Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 111


__ADS_3

"Kenapa mami tidak memahami semua ucapan papi, walau pun papi berulangkali mengatakan tidak mempercayai Jasson untuk menjaga Bunga namun mami tetap kekeh menikahkan Bunga dengan Jasson, mami mengira jika Jasson dan Bunga bersahabat sejak kecil. Pasti kehidupan rumah tangga mereka akan bahagia, namun ternyata mami salah," batin Salvira


Ia semakin bersalah dan merasa gagal menjaga anaknya Bunga "Papi, mami sangat membutuhkan papi. Namun demi anak kita mami harus kuat, mami tidak bisa terlihat lemah di depan Bunga. Karena mami tahu, jika mami lemah, siapa yang akan menjadi penguat untuk anak kita papi," air mata Salvira menetes dengan sendirinya.


Bunga yang mendengar isakan tangis membuka matanya perlahan, dirinya terkejut melihat maminya yang terisak. Segera ia bangkit "Mami, kenapa mami menangis?"


Salvira segera menghapus air matanya "Ti-tidak sayang! Mami tidak menangis, ini tadinya mami hanya kelilipan."


"Tidak! Mami berbohong, tidak mungkin kelilipan hingga membuat mami terisak. Katakan sama Bunga kenapa mami menangis? Apa mami merindukan papi?"


Salvira mengangguk, ia memang sangat merindukan suaminya. Bunga memasang wajah sedih dan langsung memeluk maminya "Lebih baik sekarang kita berdoa ya mi untuk ketenangan papi di sana?"


Salvira mengangguk, mereka pun berdoa untuk ketenangan papinya Bunga juga untuk ayah mertuanya. Setelah selesai berdoa, Bunga meminta maminya untuk istirahat "Sekarang giliran mami yang istirahat ya? Bunga enggak mau mami sakit, udah mami jangan sedih dong nanti Bunga ikut sedih,"


Bunga memasang wajah sedihnya, membuat Salvira tidak tahan "Demi kamu mami akan kiat sayangku,"


Bunga tersenyum "Bunga tahu kalau mami itu wanita yang kuat, bahkan sangat kuat dan tegar. Mami kuat seperti karang yang di terpa ombak, Bunga sayang banget sama mami!"


"Mami juga sayang sekali dengan kamu nak!"


Keduanya kembali istirahat yang nyenyak, Salvira memeluk anaknya dengan penuh kasih dan sayang.


"Maafin Bunga mami, karena Bunga mami menjadi menderita seperti itu. Bukannya membahagiakan mami, Bunga justru menambah beban untuk mami."


Bunga segera memejamkan matanya, ia tidak mau membuat maminya semakin sedih lagi


*********


Sudah pukul lima sore, waktunya semua karyawan pulang


"Nona, yuk kita pulang!" Gerry mengajak Ara untuk pulang bersama, memang seperti itu biasanya mereka. Selalu pulang bersama, namun kali ini Ara menolak "Tidak Gerry! Terimakasih, aku pulang sendiri saja. Soalnya aku harus bertemu dengan seseorang,"


"Siapa? Bukannya kemana pun anda pergi, saya akan ikut?"


"Itu dulu! Dan sekarang tidak perlu lagi! Kau bisa bebas, lagipula bukan kewajiban kamu untuk selalu bersama aku."


"Tapi itu tugas yang sudah nyonya Bunga berikan kepada saya untuk terus bersama dan membantu anda nona,"


"Itu jika di kantor, dan sekarang sudah lewat jam kantor. Tolong kamu jangan keras kepala! Dan aku memiliki kehidupan pribadi, daripada kamu mengantarkan aku pulang lebih baik kamu mengantarkan Monica saja! Dia lebih membutuhkan kamu daripada aku,"


Gerry memikirkan ucapan Ara, memang papanya Monica menitipkan Monica kepada dirinya. Ia pun mengangguk "Baiklah kalau nona maunya seperti itu, terimakasih karena anda sudah sangat pengertian dan mengerti! Papanya Monica meminta saya menjaganya di sini, dengan izin anda agar saya mengantarkan Monica pulang. Itu adalah hal yang sangat berarti untuk saya,"


Gerry tersenyum kepada Ara, setelah itu ia pergi meninggalkan Ara. Tidak lama kemudian, Gerry dan Monica keluar dari ruangan menuju parkiran mobil. Kini Ara melihat kembali kedekatan dari keduanya, hal itu tentu saja membuat hatinya merasa sakit


Namun Ara berusaha untuk tetap tenang selebih lagi saat Monica tersenyum kepada Ara, menegor dirinya.


Setelah melihat Gery dan Monica pergi. Ara pergi dari daerah kantor dengan langkah yang lemas, hatinya terasa sangat patah


"Sabar Ara, kamu harus terbiasa! Semuanya akan membaik seperti biasanya. Ini hanya membutuhkan waktu saja untuk pulih,"


*******


"Gerry, kenapa kamu mengantarkan aku pulang. Bagaimana dengan nona Ara?"


Gerry membawa mobil, menatap depan dengan serius "Karena katanya dia mau bertemu dengan orang lain. Lagipula, dia yang meminta ku mengantarkan mu pulang,"


"Tapi, apakah dia tidak cemburu? Buktinya wajahnya tadi sangat sedih,"


"Cemburu? Cemburu untuk apa? Kau ini kan sepupu ku, bagaimana bisa dia cemburu kepada sepupu ku sendiri,"

__ADS_1


Monica pun mengangguk, mengiyakan ucapan Gerry "Setelah ini kamu mau kemana?" Tanya Monica, Gerry mengatakan setelah mengantarkan Monica pulang dirinya juga akan kembali pulang ke rumah.


"Enggak singgah dulu? Papi kangen loh sama kamu! Katanya udah lama enggak datang, sombong banget!"


"Lain kali saja, lagipula aku sangat sibuk!"


"Ger, semenjak papa dan mama kamu meninggal. Kamu seakan menjauh dari keluarga, kenapa sih? Kita ini kan keluarga kamu, papi juga sayang banget sama kamu! Kita semua cemas sama kamu Gerry!"


"Aku hanya tidak ingin merepotkan siapapun Monica! Aku ingin mandiri, dan katakan kepada papi. Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir!"


Monica menoleh ke arah sepupunya itu "Bagaimana kami enggak khawatir kalau kamu aja seperti menjauh dari keluarga!"


Monica, kamu masih terlalu polos tidak memahami segalanya! Namun yang kamu lihat tidak sebaik itu! ~batinnya


"Gerry, kenapa melamun?"


Gerry hanya menggelengkan kepalanya saja, ia tidak mau membahas apapun lagi. Papinya Monica memang sangat Gerry namun tidak dengan maminya Monica.


Bahkan maminya Monica pernah mengusir Gerry tanpa sepengetahuan Monica dan papinya. Bahkan maminya Monica mengatakan hal buruk tentang kedua orang tuanya Gerry yang membuat pria itu tidak bisa menerimanya.


"Gerry! Aku bicara sama kamu!"


Gerry menghentikan mobilnya, mengatakan jika mereka sudah sampai "Kita udah sampai, sebaiknya kamu turun dan langsung masuk rumah!"


"Enggak! Aku enggak mau! Kamu turun dan mampir dulu! Kasihan papi yang rindu sama kamu! Kamu udah lama enggak main kerumah!"


"Lain kali aja ya? Aku janji akan mampir, tapi tidak sekarang!"


Gerry belum bisa melupakan hinaan yang diberikan oleh maminya Monica tentang kedua orang tuanya.


"Sekarang Gerry! Kamu enggak kasihan sama papi?"


Gerry tidak tega memberitahu sepupunya jika maminya itu orang yang tidak baik.


Gerry masuk ke dalam rumah dengan langkah yang ragu, jika mengingat semua ucapan maminya Monica. Hatinya sangat sakit dan marah besar


"Gerry, papi senang kamu akhirnya main ke rumah!" Papinya Monica langsung memeluk Gerry, melihat papinya Monica membuat Gerry mengingat papanya namun ia tahu jika mereka adalah dua orang yang berbeda namun memiliki wajah yang sama


"Bagaimana kabar kamu? Papi selalu menunggu hari ini, di mana kamu datang untuk berkunjung. Dan salah satu alasan Monica bekerja di tempat kamu bekerja, adalah agar kamu mau main ke sini. Kamu sangat menyendiri dan menjauh dari kamu setelah kedua orang tua kamu meninggal. Gerry, kamu juga anaknya papi! Apa kamu tidak merindukan papi?"


Gerry terdiam sejenak, sebenarnya ia sangat merindukan kembaran dari papanya. Apalagi wajah yang sangat mirip, seperti melihat papanya berdiri ada di hadapannya namun Gerry menahan segalanya


"Gerry sayang, mami juga merindukan kamu! Kenapa kamu lama sekali datang kemari? Setiap hari mami memasak makanan kesukaan kamu, tapi hari ini. Mami tidak memasaknya, bahkan mami memasak makanan yang kamu alergi,"


"Mami? Kan Monica sudah mengirimkan pesan kepada mami bahkan Gerry akan mengatarkan Monica pulang. Lalu kenapa mami tidak memasak makanan kesukaan Gerry?"


"Benar kah sayang? Sungguh mami tidak membawa pesan dari kamu. Maafkan mami,"


Gerry tahu jika maminya monica telah berbohong, ia pasti sengaja memasak makanan yang Gery alergi agar ia tidak betah lama-lama di rumah. "Sudah-sudah! Itu tidak usah di pusingkan, kita bisa makan di luar. Atau papi akan memesan makanan terenak dari restauran kesukaan papanya Gerry. Dahulu, keluarganya Gerry juga suka makan di sana, makanan terfavorit mamanya Gerry!"


Mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada membuat Gerry sedih, namun ia anak lelaki yang harus bisa menyembunyikan kesedihannya. Terlihat wajah yang sangat tidak senang dari maminya Monica


"Papi itu sangat menghambur uang, mami akan memasak untuk Gerry sekarang!"


Namun Gerry menolak, ia mengatakan ingin pulang saja kerumahnya. Namun Monica dan papinya melarang "Tidak Gerry! Kamu jangan pulang! Kamu tetap di sini! Kita ingin bersama kamu berbincang, kamu bisa tidur atau tinggal di sini!" Pinta papinya Monica. Bukannya Gerry ingin menjauh dari saudara kembar papanya, namun ia tahu jika saudara kembar papanya itu memiliki keluarga dan kehidupan lain. Dan salah satu anggota merasa keberatan dengan kehadirannya Gerry


"Tidak papi! Gerry hanya ingin mencoba mandiri saja, soalnya papi selalu mengajarkan Gerry untuk tetap mandiri. Apa papi lupa? Anak lelaki tidak boleh lemah dan Gerry sedang berusaha menjadi orang yang kuat dan mandiri!"


Maminya Monica tidak mempunyai pilihan lain selain memasak untuk Gerry "Daripada uangnya boros di hambur-hamburkan untuk anak itu, lebih baik aku masak dan berkorban sekarang! Kenapa Monica mengajaknya ke sini? Sangat merepotkan saja!" Gerutu maminya Monica. Ia memang tidak senang jika Gerry dan keluarganya datang, karena baginya mereka hanyalah benalu. Padahal papanya Gerry yang memberikan modal untuk suaminya memajukan bisnis dan terkenal seperti sekarang.

__ADS_1


Namun wanita itu tidak tahu diri, ia melupakan semua jasa-jasa yang sudah diberikan keluarga Gerry untuk keluarganya. Bahkan anaknya sekolah, hingga tamat mendapatkan nilai tertinggi itu juga karena keluarganya Gerry.


"Monica, Monica! Kamu itu sangat payah seperti papi mu! Kamu mau di suruh bekerja di tempat Gerry bekerja bahkan di posisi terendah. Padahal papi mu memiliki perusahaan yang besar! Dan sekarang, kamu mengajak anak itu datang ke rumah! Lihat lah, sekarang mami harus memasak untuknya! Mami harus menjadi babu untuknya!" Maminya Monica tidak henti menggerutu, ia sangat kesal sekali namun tidak memiliki puluhan apapun..


Jika suami dan anaknya tidak ada di rumah, sudah pasti ia akan mengusir dan meminta Gerry untuk pergi dari rumahnya, ia tidak bisa membiarkan orang miskin seperti Gerry menyentuh barang-barang mahalnya


Setelah selesai masak, ia menyajikannya di meja makan. Terlihat anak, suaminya sedang bercanda riau dengan keponakan dari suaminya itu "Lihat! Aku di suruh masak seperti pelayan, sedangkan anak itu malah tertawa seperti dia tuan rumah ini!"


Maminya monica menghampiri mereka "Wah seru banget ya bicara tanpa mami! Maminya di lupain!"


Monica mendekati maminya, membantu menyajikan makanan di atas meja "Bukan melupakan mami, namun Gerry sangat jarang ke sini. Jadinya, Monica dan papi membahas tentang kehidupan Gerry dan,"


"Iya-iya, mami lagi banyak pekerjaan di dapur! Kalian lanjut saja mengobrol ya biarin mami mengerjakan semua pekerjaan pelayan ini!"


Namun wajahnya memasang wajah senyuman, Gerry tahu jika maminya sangat tidak suka dengan keberadaannya


"Papi, sebaiknya Gerry pulang sekarang! Ini juga sudah larut malam, Gerry takut jika rumah bocor jika hujan dan Gery tidak menampungnya,"


"Apa? Kamu tinggal di tempat yang bocor saat hujan? Gerry, lebih baik kamu tinggal di sini bersama papi dan tidak ada penolakan jika kamu menganggap papi ini sebagai saudara kembarnya papa kamu!"


Gerry tidak memiliki alasan untuk menolak, atap bocor adalah alasannya untuk bisa pulang namun nyatanya dia semakin terperangkap dan tidak bisa keluar dari jaringnya sendiri.


"Papi, tapi Gerry kan mau mandiri. Jika dia tinggal bersama kita, bagaimana dia bisa mandiri?" Monica dengan papinya menatap maminya Monica dengan sinis. Membuat wanita paru baya itu tersenyum


"Papi, Monica jangan salah paham sama mami! Mami hanya mendukung hal-hal positif yang Gerry kerjakan. Namun jika dia tinggal bersama kita, apakah dia bisa mandiri?"


"Tentu bisa Mami! Lagipula hanya tinggal, bukannya Gery tidak bekerja! Dia tetap bekerja dan mencari uang untuk kebutuhannya yang lain. Dan itu masih mandiri bukan?" Monica bertanya dengan maminya membuat maminya semakin tidak berkutik


Astaga anakku yang polos, mengapa kamu susah mengerti sayang! Jika kami mu ini hanya lah alasan saja! Bukannya membela kamu justru mendukung papi dan sepupu mu! ~batinnya


"Mungkin ini keputusan yang terbaik, Gerry sayang. Mami sangat senang jika kamu ingin tinggal bersama kita! Mami sangat senang sekali! Mami harap, kamu bisa menjaga Monica dengan lebih ketat lagi. Kalian juga bisa pulang dan pergi kantor bersama!"


Wanita paru baya itu memeluk Gerry, namun Gerry tahu jika itu bukan lah pelukan tulus dari seorang ibu yang menyayangi anaknya


"Kalau kamu masih punya malu, kenapa setuju? Emang kamu dan kedua orang tua mu hanya menyusahkan keluarga aku saja!"


Maminya Monica membisikan itu ditelinga Gerry membuat pria itu segera melepaskan pelukannya dari maminya Monica "Maafkan Gerry papi! Tapi Gerry tidak bisa! Gerry lebih baik tinggal sendirian, memangnya kenapa kalau atap bocor? Yang penting masih bisa di tempati!"


Gerry pun ingin pergi, namun Monica dan papinya masih mencegah "Nak, kalau kamu tolak. Percayalah papi bisa masuk rumah sakit!"


Gerry tahu jika saudara kembar papanya itu memiliki penyakit jantung sejak bawaan, dan itu tidak boleh membuatnya merasa kaget, atau pun memikirkan hal-hal aneh. Gerry lebih baik mengalah daripada papinya terkena serangan jantung


"Gerry akan tinggal di sini, namun dengan satu catatan. Papi tidak boleh sakit-sakitan! Papi harus tetap sehat!"


"Papi akan tetap sehat, jika anak-anak papi ada di sini!" Papinya Monica memeluk Monica dan Gerry secara bersamaan.


*******


Malam harinya, Ara kembali pulang ke rumah dengan perasaan yang sedih. Ia mengingat semua kejadian yang ada di kantor


"Ara sayang, kamu udah pulang? Makan dulu yuk!"


Salvira mengajak Ara untuk makan malam, ia tahu jika sahabat anaknya itu belum makan. Salvira memandangi wajah Ara yang terlihat tidak bersemangat, dan sepertinya wanita itu sedang bersedih "Ara sayang, kamu kenapa?"


Ara beranjak kaget "Mami, sudah lama mami berdiri di situ?" Ara bertanya dengan sedikit gugup, Salvira menatap Ara "Seharusnya mami yang bertanya sama kamu. Kenapa kamu pulang dengan wajah yang sedih dan tatapan kosong?"


"S-sedih? Tidak kok mami, Ara tidak sedih! Ara hanya sedikit lelah saja karena pekerjaan kantor," Ara mendekat tanpa menatap mata Salvira.


Ara duduk di kursi makan, Salvira juga duduk di samping anak angkatnya itu "Ini sudah malam, kenapa kamu lama pulang?"

__ADS_1


__ADS_2