
"kenapa sih kamu selalu aja membela orang-orang yang jahat sama mu Bunga? Dan selalu saja menyalahkan aku! Padahal aku seperti ini karena aku menyayangi mu, aku tidak ingin sahabat ku di sakiti oleh orang-orang!"
Ara yang kehilangan selera makan, langsung pergi meninggalkan meja makan. Bunga pun merasa bersalah, memang benar jika Bunga terlalu keras kepada Ara.
"Mami, Ara sekarang marah sama Bunga,"
Salvira mencoba menenangkan anaknya "Sudah lah sayang! Kamu jangan memikirkan yang tidak-tidak mungkin Ara sedang mengalami menstruasi atau pekerjaan di kantor yang membuatnya pusing, jadi sangat mudah tersinggung. Dia hanya sedang salah paham saja. Sudah ya?"
Salvira membelai rambut anaknya, ia pun mengajak Bunga untuk makan bersama lagi "Sayang, kamu makan dulu ya? Mami mau bicara sama Ara,"
"Mami tunggu!" Bunga mencegah maminya yang ingin menemui Ara "Kenapa sayang?"
Bunga memohon kepada maminya untuk tidak memikirkan Ara lagi "Mami, Bunga mohon agar mami tidak memojokkan Ara lagi ya? Bunga takut jika ada semakin salah paham,"
Salvira tersenyum kepada anaknya "Kamu jangan khawatir sayang! Mami tidak akan mengatakan hal yang membuat Ara sedih, kamu tenang saja ya?" Bunga mengangguk, mempercayakan segalanya kepada sang mami..
Laras yang melihat pemandangan di depannya hanya diam saja, tidak ada respon sama sekali. Dirinya kebanyakan melamun, Bunga menoleh ke arah ibu mertuanya "Biasanya mama selalu ada respon jika ada keributan, namun sekarang mama lebih banyak diam," batinnya dengan sedih.
Entah sampai kapan Laras bisa kembali pulih seperti dahulu, namun yang pasti Bunga selalu berdoa agar mamanya bisa kembali seperti dahulu
"Bunga ingin mama seperti dahulu lagi," gumamnya dengan pelan, Laras menatap menantunya tanpa mengatakan apapun
Ia dengar apa yang menantunya katakan, namun mulutnya tidak bisa mengatakan satu kata pun. Laras memutuskan untuk kembali ke kamarnya, Bunga tidak mencegah karena menurutnya itu yang terbaik untuk ibu mertuanya
"Mama mungkin membutuhkan waktu untuk sendiri," ujarnya kembali.
******
Di kamar, Ara menyeka air matanya yang membasahi pipi saat mendengar langkah kaki masuk ke kamarnya. Mendekat dan duduk di sampingnya "Sayang,"
"Mami, Ara tahu jika Bunga anak mami. Dan,"
"Hei! Kenapa kamu mengatakan itu? Memangnya kamu tidak menganggap mami sebagai mama kamu?"
Ara menoleh ke arah Salvira dengan mata yang berkaca-kaca, Salvira memegang kedua pipi Ara, lalu mengecup keningnya "Kan mami selalu katakan kepada kamu, jika kamu ini juga anaknya mami! Kamu dan Bunga adalah kedua putri mami. Mengapa kamu mengatakan itu?"
Ara tidak menjawab, ia hanya terisak. Sesekali keluar cairan putih dari lobang hidungnya. Bahkan Salvira tidak merasa jijik membersihkannya menggunakan tissue.
Ara menatap Salvira "Mami, mengapa Bunga menganggap Ara sebagai orang jahat? Sebagai musuhnya, sedangkan orang-orang yang jahat kepadanya selalu saja ia lindungi,"
"Sayang, bukan begitu maksud kakak kamu! Bunga hanya tidak ingin, kamu memiliki sifat pembenci kepada orang lain! Sayang, kamu tahu bagaimana Bunga bukan? Dia sangat tidak bisa melihat orang lain menderita, dan kita tahu jika Ade juga baru kehilangan janinnya. Mungkin saja Bunga merasa sedih dan kehilangan, ia selalu bisa merasakan kesedihan orang lain!"
"Tapi mami, mengapa selalu saja begitu? Bahkan Bunga selalu menyalahkan aku! Memangnya aku tidak bisa membela sahabat yang Ara anggap saudara Ara sendiri?"
Salvira menggeleng "Tentu saja tidak dong sayang! Dan keputusan kamu sudah tepat, kamu selalu melindungi orang-orang terdekat dan tersayang kamu,"
"Mami, Ara pernah bodoh dan tidak berdaya. Bukan tidak berdaya, namun mereka begitu kejam menyiksa Ara. Mereka menyiksa Ara tanpa hati nurani. Dan Ara tidak mau apa yang Ara rasakan dirasakan oleh Bunga, iya mungkin mereka tidak menganiaya Bunga seperti Ara dahulu. Namun Ara tidak mau Bunga menderita, Ara sangat menyayangi Bunga,"
Salvira langsung memeluk Ara, ia juga tahu jika ada menjalani kehidupan dengan sangat menyakitkan "Sudah lah sayang! Kamu jangan mengingat hal-hal yang akan menyakiti kamu. Biarkan itu menjadi masa lalu, jangan kamu ingat-ingat lagi oke?"
Ara terisak di pelukan Salvira, Bunga yang mendengar semuanya pun berjalan perlahan mendekati Ara "Ara, maafkan aku!"
Salvira dan Ara saling melepaskan pelukan satu sama lain, melihat ke arah Bunga yang menghampiri "Maafin aku, seharusnya aku berterimakasih kepada mu. Karena selalu membela dan melindungi aku. Namun nyatanya aku justru sering memarahi mu,"
"Tidak apa-apa Bunga, mungkin aku yang keterlaluan. Maafkan aku, karena tadi aku pergi sebelum menghabiskan makanan,"
Mereka kembali Akur, seperti anak kecil yang bertengkar sebentar lalu berbaikan kembali.
__ADS_1
"Begitu dong! Anak-anak mami harus akur semuanya, enggak boleh ada yang bertengkar, jika kalian akur kan mami sangat senang melihatnya."
Ketiganya pun berpelukan dengan penuh cinta dan kasih sayang "Terimakasih Ara karena kamu selalu melindungi dan menjaga ku,"
"Sama-sama, maaf jika menjagamu seringkali cara ku salah. Dan membuatmu merasa tidak nyaman,"
"Tidak Ara!"
********
Ade tidak sengaja bertemu dengan Jasson, karena rumah orang tua Jasson tidak jauh dari rumah Bunga "Untuk apa kau ke sini? Mau mengemis meminta balikan kepada ku? Haha, aku tidak sudi balikan dengan wanita hina seperti mu!"
Ucapan Jasson sungguh pedas dan melukai hatinya, bagaimana bisa lelaki yang sangat ia cintai tega mengatakan hal yang begitu menyakitkan untuknya? Namun Ade menahan emosinya, ia tidak mau menangis di depan Jasson karena itu akan membuat pria itu semakin merendahkannya
Tanpa menghiraukan Jasson, ia tetap berjalan melewati Jasson, namun lelaki itu tidak terima. Ia mencengkram tangan Ade dengan kuat "Kau sudah membuat rumah tangga ku hancur dengan Bunga, dan sekarang kau ingin pergi begitu saja? Mungkin kau kehilangan anak Karena Azab dari semua perbuatan mu,"
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah Jasson, Ade yang sedari tadi menahan emosinya kini tidak dapat menahannya lagi "Hentikan semua omongan hina mu Jasson! Jika aku hina, lalu kau apa?"
Ade bertanya dengan nada yang gemetar, namun ia tidak menyangka jika lelaki yang ia kenal begitu penuh kasih dan sayang bisa menjadi lelaki yang sangat kasar
Jasson tersentak sinis, bahkan tatapannya kepada Ade penuh dengan kebencian. Rasa kecewanya seketika berubah menjadi kebencian dalam satu hari.
"Lebih hina kau, yang bisa tidur dengan lelaki lain saat kau menjadi istri ku!"
"Ha-ha-ha! Kau seperti berbicara kepada diri mu sendiri Jasson! Sebelum menghina dan menghakimi seseorang kau mengacalah! Apa tidak ada kaca di rumah baru mu? Lihat diri mu sendiri! Bagaimana hinanya kau! Saat sudah menjadi suami Bunga. Kau sering menikmati tubuh ku, kita tidak ada bedanya!"
Jasson mengerang-kan rahangnya dengan geram namun hal itu tidak membuat Ade takut sama sekali
"Aku mungkin memang wanita hina, aku sudah merebut suami orang lain. Namun aku sadar dengan kelakuan ku, tidak seperti mu yang sok suci padahal tidak jauh beda dari aku!"
Jasson mengendalikan amarahnya, ia segera pergi meninggalkan wanita itu sendirian.
Saat Jasson pergi, Ade menjatuhkan tubuhnya di atas aspal, ia menangis menahan kesakitannya.
Ia sangat tidak menyangka lelaki yang selama ini menjaga dan menyayanginya bisa berubah menjadi orang yang sangat jahat, ucapan Jasson sangat menyakiti hatinya. Apakah tidak ada perasaannya sedikit pun? Bahkan saat tahu Ade baru saja kehilangan anaknya.
Kemungkinan besar, anak itu adalah anak Jasson. Karena Ade lebih sering menikmati waktu dengan Jasson daripada Eyden. Hanya sekali dan itu tidak sengaja!
Terlihat mobil mewah yang mendekat ke arah Ade, wanita itu segera bangkit dan menyeka air matanya saat mobil berhenti di depannya.
Itu adalah Eyden, Eyden langsung turun dan berlari mendekat ke arah Ade "Ade, apa yang terjadi? Mengapa kau di sini?"
Wanita itu tidak menjawab, Eyden langsung meminta wanita yang ia cinta masuk ke dalam mobil. Eyden membantu Ade untuk bangkit "Ayo aku akan mengantarkan mu pulang!"
Ade pun ikut bersama Eyden untuk masuk ke dalam mobil. Namun saat Ade ingin masuk Jasson kembali datang dan menghinanya
"Lihat lah kau memang wanita murahan! Bahkan di saat aku baru menalak mu kau sudah kesan dengan selingkuhan mu! Dasar pelacur!"
Ade hanya memejamkan matanya, menahan sakit ucapan Jasson yang begitu pedas. Eyden yang tidak terima dengan hinaan yang Jasson berikan kepada Ade langsung memukulnya dengan kasar
"Dasar lelaki tidak berguna, kau jika ingin menghina ku! Hina saja aku, namun jangan dia! Wanita yang aku cintai,"
Ade mendengar ucapan Eyden, dan merasa bersalah. Lelaki yang selama ini ia abaikan justru dengan sadar membela dirinya.
Ade pun segera menarik tangan Eyden "Sudah lah Eyden! Lebih baik kita pergi sekarang! Tidak ada gunanya meladeni lelaki yang tidak punya hati sepertinya!"
__ADS_1
Eyden pun mendengarkan ucapan Ade, mereka langsung masuk ke dalam mobil.
Bahkan Eyden dengan sengaja ingin menabrak lelaki yang sudah menghina wanita yang ia cintai. Namun Ade melarangnya "Jangan Eyden! Aku tidak mau kau masuk penjara karena dia!"
Hal itu membuat Eyden kembali tenang dan mendengarkan ucapan Ade. Keduanya pun berlalu pergi dari tempat itu.
I******
Jasson sangat kesal, ia bahkan tiada hentinya mencaci Ade. Egonya merasa terhina dengan perbuatan Ade padahal dahulu apapun akan di lakukan Jasson untuk wanita itu. Bahkan, ia tidak mendengarkan ucapan mamanya sendiri hanya karena wanita itu. Namun balasan Ade sangat menyakiti egonya
"Aku akan membuat hidup mu sengsara Ade, seperti yang kau lakukan kepada ku! Aku tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan yang sudah kau lakukan kepada ku!"
Jasson seakan tidak berkaca perbuatannya selama ini kepada Bunga. Tidak jauh berbeda dari Ade, bahkan Jasson jauh lebih kejam memperlakukan Bunga istrinya itu
*****
"Kenapa kamu diam saja saat dia menghina mu?" Eyden terlihat gusar, apalagi saat melihat Ade menatap luar jendela dengan air mata yang terus berlinang. Eyden pun menyeka air mata Ade "Tolong jangan menangis! Aku tidak bisa melihat mu menangis, aku sangat menyayangi mu Ade! Kau adalah kebahagiaan ku, dan aku tidak bisa melihat mu menderita seperti ini!"
"Mengapa kau sangat baik kepada ku Eyden? Padahal aku selalu saja ketus dan jahat kepada mu?"
Ade memberanikan diri untuk menoleh dan menatap wajah Eyden, keduanya kini begitu dekat. Terlihat tatapan teduh dari Eyden untuk Ade.
"Karena aku mencintaimu, dan aku akan selalu mencintai mu. Aku akan menjaga dan mengutamakan kebahagiaan mu," Eyden merapikan rambut Ade yang berantakan.
Begini kah caranya di sayang dan di ratukan oleh seseorang dengan tulus? Bahkan walau Ade tidak pernah membalas semua pengorbanan Eyden, lelaki itu tetap saja mencintainya.
"Aku akan selalu menjaga mu Ade, sampai kapan pun itu!"
"T--tapi, kau tahu jika aku tidak mencintai mu?"
Eyden tersenyum "Aku tdiak perduli apakah kau mencintai ku atau tidak! Tapi yang pasti,.aku mencintai mu dan sangat mencintai mu. Aku tidak butuh balasan cinta dari mu,"
Jantung Ade berdegup dengan kencang. Bahkan tangannya gemetar, namun ia menyembunyikan groginya dari Eyden.
"Ak-aku tidak pantas untuk mu Eyden! Aku hanya lah janda, dan aku sangat,"
"Hust! Jangan mengatakan apapun lagi! Kau sangat berharga untuk ku, kau adalah Ratu di hatiku. Dan aku tidak perduli dengan semua masa lalu atau perbuatan mu. Aku hanya tahu, wanita yang aku cintai sangat berharga dan aku akan menjaganya. Tidak perduli, apakah perasaan ku di balas atau di abaikan. Karena itu resiko ku mencintai mu!"
Ucapan Eyden sungguh membuat Ade merasa terharu bahkan walau ia sudah menjalin hubungan yang begitu lama dengan jasson, ia tidak pernah mendengar kata-kata seperti itu dari mulut Jasson..
Setelah melihat senyuman dari wajah Ade, Eyden kembali ke posisi awalnya. Ia melajukan pegal gasnya untuk mengantarkan Ade pulang ke rumah.
Di perjalanan,tidak ada pembahasan apapun hanya hanya hening kediaman, Eyden menghidupkan lagu romantis dari mobilnya, nada itu membuat pikiran Ade jauh lebih tenang bahkan ia melupakan ucapan Jasson yang sangat buruk baginya
******
Mereka sudah sampai di rumah "Tunggu sebentar!" Eyden turun terlebih dahulu dari mobil, berlari menuju pintu mobil yang sedang Ade tempati.
Ia segera membuka pintu mobil dan mempersilahkan Ade untuk turun
Tidak lupa wanita itu mengucapkan terimakasih banyak kepada Eyden "Terima banyak Eyden!"
Pemandangan itu di lihat oleh Ratu, hatinya sangat sesak namun ia sudah berjanji akan melupakan Eyden dan merelakan lelaki yang ia cintai demi kakaknya. Baginya saat ini kebahagiaan kakaknya jauh lebih penting dari apapun
"Perasaan ku tidak penting, aku senang kakak bisa tersenyum lagi seperti ini," gumamnya. Ia pun menyambut kehadiran kakaknya dengan Eyden.
"Wah, ada yang habis jalan-jalan nih!" Ratu menggoda kakaknya namun Ade mengatakan jika dia dan Eyden tidak sengaja bertemu "tidak ratu! Kakak dan Eyden tidak sengaja bertemu di jalan. Dan Eyden menumpangkan kakak naik di mobilnya,"
__ADS_1
Ratu berterimakasih kepada Eyden "Terimakasih kak, karena sudah mengantarkan kakak ku pulang! Kalian memang cocok sekali!"
Ratu mengedipkan salah satu matanya, dengan penuh canda. Padahal hatinya sangat sakit dan terluka. Namun demi kebahagiaan kakaknya, ia harus membunuh perasaanya kepada Eyden jauh-jauh