menyebalkan seperti mu bung!"
Ara menunjuk tangannya kepada Gerry dengan satu tangan di pinggang, dan tangan satu lagi menunjuk ke arah pria itu. Sorotan mata Ara juga menantang, Gerry hanya menggelengkan kepalanya.
Ia berlalu pergi untuk membersihkan diri, tubuhnya sudah lengket karena minuman manis yang di siram oleh salah satu orang di restauran
Namun bukannya marah, Gerry tersenyum tipis. Mengingat kejadian di restaurant itu membuat dirinya merasa lucu
Untuk pertama kalinya ia mengenal wanita nekat dan tidak memiliki rasa malu di depan semua orang. Ara bersikap seperti anak-anak dengan wajah lucunya.
Setelah Gerry pergi, Ara merasa sedikit bersalah. Namun ia menepis rasa bersalah itu, "lagian siapa suruh ia membuat ku kesal! Jika dia berani membuat ku kesal, aku akan memberinya pelajaran lagi!"
Gerry masuk ke dalam ruangan kembali "Apa? Ngapain masuk lagi?"
"Mau mengambil semua es ku, kan saya yang bayar!" Bahkan Gerry mengambil es yang ada di tangan Ara
__ADS_1
"Hey, kau ini kembali kan es ku!"