
Bunga hanya menatap kosong, ia bahkan tidak mengenal siapa yang ada di depannya. Bunga menoleh ke arah Salvira. Entah mengapa ia merasa dirinya hanya aman di dekat wanita yang mengaku sebagai maminya
"Apa aku anak mami?" Bunga bertanya dengan sedikit bingung, Salvira mengangguk. Ia memeluk anaknya dengan penuh kasih dan sayang "Mami sangat menyayangi kamu, mami khawatir mendengar kabar kamu kecelakaan sayang. Andai Mami tahu siapa yang sudah melakukan ini semua dan apa yang sudah kamu alami sebelum kecelakaan terjadi,"
Ara terdiam, "Aku enggak ingat! Dan aku juga enggak tahu gimana aku bisa ada di sini,"
"Sudah lah, sayang! Jangan memaksakan dirimu, nanti kita akan membahasnya jika kamu menemukan ingatan mu kembali!"
Bunga mengangguk, "Mi, tapi boleh kah aku memiliki satu permintaan?"
"Iya, sayang. Katakan saja!"
Bunga menatap satu persatu, "Entah mengapa, aku merasa sangat bingung. Enggak tahu mana yang benar dan salah, tapi. Bunga hanya merasa nyaman jika didekat mami, boleh Bunga tinggal bersama mami?"
Salvira tersenyum, mengelus rambut anaknya "Tentu saja boleh, Sayang! Selama ini kita juga tinggal bersama."
Bunga tersenyum datar, mungkin ia tidak mengingat apapun namun Bunga akan mengikuti kata hatinya.
"Sayang, mama akan tinggal bersama mu!"
Laras menimpali, Bunga menggeleng "Mi, Bunga hanya ingin tinggal bersama mami saja!"
Mungkin ingatan Bunga bisa hilang, namun perasaannya tidak mungkin bisa di bohongi. Hatinya tidak nyaman di dekat orang lain, Ara tidak mau mendekat dengan sahabatnya. Ia takut jika Bunga merasa tidak nyaman, namun Bunga tersenyum ke arahnya.
"Itu Ara, sahabat baik kamu. Dia juga Tinggal bersama kita,"
Bunga mengangguk, walau ia sangat sulit mengingat dan mengerti semuanya.
Ara yang tidak kuasa pun memilih keluar ruangan, Gerry mengejarnya.
"Mengapa nona pergi?"
Ara menangis, menghapus air matanya "Bagaimana bisa aku tidak menangis, melihat sahabat ku yang seperti kehilangan arah. Bahkan ia tidak mengingat siapa dirinya,"
__ADS_1
"Iya, saya mengerti Nona. Namun nona harus tetap sabar, seiring berjalannya waktu nona Bunga akan kembali pulih seperti dulu!"
Ara mengangguk, ia pun tak bisa menutupi kesedihannya. Ara hanya bisa berharap, agar sahabatnya kembali pulih.
*****
Seminggu Berlalu
Dokter sudah memperbolehkan Bunga untuk pulang kerumah, Salvira langsung membawa anaknya pulang kerumah.
Semenjak kecelakaan, Jasson tidak menghubungi kekasihnya. Ia berpikir jika Ade sudah ia berikan uang yang tidak sedikit, wanita itu pasti sedang berfoya-foya menghabiskan uang yang sudah ia transfer
Jasson membantu Bunga menyusun barang-barang untuk kembali ke rumah "Boleh kah kamu membantu ku untuk mengingat semua kenangan ku? Maksud ku, mami mengatakan jika kita suami istri, apakah aku mencintai mu? Dan apakah kita saling mencintai?"
Jasson terdiam, Bunga memang mencintai dirinya namun tidak dengan Jasson. "Jangan pikirkan itu dulu, yang terpenting kita pulang ke rumah!"
Bunga mengangguk, Ara pun datang bersama Gerry "Bunga, maafkan aku. Aku datang terlambat karena tadi di kantor sedang mengalami masalah,"
"Masalah apa?" Jasson bertanya kepada Ara, namun wanita itu enggan menjawab pertanyaan dari Jasson.
Bunga tersenyum, mengucapkan terimakasih banyak kepada Ara karena sudah perduli dengannya.
"Ara, apa kamu tahu? Tadi aku meminta kepada Jasson membantu ku agar ingatan aku kembali, dan aku bertanya apakah aku mencintainya dan apakah kami saling cinta?"
Ara tersenyum tipis, ia tidak mau membohongi sahabatnya atau juga membuat hati Bunga sakit "Bunga, hal itu tidak perlu kamu pikirkan. Saat ini kalian sudah menjadi suami istri, dan biarkan ingatan mu yang menjawab semua pertanyaan mu itu!"
"Mengapa tidak kau beritahu aku saja?"
"Karena aku tidak ingin membuat mu sakit dengan memaksakan ingatan mu, Bunga! Biar kan kau pulih dengan sendirinya tanpa adanya paksaan, Bunga!"
Laras dan David pergi kerumah sakit, untuk menjemput menantunya "Sayang, mama senang sekali karena kamu sudah boleh pulang!"
Bunga tersenyum kepada kedua mertuanya "Terimakasih kalian sudah perduli dan perhatian kepada ku, ya?"
__ADS_1
"Tentu saja, kamu ini menantu dan kesayangan kami,"
Huek!
Ara yang mendengar itu merasa mau muntah, bagaimana bisa ada manusia yang bermuka dua seperti Laras?
Bunga, Laras, Jasson dan juga David melihat ke arah Ara
"Kamu mau muntah? Mual?" Bunga bertanya dengan penuh perhatian, Ara menggeleng "Tidak! Aku hanya alergi dengan sesuatu yang memuakkan!"
Gerry memberikan kode kepada Ara agar tidak melanjutkan ucapannya, Ara pun memonyongkan mulutnya "Jika kamu mau muntah, muntah saja sana! Kenapa di sini?" Laras mengatakannya dengan ketus namun Bunga membela sahabatnya.
"Mungkin Ara sudah tidak tahan ma, enggak apa-apa kok." Laras menyengir kembali memberi perhatian kepada Bunga.
"Tante keren banget ya? Sikapnya bisa berubah-ubah gitu!"
"Maksud kamu apa?" Laras bertanya dengan nada yang lantang
Ara tak takut, ia justru melotot kan matanya kepada Laras "Iya, Tante keren sifatnya bisa berubah-ubah. Sama orang begitu sinis, namun sama menantu sendiri sangat baik. Kok ada ya manusia sifatnya bisa beda-beda di setiap tempat. Ya maksudnya, mami itu orangnya lembut dan penyayang. Dengan siapa saja sikapnya tetap begitu, enggak ada galak-galak!"
Laras bungkam, ia menoleh ke arah Bunga yang menatapnya. Bunga pun setuju dengan ucapan sahabatnya "Yang di katakan Ara benar ma, jika mama sangat perhatian dan penyayang. Mengapa mama bersikap dingin kepada orang lain?"
"Mama hanya menyesuaikan sikap mama dengan bagaimana orang memperlakukan mama!"
"Tapi, Ara bersikap sangat sopan dan baik ma."
"Sudah lah, Ma! Jangan membuat keributan lagi!" Jasson takut jika sifat ibunya di ketahui oleh Bunga. David pun setuju dengan Jasson.
"Mama itu sebagai orang tua harus bisa bersikap yang baik. Dan mencontohkan hal yang baik, lagipula. Temannya Bunga hanya merasa mual, mengapa mama bersikap ketus?""
Ara tersenyum puas, sedangkan Laras merasa sangat kesal. Karena suami, anak dan menantunya bukan membela dirinya, justru membela orang lain.
"Ma?" Jasson memanggil mamanya, menatap dengan serius. Lalu menggeleng saat mamanya menoleh ke arahnya
__ADS_1
"Iya mama salah! Ara sayang, maafin Tante ya. Tante sedikit pusing, mungkin itu yang membuat Tante menjadi lebih sensitif. Maafin Tante ya sayang?"
"Iya Tante, Ara maafin kok!" Ara menjawab dengan sinis, namun ia bermain drama seperti yang di lakukan oleh ibunya Jasson. Keduanya saling tersenyum, namun tersirat di dalam senyuman mereka ada kebencian.