
"Tante, bagaimana Ratu bisa tenang? Tante tahu sendiri kan bagaimana kakak? Dia sangat pintar, cantik dan bertalenta. Bahkan kakak adalah model internasional yang sudah banyak memenangkan penghargaan dan sekarang saat ia menikah bahkan dirinya di buat tidak berharga oleh pasangannya," Ratu mengatakan itu dengan suara yang lemah, hatinya sangat hancur.
Ade adalah keluarga satu-satunya saat ini dan ia tidak bisa menerima kakaknya diperlakukan seperti itu
"Tante memahami perasaan kamu,.Tante juga sedih melihat kondisi kakak kamu yang sekarang, jauh berbeda seperti Ade dahulu. Namun kakak mu yang memilih untuk menikah dengan pria yang salah, kita jangan lagi mengungkit kesalahan itu lebih baik kita fokus dengan kesembuhan kakak kamu. Tante hanya ingin kakak kamu sembuh, itu saja!"
Ratu sedikit tenang "Tante terimakasih ya, Tante selalu perduli dengan aku dan kakak. Tante seperti keluarga kami sendiri,"
"Dimana aku?"
Ratu dan Dokter langsung beranjak dari duduknya, mereka mendekat ke arah Ade yang sudah terbangun.
Ade merasakan nyeri di perutnya "Aw," ia meringis "Tante, Ratu apa yang sebenarnya terjadi?"
Ade ingat tentang pertengkarannya dengan Jasson, mengingat ungkapan hati Jasson membuatnya kembali terluka
"Sayang, kamu kenapa?"
"Kak, kakak kenapa?" Melihat Ade yang meneteskan air matanya membuat Ratu panik.
Ade menyadari kondisi perutnya, ia merasakan perutnya yang sedikit kempes. Dan merasakan jahitan "Jahitan? Apakah aku sudah melahirkan?" Ade bertanya kepada adiknya namun Ratu tidak bisa menjawab
"Ratu katakan! Kenapa kamu diam? Apakah aku habis melahirkan? Namun usia kandungan ku masih lima bulan yang akan memasuki usia enam bulan,"
"Kak, anak mu tidak selamat"
Byuar!
Ucapan Ratu suatu pukulan yang sangat besar baginya, bagaikan di sambar petir di siang bolong. Hatinya teriris "A-anakku?" gumamnya dengan nada yang berat.
Dengan berat hati Ratu menceritakan segalanya "Kak, saat kami membawa mu ke rumah sakit. Dokter mengatakan jika anak mu telah meninggal di dalam kandungan. Dan mereka harus segera memberikan tindakan lanjut, jika tidak itu akan sangat berbahaya untuk nyawa mu,"
Ade bungkam, pandangannya kosong dengan air mata yang terus menetes.
Ia mengingat semua ucapan Jasson, pernyataan cinta Jasson kepada Bunga.
"Aku mencintai Bunga, dan aku harap kamu mengerti!"
Ucapan Jasson terus saja terlintas di benaknya, ia pun mengingat bagaimana dirinya bisa terpeleset dan jatuh dari tangga
Ade memegang perutnya, ia pun berteriak histeris
"Tidak! Ini tidak mungkin!"
Ratu menenangkannya, dokter langsung mengambil obat penenang dan menyuntikannya kepada Ade membuat wanita itu tidak sadarkan diri kembali
"Tante, apa yang Tante lakukan?"
"Tante sengaja melakukan itu, Tante tahu kabar itu akan membuat kakak mu merasa hancur, dia tidak akan bisa menerima segalanya,"
"Tapi Tante,"
"Ratu, kamu jangan khawatir! Percayakan semuanya sama Tante. Biarkan kakak mu sekarang istirahat terlebih dahulu, dia bukan hanya merasakan hancur di dadanya namun juga luka operasinya. Kamu tega membiarkan kakak kamu kesakitan secara bersamaan?"
Ratu menggelengkan kepalanya "Tante harus pulang dulu, biar Tante yang menyelesaikan semua administrasi kakak mu,"
"Tapi Tante, Ratu punya uang kok buat biaya rumah sakit kakak."
"Uang itu kamu simpan saja, untuk tabungan keperluan kalian ke depan. Semua biaya rumah sakit sampai dengan selesai biar itu masuk ke tagihan Tante. Besok Tante akan ke sini lagi, membawakan kalian makanan."
__ADS_1
Ratu merasa terharu, ia langsung memeluk dokter sekaligus tetangganya itu "Terimakasih banyak Tante, karena Tante aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, andai mama ku masih ada. Pasti ia akan melakukan hal yang sama,"
"Anggap saja Tante itu adalah mama kandung kalian. Walau kita memiliki keyakinan yang berbeda, namun hati kita sama. Tante tahu kamu dan kakak mu anak baik,"
Ratu pun mengangguk, ia mengucapkan terimakasih sekali lagi kepada wanita yang sudah banyak berjasa untuk hidupnya dan juga Ade
"Tante orang yang sangat baik!"
"Kalian juga sangat baik! Tante tahu kalian anak-anak yang sangat baik,"
Keduanya pun berpelukan dengan erat, wanita itu tidak memiliki anak sebab itu ia sangat menyayangi Ratu dan Ade.
"Tante permisi dulu,"
Ia pun segera pergi meninggalkan Ratu dan Ade, Ratu segera mendekat dengan kakaknya "Kak, kenapa sih hidup kita enggak pernah bahagia? Kita udah kehilangan' kedua orang tua kita, dan sekarang pria yang kita cinta justru menyakiti kita. Kak, cuman kakak yang Ratu punya, kakak harus bertahan! Ratu janji, Ratu akan membahagiakan kakak, Ratu juga akan merelakan kak Eyden untuk kakak. Karena Ratu sekarang sadar, hanya kak Eyden yang bisa membahagiakan kakak! Bukan yang lain,"
***********
Di taman yang begitu indah, Bunga bertemu dengan almarhum papinya
"Papi, Bunga merindukan papi!" Bunga berlari ke arah papinya, pria itu pun langsung memeluk Bunga
"Papi jangan pergi lagi! Bunga dan Mami sangat membutuhkan papi!"
"Bunga, dunia kita sudah berbeda nak! Kamu harus melanjutkan kehidupan kamu dengan penuh bahagia, kebahagiaan sedang menunggu kamu di depan sana,"
Bunga menggeleng dan menangis "Enggak papi! Bunga enggak mau! Bunga maunya sama Papi. Papi adalah kebahagiaan Bunga, tolong jangan tinggalin Bunga lagi,"
"Nak, kamu akan menemukan kehidupan kamu yang baru dan penuh kebahagiaan. Namun untuk itu, kamu harus bisa melepaskan segala kemarahan dan kekecewaan kamu sayang! Maafkan mereka yang sudah menyakiti kamu,"
Setelah mengatakan itu, ada cahaya putih yang menarik papinya dari pelukan Bunga
******
Bunga tersentak, dahinya berkeringat dingin. Entah apa makna dari mimpi itu ia pun tidak tahu, Bunga segera turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Semuanya seperti nyata bagi ia, bahkan ia bisa merasakan pelukan papinya dengan erat. Segera ia mencuci muka, menatap wajahnya di cermin dengan penuh ketakutan.
Lalu Bunga tersenyum, ia senang bisa bertemu dengan papinya walau hanya di dalam mimpi
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar mandi diketuk, Bunga tahu itu adalah Ara karena ia dan Ara tidur bersama di kamarnya. Bunga segera mengeringkan wajahnya dengan tissue, lalu ia keluar membuat pintu kamar mandi.
"Kenapa? Tadi teriak langsung masuk kamar mandi?"
Ara terlihat sangat cemas dengan kondisi sahabatnya, Bunga pun menggeleng "Enggak, tadi aku mimpi papi."
Bunga berjalan, melewati sahabatnya menuju tempat tidurnya. Ia segera duduk di tepi ranjang "Lalu?"
"Aku kaget, saat cahaya putih menarik papi. Kau tahu Ara? Papi memeluk diri ku!"
"Oh ya? Bagus dong, jadi kerinduan kamu dengan papi mu sudah terobati,"
Namun Bunga diam, ia memikirkan pesan yang diberikan oleh papinya. Menurutnya, ia selalu memaafkan orang-orang yang menyakitinya
"Bunga, kenapa melamun? Bukan kah seharusnya kamu senang karena udah mimpi papi mu?"
"Iya Ara! Aku sangat senang, dan aku senang sekali. Namun,"
__ADS_1
"Kenapa?" Ara terlihat sangat penasaran "Ayo katakan ada apa?"
"Papi mengatakan jika aku harus bisa melupakan rasa sakit dan belajar memaafkan orang-orang yang telah menyakiti ku, namun aku tidak pernah membenci siapapun,"
"Mungkin maksud papi mu, kamu memaafkan dan memberikan Jasson kesempatan kedua!"
Huk..! Huk...!
Mendengar itu membuat Bunga ter-batuk "Jangan mengada-ada deh! Enggak mungkin itu!"
"Lalu apalagi jika bukan itu?"
"Mungkin ada yang lain!"
Bunga masih menyangkal, Ara pun mengingatkan Bunga dengan amanah yang diberikan oleh David
"Bunga, kamu enggak lupa kan sama pesan yang om David katakan?"
Bunga menatap Ara dengan mata yang sendu "Aku ingat, tapi aku enggak bisa!"
"Kenapa? Itu amanah dari orang yang sebelum meninggal, kenapa kamu enggak bisa?"
Bunga membuang nafas kasar, menatap Ara dengan kesal "Lupa kalau dia udah punya keluarga baru? Istirnya sedang hamil pula! Enggak mungkin! Enggak sanggup aku kalau harus berbagi suami!"
"Tapi kalau wanita itu enggak ada kamu mau?"
Bunga memeluk temannya dengan pelan "Kalau ngomong itu jangan sembarangan! Enggak mungkin, Ade itu sehat dan akan tetap sehat sampai Kapan pun. Udah ah jangan mendoakan orang dengan kejelekan, nanti berbalik sama kita!"
"Iya enggak begitu juga maksud aku! Ya maksudnya kalau wanita dan Jasson bercerai. Apa kamu mau mempertimbangkan permintaan terakhir om David?"
Bunga terdiam sejenak, mungkin jika itu benar terjadi. Ia akan memikirkan permintaan papa mertuanya sebelum meninggal. Bunga menepis pikirannya
"Enggak mungkin itu terjadi! Kita semua tahu kalau Jasson dan Ade saling mencintai, udah ah! Aku mau lihat mama Laras dulu, aku tidak ingin jika mama Laras menangis dan berlarut dalam kesedihan!" Bunga bangkit ingin melihat keadaan mama mertuanya.
"Enggak ada yang enggak mungkin tahu! Semuanya bisa aja terjadi, kita enggak tahu bagaimana perasaan orang kedepannya bukan?"
Bunga tidak menjawab ucapan Ara, ia juga tidak mau terlalu berharap yang akan membuatnya merasa sakit. Lebih baik ia pergi dari kamar itu daripada memikirkan omong kosong sahabatnya.
*******
Jasson dan Eyden pun di keluarkan dari kantor polisi karena jaminan.
Sebenarnya Eyden lah yang hanya boleh keluar, karena ia memiliki jaminan. Namun Eyden tidak tega melihat Ade, jika wanita itu tahu kalau Jasson ada di penjara hatinya akan makin hancur.
Sebab itu, Eyden meminta kepada anak buahnya untuk menjaminkan Jasson agar bebas
"Apa maksud Lo? Lo ingin gue berhutang Budi sama Lo iya?"
Eyden tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya, mengapa ada orang sombong dan angkuh seperti Jasson
"Gue enggak pernah merasa seperti itu! Dan gue membebaskan Lo itu hanya karena gue menjaga perasaan Ade! Gue enggak mau dia semakin hancur saat melihat suaminya masuk penjara!"
"Enggak perlu sok baik Lo sama gue!"
Eyden tidak menggubris, ia memilih pergi meninggalkan Jasson sendirian
Jasson berdiri dengan perasaan yang berkecamuk, ia tidak menyangka jika wanita yang ia percaya dan cinta selama ini tega mengkhianatinya. Padahal Jasson rela kehilangan segalanya demi Ade, namun Ade masih bisa berkhianat dengan lelaki lain.
Jasson mengepalkan kedua tangannya dengan penuh amarah. Hatinya sangat marah dan kesal mengetahui segalanya, egonya merasa terhina!
__ADS_1
"Kau telah mengkhianati ku Ade!"