
Bunga tersenyum, mengucapkan banyak terimakasih karena sudah mendukungnya "Terimakasih ya pa, papa selalu mendukung Bunga. Bunga sangat beruntung karena memiliki keluarga seperti kalian dan Jasson juga!"
Setelah itu, Bunga berpamitan untuk keluar dari kamar "Bunga mau ke kamar dahulu, papa istirahat yang total ya. Bunga enggak mau papa sakitnya kambuh lagi!"
David tersenyum, saat Bunga keluar dari kamar mertuanya terlihat Jasson di depan pintu kamar "Sedang apa kamu di sini?"
"Tadi, aku melihat papa yang kesakitan. Aku membantu papa minum obat,"
"Papa sakit?" Jasson terlihat sangat cemas, ia masuk ke kamar papanya "Pa, ada apa? Apa papa sakit? Bunga mengatakan jika papa mengalami sakit? Ada apa, Pa? Mana yang sakit? Apa kita harus ke rumah sakit?"
Jasson begitu cemas dengan papa tercintanya, ia bertahan dengan pernikahan ini karena papanya..
"Sudah Jasson, jangan khawatir nak! Papa tidak apa-apa, Bunga sudah mengurus papa!"
"Jasson enggak bisa tenang kalau papa sakit, Jasson takut akan terjadi sesuatu kepada papa!"
"Papa akan baik-baik saja selama kamu dan istrimu tetap bersatu. Dan saat kalian memberikan papa cucu, papa akan semakin sehat sekarang!"
Bunga tersenyum,.meneteskan air matanya "Maaf kan Bunga ya pa? Sampai sekarang Bunga belum bisa memberikan papa cucu! Seharusnya papa sudah bisa menimang cucu, namun Bunga tidak bisa memberikan cucu untuk kalian,"
"Hust! Jangan mengatakan itu, Sayang! Ini semua bukan kesalahan kamu, papa sangat yakin jika sebentar lagi kalian akan memiliki anak!"
Bunga dan Jasson mengangguk, Jasson meminta papanya untuk istirahat
"Ada apa ini? Kenapa kalian mengumpul di sini?" Laras tiba-tiba masuk membawa dua mangkuk bakso untuk ia dan suaminya
"Tidak ma, tadi papa memanggil anak dan menantu kita untuk bercanda gurau!"
Laras pun merasa lega, ia mengira jika suaminya kembali kambuh "Mama pikir ada apa, mama sangat khawatir! Mama mengira jika papa kalian sakit lagi,"
"Enggak kok ma!" Jasson terpaksa berbohong agar mamanya tidak merasa cemas
Ia juga tahu jika papanya pun tidak ingin kalau mereka memberitahu mama mereka.
"Sudah lah, kalian istirahat. Mama dan Papa mau menikmati Bakso ini, wanginya terasa sangat lezat!"
"Haha, dan apa mama tahu? Menantu kesayangan mama ini, memakan dua mangkuk bakso sekaligus. Ia sangat menyukai dan menikmatinya!"
"Iya, sebentar lagi pipinya akan kembali seperti dulu. Chubby sekali!"
Ledek kedua mertua Bunga, Bunga pun hanya tersenyum malu. "Tidak kok ma, pa. Hanya sekali saja, Bunga tidak akan memakannya lagi,"
"Jangan percaya mama dan papa kepadanya, lihatlah itu!" Jasson menunjuk tiga bungkus permen kembang yang terjatuh di atas lantai.
__ADS_1
David dan Laras hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah anak dan menantunya "Sudah, kalian pergi lah sana! Mama dan Papa mau menikmati bakso ini dulu. Mama sudah begitu tidak sabar!,"
Jasson dan Bunga pun keluar dari kamar, sebelum pergi Bunga mengambil permennya yang terjatuh di atas lantai.
"Papa senang sekali, melihat mereka bahagia seperti ini. Walau Bunga mengalami amnesia namun kebahagiaan mereka tidak memudar. Papa berharap, jika keduanya akan tetap seperti itu!"
Laras mengangguk, andai suaminya tahu jika dulu mereka semua bersandiwara.
"Mama juga berharap, jika mereka terus bahagia hingga waktu memisahkan."
David mengaminkan ucapan istrinya.
********
Di kantor, Ara merasa sangat pusing. Bagaimana tidak? Karena laporan keuangan sangat membuatnya pusing
"Tuhan tolong hamba mu ini!"
Gerry mendekati Ara, melihat laporan yang sudah Ara kerjakan, ia pun tersenyum "Bagus nona, anda mengerjakannya dengan baik!"
"Iya tentu saja! Aku kan sangat cerdas!"
Ara dengan bangga memuji dirinya sendiri, bagaimana lagi? Sebenarnya ia sangat tidak yakin dengan laporan yang dia buat. Namun Ara tidak mau terlihat lemah, sebab itu dia terlihat sangat percaya diri.
Gerry menatap Ara, lalu tersenyum menatap Ara "Hey! Kenapa kau tersenyum begitu kepada ku? Sangat mesum!"
"Apa?"
"Nona terlihat sangat cantik saat marah!"
Pujian Gerry membuat Ara salah tingkah, namun ia berusaha untuk tetap santai
"Sudah aku katakan kepada mu, aku memang cantik. Mantan suami ku saja yang bodoh, menyia-nyiakan wanita seperti ku!"
Matanya terlihat berkaca-kaca mengingat mantan suaminya, lelaki yang begitu ia cinta. Karena cinta dirinya menjadi bodoh, bahkan selalu pasrah dengan siksaan yang diberikan.
Memang, cinta membuat orang menjadi bodoh! Itulah yang pantas dan tepat untuk di katakan
Ara meringis, mengingat itu membuat hatinya terluka "Sudah lah nona, anda terlalu berharga untuk memikirkan manusia yang tidak berguna!"
Ucapan Gerry begitu terkena di hatinya, pria itu sangat sedikit berbicara namun ucapan begitu mengenakan.
"Terimakasih!"
__ADS_1
"Untuk?" Gerry mengerutkan dahinya dengan bingung. Ara menghela nafas dengan panjang "Untuk apa ya? Ya untuk kata-kata semangat mu, Gerry teguh!"
"Gerry teguh?"
"Iya, motivator ada yang bernama Mario Teguh, dan kau Gerry Teguh!"
"Namun nama saya Gerry Wijaya, bukan Gerry Teguh nona!" Gerry menjawab dengan polosnya membuat kepala Ara semakin kesal dan pusing
"Terserah siapa nama mu, aku tidak perduli! Sudah lah, lebih baik kau pergi sekarang!"
"Nona mengusir saya?"
"Tidak! Aku sedang manja dengan mu. Tentu saja mengusir!" Ara menjawab dengan ketus
"Namun mengapa?" Gerry masih terlihat bingung, Ara semakin kesal sekarang "Jika kau tidak keluar, maka kepala ku akan meledak!"
"Apakah kepala bisa meledak, Nona?"
Ya Tuhan, bagaimana bisa engkau mengirimkan lelaki yang begitu menyebalkan seperti ini!
Ara menepuk jidatnya, laporan keuangan memang menyusahkan. Namun menghadapi Gerry jauh lebih menyusahkan.
"Nona, mengapa anda terdiam? Apakah kepala nona mau meledak sekarang?"
"Iya! Dan sebentar lagi aku akan berubah menjadi macan, arghhhh!"
Ara mendekati Gerry, seakan ingin mencakar wajahnya.
Gerry menahan tawanya, ia begitu senang melihat Ara yang begitu kesal.
"Baik Nona, saya akan keluar sekarang!"
"Bagus! Cepat sana!"
Setelah Gerry keluar dari ruangan, Ara pun merasa lega. Mengapa ada manusia yang begitu menyebalkan seperti Gerry? Terkadang seperti manusia es dan terkadang entah lah!
"Aku sudah bisa bernafas dan hidup tenang sekarang, tugas laporan sudah selesai. Dan aku sudah berhasil membuatnya keluar! Dan Jasson pun tidak ada, bagus lah. Baik lah Ara! Sekarang waktunya untuk bersantai sejenak." Ara bergumam sendiri seperti orang yang kehilangan akal sehat.
Baru saja ia ingin bernafas lega, pintu ruangannya terbuka. Ia melihat kepala Gerry saja yang menongol di depan pintu, namun badannya di luar.
"Hey, apa yang kau lakukan?"
"Sedang mengintip, nona menyuruh saya keluar. Ya sudah!"
__ADS_1
"Tapi enggak harus begitu juga, Gerry!" Ara kehilangan rasa sabarnya, ia bangkit dan berjalan ke arah Gerry
Menarik pria itu untuk masuk ke ruangan "Mengapa kau membuat aku merasa kesal sekarang?"