Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 114


__ADS_3

"Terimakasih banyak nyonya, semoga kalian di berikan rezeki yang melimpah dari yang maha kuasa,"


Bunga dan Salvira tersenyum, mereka juga mendoakan agar semuanya diberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Bukan hanya dari materi, namun juga secara batin dan emosional. Karena materi tidak menjamin kebahagiaan seperti yang Bunga rasakan.


Sejak kecil, ia bahagia berlinang harta, mendapatkan fasilitas yang mewah dan berkecukupan namun ia tidak beruntung dalam rumah tangga. Suaminya tega mengkhianatinya walau segalanya sudah ia berikan kepada Jasson..


Jasson juga sudah banyak memanfaatkan kebaikannya, banyak juga sejumlah uang yang Jasson ambil dari tabungan Bunga, namun wanita itu tidak mau mempermasalahkannya karena baginya uang bukan lah segalanya, uang habis bisa di cari namun kepercayaan yang sudah di hancurkan? Tidak bisa kembali pulih seperti biasa.


Mobil pun melaju kembali ke rumah "Sayang, mami senang sekali karena sudah membelikan keperluan untuk baby kamu, tapi rasanya belum puas mami, mami ingin memborong semuanya yang ada di toko itu,"


Bunga tersenyum "Mami, ingat kita enggak boleh menghambur-hamburkan uang seperti itu. Lagipula, Bunga rasa semuanya udah cukup kok! Semuanya udah sangat banyak mami! Lagipula, nantinya akan sebentar di gunakan oleh baby-nya Bunga nanti. Dia akan bertambah besar,""


"Sayang, kamu bagaimana sih? Mami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk cucu pertama mami, semuanya akan mami berikan. Iya nanti kalau enggak bisa di pakai lagi, kita akan membeli pakaian yang baru lagi untuk anak kamu,"


Bunga hanya diam, ia tahu bagaimana maminya sangat menunggu kehadiran anaknya lahir, Bunga juga seperti itu namun menurutnya maminya terlalu berlebihan


Keduanya pun sudah sampai di rumah, supir membantu Bunga dan Salvira membawa semua barang belanjaan di dalam "Langsung aja di bawa ke kamar Baby ya pak!"


Salvira meminta supirnya untuk membawa barang-barang itu di kamar cucunya nanti. Walau belum lahir, Salvira sudah menyiapkan kamar khusus baby, dengan fasilitas yang sangat baik dan nyaman.


"Sayang, kamu pasti lelah bukan? Sebaiknya kamu istirahat saja, biar mami yang menyusun semua ini di lemari!"


"Tidak usah mami, biar Bunga saja yang menyusunnya pelan-pelan. Mami yang harus banyak istirahat, mami pasti lelah,"


"Tidak! Mami bahkan sangat bersemangat, dan mami akan merombak kamar ini dengan kamar sebelah, akan mami satukan. Karena mami akan memasukan banyak mainan untuk anak kamu nantinya, jadinya dia memiliki ruang bermain yang khusus!"


"Mami, itu sangat berlebihan. Usia kandungan Bunga juga baru memasuki empat bulan. Dan saat sudah lahir, anak Bunga juga enggak bisa langsung bermain mami. Membutuhkan dua atau tiga tahun lagi, dan itu masih sangat lama,"


"Sayang, itu bukan waktu yang lama. Tidak terasa, buktinya rasanya baru saja kemarin mama mengandung dan melahirkan kamu..tapi sekarang, mami akan menjadi seorang nenek dan itu sangat tidak terasa,"


Bunga pun diam, tidak mau lagi membantah ucapan maminya. Karena Bunga hanya ingin membuat maminya bahagia, dan dengan cara itu maminya bahagia maka Bunga akan mengalah


"Terserah mami saja, Bunga akan mengikuti semua keinginan mami,"


Bunga tersenyum kepada maminya "Sayang, mami akan selalu dan ingin memberikan yang terbaik untuk kamu, untuk Ara dan juga untuk anak kamu kelak. Kalian yang mami punya saat ini, mami sangat menyayangi kamu! Mami menyayangi kalian semaunya, kalian keluarga dan kehidupan mami!"


Bunga memeluk maminya dan mengatakan jika ia juga sangat menyayangi dan mencintai maminya "Bunga sangat menyayangi dan mencintai mami. Bunga tidak mau mami kelelahan karena mengerjakan ini semua, Bunga sangat menyayangi mami. Karena semenjak papi tiada, mami lah satu-satunya orang yang selalu menjaga dan melindungi Bunga,"


"Sayang, kamu melupakan seseorang yang selalu menjaga dan melindungi kamu selain mami."


"Bunga tahu mi, Ara kan yang mami maksud?"


Salvira mengangguk, Bunga juga mengakui jika ia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Ara yang selalu bersedia menjaga dirinya "Mami benar! Ara satu-satunya orang yang sangat menyayangi dan menjaga serta melindungi Bunga selain keluarga,"


"Iya sayang, mami juga selalu berdoa untuk kebahagiaannya,"


Bunga sangat antusias, jika membicarakan tentang sahabatnya itu "Mami percaya deh sama Bunga, Ara sebentar lagi akan menemukan kehidupannya yang baru. Ia dan Gerry akan menjalani kehidupan rumah tangga,"


Senyuman di wajah Salvira memudar, ia mengingat bagaimana hancurnya Ara kemarin saat memberitahu segalanya namun Salvira juga tidak bisa menceritakan semua itu kepada anaknya. Ara yang melarangnya karena ia tidak mau Bunga kepikiran tentang masalah Ara.


"Mami, kenapa mami diam? Apa mami tidak percaya dengan Bunga? Bunga melihat ketulusan dan cinta di mata Gerry untuk Ara. Sangat berbeda jauh dengan Jasson dahulu,"


"Sayang, sudah lah jangan membahas apapun! Lagipula, kita tidak bisa mengatur kebahagiaan orang lain bukan? Mami juga akan selalu mendoakan kebahagiaan Ara walau bukan bersama Gerry!" Bunga cemberut, membuat Salvira merasa gemas dengan anaknya itu "Kenapa sih sayang, kenapa kamu cemberut seperti itu?"


"Mami sih, Bunga kan sudah mengatakan jika Gerry itu jodoh yang baik untuk Ara,"


Salvira mengatakan jika sebaiknya Bunga tidak memikirkan itu "Sayang, lebih baik kamu jangan memikirkan hal itu. Jika memang itu berita baik, kita pasti akan menerimanya. Lagipula Gerry dan Ara sudah dewasa. Mereka tahu mana yang terbaik untuk mereka, dan jika Gerry memang serius dengan Ara dia pasti akan mengajak Ara ke jenjang pernikahan. Kita enggak boleh terlalu banyak berharap kepada orang lain, apalagi Gerry belum ada penjelasannya!"


Bunga pun mengangguk, namun ia mengatakan jika dirinya sangat berharap untuk kebaikan Ara.

__ADS_1


"Sayang, sudah lah! Kamu istirahat saja,"


Salvira pun langsung mengerjakan sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan. Salvira tidak mau lagi anaknya membahas tentang Ara, bukannya ia tidak menyayangi Ara namun Salvira sedih mengingat Bagaimana sedihnya Ara bercerita kepadanya tentang Gerry.


*******


Ara pulang dengan perasaan yang berbunga-bunga, ia pun di antar oleh Gerry namun Ara bersikap seperti biasanya "Sudah sampai, kamu hati-hati ya. Dan aku selalu menunggu jawaban hingga kau bisa menjawabnya,"


Ara tersenyum kepada Gerry, ia langsung turun dari mobil. Salvira mengerutkan dahinya heran.


Kemarin Ara bercerita bagaimana Gerry mempermainkan perasaannya namun sekarang anak angkatnya itu di antar oleh Gerry, Gerry memberikan salam kepada Salvira.


Wanita paru baya itu membalasnya dengan ramah, Ara masuk ke rumah. Terlihat jelas dari wajahnya jika ia sedang mengalami jatuh cinta "Sayang, kenapa kamu?"


"Mami, Bunga!" Ara berteriak sambil memeluk keduanya "Gerry ngelamar aku tadi,"


Bunga pun ikut bahagia, sangat antusias ingin mendengarkan cerita sahabatnya itu "Waw, lalu bagaimana? Kamu udah setuju?"


Ara menggelengkan kepalanya "Kenapa kok enggak di jawab? Kan kamu juga cinta sama dia?"


Salvira menatap Ara, seperti meminta penjelasan. Ara pun menjelaskan segalanya kepada wanita itu "Mami, Ternyata Ara sudah salah paham dengan Gerry."


"Ada apa ini? Sepertinya aku ketinggalan sesuatu?" Bunga seakan tidak mengerti, dan dia memang tidak mengerti percakapan antara mami dan sahabatnya itu


"Gerry dan Monica memang memiliki hubungan khusus mami, karena sebenarnya mereka itu adalah sepupu. Papa mereka itu saudara kembar, dan orang-orang di kantor tidak tahu dengan status keduanya. Gerry dan Monica juga tidak mau memberitahu karena mereka tidak mau orang-orang mengira Monica diterima bekerja di perusahaan mami dan Bunga karena adanya Gerry. Karena Monica masuk dengan jernih payahnya sendiri, apalagi semua tahu jika Gerry juga diberikan kepercayaan oleh Bunga untuk membantu Ara menghandle perusahaan,"


"Oh begitu ceritanya? Syukurlah! Mami lega jika memang begitu kebenarannya,"


"Mami, Ara. Ini sebenarnya apa yang terjadi? Siapa Monica?"


Ara akhirnya menceritakan segalanya kepada Bunga, kini Bunga mengerti namun wanita itu ngambek "Begitu ya sekarang, udah main rahasia-rahasia! Enggak mau lagi cerita sama aku, malah curhatnya ke mami. Memangnya sahabat kamu sekarang aku atau mami?"


"Kenapa sih banyak alasan, aku kan juga khawatir kalau sesuatu terjadi kepada Ara namun tidak ada yang memberitahu,"


Ara langsung memeluk sahabatnya "Jangan sedih dong, kan sekarang aku enggak sedih. Aku bahagia karena Gerry sudah melamar aku tapi,"


"Tapi? Kenapa?" Salvira bertanya kepada Ara, Ara mengatakan jika dirinya masih trauma dengan pernikahan "Mami, Ara belum siap karena Ara takut gagal lagi,"


"Sayang, kamu harus bisa bangkit jangan mengingat masa lalu kamu yang kelam, karena itu akan membuat kamu sulit melanjutkan hidup. Kamu harus tahu, tidak semua lelaki itu sama,"


Mata Ara berkaca-kaca, ia tahu bahwa tidak semua lelaki itu sama namun Ara masih sangat takut "Sayang, saat kemarin kamu salah paham dengan Gerry? Kamu sangat sedih, tandanya kamu tidak bisa melihat ia bahagia dengan wanita lain. Dan sekarang, saat dia ingin melamar mu, kenapa kamu merasa sedih? Kamu harus bisa menjalani kehidupan kamu selanjutnya sayang, kamu jangan terus mentok dalam kesedihan,"


"Benar Ara, yang mami katakan itu memang benar! Kamu tidak bisa menyamakan masa lalu kamu yang kelam dengan masa depan kamu. Itu akan membuat kamu semakin ketakutan, dan kamu tidak bisa menjalankan kehidupan selanjutnya,"


Ara mempertimbangkan ucapan Bunga dengan Salvira. Dan ia berharap, agar dirinya bisa bahagia bersama Gerry di dalam sebuah pernikahan.


"Sebaiknya kamu hubungi Dia, beritahu jawaban kamu jika kamu menerimanya sebagai istri kamu!"


"Ara akan memberitahu Gerry jawabannya, nanti Ara akan menghubunginya,"


"Bagus sayang! Mami senang sekali mendengar kabar gembira ini,"


Salvira memeluk Ara dan Bunga secara bersamaan. Salvira juga mengajak kedua anaknya untuk makan bersama "Kamu tahu sayang? Tadi mami dan Bunga berbelanja keperluan untuk baby Bunga nanti,"


"Apa? Kenapa kalian berbelanja tanpa aku? Aku kan juga ingin memilih untuk keponakan aku,"


Ara cemberut karena dirinya tidak di ikut sertakan dalam berbelanja, Bunga dan Salvira pun meminta maaf dan berjanji akan mengajak Ara lain waktu "Jangan marah! Nanti kita akan berbelanja bersama lagi bertiga nanti."


Ketiganya pun menuju dapur untuk makan bersama.

__ADS_1


*********


Jasson yang tinggal seorang diri sekarang, mengingat semua kenangannya dengan Bunga. Biasanya, Bunga yang selalu mengurus semua kebutuhan Jasson, bahkan ia memasak setiap hari untuk Jasson tanpa mengeluh sedikit pun


Flashback


Saat malam pertama pernikahan mereka, keduanya sangat lelah namun Bunga masih saja berusaha melayani Jasson. Ia memasak makanan untuk Jasson


Bunga masuk ke dalam kamar "Jasson ini makanan untuk kamu," saat Bunga memberikan mangkuk berisi makanan itu, Jasson menepis mangkuk itu


"Jangan pernah memberikan aku apapun dari diri mu,"


Bunga kaget dengan perlakuan kasar Jasson untuk pertama kalinya "J-jasson, ada apa? Aku tahu, pa-pasti kau merasa lelah bukan? Iya kau pasti lelah karena seharian ini banyak tamu yang berdatangan. Tidak masalah! Aku memakluminya Jasson, tapi sekarang kita makan dulu ya?"


"Sudah aku katakan kau jangan mendekat denganku!" Jasson mengatakan itu dengan nada yang sangat keras, membuat Bunga reflek tersentak kaget. Air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Ke-kenapa kau sangat kasar Jasson? Biasanya kau tidak pernah seperti ini?"


"Karena aku membenci mu! Dan sampai kapan pun aku akan tetap membenci mu! Aku tidak suka dengan mu!"


Jasson mencengkram bahu Bunga dengan kasar, wanita itu sangat kaget namun tidak mengatakan apapun.


"J-jasson? Kenapa kau tiba-tiba berubah dengan aku?"


"Karena kau wanita yang sangat egois! Aku mengira jika kau sebaik dah seindah nama mu namun ternyata kau sangat busuk! Kau mengandalkan semua kekayaan mu untuk memiliki ku, apakah kau berpikir aku akan mencintai mu? Tidak nona! Kau salah besar! Aku tidak akan pernah mencintai mu, bahkan aku akan membuat kehidupan mu berantakan!"


Jasson kembali mencengkram kedua pipi Bunga hingga membuat wanita itu meringis kesakitan "Am-ampun Jasson!"


Di malam pernikahan, bukannya Bunga mendapatkan haknya sebagai orang istri ia bahkan di perlakukan sangat kasar oleh seseorang yang ia anggap sebagai sahabat sekaligus suaminya yang akan melindunginya


Flashback end


****


Jika mengingat semua itu, membuat Jasson semakin merasa bersalah "Betapa buruknya aku menjadi suami. Bahkan bukan hanya menyiksa mu secara batin dan fisik. Aku juga membawa wanita lain dalam kehidupan rumah tangga kita, aku mengajaknya untuk tinggal bersama bahkan walau kau sudah meminta kepada ku, aku tetap menikah dengannya saat kau kehilangan ingatan mu."


Kini, Jasson benar-benar merasa bersalah, tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya "Apakah ada kesempatan kedua bagi mu untuk memperbaiki semuanya? Atau aku tidak memiliki kesempatan apapun lagi?"


Jasson bahkan, memasak sendiri. Rasanya sangat hambar, bahkan terkadang sangat asin. Ia juga tidak memiliki uang untuk membeli makanan di luar, Jasson sudah mencari pekerjaan namun ia belum mendapatkan panggilan kerja.


Jasson pun membuka dompetnya, melihat tinggal ada uang beberapa lembar lima ribu. Itu pasti tidak akan cukup untuk hidupnya sebulan ke depan.


"Aku harus bagaimana? Beras memang ada, minyak dan gas juga masih banyak. Cukup untuk sebulan, namun tidak ada cabai atau pun lauk."


Ingin rasanya Jasson menangis, di pelukan mamanya. Namun saat ini mamanya tidak mau menerimanya lagi, Jasson harus belajar hidup mandiri.


Ia pun melihat ke arah luar jendela, melihat beberapa kuli bangunan bekerja "Apa sebaiknya aku meminta pekerjaan bersama mereka?" Namun Jasson menggelengkan kepalanya, ia merasa gengsi jika harus bekerja menjadi kuli bangunan "Tidak! Aku ini seorang sarjana, aku juga pernah menjadi CEO, dan bekerja di kantoran walau hanya pegawai bawahan. Masa aku harus turun menjadi kuli bangunan? Tidak! Tidak! Itu tidak layak untukku!" Gumamnya.


Namun ia kembali berpikir, jika dirinya gengsi maka ia tidak bisa makan. "Tapi uang ku sudah menipis, aku juga harus membayar tagihan air dan listrik setiap bulannya,"


Jasson kini tak banyak berpikir, ia langsung beranjak dari duduknya


"Aku akan bertanya kepada mereka!"


Hati dan pikirannya berperang, di satu sisi Jasson membutuhkan uang dan pekerjaan, namun di sisi lain ia juga gengsi harus menjadi kuli bangunan.


Kini, Jasson merasakan susahnya kehidupan setelah berpisah dari Bunga. Apalagi, sejak kecil kehidupannya sudah mewah karena kedua orang tuanya. Dan saat kedua orang tuanya bangkrut, Bunga dan maminya membantu perekonomian keluarganya Jasson.


"Selama ini aku banyak bergantung dengan Bunga, dengan Ade. Kepada kedua istri-istri ku dan sekarang, saat aku benar-benar susah. Aku sendirian dan tidak bisa melewatinya."

__ADS_1


Jasson sadar, walau di rumah Ade tidak semewah rumah Bunga. Namun Jasson tidak pernah memikirkan harus makan apa, dan ia selalu memberikan uang berapapun yang ia punya kepada Ade. Jika kurang, wanita itu akan menggunakan uang tabungannya. Jasson juga tidak pernah memikirkan membayar tagihan listrik dan air selama tinggal dengan Ade.


__ADS_2