Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 56


__ADS_3

Bunga ingin menghubungi suaminya namun ia tidak tahu atau lebih tepatnya tidak ingat dengan nomer ponsel sang suami "Mi, boleh enggak mami hubungi Jasson dan bertanya dia ada di mana?"


"Loh sayang, ponsel kamu mana?" Salvira ingat jika ponsel anaknya ada tangan Jasson. Laras terlihat gugup, karena ia yang memegang ponsel menantunya itu


Jasson mengapa kamu membuat masalah? ~batin Laras


Laras mencoba menghubungi anaknya namun yang mengangkat adalah seorang wanita yang ia yakini adalah Ade


Laras menjauh dari besan dan juga menantunya "Hallo, anakku Jasson!" Laras masih berpura-pura untuk tidak mengenal Ade


"Hai, ibu mertua ku tercinta. Perkenalkan aku adalah menantu mu, aku dan anak mu baru saja menikah," terdengar suara wanita yang berbicara begitu manja, membuat Laras syok hingga ponselnya jatuh ke lantai


"Me-menikah?" Gumamnya, ia tak mengerti namun ia yakini jika ucapan wanita itu memang benar


"Mimpi Bunga ternyata adalah kenyataan, itu bukan mimpi namun firasat seorang istri!" Laras meneteskan air matanya, ia tak mengerti mengapa anaknya gegabah mengambil sebuah keputusan.


Hingga wanita itu jatuh tak sadarkan diri, Bunga dan Salvira yang mendengar suara langsung menghampiri. Begitu juga dengan David, ia kaget melihat istrinya tak sadarkan diri seperti itu


"Ma, bangun! Apa yang terjadi!" David langsung menggendong tubuh istrinya menuju kamar. Saat Bunga ingin menyusul, melihat ponsel ibu mertuanya yang jatuh.


Bunga segera mengambil, panggilan telepon itu masih berlangsung melihat nama suaminya di layar


"Jasson!" Panggil Bunga dengan lembut, Ade yang ingin membalas panggilan itu langsung direbut ponselnya oleh Jasson


"Iy-iya sayang, maaf ya. Kamu pasti mencari ku, aku sedang ada rapat kerjaan dan terburu-buru tidak bisa memberitahu mu,"


Ucapan Jasson yang memberikan penjelasan di telepon membuat Bunga tenang.


"Iya, Jasson. Cepat lah pulang! Mama tidak sadarkan diri sekarang, aku juga tidak mengerti,"

__ADS_1


"Apa? Tidak sadarkan diri? Baik aku akan pulang sekarang!"


Tut...! Tut...!


Panggilan terputus


Bunga langsung menghampiri mertuanya, terlihat Laras yang masih tidak sadarkan diri.


"Apa yang sebenarnya terjadi pa?"


"Papa juga enggak tahu, papa pun ingin bertanya kepada kalian"


"Enggak tahu, pa! Bunga, mama dan mami tadi bersama lalu mama pergi menjauh setelah menghubungi Jasson. Karena saat mama tak sadarkan diri, panggilan Jasson masih berlangsung lama,"


"Ya sudah, kita tunggu mama sadar saja"


"Maafkan kelakuan anak saya, anak saya sudah sangat keterlaluan dan membuat kalian semua sedih,"


Bunga tertawa, membuat Laras kebingungan "Mama jangan khawatir! Bunga tadi udah bicara kok sama Jasson, katanya ia sedang ada rapat. Ia juga meminta maaf karena sudah membuat aku khawatir. Mendadak banget soalnya, mama jangan sedih lagi ya! Jasson enggak sengaja dan Bunga juga enggak khawatir lagi kok,"


Laras bingung, namun ia tahu jika anaknya melakukan kebohongan lagi


"Maafin anak mama ya, sayang! Anak mama sudah menyakiti kamu dan membuat kamu khawatir!"


Laras memeluk menantunya dengan erat, bahkan ia terisak membuat semua orang kebingungan. Laras enggak tahu harus apa, apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya.


"Ma, mama enggak kenapa-kenapa?"


Jasson yang ter-enga karena panik mendengar mamanya yang pingsan pun langsung memeluk sang mama "Jasson panik saat Bunga memberitahu Jasson kalau mama tidak sadarkan diri!"

__ADS_1


Laras tak menjawab ucapan anaknya, bahkan saat mereka saling melepaskan pelukan satu sama lain Laras memberikan sorotan menakutkan kepada anaknya.


Namun ia masih memilih bungkam, Laras tahu jika ia bertanya sekarang pasti semuanya akan terbongkar. Laras sangat menyayangi anaknya.


"Ma, sebaiknya mama istirahat saja! Biar Bunga dan mami keluar sekarang,"


Laras mengangguk, Bunga mengajak maminya untuk keluar.


Salvira merasa ada yang janggal, namun saat kondisi anaknya sekarang ia tidak mungkin memperpanjang masalah itu. Itu akan membuat Bunga drop


"Mami memikirkan apa?" Bunga yang melihat Maminya gelisah pun bertanya "Tidak sayang! Mami tidak memikirkan apapun sekarang, sudah lah! Ayo kita ke dapur. Mami ingin sekali memasak makanan yang lezat!"


"Iya, mi!"


******


Laras masih menatap anaknya tak percaya, namun masih ada suaminya ia pun bungkam


"Ma, karena mama sudah ada Jasson di sini. Papa ingin ke halaman belakang dahulu ya? Dada papa terasa sesak, dan papa ingin menikmati udara segar!"


"Iya, pa. Hati-hati, papa juga jangan terlalu lelah ya? Mama enggak mau papa kenapa-kenapa!"


"Iya, ma." David mengecup kening istrinya, setelah memastikan suaminya pergi jauh.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Jasson, "Kenapa Jasson? Kenapa kamu melakukan ini?" Jasson mengerti apa yang mamanya maksud "Maafkan Jasson, ma! Namun Jasson tidak punya pilihan lain, dia datang ke sini tadi. Jasson pun kaget ma! Jasson ingin membawanya pergi dulu agar ia tidak memberitahu semua orang. Namun saat di rumahnya, ia sudah menyiapkan semuanya. Jasson tidak mempunyai pilihan lain! Jasson terpaksa ma dan lagi pula. Jasson mencintainya, apa yang salah dari itu semua? Dia juga mengandung anak Jasson!"


Laras terdiam kini ia sudah gagal, ia pun tidak bisa menyatukan anaknya dengan menantu.

__ADS_1


__ADS_2