
"Dan kamu sebagai suami hanya diam dan menikmati saat istrimu di permalukan?"
Ara tak tahan lagi dengan sikap Jasson, ia begitu kesal melihat temannya dipermainkan!
Ara pun mengajak Bunga untuk menjauh dari Jasson, "Ayo Bunga! Tidak ada alasan lagi kau di sini. Dia sudah sangat keterlaluan!" Bunga menurut pada Ara, hatinya masih hancur dengan sikap ibu mertuanya.
"Sayang, dengar kan aku!"
"Berhenti! Jangan dekati sahabat ku! Kau pengkhianat! Jika selangkah saja kau berani mendekati temanku, akan ku bongkar semua kebusukan mu itu!"
Jasson terdiam, ia juga tidak ingin Ara memberitahu ibu mertuanya. "Lebih baik aku mengalah! Aku tidak ingin Ara mengatakan yang sebenarnya!"
Di ruangan Bunga, Ara meminta sahabatnya untuk mengendalikan diri. "Minum lah Bunga!"
Bunga mengambil gelas dari tangan Ara, ia pun meneguknya dengan perlahan..
Dirinya masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, begitu juga dengan Ara
"Mengapa ibu mertua mu datang secara tiba-tiba lalu marah-marah di sini?"
Bunga menggeleng, kini ia sudah pasrah.
Ia pun akan memutuskan perceraiannya dengan Jasson, Bunga meminta tolong kepada Gerry untuk surat perpisahan itu! "Gerry, tolong urus surat perceraian ku!"
Gerry mengangguk, ia pun akan membantu Bunga mengurus surat perceraian. Bunga mengatakan kepada Ara untuk terlebih dahulu pulang kerumah.
"Ara aku minta kepadamu, apapun yang terjadi. Jangan pernah memberitahu mamiku tentang semuanya! Mami akan tahu, tapi itu dari mulutku langsung. Aku mohon, jangan beritahu mami apapun. Aku yang akan dengan perlahan menjelaskannya kepada mami!"
Ara mengangguk, memang lebih baik Bunga yang bicara dengan ibu kandungnya dari hati ke hati.
"Ara, aku mohon. Tolong jaga mami! Jangan biarkan mami sedih atau di sakiti oleh orang-orang ini. Dan kau Gerry, aku perintahkan kau untuk menjaga Ara dan juga mamiku. Aku serahkan kantor ini kepadamu, Ara!"
"Apa maksud mu Bunga? Kau mengatakan ini seakan kau ingin pergi jauh dari kami semua. Seakan kau ingin meninggalkan kami semua." Bunga hanya tersenyum, sebelum pergi ia mengumumkan kepada semua karyawan. Saat dirinya tidak ada, Ara dan Gerry yang akan memegang perusahaan
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Bunga segera pergi dari kantor. Masih terdengar di telinganya bisikkan para karyawan yang membahas tentang keluarga dan juga pernikahannya.
***********
Hati Salvira sangat gelisah entah mengapa, di pemakaman suaminya ia pun merasa tidak tenang. Padahal di setiap makam sang suami, hatinya selalu tenang "Ada apa ini?"
Salvira bertanya dengan dirinya sendiri, mengapa sangat gelisah? "Pi, hati mami sangat gundah. Mami juga tidak mengerti dengan ini semua, mami hanya berharap anak kita selalu bahagia dengan suaminya."
Salvira menangis di depan pemakaman suaminya, ia hanya ingin kebahagiaan anak semata wayangnya.
Ponsel Salvira berbunyi, ia melihat panggilan masuk dari menantunya Jasson
"Iya, Jasson ada apa?"
Ponsel Salvira terjatuh, saat ia mendengar kabar anaknya mengalami kecelakaan.
Wanita paru baya itu bergegas pergi menuju rumah sakit yang sudah diberitahu.
Di rumah sakit, Salvira melihat Jasson dan Ara yang sudah menunggu di ruangan. "Jasson, apa yang terjadi kepada Bunga? Mengapa semua ini terjadi?"
Jasson yang menangis hanya menggeleng, ia pun tidak tahu apa yang terjadi kepada Bunga. Setelah pertengkaran sebelumnya di kantor, Bunga pergi.
"Jasson juga tidak tahu ma, saat Bunga pergi. Ia kecelakaan di dekat kantor. Sepertinya mobil kehilangan kendali. Polisi juga masih menyelidiki penyebabnya apa."
Ara mendekati Salvira, memeluk ibu dari sahabatnya itu "Mi, Bunga akan baik-baik ajakan?"
Salvira mengangguk, menenangkan Ara. Keduanya memang sudah dekat seperti keluarga "Kita berdoa saja untuk kesembuhan Bunga!" Salvira jauh lebih khawatir daripada yang lainnya.
Namun ia berusaha tenang, dan berdoa demi keselamatan anaknya.
Polisi datang untuk memberikan keterangan dan penyidikan lebih lanjut, pihak kepolisan juga memberikan ponsel milik Bunga.
Jasson mengambil ponsel milik sang istri, saat ini Bunga masih dalam penanganan.
__ADS_1
Ara sangat khawatir, apalagi saat mobil Bunga menabrak pohon besar hingga membuat mobil depannya hancur.
Ke dua orang tua Jasson datang, Ara yang melihat mamanya Jasson langsung bersikap sinis.
Ia masih mengingat bagaimana ibunya Jasson memperlakukan Bunga di depan banyak karyawan. Jika bukan karena pesan terakhir dari Bunga untuk tidak memberitahu maminya, mungkin Ara sudah memberitahu Salvira apa yang sudah terjadi.
"Bagaimana keadaan menantu kesayangan mama? Mama sangat khawatir saat kamu mengatakan Bunga kecelakaan" Ara semakin muak melihat sandiwara dari mertua sahabatnya itu.
Sebelumnya, wanita paru baya itu memberikan kutukan kepada menantunya dan sekarang bersikap khawatir. Gerry pun melihat drama yang di lakukan oleh mertua bosnya, ia sangat sedih mengetahui betapa palsunya orang-orang di sekitar Bunga.
Gerry berharap, jika Ara tidak akan mengkhianati sahabatnya itu.
"Mbak, saya tiada hentinya menangis sepanjang jalan memikirkan anak kita yang sekarang di dalam. Ya Tuhan, mengapa engka memberikan musibah kepada menantuku, seharusnya saya saja yang mengalaminya. Jangan menantu saya, saya sangat menyayanginya!"
Salvira menenangkan besannya, ia bersyukur karena Laras menyayangi anaknya melebihi anak kandungnya sendiri. "Tenang lah mbak! Bunga tidak apa-apa, kita akan berdoa demi kesembuhannya. Bunga beruntung memiliki mertua yang begitu perduli dan menyayanginya,"
Laras memeluk Salvira dengan erat, tanpa sepengetahuan Salvira. Tersirat senyuman tipis dari wajah Laras "Itu akibatnya jika kamu berani mempermalukan mama, Bunga! Rasakan karma yang sudah Tuhan berikan! Tuhan memang adil, langsung membalas orang yang menyakiti hambanya yang lain!"
Laras membatin senang di dalam hatinya, ia masih mengingat bagaimana dirinya di permalukan di perusahaan menantunya sendiri.
Dengan begini, Jasson akan menguasai perusahaan lagi. Laras melepaskan pelukannya dari sang besan, memberikan sebotol Aqua sedang untuk besannya minum "Mbak minum saja dulu! Jangan banyak pikiran! Kita yakin saja bila Bunga akan baik-baik saja mbak. Jika mbak banyak pikiran, nanti mbak bisa sakit. Kasihan Bunga!"
Ara yang semakin muak dengan sandiwara dari Laras pun memilih untuk menjauh.
Mengapa bisa ada manusia seperti itu? Begitu banyak topeng, jika saja Laras tidak membuat keributan. Mungkin, Bunga tidak akan sedih dan pergi. Jika Bunga pergi, kecelakaan itu tidak mungkin terjadi.
Dokter keluar, Salvira dan yang lainnya langsung mendekat. Bertanya bagaimana kondisi dari Bunga
"Pasien mengalami benturan yang sangat kuat, dan mengeluarkan banyak darah. Jadi kami membutuhkan tiga kantung darah untuk pasien. Perawat akan memeriksa stok persediaan darah di rumah sakit,"
Salvira terduduk lemas, ia khawatir dan hampir gila memikirkan keadaan anaknya.
"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya! Berapa pun akan saya bayar yang penting anak saya bisa sembuh!"
__ADS_1