
Jasson tak banyak bicara, ia hanya mengangguk saja.
Jasson membaringkan tubuh Bunga ke atas tempat tidur, ia membelai rambut Bunga.
"Aku ingin kamu istirahat sekarang!" Bunga mengangguk menurut. Keduanya pun tertidur dengan nyenyak
****
Keesokan paginya, Bunga sudah bersiap-siap untuk ke makan namun Jasson tak ada. Ia merasa sedih, namun tak berani mengatakan apapun.
"Mengapa dia melanggar janjinya kepadaku?"
Seolah Jasson sengaja tidak mau membantunya untuk mengingat segalanya, Ara masuk ke dalam kamar sahabatnya itu
"Bunga, mengapa kau sudah rapih seperti ini? Mau kemana?"
Bunga terdiam sejenak, lalu ia menangis "Jasson telah berbohong kepadaku, katanya ia akan membawa ku berziarah pagi ini. Namun nyatanya, ia pergi dan aku enggak tahu kemana dia!"
Ara yang mendengarnya pun mendidih, ia sudah yakin jika Jasson tidak mau membantu Bunga mengingat segalanya "Sudah lah jangan sedih! Aku akan mengajak mu untuk berziarah ke makam papi mu. Dan mami juga akan menemani mu, dan tidak perlu berharap lebih kepada pria tidak tahu diri itu!"
"Tidak tahu diri? Maksud mu apa, Ara? Mengapa kau mengatakan suami ku tidak tahu diri?"
Ara bungkam, bingung karena dirinya sudah keceplosan "Ma-maksud aku, dia tidak tahu diri karena sudah melupakan janjinya kepada mu dan membuat mu merasa sedih!"
"Mungkin dia ada kesibukan lain, Ara. Tidak apa-apa, aku akan menunggunya saja!"
"Astaga! Mengapa kau masih bucin saat kehilangan ingatan seperti ini? Aku tidak habis pikir dengan mu Bunga! Sadarlah!" Batinnya dengan kesal, Ara hanya bisa bersabar agar tidak mengacaukan suasana
"Baik lah jika begitu, aku harus pergi ke kantor dulu ya? Jaga diri mu baik-baik, jika ada yang menyakiti kau langsung hubungi aku atau lapor dengan mami oke?"
"Iya, terimakasih ya. Aku yakin sekali, jika kamu memang sahabat terbaik ku!" Bunga memeluk Ara dengan erat, Ara pun membalas pelukan itu "Aku sangat menyayangi mu sahabat ku, kau dan mami mu sudah banyak berjasa dalam hidup ku. Tanpa kalian, aku hanya lah wanita yang dianggap rendah!"
__ADS_1
Bunga melepaskan pelukannya dari sang sahabat "Mungkin aku begitu payah, tidak mengingat apapun tentang masa lalu kita. Tapi aku tahu pasti, kau wanita yang sangat berharga Ara! Jangan mengatakan hal itu, kamu baik, cantik dan juga pintar. Kamu sangat berharga,"
Mendengar ucapan sahabatnya membuat Ara berkaca-kaca "Ah sungguh Bunga, kau membuat ku terharu! Lihat lah, aku menangis terharu huaaaa!"
"Sudah lah! Jangan menangis!" Bunga menepuk pundak Ara dengan lembut, Ara pun mengangguk "Aku juga sangat beruntung sekali memiliki sahabat yang super cuantik pol!"
Keduanya saling tertawa bersama, Ara merindukan momen-momen mereka. Walau Bunga kehilangan ingatannya namun ia masih diberi kesempatan terus bersama dengan sahabat sebaik Ara.
Ara pun berlalu pergi, walau ia ada orang dalam di perusahaan itu. Ara harus tetap mengikuti peraturan yang ada, ia tidak mau menjadi semena-mena karena perusahaan itu milik sahabat dekatnya.
Sekarang, Ara bingung ke kantor naik apa. Biasanya ia nebeng bersama Bunga. Klakson mobil berbunyi, ia adalah mobil kantor. Namun Ara tidak tahu siapa yang mengendarainya.
Mobil berhenti tepat di depannya, tersirat di wajahnya senyuman yang begitu indah saat seseorang menurun kaca mobil "Naik lah nona!"
Dengan segera Ara naik ke dalam mobil, ia duduk si samping Gerry "Terimakasih sudah mau menjemput ku!"
"Jangan senang dahulu nona, ini saya lakukan karena perintah dari nona Bunga sebelum kecelakaan terjadi. Ia tahu, jika dirinya tidak bisa setiap hari ke kantor, dan di saat ia tidak masuk sudah tugas saya menjemput anda!"
"Terserah apa yang kau katakan, aku tidak perduli!"
Gerry merasa bingung dengan wanita yang ada disampingnya. Terkadang sikap Ara begitu centil, namun terkadang sangat cuek dan masa bodoh.
Gerry memfokuskan pandangannya ke depan, hingga mereka sampai ke kantor Ara langsung turun tanpa mengucapkan apapun
Para karyawan memberikan hormat dan salam kepadanya, Ara membalas salam mereka, lalu pergi menuju ruangannya
Ara duduk, ia bingung harus mulai darimana. Ara takut jika dirinya melakukan kesalahannya "Kemarin Bunga mengatakan akan mengajari ku namun sekarang aku sendiri, huaaa ya Tuhan tolong lah hamba mu ini,"
Ia takut membuat kesalahan yang akan membuat perusahaan merasa rugi "Aku harus bagaimana?" Ara melirik saat Gerry masuk ke dalam ruangannya "Sedang apa kau? Mau mengatakan jika Bunga sudah meminta mu untuk membantu ku? Sudah lah! Jangan membawa sahabat ku agar kau bisa mendekati ku! Keluar sekarang! Aku tidak butuh bantuan mu!"
Huh, memangnya dia saja yang bisa ketus kepada ku? Aku juga bisa! ~Ara
__ADS_1
Gerry tak menggubris ucapan Ara, ia semakin mendekati Ara, bahkan duduk di sampingnya. Namun Ara tidak mengatakan apapun. Ia sedang malas berdebat, "Terserah kau ingin apa! Yang terpenting Jangan menganggu ku! Kepala ku sudah sangat pusing sekarang,"
Gerry hanya diam, mengamati Ara yang sedang kebingungan. Ia pun mengamati laporan keuangan tentang perusahaan, Gerry memberitahu Ara apa yang harus ia lakukan
"Kau mengerti? Tolong lah bantu aku! Kepalaku terasa sangat pusing, dan kau tahu? Aku sangat takut melakukan kesalahan. Aku takut sekali, mengecewakan sahabat ku. Ya bagaimana pun ia dan maminya sudah mempercayakan semuanya kepada ku!"
Ara terus berceloteh tanpa henti, Gerry pun hanya diam tanpa membalas ucapannya.
Ara melihat Jasson yang melewati ruangannya, Ara bangkit untuk mengejar Jasson. Jika sudah melihat wajah Jasson, Ara berubah menjadi singa dalam sekejap "Hei, tunggu!"
Jasson berjalan seolah tidak mendengar panggilan dari Ara, ia semakin mempercepat jalannya
"Aw sakit! Lepaskan, kau gila ya?" Jasson meringis saat Ara menarik kupingnya dengan kuat
Terlihat kupingnya memerah "Mengapa kau membohongi sahabat ku? Kau sudah mematahkan harapannya!"
Ara menegur Jasson, Gerry mencoba menenangkan Ara "Nona, tenang lah! Kita berada di kantor sekarang tolong jangan membuat keributan!"
"Bahkan rasanya aku ingin meremas wajahnya hingga acak-acakan!"
Ara begitu gemas dengan Jasson yang selalu membuat masalah
"Apa kesalahan aku?"
"Kau sudah berbohong kepadanya. Kau mengatakan ingin mengajaknya berziarah ke pemakaman. Namun saat dia sudah bersiap-siap kau malah menghilang!"
Jasson baru mengingat janjinya kepada Bunga. Bahkan tangan Ara belum terlepas dari kupingnya "Astaga, sungguh aku sangat lupa! Sungguh, aku tidak sengaja. Aku lupa!"
"Jangan mengeles kepada ku!"
"Sungguh, aku tidak berbohong, mengapa kau tidak percaya kepadaku? Lagipula, untuk apa aku membohongi mu? Itu sangat tidak penting! Aku bersumpah jika aku memang lupa!"
__ADS_1