Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 60


__ADS_3

"Maaf kan saya nona, saya tidak bermaksud membuat anda bersedih!"


"Iya, tidak apa-apa! Sudah lah, aku ingin makan dulu!"


"Nona anda begitu sangat galak sekali, mengapa?"


Ara menghentikan aktivitas makannya, ia mengatakan kepada Gerry jika dirinya dahulu sangat lemah


"Aku dulu bodoh, aku bodoh karena cinta. Dan aku lemah, inilah diri ku yang sebenarnya namun karena cinta aku seperti Bunga, Bunga yang layu yang hanya menerima apa saja. Sudah lah! Aku tidak ingin membahasnya lagi!"


Gerry melihat kejujuran di mata Ara, terlihat banyak luka dan air mata yang ia pendam "Apakah jika suami anda berselingkuh, anda akan memperlakukan selingkuhannya seperti wanita tadi?"


"Tidak! Karena aku yang di sakiti, aku bisa terima. Namun aku tidak terima jika sahabat ku yang di sakiti, apalagi saat ini sahabat ku kehilangan identitas dan jati dirinya. Aku takut, jika Jasson dan selingkuhannya semakin berbuat seenaknya kepada Bunga!"


"Namun saya rasa tidak, tuan Jasson pasti sangat takut dengan nyonya Salvira,"


"Iya, dia memang pecundang yang bisa melakukan kesalahan namun tidak bisa bertanggungjawab dengan perbuatannya sendiri!"


Ara kini sudah menghabiskan sisa makanan Gerry. Ia meminum jus jeruk yang sudah ia pesan


"Mari nona saya antar pulang!" Ara pun mengangguk, lagipula lumayan baginya ada supir gratis


"Lebih baik aku ikut dengannya, lumayan ada driver gratis hihi!" Batin Ara. Mereka pun pulang di kediaman keluarga Bunga


Ara turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih kepada Gerry. Setelah itu, pria itu melajukan pegal gas mobilnya menjauh dari rumah Bunga.


Saat Ara mau masuk, seseorang mencengkram tangannya dengan erat. Orang itu adalah Jasson "Lepasin! Pasti pelakor itu mengadu ya pada mu?" Ara langsung bertanya dengan Jasson. Lagipula, wanita manja seperti itu pasti tukang mengadu


"Kenapa kau mempermalukan dirinya? Dia bukan pelakor, bahkan aku sudah memiliki hubungan dengannya sebelum menikah dengan Bunga! Jadi, jangan pernah mempermalukannya seperti itu!"


"Oh Halo? Kau bilang dia bukan pelakor? Lalu apa namanya jika bukan pelakor? Dia sudah merebut suami sahabat ku, dan jika kau dan dia sudah memiliki hubungan begitu lama dengan wanita itu mengapa kau menikahi sahabat ku? Sebelum memutuskan itu, kau sudah berpikir dengan baik!"


"Ara, tolong jangan mencampuri urusan rumah tangga ku. Bahkan, rumah tangga mu saja berantakan!"


"Iya, itu karena pria bajingan seperti kalian! Baik, aku akan memberitahu mami saja tentang semuanya."


"Haha, kau tidak punya bukti! Lagipula, Bunga sedang mengalami hilang ingatan, dan mereka lebih mempercayai aku!"


Ara terdiam, apa yang Jasson katakan memang benar! Ara tidak memiliki bukti apapun dan jika ia memberitahu sekarang Bunga dan maminya tidak akan percaya.


"Bagaimana? Masih mau mengancam aku lagi?"


"Jangan senang dulu kau, bajingan! Ini hanya sementara, namun saat Bunga mengingat semuanya habis Kau! Bahkan ibu mu yang licik itu juga!"


Jasson mencengkram lengan Ara dengan kuat "Jangan pernah membawa orang tua ku!"


Ara pun menepis tangan Jasson "Kau mengira aku takut dengan ancaman mu? Oh tidak! Sekali saja kau berani menyakiti sahabat ku, awas kau!"


Ara kembali mengancam Jasson, itu bukan hanya sebuah ancaman namun juga peringatan untuk Jasson "Kau sudah tahu aku bisa nekat bukan? Bahkan jika kau berani menyakiti sahabat aku. Aku akan berbuat lebih nekat lagi! Bukan hanya wanita itu yang malu, namun juga Kau!" Clara menunjuk jari telunjuknya ke arah Jasson dengan tatapan tajam.


Setelah itu, Ara masuk ke dalam dengan santai "Dasar bajingan! Hilang kesabaran aku di buatnya! Membuat aku kesal saja! Huft!"


"Ara sayang, kamu baru pulang?" Salvira menegur Ara "Iya mi, maaf ya mi Ara pulangnya lama soalnya tadi singgah makan dulu!"


"Iya sayang, mami tahu pasti tadi lagi kencan kan sama pemuda tampan itu?"


"Mami apaan sih, enggak mi. Tadi Ara laper banget jadi makan di jajanan kaki lima dekat kantor. Dan kebetulan saja, ada Gerry jadinya ia mengantarkan Ara pulang mi!"


"Iya deh yang makan bersama terus di ajakin pulang!" Wajah Ara memerah malu karena di ledeki oleh mami dari sahabatnya "Mi, bagaimana keadaan Bunga?"

__ADS_1


Ara bertanya kepada Salvira dengan kondisi sahabatnya, ia ingin Bunga bisa segera mengingat semuanya agar semua kebusukan Jasson terbongkar


"Bunga masih tidak mengingat apapun namun perlahan ia menerima semuanya. Mami, Jasson, mamanya Jasson dan juga papanya Jasson selalu berusaha yang terbaik agar ingatan Bunga lekas kembali,"


Ara pun mengangguk pelan, ia juga berharap hal yang sama namun yang ia tahu pasti jika Jasson dan mamanya Jasson tidak ingin Bunga mengingat semuanya dengan cepat


"Sayang, kamu memikirkan sesuatu?"


"Eh, Hem enggak kok mi! Ara enggak mikirin apapun! Mungkin hanya lelah saja,"


"Ya sudah! Kamu lekas ganti baju dan istirahat sana! Pasti kamu sangat lelah seharian bekerja,"


"Iya mami, mami juga banyak-banyak istirahat dan jangan terlalu memikirkan sesuatu. Percaya sama Ara, kalau Bunga akan lekas membaik!"


"Iya nak, mami juga berharap begitu. Namun mami sekarang tidak takut lagi, karena anak mami tetap bahagia karena suami dan mertuanya begitu tulus menyayangi anak mami,"


Andai mami tahu jika itu semua hanyalah sandiwara! Semua itu hanyalah kepalsuan, mungkin yang tulus menyayangi Bunga hanyalah papanya Jasson. Namun Jasson dan mamanya, sama-sama manusia enggak punya hati! ~batin Ara


"Ya sudah kamu naik sana lalu istirahat!"


Ara mengangguk, ia menaiki anak tangga satu persatu, menuju kamarnya.


"Aku ingin semuanya berakhir, entah sampai kapan itu! Bunga mengapa kemarin kau memberikan pesan seperti itu kepada ku, jika kau tidak memberikan pesan kepada ku mungkin aku akan membongkar semua kebusukan mereka! Aku tidak ingin kau terus di khianati! Namun apa daya ku? Aku harus tetap diam demi amanah yang kau berikan sebelum kecelakaan itu terjadi," gumam Ara pelan dengan perasaan yang sedih.


Ia tidak tega melihat sahabatnya terus menerus di bohongi seperti itu. Ara pun masuk ke dalam kamarnya.


******


Salvira menikmati segelas teh Jasson pun mendekati mertuanya "Mi, ada yang mau Jasson katakan,"


Salvira menatap menantunya, terlihat wajah serius Jasson "Iya, ada apa Jasson? Kamu mau mengatakan apa?"


"Iya, katakan saja. Ada apa?"


"Hem, be-begini mi. Teman Jasson akan berangkat lagi dan ia menitipkan istrinya Ade kepada Jasson dan Bunga. Namun, mami tahu kondisi Bunga sekarang ini, kalau kemarin Bunga sendiri yang meminta teman Jasson menitipkan istri ya dengan alasan agar Bunga ada teman. Dan sekarang, saat teman Jasson meminta itu lagi. Jasson bingung mi, Jasson enggak mungkin membawanya tanpa persetujuan salah satu anggota keluarga. Dan yang menurut Jasson yang berhak setuju atau tidak adalah mami,"


Salvira terdiam "Jasson, bukannya mami tidak suka dengan Ade, namun kamu tahu sendiri jika istri mu sedang sakit dan ia kehilangan memori kenangannya. Bunga tidak mengingat apapun, nanti bagaimana jika ia bertanya? Dan mami juga tidak bisa memutuskan itu. Bukan tidak bisa, jika kamu bertanya dengan mami pasti mami akan menolak! Mengapa? Karena ini rumah tangga kamu dan anak mami, mami tidak mau ada orang ketiga yang masuk"


Jasson terdiam dengan jawaban mertuanya, ia tidak bisa membantah "Tolong kamu berikan pengertian pelan-pelan kepada teman mu itu, atau sini biar mami yang berbicara dengan suaminya Ade!"


"Ti-tidak usah, Mi! Biar Jasson saja! Jasson merasa tidak enak jika mami yang berbicara. Takutnya mereka salah paham!"


"Iya, Jasson! Berilah pengertian kepada teman kamu! Nanti setelah Bunga sudah sembuh, jika Ade ingin tinggal di sini tidak masalah! Namun sekarang, kamu harus menjaga istri mu. Bagaimana bisa kamu menjaga istri orang lain jika istri kamu saja sakit!"


"Iya mi, Jasson mengerti. Maaf jika membuat mami marah,"


Salvira terkekeh kecil "Tidak, nak! Bagaimana mami bisa marah? Mami juga bangga dengan kamu, karena kamu menghargai mami sebagai orang tua di sini. Kamu bertanya dengan mami padahal kamu kepala rumah tangganya,"


Jasson tersenyum, hanya itu yang bisa ia lakukan. Namun isi kepalanya seakan ingin pecah, bagaimana ia bisa menghadapi kemarahan istri keduanya itu? Jasson tahu, jika Ade akan marah besar sekarang. Jasson akan mencari cara lain agar Ade bisa di terima di rumah ini dan harapan terakhirnya adalah Bunga.


Jasson berharap agar Bunga setuju, namun ia harus mencari cara dan alasan


"Bagaimana pun, Bunga harus bisa membantu ku!" Batinnya. Jasson pun berpamitan pergi dengan ibu mertuanya


"Tunggu Jasson!" Jasson menghentikan langkahnya, dan berbalik "Iya mi?"


"Kamu enggak berpikir atau ingin berbicara dengan Bunga kan agar istri teman kamu dapat tinggal di sini? Mami harap tidak! Karena itu akan mengganggu ketenangan dan kesehatan Bunga! Ia pasti akan berpikir dan mencoba mengingat Ade!"


"Ti-tidak kok mi! Untuk apa Jasson mengatakan itu kepada Bunga, jika ingin bicarakan hal ini kepada Bunga. Jasson Enggak akan mungkin berbicara kepada mami,"

__ADS_1


Jasson tersenyum dengan perasaan yang berkecamuk "Bagus deh! Awas kamu kalau ingkar ya? Mami enggak mau kalau hal itu menganggu Bunganya mami!"


"Iya mami,"


Jasson membalikan tubuhnya kembali, lalu menjauh pergi dari ibu mertuanya kini harapan terakhirnya pun hilang


Tak ada lagi kesempatan berbicara dengan Bunga


"Bodoh! Kenapa aku tidak bicara dengan Bunga terlebih dahulu saja. Aku yakin, jika aku meyakini dia pasti Bunga akan setuju. Jika sudah begini, aku tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa merasakan kemarahan dari Ade!"


Jasson merasa frustasi, meremas rambutnya secara acak-acakan


"Udah gila kau?" Ledek Ara yang melihat Jasson seperti orang gila. Namun Jasson tidak menggubris ucapan Ara, kepalanya sudah terasa sangat pusing. Ia tidak mau menghabiskan waktu untuk membuang energinya.


"Haha, selingkuhan mu sudah membuat mu gila? Lanjutkan teman ku!"


"Apa kau tidak tenang jika tidak menggangu aku?" Geram Jasson bertanya kepada Ara. Dengan entengnya Ara menggeleng


"Seperti kalian membuat hidup sahabat aku hancur, aku akan merusak ketenangan hidup kalian!"


"Terserah, janda seperti mu tidak akan mengerti!"


Setelah mengatakan itu, Jasson pergi meninggalkan Ara "Huft sombong sekali dia menghina ku janda. Kalau Bunga sudah sadar, kau juga akan menjadi duda enggak usah belagu!" Teriak Ara. Namun Jasson tak melawan lagi


Dasar wanita tidak waras, bagaimana aku bisa menjadi duda kalau aku masih punya istri yang lainnya~gumam Jasson!


Jasson memilih untuk menenangkan pikirannya di balkon atas. Jika ia keluar, pasti ibu mertuanya curiga dan yakin ia akan menemui Ade.


Ponsel Jasson terus saja berbunyi, wanita yang ia cintai terus saja Menghubunginya membuat Jasson harus mengangkat panggilan itu. Jika tidak, Ade akan nekat dan datang lagi kerumahnya.


Panggilan Terhubung


"Hallo, sayang?"


"Sayang, bagaimana? Aku sudah menyusun semua barang-barang ku. Dan kapan kau menjemput aku?"


"Maafkan aku, sayang. Tapi kau tidak bisa tinggal di sini karena ibu mertua ku tidak mengizinkannya. Namun aku janji, aku akan memberikan tempat tinggal yang layak untuk mu!"


Jasson menjauhkan ponselnya dari kuping, ia takut kupingnya sakit mendengar teriakan dari istri keduanya itu


"Apa kata mu? Jika tempat tinggal, rumah aku juga layak Jasson! Tapi aku ingin tinggal bersama mu!"


"Sayang, tolong lah mengerti! Aku tidak bisa melakukan apapun, jika ibu mertua ku mengetahui semuanya. Habis aku! Dan kita enggak akan punya apapun lagi! Dan satu lagi, ku yakin karir kita berdua akan hancur di buat oleh maminya Bunga. Tolong sabar lah sayang! Aku pasti akan sesering mungkin bertemu dengan mu!"


"Tidak Jasson! Aku tidak mau tahu, aku ingin tinggal bersama mu."


"Apa kau ingin semuanya ketahuan sekarang, baik lah. Aku akan membawa mu di hadapan mereka semua, tapi jika mertua aku marah dan mengambil semuanya yang aku miliki apakah kamu siap hidup susah bersama ku, sayang? Jika ia aku akan melakukannya untuk mu,"


"Tidak! Kau tidak berpikir jika kau tidak punya apapun, bagaimana anak kita? Aku tidak mau hidup susah, Jasson!" Ade mengeluh, Jasson yang semakin pusing pun memberikan pengertian kepada istri keduanya itu "Sebab itu tolong lah bersabar! Aku akan berusaha yang terbaik untuk kita semua. Dan percaya kepada ku, aku akan sering-sering mengunjungi mu sampai tabungan kita berdua dan anak kita aman. Bahkan sampai ia kuliah ke luar negeri, aku akan mengambil semua aset Bunga untuk keperluan kita hingga menua. Tapi aku mohon bersabarlah! Semua hanya butuh waktu saja!"


"Baik lah! Tapi jangan terlalu lama Jasson! Kau ingat jika Bunga mengingat semuanya, maka habis lah kau! Walau ia tidak mengetahui pernikahan kita namun ia pasti akan menceraikan mu!"


"Iya aku paham sayang! Aku mencintai mu!"


Panggilan Terputus


Ia hanya akan mencari cara agar semua aset Bunga menjadi atas nama dia. Mbanking yang ada di ponsel Bunga yang berada di tangan Jasson hanya ada dua milyar rupiah. Itu tidak akan cukup untuk Jasson, Ade dan anak mereka hingga ia tua nanti. Ia membutuhkan banyak aset lagi, agar istri dan anaknya tidak akan kekurangan nantinya.


"Yang di katakan oleh Ade itu memang benar, aku harus bertindak cepat. Sebelum Bunga mengingat semuanya!"

__ADS_1


__ADS_2