Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 87


__ADS_3

Setelah Ara dan Ade pergi, Bunga menyenderkan kepalanya di dinding. Kepalanya terasa sangat pusing, tanpa sadar wanita itu meneteskan air matanya. Jasson berjalan mendekati Bunga, ingin menghibur istri sekaligus sahabat kecilnya itu


"Tidak Jasson! Aku mohon tolong tangan mendekat! Sungguh, aku hanya ingin fokus dengan keadaan papa! Aku tidak mau terlibat apapun lagi dengan mu juga dengan istri tidak sah mu itu!"


Bunga tidak mau lagi ada keributan, kepalanya sudah terasa pusing. Hatinya merasa sesak, bahkan menonton dengan suami sendiri seperti merebut milik orang lain, Bunga harus di permalukan di depan umum seperti itu oleh Ade. Namun Bunga tidak mau memperpanjang, ia tidak mau masalah itu akan berdampak untuk kehamilannya juga


"Bunga, apa yang terjadi ini tidak benar. Maafkan semua kesalahan Ade, aku tahu dia tidak bermaksud seperti itu! Dia akan tidak stabil emosinya, kau tahu jika wanita yang sedang mengandung,"


Belum sempat Jasson menyelesaikan ucapannya, Bunga berjalan mendekati maminya. Ia duduk tepat di samping sang mami, apakah Jasson tidak memahami tentang perasaannya? Bunga juga sedang mengandung anaknya, dan hati ya juga sangat sensitif namun Jasson masih saja memikirkan tentang istri keduanya.


Salvira ingin bangkit dan memberikan pelajaran kepada menantunya itu, namun Bunga menggenggam tangan maminya "Mami, sebaiknya kita fokus dengan papa saja! Jangan memikirkan hal yang lain,"


Salvira mengalah, ia merapikan rambut anaknya yang begitu berantakan. Salvira juga melihat sorotan kesedihan di mata anaknya, Salvira tidak mengatakan apapun ia hanya memeluk anaknya.


******


"Lepasin aku! Beraninya kau!" Ade masih saja berontak, ia tidak ingin pergi dari tempat itu. Bagaimana pun, David juga mertuanya dan ia berhak ada di samping papa mertuanya.


"Lepasin aku! Dasar wanita gila!"


Ara menepis tangan Ade, bahkan ia pun melapor kepada satpam "Pak, tolong jangan biarkan wanita tidak waras ini untuk masuk! Di dalam, dia sudah membuat keributan dan kekacauan. Dan itu sangat mengganggu pasien yang ada di dalam!"


"Baik nona! Kami security di sini tidak akan membiarkan nona ini kembali membuat kekacauan! Tidak akan kami biarkan dia masuk ke dalam!"


"Terimakasih banyak pak! Tolong di perketat lagi ya pak?"


Ara tersenyum kepada para penjaga rumah sakit, Ade membela dirinya "Pak! Itu semua tidak benar saya harus masuk. Karena suami dan papa mertua saya ada di dalam! Papa mertua saja sedang mengalami sakit dan mau mati! Saya harus melihatnya!"


"Pak! Tolong segera di tangani ya! Saya khawatir, bukan hanya keluarga kamu saya yang merasa tidak aman. Namun pasien yang lainnya juga seperti itu,"


Security itu mengangguk, dan saat Ade ingin masuk mereka pun melarangnya


"Kalian enggak bisa melakukan ini kepada saya! Suami saya ada di dalam!"


"Maaf Nona, namun jika suami anda ada di dalam. Lebih baik telepon suami anda dan minta ia menemui anda di sini!"


"Baik lah! Awas kalian ya!" Wanita itu mengancam dengan penuh penekanan, ia segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, dan menekan nomer Jasson.


Berulangkali wanita itu mencoba menghubungi Jasson namun Jasson mengabaikan panggilannya. Karena Jasson tidak bisa di hubungi, Ade pun memilih untuk mengalah dan pergi. Ia tahu jika dirinya tidak bisa menang, bahkan jika ia masih berkeras maka dirinya akan di bawa ke kantor polisi karena sudah menganggu ketenangan orang lain.


"Sana pergi lah! Jangan kembali lagi pengacau!" Ara melambaikan tangan kepada Ade yang menghentakkan kakinya dengan kesal menjauhi rumah sakit, Ara tersenyum puas. Akhirnya wanita yang membuat sahabatnya sedih sudah pergi jauh


"Aku berharap, agar kau bisa menjauh dari kehidupan sahabat ku pelakor!" Ara kembali berteriak sambil melambaikan tangan kepada Ade


Ade terlihat sangat kesal "Dasar wanita tidak waras!" Ade pun berteriak, membalas Ara namun bukannya marah. Ara justru menjulurkan lidahnya meledek kepada wanita yang sudah merusak rumah tangga Bunga.

__ADS_1


Setelah merasa puas, ia pun kembali berterimakasih kepada penjaga rumah sakit. Lalu masuk menemui Bunga dan yang lainnya.


Ara berjalan di koridor rumah sakit,.menuju ruangan David, papanya Jasson. Terlihat suasana masih tegang..


Jasson juga memeluk mamanya Laras, sedangkan Bunga memeluk Salvira. Ara mendekat ke arah Bunga, ia pun duduk di samping sahabatnya itu. Bunga tidak mengatakan apapun, namun ia tahu jika Ara sudah berhasil mengamankan Ade.


Sebenarnya Bunga merasa tidak tega, namun bagaimana lagi? Ini semua demi kesehatan papa mertuanya. Mungkin itu jalan yang terbaik, agar Ade tidak membuat kekacauan lagi.


Jasson menatap Ara dengan tidak suka, Ara pun tidak takut dengan Jasson. Ia justru melototkan kedua matanya dengan galak ke arah Jasson!


Jasson tidak memperpanjang, dokter pun keluar dari ruangan. Segera mereka mendekat ke arah dokter dan bertanya kondisi David.


Dokter menjelaskan jika kejadian ini tidak boleh terulang kembali karena akan berdampak fatal untuk David.


Jasson dan yang lainnya merasa sedih, namun mereka akan berusaha untuk membuat papanya sehat. Setelah memberikan penjelasan, dokter pergi menjauh dari mereka.


"Semua ini karena kamu Ara!" Laras kembali menyalahkan Ara, kali ini Ara tidak menjawab. Ia memilih mengalah demi kesehatan David, Ara memang sangat membenci Laras dan Jasson. Namun ia begitu menghormati David yang selalu menyayangi Bunga, bukan hanya Bunga bahkan David juga menyayanginya dan selalu bersikap baik kepadanya.


"Ma tolong dong! Jangan memulai lagi, ini semua demi papa!" Bunga memohon kepada ibu mertuanya ia tidak mau jika papa mertuanya akan kembali drop


"Apa yang mama katakan itu benar sayang! Jika saja sahabat kamu tidak terlalu ikut campur dengan masalah keluarga kita, ini semua tidak akan terjadi!"


Sabar Ara! Sabar! Jangan terpengaruh dengan nenek lampir, kau harus fokus dengan kesembuhan om David! ~batin Ara, bahkan wanita itu menghela nafas agar tidak terbawa emosi


"Mbak Laras, saat ini bukan waktunya untuk menyalahkan! Lebih baik kita fokus dengan kesembuhan suami mbak! Itu jika mbak mau suami mbak sembuh, namun jika mbak ingin mempercepat kematian suami mbak tidak masalah! Terus saja membuat ulah! Terus saja menyalahkan orang lain!"


"Huh dasar, ibu dan anak sama saja tidak tahu malunya! Bisanya hanya menyalahkan orang lain namun tidak introspeksi diri dengan kesalahan sendiri! Aku juga tidak akan begini, jika kau lelaki tidak tahu diri menyakiti sahabat ku!"


Bunga memegang kepalanya yang terasa begitu pusing! "Cukup ya! Sudah dari tadi aku sabar menghadapi kalian, susah banget ya mengalah sedikit aja? Kalau kalian enggak bisa diam, mending kalian pulang aja! Biar aku yang urus papa! Daripada kalian di sini tapi selalu saja membuat kekacauan! Dan kau Jasson! Kau itu lelaki, kenapa mulut mu seperti seorang wanita? Jika kau tidak tahu apa yang terjadi lebih baik kau diam! Dan mama, apa susahnya untuk mama mengalah? Ini semua untuk kesembuhan papa! Apa mama enggak bisa mengalah demi kesehatan papa?"


Mata bunga berkaca-kaca, kepalanya terasa mau pecah. Salvira menenangkan anaknya, ia takut jika hal itu akan berpengaruh buruk untuk kehamilan anaknya "Sayang, tenang kan diri kamu!" Bunga mengambil nafas yang panjang, tangannya gemetar.


"Bunga enggak minta apa-apa, kalian cukup tenang dan diam! Udah! Jangan merasa paling di sakiti di sini, karena aku lah korbannya! Aku yang di khianati, aku yang di bohongi! Aku yang di poligami! Udah dong cukup! Harusnya aku yang marah! Bukan kalian!" Bunga mengatakan dengan nada yang kesal dan suara yang berat, Laras dan Jasson merasa bersalah.


Mereka ingin mendekat dan meminta maaf namun Bunga tidak mau "Tidak! Jangan! Aku tidak butuh permintaan maaf atau penyesalan dari siapapun! Bunga hanya minta, buat kalian tenang dan diam! Terutama di depan papa, udah itu aja! Setelah itu, terserah kalian mau apa! Terserah! Kalian mau bunuh-bunuhan sekali pun terserah! Tapi tolong jangan di depan atau sekitar papa! Tolong kasihan kepada papa!"


"Sayang udah nak! Tenang kan diri kamu!" Salvira menenangkan anaknya, ia tidak mau anaknya semakin drop. Salvira pun mengajak anaknya untuk pulang namun Bunga menolak dengan lembut


"Mi, Bunga ingin menjaga papa! Bunga enggak mau kehilangan papa seperti Bunga kehilangan papi!"


Salvira mengerti dan memahami trauma yang di alami oleh anaknya, ia tidak memaksa "Iya sayang kalau kamu mau di sini menjaga papa mu, mami enggak akan melarang! Tapi mami mohon sama kamu, jangan terus menerus menangis sayang! Mami takut kamu drop, dan itu akan berdampak buruk untuk kehamilan kamu!"


Bunga mengangguk, Salvira memeluk anaknya. Dan mengelus rambut Bunga dengan penuh kasih dan sayang. Ara pun merasa sedih, ia berjanji akan menjaga mulutnya itu semua demi sahabatnya Bunga


******

__ADS_1


Laras dan Jasson terlebih dahulu masuk ke dalam ruangan, David sudah sadarkan diri namun kondisinya masih melemah


"B-bunga," ujarnya dengan nada yang lemah, Laras yang mendengar ucapan suaminya bergegas memanggil menantunya di luar


"Bunga sayang, papa ingin bertemu dengan kamu!" Bunga langsung segera bangkit, Salvira dan Ara menunggu di luar ruangan. Karena tidak boleh beramai-ramai menjenguk David apalagi kondisinya yang masih lemah.


Bunga memasuki ruangan, ia berlari mendekati papa mertuanya. Bunga memeluk papa mertuanya dengan erat, air matanya berlinang "Papa jangan sakit! Papa harus kuat, demi cucu papa nanti!"


David pun tertawa kecil, ia mengatakan akan lebih kuat demi anak yang ada di kandungan Bunga "Nak, tentu saja papa akan kuat. Demi cucu yang akan di perut kamu!"


Bunga menjauhkan kepalanya dari dada sang papa mertua, pipinya di basahi oleh air mata. David langsung menyeka air mata menantunya "Jangan menangis menantu kesayangan papa! Nanti anak yang ada di perut kamu juga sedih kalau melihat ibunya sedih!" David mengelus perut Bunga yang tidak terlalu buncit, Bunga pun tersenyum mendengar ucapan papa mertuanya


"Bunga enggak akan sedih kalau papa baik-baik aja! Maafin Bunga ya pa? Bunga telah membuat papa sedih," Bunga mengambil tangan kanan papa mertuanya, ia pun mengecup pucuk tangan David.


Bunga sangat menyayangi papa mertuanya seperti ia menyayangi papinya dan kepergian papinya sudah membuat hatinya merasa terluka dan meninggal kan trauma yang sangat mendalam.


"Papa, papa baik-baik aja?" Saat melihat Jasson, David mengendurkan genggaman tangannya kepada Bunga. Ia menatap Jasson dengan penuh amarah "Keluar!" David mengusir anak semata wayangnya, Laras menangis dan menggelengkan kepalanya "Pa, Jasson itu anak kita satu-satunya kenapa papa begitu kepadanya pa?" Laras mengatakan itu dengan nada yang melemah, namun David masih mengusir anaknya "Keluar!"


David memegang dada sebelah kiri Jasson, Laras dan Bunga merasa khawatir dengan David


"Papa!" Teriak ketiganya, Jasson yang tidak mau memperburuk keadaan papanya memilih untuk keluar.


Bunga berusaha menenangkan papa mertuanya hingga David kembali merasa stabil "Pa, tolong jangan memikirkan hal-hal yang akan memperburuk keadaan papa!" Bunga menangis, memohon kepada ayah mertuanya. Ia tidak mau jika ayah mertuanya merasakan sakit yang luar biasa.


Laras tidak menyukai tindakan suaminya yang mengusir anak mereka, namun Laras tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya ingin suaminya sembuh terlebih dahulu


******


Jasson keluar ruangan dengan perasaan yang sedih, Salvira bangkit mendekati menantunya "Bagaimana dengan kondisi papa kamu?"


Jasson menatap ibu mertuanya dengan mata yang berkaca-kaca, ia segera berlutut memohon ampun kepada ibu mertuanya dengan semua yang telah terjadi


"Mami, maafin semua perbuatan buruk Jasson! Jasson bersalah mami, tapi sungguh Jasson sudah menyadari segalanya. Dan Jasson telah menyadari jika Jasson telah mencintai Bunga mami!"


Salvira tidak mengatakan apapun, ia hanya meminta menantunya untuk bangkit


"Berdiri Jasson!" Jasson pun berdiri dengan tenaga yang lemah, terlihat wajah penyesalan di dalam dirinya. Salvira tidak bisa mengatakan apapun, dia memang marah dengan semua yang terjadi. Namun Salvira mengingat dengan kehamilan anaknya Bunga "Sudah lah Jasson! Mami hanya akan menghargai semua keputusan Bunga, jika dia ingin berpisah dengan kamu. Mungkin itu jalan yang terbaik!"


Jasson menatap ibu mertuanya dengan sorotan mata keputusasaan "Sungguh Jasson menyesal mami! Dan Jasson telah menyadari jika cinta Jasson kepada Bunga!"


"Jasson, seharusnya sebelum melakukan sesuatu dan tindakan yang menjijikan seperti ini kamu sudah bisa berpikir panjang! Dan apa dampak dari resikonya! Kamu sudah melakukan kesalahan itu dan kamu harus menanggung semua resikonya!"


Salvira memilih masuk ke dalam ruangan, ia tidak mau berlama-lama berbicara dengan menantunya jika tidak ia bisa kehilangan kendali. Salvira tidak mau membuat keributan, semua yang terjadi sudah sangat melukai hati anaknya dan Salvira tidak mau menambah kesedihan lagi kepada Bunga anaknya.


"Mami!" Jasson ingin mengejar namun Ara menghalangi "Untuk apa kau memohon? Semuanya sudah terjadi! Dan kau menyesal sekarang? Haha! Selamat Jasson! Kau telah kehilangan berlian demi sampah seperti Ade!"

__ADS_1


Jasson bahkan tidak marah dengan ucapan Ara, mungkin yang Ara katakan memang benar. Jasson sudah menyia-nyiakan berlian seperti Bunga


__ADS_2