
"Bukan kamu aja yang capek! Aku juga capek Jasson! Aku capek selalu membereskan rumah, aku pusing bagaimana menggaji pelayan, aku pusing mikirin belanja, mikirin bayar listrik. Kamu pikir aku enggak pusing?"
"Sudah berapa kali aku katakan kepada mu, kita bisa mengerjakan semuanya berdua. Enggak harus ada pelayan yang membantu kita, mengapa kamu manja?"
"Manja kata mu? Istri mu saja hidup mewah dan enak sedangkan aku? Aku yang mengurus mu!"
"Jadi kamu keberatan?"
Prangggg....!!!
Satu gelas pecah, Ratu membantingnya "Kalian bisa diam enggak sih? Aku pusing ya setiap hari mendengarkan kalian yang selalu bertengkar, enggak capek? Hello! Bukan hanya kalian yang tinggal di sini pikirin aku juga dong! Kalian selalu membuat keributan. Enggak bisa membuat orang merasa tenang!"
Ratu kesal, bahkan untuk tidur istirahat saja dia terganggu "Kak bilangin dong sama suami mu yang enggak berguna ini. Jangan berisik! Dia udah menumpang di rumah kita jangan seenaknya, keluar saja kerja cari uang! Jangan taunya membuat keributan saja! Lelaki enggak ada guna!"
"Cukup Ratu! Mengapa kau mengapa hal buruk tentang suami ku!"
Walau Ade selalu bertengkar dengan suaminya namun ia juga tidak terima jika ada yang menghina Jasson.
"Yang aku katakan memang bener kan? Suami kamu ini enggak berguna! Taunya hanya membuat keributan saja! Aku pusing tau! Mau istirahat saja enggak bisa!"
Setelah mengatakan itu, Ratu pergi meninggalkan Jasson dan Ade.
"Puas kamu? Puas kamu sekarang? Kamu membuat aku merasa terhina di depan keluarga mu. Dan ini yang kamu mau bukan? Ini kemauan mu kan?"
"Enggak Jasson! Aku enggak pernah mau kamu di hina oleh adik ku! Sungguh,"
Jason tidak mendengarkan ucapan istirnya ia pergi meninggalkan Ade
Jasson tidak mengerti mengapa setelah menikah ia dan Ade selalu saja bertengkar padahal dahulu keduanya selalu hidup damai dan romantis.
Apakah Jasson mendapatkan karma dari segala perbuatannya?
********
Bunga memandangi Poto pernikahannya dengan Jasson di ponsel. Ia pun meneteskan air matanya
"Ini semua memang kesalahan aku, aku yang memaksanya menikah dengan ku. Dan sekarang aku harus menerima segala kenyataan ini. Aku tidak ingin Jasson terus-menerus di salahkan! Jasson, aku akan melepaskan mu. Aku tahu Jasson, cinta mu hanya kepada Ade sedangkan aku hanya sebuah figuran saja,"
Bunga berulang-kali memeriksa ponselnya. Ia mengingat jika Jasson sedang kesulitan keuangan, Bunga pun berinisiatif untuk mengirimkan nominal uang yang cukup besar untuk suaminya
"Anggap saja jika ini untuk menebus kesalahan aku, aku sudah membuat Jasson hidup menderita,"
Kini Bunga tidak menganggap Jasson sebagai suaminya, namun ia menganggap Jasson sebagai teman masa kecilnya.
Bunga heran, mengapa saldonya berkurang hampir tiga ratus juta?
"Mengapa sebanyak ini?"
Ia pun memeriksa mutasi riwayatnya, Bunga menggelengkan kepala. Bisa-bisanya Jasson mengirimkan uang yang banyak seperti itu ke rekening istri keduanya?
"Jasson, ternyata kau begitu mencintai dia,"
Namun Bunga tidak mempermasalahkan itu semua. Ia mengirim seratus juta ke rekening Jasson
"Semoga uang itu bisa membantu Jasson!"
Tak lama kemudian, ponsel Bunga berbunyi. Melihat notif pesan WhatsApp masuk.
Terlihat jelas nama Jasson, ia pun membukanya
Jika boleh, aku ingin bertemu dengan mu di warung bakso biasa satu jam lagi, aku akan menjemput mu ~Jasson!
Bunga membalasnya, ia mengetik dengan air mata yang berlinang
Tidak usah, aku akan pergi sendiri! Aku akan sampai satu jam lagi~ Bunga
Setelah membalas pesan tersebut, Bunga memutuskan untuk bersiap-siap. Ia melupakan rasa mual di dalam dirinya.
Setelah selesai bersiap-siap. Bunga turun ke bawah. Namun tidak ada siapapun di bawah "Untung saja tidak ada mami, mama dan juga papa."
"Sayang," Bunga tersentak kaget mendengar suara yang tak asing di telinganya, ia menoleh ke belakang lalu menyengir
"Mami,"
"Kamu mau kemana nak? Sudah bersiap-siap begini?"
Bunga terdiam, ia menggigit bibir bawahnya dengan ragu "Nak?" Salvira memegang bahu anaknya
"Kenapa kamu seperti ketakutan?"
"Heem, mami. Bunga sebenarnya ingin bertemu dengan Jasson,"
"Untuk apa?"
Bunga terdiam, ia meneteskan air matanya "Bunga juga enggak tahu mami, namun saat Jasson mengirimkan pesan dan ingin bertemu dengan Bunga. Rasanya Bunga tidak bisa menolaknya mi,"
Ia meneteskan air matanya, Salvira mengira jika itu mungkin bawaan hamil sang anak "Sayang, jika kamu memang merindukan suami mu. Suruh dia pulang! Bagaimana pun kalian masih berstatus sebagai suami dan istri."
__ADS_1
Bunga menggelengkan kepalanya "Tidak mi! Bunga bukan ingin bersama dengannya, Bunga hanya ingin sekali saja bertemu dengan Jasson. Setelah itu, Bunga enggak akan bertemu dengan Jasson lagi mi. Mungkin Bunga merasa bersalah karena tadi Bunga melihat Jasson menggunakan sepeda motor. Sepertinya ia kesulitan keuangan mu!"
Salvira menghela nafas panjang, ia bisa saja dalam sekejap menghancurkan menantunya yang telah mengkhianati anaknya namun Salvira tidak sekejam itu! Tidak mungkin ia menyakiti hati orang lain, lagipula saat ini Jasson masih menjadi suami anaknya
"Sayang, kalau kamu ingin bertemu dengan Jasson. Harus ada yang menemani kamu,"
"Tidak mami! Bunga bisa sendirian, dan Bunga bisa menjaga diri dengan baik. Mami Jangan khawatir, Bunga enggak kenapa-kenapa. Bunga bisa menghadapi Jasson sendirian mi,"
"Tapi mami takut, kamu terlalu emosional nak. Mami enggak mau berpengaruh dengan kandungan kamu,"
"Enggak mi, mami harus percaya dengan Bunga. Bunga bisa mengkontrol emosi Bunga,"
Salvira pun tersenyum, sungguh Bunga-nya yang lemah lembut telah kembali. Tidak seperti kemarin, yang mudah marah
"Sayang, mami percayakan semuanya kepada kamu. Mami yakin jika kamu akan baik-baik saja, Jasson tidak akan menyakiti kamu,"
Bunga mengangguk lalu ia pergi di antar oleh supir pribadi.
*******
Setelah sampai di tempat tujuan, Bunga di sambut hangat oleh penjual bakso tersebut "Nak Bunga datang lagi, di mana Jasson?"
"Dia lagi ada kerjaan, mungkin sebentar lagi sampai,"
Benar saja, Jasson sampai menggunakan sepeda motornya.
"Sudah menunggu lama? Maaf ya,"
Bunga mengangguk, namun ia tidak menatap mata suaminya, Jasson memesan makanan kesukaan mereka namun Bunga merasa mual "Tidak Jasson! Kau saja, aku sedang mual."
"Kenapa nak Bunga? Apa masakan ibu sekarang tidak enak?"
"Tidak bu! Namun semenjak hamil,"
"Selamat ya nak Bunga! Ibu senang sekali mendengarnya." Belum sempat Bunga menyelesaikan ucapannya penjual itu sudah memberikan selama kepadanya
"Nak Jasson bagaimana sih, masa istri sedang hamil malah di biarin pergi sendirian,"
Jason tidak menjawab, begitu juga dengan Bunga"Baik lah, ibu akan membuat kan satu mangkuk saja,"
Penjual itu pergi meninggalkan Jasson dan Bunga "Bagaimana kabar mu?" Jasson bertanya kepada istrinya.
"Lebih baik, dan aku sudah mengingat segalanya Jasson!" Mendengar berita itu tentu saja membuat Jasson merasa senang.
"Benar kah? Syukurlah jika kau sudah mengingat semuanya Bunga! Aku merasa senang sekarang, akhirnya kamu bisa mengingat segalanya. Aku sangat senang!"
Bunga pun tersenyum "Iya Jasson, Tuhan memang sangat baik. Dia mengembalikan segala ingatan ku yang telah hilang, dan memberikan aku anak di sini,"
"Sayang, aku minta maaf! Sungguh, aku menyesal. Dan aku bersalah, percaya lah dengan ku Bunga. Aku mencintai mu,"
Bunga tersenyum kecut, ia menggelengkan kepalanya "Tidak Jasson! Jika kau mencintai ku, kau tidak mungkin!" Bunga tidak sanggup melanjutkan ucapannya, karena ia tahu. Jika memang Jasson mencintainya, Jasson tidak akan melakukan hal itu
"Bunga, kau berhasil membuat aku jatuh cinta dalam waktu tiga bulan! Aku mencintai mu. Dan sungguh, aku tidak bisa hidup tanpa mu Bunga. Aku merasa gila,"
Bunga hanya diam, menggenggam kedua tangannya "Tidak Jasson! Kau tidak mencintai ku, bahkan kau melanggar janji yang sudah kita buat," ujarnya dengan bibir gemetar.
"Sayang, aku tidak bisa berbuat apapun. Karena dia sedang mengandung anak ku,"
"Dan aku juga! Apakah aku tidak penting?"
Kini Bunga menatap mata suaminya dengan tatapan nanar, Jasson pun terdiam "Tadi aku sudah mengirimkan sejumlah uang ke rekening mu, aku berharap jika itu bisa membantu keuangan kamu dan dia. Jagalah dia dan anaknya, aku yakin kalian bisa hidup bahagia Jasson!"
"Lalu, bagaimana dengan anak kita?"
"Itu yang aku sesali Jasson, mengapa aku harus hilang ingatan. Jika aku tidak hilang ingatan, aku akan terus meminum pil penunda kehamilan ini,"
Jasson terkejut, pantas selama ini Bunga tidak hamil karena ia meminum pil kehamilan "Iya Bunga, seharusnya kau tidak hamil. Dan anak ini tidak memiliki ayah brengsek seperti aku!"
"Sudah lah Jasson, aku tidak memiliki banyak waktu, aku harus kembali. Apa ada hal lagi yang ingin kau katakan?"
Jasson memegang tangan Bunga "Sayang, aku merindukan mu. Jika ada kesempatan untuk ku, tolong lah,"
Bunga melepaskan genggaman tangan suaminya, ia pun menggelengkan kepala dan tersenyum "Semuanya sudah terlambat Jasson! Hati ku sudah terlalu sakit dengan semua pengkhianatan yang telah kau lakukan. Aku sudah tidak bisa memaklumi segalanya, jika saja kau belum menikah dengannya mungkin aku masih bisa berfikir dua kali. Namun sekarang, kau sudah menikah dengannya dan itu semua sudah terlambat bagiku. Tidak ada yang bisa kita perbaiki lagi Jasson!"
Bunga meneteskan air matanya, berat sekali hatinya mengatakan itu kepada Jasson. Namun ia tidak mau terus terjebak kedalam lubang yang sama, dia tidak mau jika terus terjebak dengan situasi yang menyakitkan
Lebih baik dirinya yang mengalah "Bunga, sungguh aku menyesal sayang! Aku mencintai mu,"
Ucapan mereka terpotong, saat penjual menghidangkan semangkuk bakso. Entah mengapa saat melihat bakso tersebut membuat Bunga selera
Jason melihat Bunga dan ia tahu jika istrinya menginginkan bakso itu, pandangan Bunga terus tertuju kepada semangkok bakso tersebut
Rasanya pasti lezat sekali! ~batinnya
"Kamu mau?"
Jasson pun memberikan bakso itu kepada Bunga. Membuat wanita itu mengangguk, Jasson langsung memesan satu lagi
__ADS_1
"Karena kamu lagi hamil, makannya satu aja ya? Aku enggak mau kamu makan lemak berlebihan,"
Bunga pun mengangguk "Terimakasih,"
Jasson memandangi Bunga yang makan dengan lahap "Enak?"
"Sangat lezat!"
Seketika, keduanya melupakan masalah yang terjadi di antara rumah tangga mereka.
Bunga akan menjadi wanita yang melupakan segala masalahnya jika sudah asyik menikmati makanan. Jasson memang bodoh, ia tega meninggalkan berlian demi wanita seperti Ade
Namun menyesal pun sudah tidak ada artinya lagi.
"Boleh kah aku menambah satu mangkuk lagi Jasson?"
Jasson bingung, ia takut membuat Bunga merasa gebah karena terlalu banyak memakan bakso
"Boleh ya?"
Bunga memasang wajah imutnya, membuat siapa saja tidak bisa menolak "Baik lah!"
Jasson kembali memesan satu mangkuk lagi untuk Bunga. "Aku akan berusaha membuat kamu bahagia Bunga, walau aku tahu jika semuanya sudah terlambat," batin Jasson
Dengan semangat empat lima, Bunga menghabiskan bakso tersebut. Perutnya terasa sangat kenyang
"Aku akan mengantarmu pulang!"
"Tidak Jasson! Aku menggunakan mobil yang di antar oleh pak supir."
"Apa kamu malu naik sepeda motor?"
"Tidak begitu! Baik lah, aku akan ikut dengan mu!"
Bunga yang merasa tidak enak langsung setuju pulang bersama dengan Jasson menggunakan sepeda motor.
Mereka pun membayar tagihan itu, walau Bunga tidak terbiasa namun ia tidak menunjukkan sikap bingung.
"Bisa naiknya?"
"Bisa kok, ini kan mudah!"
Sebelum Bunga naik ke atas motor, Jasson memakaikan helm dan keduanya berangkat menuju rumah namun Jasson tidak langsung membawa Bunga pulang, ia membawa istrinya berkeliling terlebih dahulu.
Tentu saja hal itu membuat Bunga merasa senang, keduanya merindukan kebersamaan satu sama lain.
Bahkan Bunga tidak merasa malu sama sekali menggunakan sepeda motor
Jasson merasa senang dan nyaman saat bersama dengan Bunga. Begitu juga dengan Bunga, ia merasa bahagia seperti ABG yang sedang kasmaran. Bahkan keduanya melupakan jika Jasson sudah memiliki istri lain di rumah
Jasson menghentikan sepeda motornya. "Bunga, apakah kau ingin menonton?"
"Boleh," dengan penuh senyuman, Jasson kembali melanjutkan perjalanannya. Mereka pun sampai di bioskop.
"Kamu duduk aja di sini, biar aku yang pesan tiket dan popcorn-nya,"
Jasson langsung memesankan tiket untuk mereka berdua, setelah memesan tiket
Ia pun memesan popcorn untuk keduanya, Bunga menatap Jasson yang sedang baik mengantri
"Entah mengapa, di saat keduanya saling mencintai mereka harus terpisah karena keadaan."
Bunga mengingat jika Jasson sudah menikah, ia pun langsung bangkit.
"Tidak! Aku enggak bisa seperti ini! Aku enggak bisa merusak kebahagiaan wanita lain demi kebahagiaanya sendiri."
Bunga berlari, Jasson yang melihatnya langsung mengejar "Bunga, ada apa?"
Bunga menangis "Maaf Jasson, aku enggak bisa! Kamu tahu jika di rumah lain, ada wanita yang sedang menunggu kepulangan mu. Ba-bagaimana bisa aku dan kamu pergi?"
"Tapi Bunga kamu juga istri ku, kamu istri pertama aku! Kamu juga berhak atas aku,"
Bunga menggeleng "Kamu lupa Jasson, jika kita masih suami dan istri hanya karena aku sedang hamil. Setelah anak ini lahir, kita akan bercerai,"
"Aku enggak bisa bersama dengan kamu lagi Jasson. Kita sudah ingin bercerai lalu mengapa kita seperti ini? Aku enggak mau kalau Ade melihatnya dan salah paham! Sudah la Jasson lebih baik tiket itu untuk istri baru mu, jangan untuk aku!"
"Bunga apa aku sudah tidak ada lagi di hati kamu?"
Bunga terdiam, bukan Jasson tidak ada di hatinya namun ia harus bisa menerima segalanya dengan lapang dada "Kamu enggak akan paham dengan apa yang aku rasakan Jasson! Karena kamu lelaki!"
Jasson diam, apa yang tidak ia pahami? Jasson sudah tinggal dengan Bunga juga dengan Ade. Dan ia merasa di dekat Bunga jauh lebih nyaman daripada dengan Ade, Jasson merasa lebih berharga di dekat Bunga dan nyaman dengan istri pertamanya
"Sudah lah Jasson! Aku tidak mau membahas ini lagi,"
Bunga tidak mengerti mengapa dirinya tadi seakan terhipnotis oleh perhatian Jasson yang mungkin hanya sandiwara.
"Bunga, aku mohon. Sekali ini saja! Kamu jangan pergi, aku hanya minta waktu kita sehari ini saja, setelah itu aku tidak akan menuntut apapun. Bunga jangan lupa, aku ini masih menjadi suami mu dan aku masih berhak meminta waktu mu sebagai istri ku,"
__ADS_1
Bunga pun hanya diam, hatinya terasa sangat bingung dan dilema.
Apakah Jasson benar-benar tulus perkataannya atau hanya sedang mempermainkan dia?