
Ara merasa terharu, saat ia tidak memiliki siapapun lagi namun Bunga dan maminya dengan besar hati menerima ia.
"Jangan menangis Ara! Mami yakin jika kamu bisa menjaga kakak kamu!"
"Tapi, mami jangan lama-lama ya perginya. Bunga dan Ara sangat membutuhkan mami!"
Salvira berjanji kepada Ara akan segera kembali jika urusan bisnisnya telah selesai. Namun berat sekali baginya untuk melepaskan anaknya
"Sayang, kamu janji ya dengan mami harus menjaga Bunga bagaimana pun yang terjadi nantinya,"
Ara mengangguk ia berjanji akan menjaga Bunga sebisanya "Ara janji mami?"
"Mami harus siap-siap dulu!"
Ara pun mengangguk, Bunga yang sudah selesai berpakaian dengan rapih kini kembali ke bawah bersama suaminya Jasson
"Bunga sayang, mami harus pergi penerbangan bisnis. Kamu jaga diri baik-baik ya nak? Dan Jasson tolong kamu jagain istri kamu dengan baik. Kamu tidak usah memikirkan kantor, biar kantor akan di handle oleh Ara dan Gerry. Kamu fokus di rumah saja menjaga istri kamu. Dan ingat pesan mami ya nak, jangan dulu membawa istri teman mu!"
"Maksud mami apa?" Bunga bertanya kepada maminya "Tidak sayang, kemarin Jasson meminta izin kepada mami untuk istri dari temannya itu tinggal bersama kita, karena suaminya bertugas. Namun mami tidak memberikan izin karena saat kondisi kamu seperti ini tidak baik!"
Kurang ajar! Dasar lelaki tidak tahu malu! Bisa-bisanya ia meminta izin kepada mami untuk membawa pelakor itu ke rumah! ~batin Ara
Wanita itu geram, "Iya yang mami katakan itu memang benar, wanita itu hanya orang lain. Enggak baik tinggal di sini, nanti bisa-bisa jadi pelakor lagi haha!"
"Ara sayang, kamu enggak boleh menuduh orang seperti itu ya nak?"
"Tidak menuduh mami, tapi apa salahnya jika kita lebih waspada. Iyakan Tante Laras?" Ara menyindir mamanya Jasson..
Laras dengan gugup pun mengangguk, apalagi yang bisa ia katakan "Iya mi, Bunga juga kurang setuju jika wanita itu tinggal di sini. Maafkan aku Jasson, walau kamu mengatakan pada ku jika aku dekat dengannya namun aku tidak memiliki perasaan atau ikatan apapun seperti aku dengan Ara. Aku tidak nyaman, aku sendiri pun tidak tahu kenapa tapi,"
Bunga terdiam sejenak. Untuk memastikan segalanya, ia harus membawa wanita itu masuk ke dalam rumah ini
"Namun tidak apa jika tinggal dengan kita!"
Ara kaget mendengar ucapan Bunga "Apa yang kamu katakan Bunga? Mami saja tidak setuju!"
"Tapi apa salahnya? Lagipula, aku dan wanita itu dekat bukan? Apa tidak terlalu jahat melarangnya tinggal di sini dan membiarkan ia sendiri di rumahnya?"
Karena permintaan Bunga, akhirnya Salvira pun setuju "Jika Bunga merasa seperti itu, baik lah! Kamu bisa membawa istri teman mu ke sini. Mungkin saja bisa menjadi teman Bunga,"
Ara merasa gusar, mengapa Bunga melakukan itu namun ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan sahabatnya
"Apakah aku harus memukul kepalanya dengan batu besar agar ingatannya bisa kembali?" Batin Ara yang terlihat sangat gusar
"Ara sayang, kenapa kamu terlihat cemas?"
"Ce-cemas? Tidak mami, Ara tidak cemas. Ara akan menghargai setiap keputusan kalian, lagipula Ara di sini hanya lah menumpang,"
"Awssshhh! Pedassss!" Ara kepedasan saat Salvira memasukan sambal ke dalam mulutnya
Ara segera minum, ia pun protes dengan manja "Hua! Pedas mami Hua...! Hua... Kenapa mami memberikan Ara sambal?""
"Sudah berapa kali mami katakan jika kamu juga anak mami. Jadi kamu berhak di rumah ini, kamu dan Bunga adalah anak mami dan tidak ada yang bisa mengatakan kamu hanya menumpang di sini. Mengerti? Sekali lagi kamu mengatakan itu, mami enggak akan segan-segan menghukum kamu!"
Ara kembali terharu, bahkan Salvira mengatakan itu didepan semua orang. Bunga pun tersenyum bahagia, ia tidak merasa keberatan sama sekali
"Aku senang memiliki saudara seperti mu!"
"Aku juga Bunga!"
Jasson dan Laras terdiam, mereka tahu jika Ara tidak akan tinggal diam dengan adanya Ade yang kembali masuk ke rumah itu.
__ADS_1
Aku berharap, jika ia tinggal di sini maka aku akan mendapatkan bukti ~batin Bunga
Jasson bingung mengapa tiba-tiba Bunga meminta agar Ade tinggal bersama mereka
"Tapi menurut Jasson lebih baik tidak usah mi, karena Jasson tidak enak hati. Jasson sudah mengatakan kepada suaminya untuk ia tidak tinggal di sini!"
Bel rumah Bunga berbunyi, saat Jasson ingin membuka pintu Bunga sendiri yang ingin membukakan pintu "Sudah biar aku saja!"
Ia bangkit membuka pintu, Bunga melihat sosok wanita cantik bertubuh ideal. Sosok itu tidak asing untuknya "Hai, kamu Ade bukan? Istri temannya Jasson yang tempo lalu datang untuk menjenguk aku?"
Ade pun menganggukkan kepalanya "Iya, aku Ade. Gimana kabar kamu? Udah membaik?"
"Sudah cukup baik, namun aku belum bisa mengingat semuanya."
"Aku turut prihatin," mata Bunga tertuju pada tangan Ade yang penuh hiasan seperti baru menikah.
Bukan kah ia sudah lama menikah? Lalu hiasan tangan ini? ~batinnya
Namun Bunga menepis pertanyaan yang ada di dalam benaknya "Masuk lah!"
Ade langsung masuk ke dalam rumah. Jasson terkejut melihat istri keduanya datang "Jasson, ini ada tamu!"
Ara yang melihat wajah pelakor itu membuat darahnya mendidih! "Kau!"
Ara segera bangkit, membuat Salvira, David dan Bunga kebingungan "Ara, ada apa sayang?" Salvira bertanya dengan bingung, membuat Ara langsung tersadar
"Ti-tidak mami! Ara tadi mau bilang, kau hai apa kabar!" Berpura-pura seakan sudah akrab dengan wanita itu
Ade bahkan tidak berani menatap wajah Ara "Ayo duduk lah!"
Ade duduk, ia menatap Jasson dengan sinis. Jasson masuk ke dalam, namun dengan berani Ade langsung memanggil suaminya "Tunggu Jasson, mau kemana? Apakah aku yang harus mengatakan kepada semua di sini?"
Jantung Jasson dan Laras berdegup kencang, apakah Ade datang untuk memberitahu semua orang? Jasson membalikan tubuhnya, memberikan kode kepada istri keduanya untuk tidak mengatakan apapun
"Mau bicara apa? Bicara saja tidak perlu basa-basi!"" Ara menantang wanita itu untuk berbicara. Namun Ade terdiam "Maksud aku, tadi suami ku sudah menghubungi Jasson dan memintanya kembali untuk aku tinggal di sini. Sebab itu saya mengatakan pada Jasson apakah saya sendiri yang meminta izin kepada kalian atau Jasson yang mengatakannya,"
Jasson dan Laras bernafas lega setidaknya Ade tidak nekat memberitahu yang sebenarnya
"Kamu jangan khawatir, aku sudah membahas itu dengan Jasson. Dan aku sudah mengatakan kepadanya untuk kamu di sini lah!" Bunga memeluk Ade dengan tulus namun ia masih bertanya-tanya tentang lukisan di tangan wanita itu
"Terimakasih ya karena sudah mengizinkan aku tinggal di sini sementara waktu!"
"Iya kamu boleh tinggal di sini, tapi harus tahu aturan ya! Jangan genit-genit sama Jasson apalagi kamu kan lagi mengandung! Jaga kehormatan mu sebagai wanita!" Ara langsung berterus terang di depan semua orang.
Ade geram dengan ucapan Ara namun ia memilih mengalah "Sayang, kamu jangan begitu dengan tamu kita ya nak? Kamu ini anaknya mami, tuan rumah ini jadi enggak boleh bersikap buruk dengan tamu!" Salvira kembali mengingatkan Ara.
Ara pun tersenyum, ia ingin Jasson, Ade dan juga Laras mengetahui batasan mereka.
Jasson pun kesal dengan istri keduanya yang semakin hari selalu mengancam dirinya. Mengapa Ade begitu berubah? Seakan ia selalu menyudutkan Jasson
Jasson pun permisi kepada semua orang untuk bicara dengan Ade.
Ia mengajak Ade untuk keluar dengan berasalan menemui suaminya Ade. Jasson membawa wanita itu ke dalam mobil dan menjauh dari rumah.
"Turun!" Dengan amarah Jasson membentak istri keduanya. Dengan santai wanita itu turun dari mobil
"Kenapa Jasson? Mengapa kamu membentak aku?"
"Aku enggak habis pikir dengan jalan pikiran kamu, kenapa kamu datang? Kamu sengaja mau menghancurkan kehidupan aku?"
"Aku menghancurkan hidup kamu? Kalau aku ingin menghancurkan kamu aku udah bilang ke semua orang. Aku akan datang dengan hak ku sebagai seorang istri! Bukannya sebagai orang asing yang menumpang!" Ade mengatakan itu dengan suara yang keras bahkan ia tidak malu bertengkar di tempat umum
__ADS_1
"Aku udah cukup sabar ya sama kamu, Jasson! Sabar banget malah selama ini. Tapi bukan berarti kamu seenaknya dong sama aku! Ingat ya, saat ini aku hamil anak kamu! Kamu jangan seenaknya! Kamu enggak aktifkan ponsel kamu, dan saat aku ke rumah aku. Aku melihat tanda kepemilikan dari kamu di leher Bunga. Maksudnya apa Jasson?"
"Loh, bukannya kamu sendiri yang bilang agar aku enggak ganggu kamu? Tapi kenapa sekarang kamu marah sama aku? Aku waktu mau kejar kamu kemarin kamu bilang apa? Jangan dekati atau aku enggak mau kenal kamu lagi! Itu kan katamu? Lalu kenapa kamu sekarang marah?"
Ade terdiam, matanya sudah berkaca-kaca. Orang di sekeliling mereka melihat keributan di antara keduanya
"Aku capek ya harus mengalah sama kamu. Semua keinginan kamu aku turuti! Kamu mau nikah, aku nikahi. Jangan suka-suka kamu dong! Jangan egois!"
"Aku egois? Yang egois itu kamu Jasson! Apa kamu mengerti perasaan aku?"
"Apa kau juga ngerti sama perasaan aku?" Keduanya bertengkar hebat, beberapa orang yang lewat melihat mereka yang sedang berdebat
"Aku capek harus mengalah terus sama kamu! Aku capek Jasson!"
"Lalu kamu pikir aku enggak capek dengan semua tingkah kamu? Aku juga!"
"Terus mau kamu apa? Kita pisah sekarang? Oke ayo! Kita pisah!" Ade kini meminta perpisahan namun Jasson tidak menjawabnya
"Kenapa diam? Kamu bilang capek sama aku, ya sudah tinggali aku sekarang! Setelah anak ini lahir, aku akan memberikannya kepada istri mu agar dia tahu bagaimana kelakuan suaminya!"
"Terserah kamu, aku males berdebat sama kamu! Kamu mau ikut aku pulang, kita pulang. Kalau enggak terserahlah! Aku lelah. Kamu hanya memikirkan kesedihan mu saja namun tidak pernah memikirkan aku!"
Jasson masuk ke dalam mobil, bahkan ia membanting pintu mobilnya. Ia menunggu sebentar untuk Ade masuk. Namun wanita itu tetap kekeh dengan keras kepalanya, hingga membuat Jasson muak meninggalkan ia di jalanan sendiri.
Ade terduduk lemas di jalan, ia pun meringkuk menangis. Tidak biasanya Jasson seperti itu. Mengapa kini lelaki itu berubah kepadanya? Bahkan tega membentaknya bahkan sebelumnya Jasson tidak pernah melakukan itu
Terdengar suara mobil yang mendekat, Ade mengira jika Jasson yang kembali. Ade mendongakkan wajahnya ke atas untuk melihat siapa yang datang ternyata itu bukan mobil Jasson
"Ade, apa yang kamu lakukan!" Eyden turun membantu Ade untuk berdiri, terlihat Ade begitu gemetar.
Eyden segera memeluk wanita yang ia cintai "Ada apa? Siapa yang berani melukai hati mu? Katakan dengan ku! Siapa yang tega membuat mu seperti ini?"
Namun wanita itu tidak menjawab, Eyden segera membawa Ade masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil, Ade hanya menangis.
Lelaki yang ia cintai yang selama ini selalu melakukan apa saja untuknya kini tega meninggalkannya di pinggir jalan seorang diri dengan kondisi hamil.
"Katakan kepada ku, kamu kenapa? Apa suami mu yang melakukan ini?"
Ade menatap Eyden, ia memberikan alamat dan meminta Eyden untuk mengantarkannya ke alamat itu.
"Eyden, tolong hantarkan aku ke sana!"
Eyden tidak tega melihat keadaan Ade yang sepertinya menderita "Ade, apakah kamu bahagia dengan pernikahan mu?"
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya ingin Eyden segera mengantarkannya ke rumah Bunga kembali. Ia pun menghapus air matanya, Ade mengingat pesan adiknya ratu untuk tidak lemah
Saat ini, ia juga istrinya Jasson yang sah. Dia juga memiliki hak yang sama dengan Bunga
Eyden pun tidak banyak bicara, ia melajukan mobilnya untuk mengantarkan wanita yang ia cintai ke alamat yang di minta. Eyden tidak tahu jika Jasson sudah memiliki istri lain, andai ia tahu mungkin lelaki itu akan menghajar Jasson habis-habisan.
******
Jasson pulang dengan perasaan yang kesal, Bunga dan yang lainnya tidak melihat Ade "Jasson, di mana ia?"
Jasson tak menjawab, tidak lama terdengar suara mobil. Salvira melihat dari jendela "Itu Ade, oh dia di antar ya oleh suaminya?"
Mendengar itu, Jasson langsung melihat ke arah jendela "Ganteng ya suaminya Ade!"
Puji Salvira, Bunga juga mengintip dari jendela begitu juga dengan Ara yang kepo
Tidak mungkin wanita itu punya suami, kan dia pelakor! ~batin Ara
__ADS_1