Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 73


__ADS_3

Laras tidak menjawab ucapan suaminya, namun ia meminta Ade untuk pergi meninggalkan ruangan "Mama kenapa sih ma, tidak nak Ade! Kamu tetap di sini ya? Mama enggak boleh begitu dengan dia, bagaimana pun dia itu tamu di rumah ini. Dan kita harus bersikap baik dengannya! Mama jangan begitu dong!"


David yang tidak tahu apa-apa membela wanita yang saat ini juga sudah menjadi menantunya.


Dokter dan Jasson pun datang secara bersamaan "Mama, bagaimana dengan Bunga?"


Terlihat Jasson yang begitu panik dengan kondisi Bunga tanpa melihat kehadiran Ade. Dan wanita itu sangat tahu, jika suaminya memang benar-benar khawatir dengan Bunga. Ade menahan rasa sakitnya, ia yakin jika Jasson sudah memiliki perasaan dengan Bunga. Dan ia harus bisa menerima segalanya dengan lapang dada


Dokter segera memeriksa keadaan Bunga. Setelah memeriksa keadaan Bunga, dokter pun memberikan selamat kepada Jasson


"Selamat tuan, sebentar lagi Anda menjadi ayah,"


Semua orang merasa senang, kecuali Ade yang sedih. Ia bahkan meneteskan air matanya, Ara tersenyum puas melirik ke arah Ade


Lalu ia mendekat dengan sahabatnya Jasson "Wah Jasson, selamat ya sebentar lagi kau menjadi ayah. Bunga sedang mengandung anak mu, om selamat ya sebentar lagi menjadi kakek!" Ara begitu heboh, ia dengan sengaja mengatakan itu dengan kuat agar Ade mendengarnya padahal tanpa harus Ara berteriak, Ade sudah mendengar semuanya.


Hatinya teriris perih, tangan keringat dingin dan gemetar. Jasson masih tidak menyadari kehadiran Ade di sana, Bunga perlahan membuka matanya


Ia melihat semua orang yang berkumpul, perlahan Bunga terduduk "Pelan-pelan nak!" David meminta menantunya untuk pelan-pelan dan berhati-hati. Jasson langsung memeluk istrinya


"Sayang, selamat sebentar lagi kita akan menjadi orang tua!"


Bagaikan di sambar petir untuk Bunga, ia meneteskan air mata. Menolak Jasson dengan kencang


Menoleh ke arah dokter yang masih ada di ruangan "Dok, yang dikatakan oleh suami saya it-itu enggak benar kan dok?" Bunga bertanya dengan nada yang berat. Semua orang bingung mengapa Bunga bertanya seperti itu, apakah Jasson sudah mengingat semuanya?


Namun jika ia, mengapa Bunga marah? Bukan kah ia dan Jasson memang menginginkan hal itu?


"Iya, anda sedang mengandung memasuki usia dua Minggu. Mengapa anda sepertinya terkejut?"


"Dokter biasa lah, ini anak pertama mereka. Mungkin menantu saya terkejut mendengar berita bahagia ini," dengan senang Laras menjelaskan kepada dokter.


Dokter itu pun berpamitan untuk pergi, dan Ara mengantarkan dokter untuk pulang ke depan pintu.


Bunga masih membeku, meneteskan air matanya membuat Jasson dan yang lainnya bingung "Ada apa sayang?"


"Mengapa semua ini terjadi kepada ku? Suami ku sudah menikah lagi dengan orang lain dan saat aku ingin bercerai mengapa justru Tuhan menitipkan anak ini di rahim ku," gumamnya dengan perlahan namun semua orang masih bisa mendengarnya


"Bunga, apa yang kamu katakan nak?" David bertanya kepada menantunya, ia bingung dengan apa yang menantunya katakan.


Laras dan Jasson kaget, begitu juga dengan Ade. Bagaimana Bunga bisa mengetahui segalanya?


Bunga menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca "Mengapa kau lakukan ini kepada ku Jasson? Mengapa?"


Bunga berteriak kepada suaminya, namun Jasson masih berusaha menenangkan istrinya. Bunga menoleh ke arah Ade "Dan kau, kau seorang wanita mengapa kau tega menghancurkan dongeng wanita lain demi dongeng yang kamu ciptakan sendiri? Mengapa? Mengapa! Bahkan dengan tidak tahu malunya kau tinggal di sini!"


"Sayang, apa yang kamu katakan? Kami tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan! Jangan mengada-ada! Sudah lah, kamu pasti seperti kemarin bukan? Yang salah paham dan asal menuduh!"


Bunga tersenyum sinis, bisa-bisanya Jasson masih mengelak?


"Aku sudah tahu semuanya Jasson! Bahkan aku tahu jika kau sudah menikah dengan wanita lain!" Bunga berteriak kepada suaminya, Ara masuk ke dalam kamar.


"Bunga kenapa?"

__ADS_1


Bunga bangkit dan berjalan menuju sahabatnya, hanya Ara yang bisa membantunya


"Ara, tolong jujur kepada ku. Kau tahu kan perselingkuhan Jasson dengan wanita ini? Katakan dengan jujur! Aku sudah mengetahui segalanya, tempo lalu. Aku mendengar percakapan mama Laras, Jasson dan wanita ini. Bahkan mama Laras mengatakan jika dia sedang mengandung anaknya Jasson! Aku mungkin tidak ingat semuanya, tapi yang aku tahu. Jika sebelum kecelakaan itu terjadi, aku mengetahui perselingkuhan mereka. Ini buktinya!"


Ia menunjukkan ponselnya, Jasson terkejut karena WhatsApp dan akses lain miliknya di sadap oleh Bunga. Dan bodohnya saat Jasson memegang ponsel Bunga kemarin dia tidak mengecek ponsel istrinya. Ponsel itu di biarkan mati


"Katakan kepada ku Ara!" Bunga memohon kepada sahabatnya, dengan ragu Ara pun mengangguk


"Iya Bunga, sebelum kecelakaan itu terjadi. Perselingkuhan mereka memang sudah ada, aku ingin memberitahu mami namun kau yang meminta ku untuk tidak mengatakannya. Agar kau sendiri yang mengatakannya kepada mami, maafkan aku!" Ara menangis.


Bunga mengambil nafas dengan panjang, dadanya terasa sangat sesak. Air mata terus saja berlinang


"Mengapa ma? Mengapa mama tega membohongi Bunga padahal mama pun tahu tentang pernikahan Jasson? Dan kau Ara, kenapa kau diam saja? Saat tahu Jasson menikah dengan wanita lain? Apa aku bukan sahabat mu?"


Ara menggeleng "Sungguh Bunga, aku tidak tahu jika Jasson sudah menikah dengannya. Aku berani bersumpah kepada mu!"


Ara memang tidak mengetahui jika Jasson sudah menikah dengan Ade.


Bunga kembali menoleh dan mendekat ke arah suaminya "Bisa kau menjelaskan semuanya kepada ku? Bisa? Mengapa kau tega melakukan ini semua Jasson? Kenapa?"


Jasson bungkam, bahkan mulutnya tidak terbuka sedikit pun. Bunga berulang-kali memukul bidang suaminya namun Jasson tak bergeming.


Ade pun hanya bisa menangis "Ak-aku minta maaf Bunga! Ta-tapi satu hal yang harus kamu tahu. Hubungan aku dengan Jasson itu sudah lama, bahkan jauh sebelum kamu menikah dengan Jasson. Di sini,.bukan aku yang merebut Jasson dari kamu. Tapi kamu lah yang merebut Jasson dari ku,"


Bunga pun memandang Ade dengan mata yang sembab "Lalu, mengapa kau membiarkan pernikahan ku terjadi dengan Jasson? Kenapa?"


Laras mencoba menenangkan menantunya namun Bunga menepis "Tolong mama jangan sentuh saya! Sungguh, saya tidak percaya jika mama tega dengan saya."


"Tidak Bunga! Jangan salahkan papa atas ini, papa tidak tahu apapun! Dan mama juga tidak bersalah. Jika kau ingin menyalahkan aku, salah kan aku saja. Jangan kedua orang tua ku!" Jasson pun mengatakan itu kepada istrinya


"Sayang, mama tahu jika mama bersalah. Mama memang bersalah, mama mengetahui semuanya namun papa mu tidak tahu apa-apa nak! Papa mu tidak bersalah!"


"Iya Bunga! Aku tidak membenarkan suami dan ibu mertua mu. Tapi aku saksi jika om David tidak tahu dengan semua ini, bahkan hubungan Jasson dengan Ade om David tidak tahu apapun. Saat kau bermasalah dengan Jasson, om David juga tidak tahu. Itu alasannya dulu kau tetap bungkam dengan perselingkuhan Jasson sebelum ia menikah. Karena kamu menjaga perasaan papa dan juga mami!"


Bunga menyadari, jika Ara mengetahui segalanya. Bunga kembali menoleh ke arah Ade "Angkat kaki sekarang juga dari rumah ku! Ini rumah ku, dan wanita seperti mu tidak pantas tinggal di rumah ku!"


Dengan keras Bunga mengusir wanita itu, ia juga mengusir Jasson "Dan kau! Pergi lah bersama istri mu! Aku tidak sudi melihat wajah mu di sini!"


Jason berlutut meminta maaf kepada Bunga "Aku akan pergi sayang, tapi aku mohon maafkan aku. Sungguh, aku menyesal!"


"Menyesal kata mu? Mengapa kamu tidak berfikir dua kali sebelum menikah dengannya?"


Jason memegang tangan Bunga namun wanita itu menepis tangan suaminya. Ia mengusir suaminya dari rumah


"Sekarang pergilah kalian berdua! Aku enggak Sudi melihat wajah kalian di sini!" Jasson pun keluar bersama Ade.


"Sayang, tolong maafkan anak mama!"


David menarik tangan istrinya "Ayo, kita bereskan semua barang-barang kita!"


Laras menggeleng menangis, David mendekati menantunya


"Bunga, saya!" David mengatupkan kedua tangannya meminta maaf kepada sang menantu.

__ADS_1


"Tidak papa! Jangan lakukan ini!" Bunga meminta papa mertuanya untuk tidak seperti itu, ia memegang kedua tangan ayah mertuanya. Walau hatinya merasa kecewa namun ia tahu jika papanya tidak bersalah.


"Perbuatan anak papa mungkin tidak pantas di maafkan. Papa tidak berhak mendapatkan maaf dari kamu namun jika bisa tolong maafkan perbuatan anak papa,"


"Papa tidak bersalah! Jangan mengatakan itu pa! Maafin Bunga, jika Bunga tadi berteriak. Dan Bunga sudah menuduh papa, Bunga minta maaf pa! Tapi tolong jangan seperti ini! Papa tidak bersalah, untuk apa papa meminta maaf kepada Bunga?"


"Atas segala kesalahan Jasson. Bahkan papa tidak bisa melihat wajah kamu. Papa sangat minta maaf nak, papa tidak berhak dan tidak pantas tinggal di sini"


"Tidak papa! Papa jangan pergi, ini semua bukan lah kesalahan papa! Papa dan mama tetap lah tinggal di sini, kalian tahu jika Bunga sedang mengandung. Dan mami pergi, Bunga mohon tetap lah di sini!"


"Tidak nak! Papa tidak pantas tinggal di sini, anak papa sudah menyakiti hati kamu, ia sudah berkhianat dengan kamu. Dan kesalahan itu tidak bisa di maafkan!"


"Papa mengapa mengatakan itu? Itu semua kesalahan Jasson sendiri!"


Setelah mengatakan itu kepala Bunga terasa sangat pusing. Ara khawatir dengan kondisi sahabatnya. Ia pun meminta Bunga untuk tidur di tempat tidur "Bunga sebaiknya kamu tidur saja! Jangan terlalu banyak pikiran. Saat ini kau sedang mengandung! Jangan Karena hal ini kau menjadi stres!"


Bunga pun mengangguk, sekali lagi ia memohon kepada ayah mertuanya untuk tidak merasa bersalah namun keputusan David sudah bulat. Ia tidak bisa tinggal di rumah menantunya lagi


"Om, tolong jangan pergi. Jika om pergi, siapa yang akan menjaga Bunga? Ara saat ini mengurus kantor dan tidak selalu di rumah! Bunga juga membutuhkan om di sini, tetap lah di sini om! Om tahu jika Bunga sedang mengandung sekarang!"


"Setidaknya om bisa memikirkan tentang cucu om yang saat ini ada di kandungan Bunga!"


David pun terdiam sejenak, demi cucunya ia pun mau tetap tinggal bersama menantunya. Bunga tersenyum, memeluk papa mertuanya "Terimakasih banyak ya pa karena papa mau menjaga cucu papa ini!"


David membalas pelukan menantunya setelah itu ia pun berlalu pergi meninggalkan Bunga dan Ara. Laras mendekati menantunya namun Bunga memalingkan wajahnya dari ibu mertuanya. Hatinya masih sangat sakit, wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya justru tega mengkhianatinya.


"Tante, saat ini Bunga butuh waktu untuk sendiri. Lebih baik Tante keluar dan ke kamar Tante saja, sampai semuanya membaik. Aku harap Tante bisa mengerti, karena semua ini tidak mudah bagi Bunga!"


Laras pun pergi dari kemar menantunya dengan perasaan bersalah. Ia tahu semuanya akan ketahuan dan seharusnya ia sudah siap dengan segala resiko namun mengapa sekarang ia menangis? Semuanya sudah terjadi.


Kini hanya ada Ara dan Bunga di kamar, Bunga pun terdiam saat semuanya sudah pergi.


Ara menatap sahabatnya yang begitu kosong "Bunga, maafkan aku! Tapi sungguh, aku tidak tahu jika mereka menikah! Mungkin pernikahan mereka baru saja terjadi, karena sebelum kamu kecelakaan. Jasson dan wanita itu belum menikah dan aku tahu pasti itu!"


Bunga semakin hancur, di saat kondisinya seperti ini suaminya malah justru tega menikah lagi dengan wanita lain.


"Jika dia mencintai wanita itu dan ingin bersama dengannya mengapa dia tidak menceraikan aku? Mengapa dia tetap mempertahankan aku? Mengapa dia memilih menikah dengan wanita lain sedangkan aku masih berstatus menjadi istrinya?"


Ara terdiam, karena ia tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaan yang Bunga lontarkan. Dan hanya Jasson yang bisa menjawabnya "Aku tidak tahu Bunga! Sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang suami mu pikirkan. Namun sungguh, aku tidak tahu tentang semua ini. Dan mengenai tentang perselingkuhan Jasson dan wanita itu. Karena kau sendiri yang menceritakannya kepada ku sebelum kau hilang ingatan,"


Bunga juga tidak bisa menyalahkan sahabatnya "Sudah lah! Aku tidak menyalahkan mu, maaf jika tadi aku sempat memojokkan. Aku hanya merasa hancur saat dokter memberitahu tentang kehamilan ku. Apa kau tahu Ara? Saat aku meminta mu kembali. Aku ingin memberitahu mu jika aku mengetahui tentang pernikahan Jasson dan wanita itu. Bahkan aku ingin berpisah dengannya, namun saat dokter mengatakan aku hamil. Sungguh aku tidak tahu harus apalagi,"


Bunga kembali meneteskan air matanya, bagaikan buah simalakama untuknya. Jika ia tetap ingin berpisah, mungkin setelah anaknya lahir.


Namun apakah Bunga sanggup bertahan untuk sembilan bulan ke depan. Saat ini istri kedua suaminya juga sedang mengandung dan apakah anaknya nanti akan mendapat kasih sayang yang adil dari Jasson?


Begitu banyak pikiran yang terlintas dalam benaknya, ia tidak perduli tentang perasaannya. Namun apakah ia sanggup melihat Jasson yang tidak menyayangi anaknya? Atau anaknya tumbuh tanpa seorang ayah?


"Bunga tolong jangan banyak memikirkan apapun, kamu harus istirahat. Dan mami juga akan segera kembali,"


Bunga pun mengangguk "Namun aku tidak mau satu rumah lagi dengan Jasson, Ara! Aku tidak sudi! Biar kan dia tinggal dengan wanita itu! Aku tidak sudi melihat wajahnya!"


"Jika itu mau mu, baiklah Bunga! Kau tidak akan tinggal dengan Jasson lagi! Namun saat ini kamu jangan mudah marah, aku takut itu akan berdampak buruk untuk kehamilan mu, Bunga!"

__ADS_1


__ADS_2