Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! 109


__ADS_3

Semuanya memang begitu sakit untuk Bunga, apalagi mengingat awal pernikahannya dengan Jasson. Ia seperti tidak menyangka, sahabatnya dari kecil memperlakukannya sangat kasar sekali.


Berulangkali Bunga merasa sabar dengan sikap Jasson, namun makin hari Jasson semakin memperlakukannya dengan seenaknya bahkan tidak pernah memikirkan perasaannya sedikit pun


"Sayang, sekali lagi dan akan berulangkali aku akan meminta maaf kepada mu. Aku berharap, agar ada sedikit saja kesempatan untuk aku,"


"Mungkin jika kau tidak menganggu aku terus menerus seperti ini,.aku bisa berpikir dengan jernih dan memberikan kesempatan sama kamu walau hanya satu persen saja. Namun karena kau selalu membuat keributan seperti ini, aku kehilangan respect dengan mu Jasson! Aku semakin kesal dan muak, bahkan aku merasa jika aku telah menyesal menikah dengan lelaki egois seperti mu!"


Jasson tersentak kaget dengan ucapan Bunga, Karena selama ia mengenal Bunga. Dirinya tidak pernah mendengar istrinya mengatakan hal kebencian kepada siapapun. Walau kepada orang-orang yang jahat dengannya, apakah semuanya begitu sakit untuk Bunga?


"A-apakah semuanya sangat sakit bagi mu?"


Bunga hanya menggelengkan kepalanya, mengapa Jasson tidak mengerti juga dengan semuanya. Seperti dia tidak mengerti dan menyadari kesalahannya. Bunga tidak mau terlalu lama berbasa-basi kepada suaminya. Ia berjalan menjauh dari Jasson, namun Jasson masih saja mengejarnya membuat Bunga kehilangan kesabarannya itu


Ia membalikan badan, menatap suaminya "Sekali lagi, atau selangkah saja kau mengikuti ku Jasson. Maka aku tidak akan memanggil security untuk mengamankan mu, bukan hanya itu saja! Aku tidak ingin mengenal mu lagi! Jangan mengira aku diam karena aku masih menganggap mu seperti dahulu Jasson! Kau salah paham, jadi aku mohon menjauh lah dari aku sekarang! Aku tidak ingin kau ganggu kehidupan aku lagi!"


Bunga mengatakan itu dengan nada yang serius, Jasson yakin jika istrinya tidak main-main. Kini Jasson tidak mengejar Bunga lagi namun ia berharap jika Bunga tetap memberikannya kesempatan untuk memperbaiki segalanya "Aku yakin kau akan memberikan aku kesempatan sayang! Aku sangat yakin itu! Aku sangat mencintai mu Bunga. Sangat mencintai mu!"


Bunga tidak menjawab, ia segera masuk ke dalam rumah. Menutup dan mengunci pintu agar Jasson tdiak datang lagi, Bunga menangis meneteskan air matanya


"Mengapa kau sangat keras kepala Jasson? Kau memperlakukan aku seperti barang. Di saat kau ingin, kau akan memakainya dan di saat kau bosan. Kau akan mencampakkannya, mau sampai kapan kau terus memainkan perasaan ku?" Bunga terisak, namun tidak mengeluarkan suara, dadanya terasa sangat sesak


Mengapa Jasson tdiak pernah membiarkan Bunga hidup tenang dan bahagia? Ia selalu saja menganggu ketenangan Bunga, bahkan tidak perduli dengan perasaan Bunga


*******


Salvira mendekati anaknya, ia tahu jika anaknya sangat sedih, memegang bahu Bunga tentu saja membuat wanita itu tersentak kaget..


Bunga menoleh kebelakang, dan melihat maminya "M-mami?"


Ingin menghapus air matanya juga sudah terlambat "Sayang, jika kamu ingin menangis. Menangis lah! Kamu tidak perlu berpura-pura tegar di hadapan mami, menangis lah nak jika itu membuat hati kamu tenang,"


Bunga segera memeluk maminya dengan erat, menangis terisak dipelukan maminya. Salvira tidak bertanya ada apa dan mengapa anaknya menangis.


Ia hanya ingin anaknya meluapkan segalanya lewat tangisan jika itu yang akan membuat anaknya merasa lebih baik.


"Mami tahu apa yang kamu rasakan nak, dan mami juga merasa sakit dan sedih. Namun lebih baik kamu meluapkan segala rasa sakit dan sedih mu, daripada kamu harus memendamnya karena itu yang akan membuat kamu semakin tersiksa."


Salvira sangat menyayangi anaknya, jika nyawanya harus di tukar demi kebahagiaan sang anak maka ia rela melakukan itu semua demi anaknya "Sayang, mami tidak tahu harus melakukan apalagi, namun mami sangat menyayangi kamu. Kamu adalah hidup dan cintanya mami, bagaimana bisa mami bisa tenang melihat kamu menderita seperti ini? Ini semua kesalahan mami, andai mami tidak memaksa Jasson menikah dengan kamu maka semua ini tidak akan terjadi! Jasson benar-benar sudah merusak hidup kamu!"


Salvira membatin dalam dirinya, walau Bunga tidak mengatakan apapun namun Salvira tahu jika tangisan dan kesedihan anaknya itu ada hubungannya dengan Jasson.


Setelah merasa tenang dan puas menangis, Bunga melepaskan pelukannya dari sang mama


"Apakah sudah lebih tenang dan mendingan sayang ku?"


Bunga mengangguk, hati dan perasaannya jauh lebih lega dibandingkan tadi "Mami, terima kasih banyak ya karena mami selalu ada untuk aku, mami mau meminjamkan bahu mami untuk Bunga. Padahal Bunga sudah berumah tangga, namun mami selalu stay di saat Bunga membutuhkan pelukan dari mami,"


Salvira membelai rambut anaknya, sampai mati pun ia akan tetap menjaga anaknya dari kerasnya dunia.


"Sayang, mami mencintai kamu melebihi mami mencintai diri mami sendiri. Mami akan melakukan apa saja demi kebahagiaan kamu, dan mami akan melindungi kamu dari kerasnya dunia ini. Hanya saja, mami sudah gagal sayang. Mami gagal menikah kan kamu dengan orang yang tepat, andai mami lebih teliti mungkin sekarang kamu sudah bahagia,"


"Mami tolong jangan katakan hal itu! Ini semua bukan lah kesalahan mami! Ini semua kesalahan Bunga, karena Bunga yang telah memilih suami yang salah. Mami hanya melakukan hal yang akan membuat Bunga bahagia, dan Bunga sangat tahu itu! Mami selalu melakukan apapun untuk kebahagiaan Bunga, mami jangan menyalahkan diri mami sendiri ya?"


Salvira mengangguk, ia memeluk anaknya dengan erat kembali "Mami sangat mencintai kamu sayang! Mami sangat mencintai kamu, kamu adalah segalanya bagi mami,"


Salvira mengingat, bagaimana ia dan suaminya menanti kehadiran Bunga dengan penuh perjuangan, bahkan Salvira seringkali keguguran, ia sangat sulit hamil namun hamil dan melahirkan Bunga adalah mukjizat yang sangat luar biasa. Bentuk baiknya pencipta kepada dirinya


"Mami jangan menangis!" Bunga menyeka air mata maminya, ia tidak mau maminya menangis seperti itu.


"Seharusnya sebagai anak aku bisa membahagiakan mami, namun aku hanya bisa membuat mami terus saja menangis," batinnya..Bunga merasa bersalah, seharusnya ia tidak egois dan memikirkan kesedihannya saja.

__ADS_1


Ia juga harus merasakan kesedihan dan penderitaan yang di alami oleh orang sekitarnya. Seperti maminya Salvira, ibu mertuanya dan juga sahabatnya Ara.


Semua orang memiliki masalah dan kesedihan mereka masing-masing namun mereka bisa kuat, dan tidak menunjukkannya. Sedangkan Bunga, begitu cengeng hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Hal itu membuat orang-orang sekitar merasa sangat khawatir dengannya.


Bunga berjanji kepada dirinya sendiri akan menjadi wanita yang lebih kuat lagi, dia tidak akan lemah walau apapun yang akan terjadi kedepannya. Ia tidak mau lagi membuat luka dan kesedihan untuk orang-orang yang ia sayangi, seperti mami, mama dan juga Ara.


******


Ara telah sampai di kantor, ia memutuskan untuk pergi ke kantor. Melihat Gerry yang sibuk dengan ponselnya, membuat wanita itu terlihat bete


"Ish! Lagi Chattingan sama siapa sih dia? Kenapa sepertinya asyik banget. Itu pakai acara senyum-senyum segala?" Batin Ara


"Wah kamu sangat beruntung bisa dekat dengan tuan Gerry! Dia itu sangat tampan dan idola bagi karyawan wanita di kantor ini!" Ujar salah satu karyawan yang sedang berbincang-bincang kepada wanita cantik, bertubuh tinggi dan putih, hidungnya juga sangat mancing serta memiliki mata indah berwarna biru.


"Itukan Monica, apa bener Monica dekat dengan Gerry?" Batinnya lagi, jika keponya Ara memberontak, ia pun mendekati meja karyawan.


"Monica!"


Wanita itu segera bangkit dan berdiri "Iya Bu Ara, ada apa?" Tanya wanita cantik yang ada didepannya


"Apakah yang saya dengar itu benar? Kamu sedang dekat dengan Gerry?"


Terlihat wanita itu sangat canggung, tangannya gemetar. Menunduk kebawah, hal itu semakin membuat rasa penasaran Ara bertambah "Jawab saya Monica!"


"Iya itu semua benar!" Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, Ara menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah Gerry. Gerry sendiri sudah mengakuinya "Benar nona Ara, saya dan Monica memang dekat dan memiliki hubungan khusus, apakah nona merasa keberatan?"


Pertanyaan Gerry membuat Ara semakin salah tingkah, hatinya juga terenyah sakit. Apakah dia cemburu? Namun Bunga menutupi kecemburannya "Tidak ada yang masalah bagi saya! Namun ini kantor dan kalian harus profesional! Kalian mengerti?"


Setelah mengatakan itu Ara langsung pergi meninggalkan Gerry dan beberapa karyawan. Ia sedih namun tidak bisa berbuat apapun


Ara masuk ke dalam ruangannya, duduk dengan hati yang hancur


Kau bodoh Ara! Mengapa kau berharap lebih kepada Gerry? Kau harus sadar dengan status janda mu tidak pantas untuk lelaki bujangan sepertinya! ~gerutu Ara sambil menyeka air matanya.


Ara segera menghapus air matanya dan bersikap dingin saat tahu Gerry masuk ke dalam ruangan. Ara melakukan kesibukan dengan mengerjakan tugas yang telah diberikan untuknya.


Juga memeriksa keuangan, Gerry mendekat kepada Ara "Nona, anda meninggal ponsel anda di meja Monica,"


Gerry lebih dekat lagi dengannya, namun Ara meminta lelaki itu untuk keluar dari ruangan "Terimakasih! Kau boleh keluar sekarang!"


"Kenapa? Bukannya ini juga ruangan saja?"


"Itu dulu, sekarang tidak! Saya lupa memberitahu mu jika ruangan kita akan terpisah, dan saya juga sudah membicarakan itu kepada Bunga. Dan dia sudah menyetujuinya," Ara pun mengatakan kebohongan, apalagi yang bisa ia katakan?


Ara tidak mau sering-sering dekat dengan Gerry, itu akan membuatnya semakin sulit melupakan Gerry. Masalah Bunga, ia akan meminta maaf kepada Bunga karena sudah memakai namanya, serta meminta izin kepada sahabatnya itu, bukannya ia ingin bersikap seperti bos. Namun menjauh dari Gerry itu adalah keputusan terbaik baginya.


"Nona, namun mengapa mendadak sekali?" Gerry masih bertanya dengan keputusan Ara yang sangat mendadak baginya.


"Tidak ada yang mendadak Gerry! Aku sudah merundingkannya kepada Bunga sejak beberapa waktu lalu hanya saja aku tidak sempat memberitahu mu,""


"Namun nona belum berunding kepada saya, apakah pendapat saya tidak penting?"


"Bukannya tidak penting! Hanya saja saya lupa memberitahu mu kemarin-kemarin, sudah lah mengapa masalah ini kamu perpanjang, jika kamu tidak ingin pergi dari ruangan Ini saya yang akan mencari ruangan baru untuk saya, hal seperti ini tidak perlu di perbesarkan!"


"Bukan begitu nona! Hanya saja ini sangat mendadak seperti tidak menghargai karyawan kecil seperti saya!"


Ara terdiam, ia tidak bisa menjelaskan apapun lagi kepada Gerry. Mungkin memang dirinya yang tidak profesional dalam pekerjaannya, namun jika ia terus satu ruangan dengan Gerry itu akan membuatnya kesulitan melupakan lelaki itu


"Nona, saya membutuhkan alasan ini semua!"


Gerry kali ini bertanya dengan nada dingin dan penuh dengan keseriusan, kembali ke mode asal. Gerry yang dingin dan sangat serius. Sudah lama Ara tidak melihat sosok itu dalam diri Gerry, karena selama ini Gerry selalu saja mengganggunya dan membuat keributan.

__ADS_1


Ara tidak menjawab, Gerry kesal dan memutuskan untuk keluar ruangan.


******


Monica yang melihat Gerry keluar ruangan dengan wajah yang kesal langsung beranjak bangkit mengejar Gerry. Awalnya Ara juga ingin menyusul, namun saat melihat Monica mengejar lelaki itu ia mengurungkan niatnya


"Monica pacarnya dan lebih memiliki hak untuk menenangkan emosinya! Aku tidak boleh menganggu mereka!" Gumam Ara dengan perasan yang sangat sedih


"Gerry tunggu!" Monica memanggil lelaki itu, membuat Gerry terdiam menghentikan langkah kakinya.


Monica mendekati Gerry "Aku melihat mu keluar dari ruangan Nona Ara dengan memasang wajah kesal, ada apa?"


"Dia memutuskan untuk memisah ruangan kami," Gerry menjawab dengan nada yang gusar.


Monica mendekat dan memegang bahu Gerry "Namun kenapa? Dan sangat tiba-tiba?"


"Aku juga tidak tahu! Padahal aku tidak membuat kesalahan apapun, namun tiba-tiba dia melakukan itu,"


"Kamu yang sabar aja! Mungkin memang nona Ara ingin memiliki ruangan sendiri,"


Monica menghibur sepupunya itu, ternyata Ara sudah salah paham dengan hubungan Gerry dan Monica.


Monica sangat dekat dengan Gerry, karena keduanya adalah sepupu. Papa mereka adalah saudara kembar.


"Kamu harus bisa sabar, kamu mengatakan kepada ku kalau dia adalah wanita yang kamu cintai. Aku tahu, pasti kamu kesal karena akan berjauhan dengannya, namun ini kantor. Dan kita harus profesional Gerry! Jangan karena cinta mu kepadanya kamu tidak profesional dalam bekerja, memangnya kenapa jika beda ruangan? Bukan berarti harus berjauhan, kalian masih satu kantor juga! Sudah jangan kesal lagi, tdiak enak di lihat oleh karyawan yang lainnya!"


Gerry mengangguk, Monica memeluk Gerry "Begitu dong! Jangan ngambekan seperti anak kecil,"


Gerry Tersenyum membalas pelukan sepupunya itu. "Kamu emang paling bisa meredakan amarah dan kekesalan aku!"


"Siapa dulu dong! Namanya aku sepupu mu yang paling cantik!"


Keduanya tertawa, saling mempererat pelukan satu sama lain.


Ara memantau dari jauh, hatinya sangat sakit melihat pemandangan yanga didepan.


"Gerry terlihat sangat bahagia dan tenang di dekat Monica. Mereka sepertinya sangat dekat sekali dan Gerry mengatakan jika mereka memiliki hubungan yang khusus apakah mereka sudah berpacaran?"


Ara bertanya-tanya dan memiliki pemikirannya tersendiri tanpa mencari tahu yang sebenarnya.


Orang-orang yang di kantor memang tidak tahu jika Gerry dan Monica adalah sepupu, papanya mereka adalah saudara kembar sebab itu orang-orang di kantor mengira jika Monica dan Gerry itu sepasang kekasih terlebih lagi Monica sangat menjaga dengan Gerry!


*****


"Kamu tahu enggak? Hampir satu kantor mengira jika pacaran!"


"Ha-ha-ha, kau serius Monica?"


Monica mengangguk, ia juga mengajak sepupunya membuat kopi di pantry "Iya, terutama kak Vania. Ia mengira kita pacaran dan membuat hebo satu kantoran. Semuanya nanya ke aku, kalau aku ini pacaran sama kamu? Bahkan yang menyukaimu pada membenci ku,""


Gerry yang mendengarnya tidak percaya, ia juga tidak tega dengan sepupunya yang di benci oleh orang-orang dan semua karyawan kantor karena dirinya "Kenapa kamu enggak bilang aja kalau kita sepupuan?"


Monica menggelengkan kepalanya dengan cepat "Papi yang meminta aku untuk tidak memanfaatkan jabatan mu di sini Gerry! Jadinya, papi bilang jika aku seolah tidak mengenal mu saja. Karena jika aku mengatakan aku ini sepupu mu, aku akan dihargai oleh karyawan yang lainnya. Itu akan membuat ku keras kepala dan melupakan tugas ku apa,"


Gerry membelai rambut Monica dengan penuh kasih dan sayang "Papi memang selalu mengajarkan kamu dan kita semua tentang kemandirian dan tdiak bergantung kepada orang. Lihat anaknya sekarang! Menjadi wanita yang mandiri, walau ia tahu jika sepupunya memiliki jabatan yang berpengaruh di sini namun kamu tidak menyalahgunakannya, aku bangga sama kamu. Bukan hanya aku, namun semua keluarga kita!"


*****


"Mengapa mereka bermesraan-mesraan di daerah kantor? Apa mereka tidak tahu jika ini tempat bekerja, bukannya berpacaran?"


Terlihat Ara semakin tdiak terkendali menahan kecemburuannya, sepertinya ia ingin sekali melabrak Monica untuk menjauh dari pujaan hatinya.

__ADS_1


Namun saat Ara ingin pergi, ia mengurungkan niatnya "Jika Gerry juga mencintai wanita itu untuk apa aku mengejar mereka? Untuk apa kau melabraknya? Itu akan membuat aku malu sendiri, aku memalukan diri ku sendiri karena kau tahu jika Gerry juga mencintainya. Tidak! Aku tidak mau terlihat bodoh karenanya! Aku tidak mau! Lebih baik aku sabar dan melihat semua ini dari jauh!"


Ya, Ara tidak mau seperti orang bodoh yang melabrak wanita lain demi lelaki yang ia sukai, dia trauma karena mantan suaminya juga seperti itu awalnya. Apa yang ia dapat? Malah mendapatkan siksaan yang sangat kejam, jika mengingat itu membuat hatinya merasa sangat hancur. Bagaikan mimpi buruk baginya


__ADS_2