
"Kau tahu Jasson? Kau tidak ada bedanya seperti seorang pembunuh!"
Jasson menatap kosong lantai rumah sakit, seakan ia tertampar oleh ucapan Ara "Kau menang tidak memukulnya, kau tidak membentaknya. Namun dengan kelembutan mu, kau sudah menghancurkan jiwanya di dalam. Mentalnya kau serang habis-habisan! Apa itu belum cukup Jasson? Apa harus Bunga kehilangan nyawanya baru kau menyesal?"
"Cukup Ara! Jangan mengatakan itu! Aku pun tidak senang melihatnya seperti ini, aku juga sedih sama seperti mu. Apa kah mengira aku menginginkan ini semua? Aku juga panik dan khawatir!"
"Omong kosong! Ucapan mu itu omong kosong! Jika kau khawatir kepadanya, kau tidak akan sempat memegang ponsel mu! Kau tidak akan sempat mengangkat panggilan atau membalas chatting dari kekasih gelap mu! Sekali saja! Sekali saja kau memikirkan tentang dirinya Bunga, sekali saja kau melihat ketulusan Bunga. Kasih sayang dan cintanya Bunga kepadamu!"
"Sudah lah, lagipula waktu perjanjian kami sudah hampir habis seminggu lagi. Dan aku masih tidak mencintainya, Bunga juga sudah memantapkan hati untuk berpisah. Mungkin itu sudah jalan kami! Dan aku yakin, jika pun aku ingin memperbaiki semuanya. Bunga sudah tidak ingin!"
"Bagaimana jika Bunga memberikan kesempatan kepadamu!"
"Aku akan memperbaiki semuanya, tapi aku tahu. Jika itu tidak akan mungkin!"
"Jasson, Ara! Sedang apa kalian di sini?" Salvira berjalan mendekati menantu dan sahabat anaknya. Keduanya berharap jika Salvira tidak mendengarkan percakapan mereka.
"Tidak mi, Ara tadi memanggil Jasson untuk memberitahu jika Bunga sudah sadar!"
Jasson menatap Ara, ia tidak memberitahu kan hal ini kepada Jasson sebelumnya.
"Jasson, ayo kita masuk dan melihat keadaan istrimu!"
*********
Di ruangan, Bunga terdiam kepalanya terasa sangat sakit
"Dimana aku?" Bunga melihat kesekeliling ruangan itu. Ia melihat orang-orang asing yang masuk ke dalam ruangan.
"Si-siapa kalian?"
Bunga sontak beranjak dari tempat tidurnya, kepalanya terasa sangat sakit.
"Sayang, ini mami nak! Dan ini Jasson suamimu! Apa kamu tidak mengenali kami!"
Kepala Bunga terasa sangat sakit, ia tidak mengingat apapun. Bahkan ia pun tidak ingat siapa dirinya
"Kalian siapa? Dan si-siapa aku?" Semua orang bingung dengan ucapan Bunga. Jasson langsung memanggil dokter. Bertanya tentang kondisi istrinya.
__ADS_1
Dokter meminta semua orang untuk keluar, meninggalkan Bunga sendirian.
"Sebaiknya kalian menunggu di luar. Saya akan melihat dan memeriksa keadaan pasien."
Kepala Bunga terasa sangat pusing, ia tidak mengingat apapun tentang memori dirinya
"Siapa aku? Dan aku berada di mana. Siapa kalian!" Bunga histeris hingga membuat dokter memberikan suntikan penenang kepada Bunga.
Bunga kembali tidak sadarkan diri, dokter keluar ruangan
"Dokter apa yang terjadi kepada anak saya?"
Dokter mengatakan benturan yang begitu kuat membuat Bunga kehilangan ingatannya.
Semua orang terkejut bukan main, begitu juga dengan Salvira.
Dokter juga menyarankan kepada keluarga untuk tidak memaksakan ingatan Bunga. Jika mereka melakukan itu, itu bisa berakibat fatal untuk Bunga.
"Jangan terlalu memaksakan pasien, biarkan ia mengingat memori kenangannya secara perlahan! Kalian sebagai keluarga, hanya harus bisa menemani dan mensupport nya. Kita berdoa saja agar Bunga bisa mengingat memori ingatannya."
Salvira semakin hancur, mengapa hidup anaknya seperti ini? Bahkan Bunga tidak mengenali ibu kandungnya sendiri.
Laras tersenyum senang, setidaknya Bunga tidak akan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum kecelakaan itu terjadi.
Jika Bunga kehilangan ingatannya, ia masih memiliki kesempatan untuk meminta anaknya merebut seluruh harta menantunya itu.
Jasson tidak tahu apakah ia harus sedih atau bahagia?
Sedangkan Ara, menangis. Ia tidak mengira jika sahabatnya akan melupakan dirinya, dan Jasson dan mamanya Jasson pasti akan memanfaatkan keuntungan dari hilangnya ingatan Bunga.
"Dokter, sampai kapan sahabat saja bisa mendapatkan ingatannya kembali?"
"Saya tidak tahu, bisa saja sebentar. Namun jika kalian memaksakan pasien i bisa kehilangan ingatannya secara permanen. Dan itu akan berdampak fatal untuk beliau!"
"Saya akan menjaga anak saya dengan baik hingga dia sembuh dokter!"
"Iya mbak, mbak jangan khawatir. Saya akan membantu mbak menjaga Bunga, dan anak saya Jasson. Ia akan membantu Bunga untuk sembuh! Saat seperti ini, peran keluarga memang lebih penting, daripada orang asing!"
__ADS_1
Laras mengatakan itu sambil menatap Ara dengan sinis, Ara mengepalkan kedua tangannya.
Ia muak, ia ingin memberitahu Salvira tentang semuanya. Namun dengan sikap, Gerry menarik tangan Ara menjauh dari keluarga Bunga.
"Lepas kan aku! Beraninya kau menyentuh tanganku!" Ara menepis tangan Gerry dengan kesal.
"Maafkan saya, Nona. Namun menurut saya, anda harus bisa menjaga amanah dari Nona Bunga sebelum ia kecelakaan. Anda ingat apa yang nona Bunga katakan? Apapun yang terjadi, anda tidak berhak memberitahu ibunya nona Bunga. Jangan melakukan apapun, biarkan nona Bunga yang mengatakannya secara langsung!"
"Kau tidak mendengar apa yang dokter katakan? Bunga sahabatku kehilangan ingatannya, dan aku tidak ingin Jasson dan mamanya mengambil kesempatan itu untuk menyakiti atau memanfaatkan sahabat ku!"
"Lebih baik kita menunggu nona Bunga sampai sembuh, saya sebagai asisten pribadi nona Bunga yang ditugaskan untuk menjaga dan merawat nona Bunga meminta anda untuk tidak mengganggu ketenangan bos saya!"
Gerry mengatakan itu dengan tegas, Ara terdiam. Karena memang Bunga sudah mengamanahkan hal itu kepada mereka.
"Mau sampai kapan kita melihat kebohongan ini?" Ara bertanya dengan Gerry, pria itu hanya menggeleng "Biarkan waktu yang menjawab nona! Tugas juga yang terpenting adalah menjaga nona Bunga agar tidak ada yang bisa menyakitinya!"
Ara mengangguk, ia bersumpah kepada dirinya sendiri agar melindungi sahabatnya sampai ingatan Bunga kembali.
******
Bunga yang sudah kembali sadar pun masih bingung siapa dirinya..
Salvira masuk, mendekati anaknya "Sayang!" Panggilnya dengan nada yang berat. "T-tante si-siapa?" Bunga sedikit takut dengan orang asing, Salvira menangis "Ini mami nak, saya adalah wanita yang sudah mengandung dan melahirkan kamu!"
Bunga terdiam sejenak "M-ma-mami?"
Salvira mengangguk, merapikan rambut anaknya yang berantakan.
"Sayang, kamu enggak harus ingat siapa mami. Jangan memaksa kan dirimu,"
Jasson dan kedua orang tuanya masuk. Salvira mengenalkan Jasson beserta orang tuanya.
"Ini Jasson, suami kamu. Dan ini, kedua mertua kamu. Nama kamu adalah Bunga! Bunga dan Jasson menikah setahun yang lalu,"
"Sayang, ini aku!"
Jasson mendekati Bunga, namun Wanita itu menolak "Maaf, aku enggak ingat siapa kamu. Dan kalian semua, aku engg-enggak bisa percaya begitu saja. Karena aku sendiri pun tidak mengingat siapa diriku dan ap-apapun tentang aku!"
__ADS_1
Jasson pun tak memaksa Bunga, Laras yang ingin mencari muka dengan besan dan menantunya langsung mendekati Bunga "Sayang, menantu kesayangan mama. Bagaimana keadaan kamu nak? Mama sangat khawatir!"