
Jasson semakin emosi saat melihat Ade diantar oleh lelaki lain. Bahkan terlihat lelaki itu membukakan pintu untuk istrinya, rahang Jasson mengeras
"Siapa lelaki itu? Beraninya ia mengantar istri ku!"
Setelah Ade turun, lelaki itu langsung pergi meninggalkan Ade
Jasson langsung ke depan membuka pintu sekaligus ingin bertanya siapa lelaki yang mengantarnya namun ia bungkam karena ibu mertuanya yang mengikuti
"Ade sayang, kamu di antar oleh suami mu? Kenapa tidak masuk?"
"Iy-iya Tante, tadinya Eyden mau masuk tapi tidak sempat karena terburu-buru. Maaf ya Tante, Ade jadi tidak enak hati,"
Jasson terlihat semakin marah saat istrinya mengetahui nama lelaki itu "Ternyata mereka begitu dekat sehingga tahu siapa nama lelaki itu!" Batinnya
"Sudah ayo masuk!" Salvira mengajak Ade untuk masuk, saat melihat Eyden kini Salvira semakin yakin dengan wanita itu. Begitu juga dengan Bunga..
Namun berbeda dengan Laras, Ara dan juga Jasson yang bertanya-tanya apa hubungannya Ade dengan lelaki itu
Mau bertanya pun Jasson tidak berani karena ia takut kalau semua orang yang ada di rumah mendengar percakapan mereka.
Mata Ade masih sembab, Salvira meminta kepada Ara untuk mengantar tamunya ke dalam kamar.
Dengan senang hati Ara pun mengantarkan Ade ke kamar atas. Keduanya menaiki anak tangga satu persatu
"Hey pelakor! Ini kamar yang akan kau tempati. Dan ingat pesan ku! Jangan pernah sekali-kali kau menyakiti Bunga ku! Jika tidak, kau tahu apa akibatnya!"
Ara pun mengancam Ade, namun wanita itu tidak menghiraukannya! Hatinya masih hancur dan terluka karena bertengkar ia dan Jasson sebelumnya.
Ara langsung segera pergi meninggalkan wanita yang ia sebut dengan pelakor.
Saat Ara pergi, Jasson menutup pintu kamar istirnya "Siapa dia? Apa hubungan kamu sama dia?"
Jasson memegang tangan Ade, namun wanita itu menepis tangannya "Lepasin aku Jasson! Jangan ikut campur masalah aku, bukannya kamu yang tinggalin aku di jalan? Ha?"
Jasson terdiam, ia langsung memeluk Ade dan meminta maaf "Maafkan aku, aku tadi terbawa emosi dengan semuanya. Aku enggak bermaksud membuat kamu sedih."
__ADS_1
Ade menangis di pelukan suaminya dengan terisak, Jasson menyesal dengan perbuatannya. Seharusnya ia bisa lebih sabar menghadapi wanita yang sedang mengandung anaknya
"Tidak seharusnya aku meninggalkan mu di jalanan seperti itu,"
Kini keduanya sudah mulai reda tanpa emosi, dan sudah berbaikan "Sayang, aku harus ke bawah. Aku tidak mau mereka curiga,"
Ade mengangguk, Jasson mengecup kening Ade lalu ia segera pergi meninggalkan istri keduanya. Ia tidak mau membahas lelaki itu untuk saat ini biarlah semuanya tenang dahulu. Baru ia akan bertanya kembali siapa lelaki yang mengantarkan istrinya tadi
Jasson menuruni anak tangga "Jasson, kamu dari mana?" Bunga bertanya dengan suaminya. Ara sudah menebak jika lelaki itu pasti menemui selingkuhannya
"Aku habis dari kamar sayang! Mencari sesuatu, namun aku tidak menemukannya!"
"Alasan!" Gumam Ara namun tidak ada yang mendengar ucapannya karena suara Ara begitu pelan. Namun wanita itu menatap Jasson dengan sinis.
Laras pun meminta Jasson untuk selalu stay dengan Bunga, "Jasson, kamu harus selalu di samping istri kamu Bunga. Jangan meninggalkan dia walau hanya sebentar dong. Dia kan butuh kamu, lagi sakit!"
"Iya, apa yang mama mu katakan itu benar! Kamu harus menjaga Bunga dan harus fokus dengan Bunga jangan gentayangan seperti setan yang sebentar-sebentar hilang!"
Jasson terdiam, begitu juga dengan Laras "Sudah! Jangan bertengkar, sebaiknya kita makan sekarang. Dan mami akan minta pelayan untuk memanggil Ade, kasihan dia mungkin dia lapar,"
"Sayang, kamu baru saja mengantarkannya ke kamar. Mami enggak mau kamu capek, udah lebih baik kamu duduk saja di sini! Biar pelayan yang memanggilnya,"
"Iya mami!"
Salvira pun meminta pelayan untuk memanggil tamu mereka. Pelayan itu pun menuruti permintaan dari bosnya
"Mami, apakah penerbangan mami tidak bisa di tunda?" Entah mengapa Ara sepertinya tidak rela jika Salvira pergi. Apalagi pelakor itu ikut tinggal bersama mereka, bukannya Ara takut namun mereka lebih tidak berkutik jika ada Salvira
"Sayang, kita sudah membahas ini tadi. Kamu jangan begitu dong! Kasihan Bunga, nanti dia akan sedih juga kalau kamu sedih begitu!"
"Iya deh mi, tapi kalau bisa ya mami tetap di sini!"
"Enggak bisa sayang!"
Pembicaraan terhenti saat Ade datang, ia duduk di sebelah Ara.
__ADS_1
"Duh gatel!" Bahkan dengan sengaja Ara memijak kaki sebelah Ade. Sontak membuat Jasson kesal "Jangan resek dong Ara! Dia itu tamu di sini!"
"Kenapa kamu marah! Aku enggak sengaja, biasa aja dong! Ade aja santai!"
Ara pun mengatakan itu dengan santai, Salvira kembali melerai agar mereka tidak bertengkar "Ara sayang, sudah lah nak! Kamu jangan membuat semua orang kesal nak!"
"Maaf mami, tapi Ara memang sengaja. Maksudnya tidak sengaja!"
Mereka pun makan, Ade makan hati dengan setiap hinaan yang Ara berikan. Namun Jasson yang menepatkan wanita itu sebagai pelakor. Andai saja Jasson bisa lebih tegas dengan keluarganya mungkin ia sudah bahagia hidup dengan kekasihnya!
Ade melihat kemesraan Jasson dengan Bunga. Kini ia sudah bisa lebih menerima segalanya, tidak seperti dahulu yang mencak-mencak dan marah besar saat melihat Jasson dengan Bunga
"Cemburu kan Lo? Kasian!" Bisik Ara kepada Ade, Ara ingin wanita itu tahu apa posisinya di sini walau Ara tidak tahu jika mereka sudah menikah. Namun Bunga lah yang paling berhak atas Jasson
Jasson tahu jika Ara membisikan sesuatu yang mungkin akan membuat istri keduanya marah. Namun Jasson tidak bisa berbuat apapun, ia masih fokus dengan Bunga istri pertamanya
"Sudah Jasson! Aku sudah kenyang,"
"Sayang, kamu harus makan. Aku enggak mau kamu sakit!"
Ucapan Jasson yang perhatian dengan Bunga tentu saja membuat hati Ade sakit "Aku yakin, hidup Lo pasti akan seperti di neraka di sini. Makanya jangan jadi pelakor!" Bisik Ara kembali kepada Ade.
Mungkin kata-kata Ara memang pedas dan menyakiti hati wanita itu. Sehingga Ade menangis, Bunga yang melihat Ade meneteskan air mata pun bertanya
"Ade, kamu kenapa menangis?"
Wanita itu langsung menghapus air matanya
"Drama!" Ketus Ara, "Ara kamu jangan gitu! Kenapa kamu begitu buruk memperlakukan tamu?" Bunga menegur sahabatnya, ia juga tidak mengerti mengapa sahabatnya begitu sinis kepada Ade.
"Kau salah sangka Bunga. Aku mengatakan drama karena aku ingin menonton drama yang belum tuntas!" Ara pun menyangkal, "Sudah! Di meja makan jangan bertengkar! Kalian enggak menghargai mami, mama dan papa di sini? Ada kami yang lebih tua mengapa kalian berdebat?" Salvira mulai tegas karena ia emang tidak suka jika orang berisik di depan makanan.
"Ade sayang, kamu jangan menangis. Tante tahu kamu pasti rindu suami mu kan? Suami mu bekerja juga untuk kamu dan anak kamu, jangan menangis ya. Anggap aja kita ini keluarga kamu, kalau butuh apa-apa jangan sungkan!"
Ade semakin merasa tidak enak karena kenaikan Salvira.
__ADS_1
"Tante Salvira sudah begitu baik kepada ku, bagaimana jika ia tahu kalau aku adalah wanita yang merusak rumah tangga anaknya?" Batinnya. Mungkin hormon hamil yang membuat Ade menjadi wanita yang lebih sensitif dari biasanya