Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 124


__ADS_3

"Hentikan semua omong kosong kamu ma! Papa sangat kecewa sekali dengan kamu! Bagaimana bisa kamu memperlakukan Gerry dan keluarganya seperti ini!"


Gerry pun melerai pertengkaran yang ada "Sudah lah papi! Gerry kesini bukan mau ribut namun hanya memberitahu semua kebenaran saja. Agar istri Gerry tidak terus menerus di salahkan lagi. Dan sekarang semuanya sudah jelas, Gerry pamit pulang dulu!"


"Nak tolong jangan pergi maafkan papi,"


"Iya kak, tolong jangan pergi. Maafkan Monica juga,"


Monica dan papinya merasa bersalah, berulangkali meminta maaf kepada Gerry dan Ara. Gerry mengatakan jika dirinya tidak pernah benci dengan Monica dan kedua orang tuanya Monica karena bagaimana pun mereka tetap keluarganya dia. Namun Gerry minta kepada Monica untuk tidak menghakimi orang lain tanpa bukti.


Setelah mengatakan itu Gerry dan Ara berpamitan untuk pulang. Keduanya pun memeluk Monica dan papinya Monica secara bergantian.


"Papi, Gerry dan istri Gerry pulang dulu ke rumah. Papi dan mami jangan bertengkar lagi, Gerry tidak bermaksud membuat kalian bertengkar namun Gerry sudah tidak tahan dengan semuanya. Gerry tidak tahan melihat istri Gerry disalahkan seperti itu. Bahkan ia dibenci karena perbuatan yang tidak ia lakukan,"


"Papi bersalah nak, seharunya papi sebagai orang tua bisa lebih bersikap dewasa. Papi tidak berhak menuduh istri kamu seperti itu karena papi tidak mengetahui semua kebenarannya. Dan sekarang, papi sangat merasa malu kepada kamu Ara, maafkan papi!"


"Papi, sudah lah! Ara tidak sakit hati atas ini semua yang terpenting sekarang, papi dan Monica sudah tahu segalanya. Dan nama Ara sudah baik lagi di mata kalian, sungguh Ara tidak pernah melarang Gerry untuk datang ke sini. Apalagi Justin, justru Ara sangat senang karena Justin dekat dengan Tante, kakek dan neneknya di sini."


'"Nak sering-sering ya bawa cucu papi ke sini, tolong kamu juga jelasin ke suami kamu agar mau membawa Justin ke sini. Papi Sangat menyayangi kalian, papi sedih jika kalian tidak ingat ke sini, papi ingin kita semua berkumpul layaknya keluarga yang utuh,"


Ara pun mengangguk, dengan mata yang berkaca-kaca. Gerry langsung mengajak Ara masuk ke dalam mobil, Ara mengikuti semua ucapan suaminya. Ia tidak mau lagi membantah.


Mereka pun masuk ke dalam mobil, Gerry segera melajukan mobilnya pergi dari sana.


"Kenapa papi dan Monica sangat membela mereka, papi dan Monica lebih membela dan menyayangi mereka daripada mami iya?"


Maminya Monica masih kesal dan histeris, Monica hanya menggeleng tidak percaya dengan maminya "Seharusnya mami menyadari kesalahan mami, bukan tambah menyalahkan orang lain! Kenapa mami seperti ini? Mami yang aku kenal tidak seperti ini! Ini orang lain yang merasuki tubuh mami aku!"


Monica pun menangis, maminya mengatakan jika maminya sangat menyayangi Monica dengan tulus. Namun ia tidak bisa menyayangi Gerry yang bukan anaknya "Monica, mami sangat menyayangi kamu..bahkan nyawa mami akan mami berikan kepada kamu. Kamu tahu itu semua kan? Tapi mami enggak bisa pura-pura menyayangi Gerry! Dia bukan anak mami, mami tidak pernah mengandung dan melahirkannya. Apa salah jika mami merasa keberatan dengan itu semua? Salah mami kah?"


Monica di tarik oleh papinya "Sayang untuk apa kamu berdebat dengan orang yang keras kepala dan tidak mau kalah? Itu hanya akan membuang-buang waktu kamu. Lebih baik kita masuk ke dalam! Papi enggak mau air mata kamu terbuang sia-sia untuk mami yang sangat egois!"


Monica memeluk papinya "Monica merasa bersalah papi, karena Monica sudah salah membenci orang lain. Dengan lantang monica terus menghina Ara di kantor, bahkan Ara menamparnya atas kesalahan yang dia sendiri tidak lakukan. Namun nyatanya, bukannya Ara yang salah namun ibu kandung Monica sendiri yang jahat! Monica sangat malu sekali papi, mengapa Monica melakukan hal yang bodoh! Seharusnya Monica mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu!"


"Sudah sayang! Ini bukan kesalahan kamu, papi juga bersalah dengan masalah ini. Tapi kamu mendengar apa yang kakak ipar kamu katakan tadi bukan? Dia sudah memaafkan kita, dia tidak membenci kita!"


"Iya papi, namun semuanya sama saja. Monica masih tetap merasa bersalah dengan ini semua,"


"Sudah sayang! Kesayangan papi jangan lagi bersedih ya!" Keduanya pun masuk ke dalam. Baik Monica atau pun papinya kini tidak menggubris maminya lagi


"Mereka mendiamkan aku seperti aku musuh terbesar mereka!" Maminya Monica menggerutu dengan kesal, bukannya menyadari perbuatannya ia justru tetap menyalahkan Ara dan Gerry dengan semua yang terjadi


"Andai mereka tidak datang dan membuat drama semua ini tidak akan terjadi!"


*******


Di dalam perjalanan, Ara memandangi wajah suaminya yang fokus melihat kedepan. Ara merasa kasihan dengan suaminya Ternyata selama ini ia memendam luka yang begitu dalam

__ADS_1


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu memandangi aku seperti itu?" Gerry menoleh ke arah Ara sebentar, lalu matanya kembali fokus ke depan. Ara hanya menggeleng, ia tidak mau mengungkit segalanya


"Kamu kepikiran dengan masalah tadi?" Setelah Gerry bertanya, baru lah Ara mengangguk mengakuinya


"Iya sayang, aku tidak menyangka jika mami kamu memperlakukan kamu sangat buruk. Dan kamu menyimpan semua luka itu sendirian, kamu enggak membagi penderitaan kamu sama aku. Kenapa?"


Gerry tertawa kecil,.menganggu istirnya "Enak aja! Enggak enak bagi-bagi ke kamu. Nanti aku kurang mending aku nikmati sendirian!"


"Sayang isss, aku serius!" Ara terlihat kesal dengan suaminya. Gerry pun mengatakan jika dirinya tidak mau menambah beban pikiran Ara


"Sayang, ini semua masalah aku. Dan aku tidak istri aku yang cantik ini terlibat! Kamu jangan khawatir! Aku baik-baik saja dan sudah terbiasa menghadapi segalanya sendirian! Lagipula, bagaimana pun mami itu adalah keluarga ku. Aku tidak mau dia dipandang buruk oleh kamu, aku juga menjaga keluarga aku. Dan kenapa kamu sekarang baru membuka semuanya? Karena aku tidak mau kamu terus di salahkan oleh mereka, bahkan kamu mendengar bagaimana mami menghina kamu? Aku tidak bisa menerimanya lagi! Semua kesabaran aku ada batasnya dan hari ini sudah mencapai batasannya, aku tidak bisa sabar lagi kalau istri tercinta aku di salahkan oleh kesalahan yang tidak pernah ia buat!"


Gerry kembali menggoda istrinya Ara, bahkan di saat seperti ini Gerry masih bisa bercanda. Ara tahu, suaminya melakukan itu semua untuk menutupi semua kesedihannya dan Ara tidak mau perbuatan suaminya itu sia-sia.


Keduanya pun tidak lagi membahas masalah itu, bahkan Ara mengalihkan topik pembicaraan tentang liburan mereka semua.


"Sayang, apakah kamu sudah memesan semuanya untuk kita? Kapan kita akan berangkat, dan berlibur kemana?"


Gerry sudah memikirkan kota mana yang akan mereka kunjungi untuk sekedar holiday.


"Sayang, aku sudah menemukan tempat referensi berlibur dengan baik, tapi kita akan bertanya kepada nyonya Bunga dulu apakah dia suka atau tidak? Jika dia tidak suka maka aku akan mencari tempat lain,"


Ara mengatakan kepada suaminya untuk tidak perlu lagi bertanya kepada Bunga "Sayang, enggak usah tanya sama Bunga..karena dia sudah menyerahkan segalanya kepada kita, kamu tanya juga percuma dia akan menjawab. Aku akan ikut saja gimana baiknya kalian,"


Gerry pun terkekeh melihat istrinya yang memperagakan gaya bicara Bunga dengan begitu elegan.


"Kamu percaya sama aku sayang, Bunga sudah menyerahkan segalanya dengan kita. Dan kemana pun kamu bawa, dia akan oke-oke saja. Kenapa? Karena dia juga tidak tertarik dengan liburan ini! Ini hanya semata-mata untuk membuat Jesslyn senang saja,"


"Baik lah sayang, kalau memang kamu yakin. Aku akan memesan tiket untuk besok kita berangkat,"


"B-besok? Apa tidak terlalu cepat?" Ara bertanya kepada suaminya. Gerry pun bertanya kapan waktu yang pas untuk mereka berangkat berlibur


"Jadi? Kapan waktu yang pas sayang selain besok?"


"Masalah waktu, nanti kita akan tanyakan kepada Bunga dulu sayang. Karena kita harus memastikan jika Bunga tidak memiliki urusan di tanggal itu. Kamu tahu dia itu orang yang sangat penting, semua karyawan juga membutuhkan tanda tangan darinya,"


Gery mengangguk paham, keduanya pun kembali melajukan kendaraannya untuk pulang ke rumah. Justin pasti sudah lama menunggu, Ara khawatir jika Justin akan ketakutan dan menangis karena Ara terlalu lama meninggalkan dia.


Keduanya sudah sampai di rumah, namun bukannya mendapatkan Justin yang menangis..mereka justru melihat Justin yang tertawa bermain dengan Bunga dan Salvira.


Hal itu membuat Ara merasa lega, ia pun mendekati mereka "Ara mengira jika Justin akan menangis,"


"Tidak mami! Justin kan udah gede sekarang, Justin tidak akan menangis lagi. Lagipula di sini ada kak Jesslyn, ada mommy dan juga Oma,"


Ara tersenyum, ia yakin jika Salvira dan Bunga mengurus anaknya dengan baik. Terbukti dari Justin yang menikmati waktu bersama mereka, bahkan tidak mencari dia dan suaminya walau mereka sudah meninggalkan Justin sejak tadi pagi


"Ara, bagaimana? Apa semuanya sudah membaik?"

__ADS_1


Ara mengangguk, ia pun menceritakan segalanya kepada Bunga dan Salvira. Salvira tidak menyangka jika ada wanita yang seperti itu apalagi ia juga seorang ibu "Mengapa maminya Gerry seperti itu? Iya memang bukan dia yang mengandung dan melahirkan Gerry. Namun Gerry ini juga kan anaknya, anak dari kakak iparnya. Dan kakak iparnya itu saudara kembar suaminya sendiri, namun kenapa dia seperti itu?"


"Mami sudah lah! Jangan mengatakan hal seperti itu nanti Gerry dengar. Kasihan dia! Bagaimana pun itu adalah keluarganya dan Bunga yakin. Gerry akan merasa tersinggung jika mendengar keluarganya di ceritakan seperti ini!"


Ara pun setuju dengan ucapan Bunga, walau maminya begitu jahat dengan Gerry namun ia tahu jika Gerry sangat menyayangi wanita itu. Terbukti begitu jelas, karena Gerry selalu menutupi semua kejahatan yang dilakukan oleh maminya Monica itu. Bahkan Gerry tidak menceritakan semuanya kepada Ara yang jelas-jelas adalah istrinya.


"Bunga, Gerry sudah menemukan tempat yang cocok untuk kita berlibur..kita akan berlibur ke Jogja, namun kapan kamu bisa? Agar kami memesan tiket keberangkatan kita semua,"


"Jogja? Itu tempat yang sangat bagus dan indah, wisata juga kulinernya sangat enak. Apalagi suasananya begitu tenang dan nyaman. Itu sangat cocok untuk kita sayang, menenangkan pikiran itu sangat cocok sekali! Minta kepada Gerry agar kita malam ini berangkat!""


"Tidak mami! Jangan malam ini, kasihan anak-anak jika berangkat malam. Waktu mereka istirahat akan terganggu, lebih baik besok saja berangkatnya."


"Ya sudah sayang, jika kamu maunya besok kita akan berangkat besok. Sayang, kamu beritahu suami kamu untuk memesan tiket untuk besok ya?"


Ara mengangguk, ia izin kepada Bunga dan Salvira untuk menyusul suaminya di dalam kamar. Salvira pun mengizinkannya


"Iya sayang, kamu sebaiknya membersihkan diri. Lalu kalian turun ke bawah ,kita akan makan bersama. Bunga juga belum makan menunggu kalian, mami sudah memintanya makan namun Bunga ingin makan bersama-sama seperti biasa"


Ara merasa terharu dengan sahabatnya itu, ia menunggu kepulangan Ara dan Gerry.


"Ara akan membersihkan tubuh sebentar, duh Bunga manis banget sih, makin sayang!"


Ara mendekati sahabatnya, lalu mengecup pipi bunga dengan penuh sayang. Bunga merasa risih dan geli, sedangkan Salvira hanya tertawa saja melihat tingkah mereka "Mami lihat lah, pipi Bunga yang suci di nodai oleh Ara!"


Bunga mengadu kepada maminya, bukannya merasa takut Ara semakin mencium pipi Bunga yang sebelahnya dengan mulut di monyongkan dan begitu panjang.


Ara seperti itu bukan karena ia mengalami gangguan kelainan, namun karena ia sangat menyayangi sahabat yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.


Bunga menghapus bekas ciuman dari Ara, pipinya basah dan Bunga yakini ini sangat bau.


Ara terkekeh geli, ia sangat suka membuat Bunga terlihat kesal


"Sayang kamu memang sangat usil,.udah sana bersih kan tubuh kamu dulu baru setelah itu kita akan makan bersama,"


"Iya mami!"


Ara pun pergi menuju kamar dengan perasaan senang karena sudah menganggu dan berhasil membuat Bunga kesal


"Mami lihat lah, walau dia sudah punya anak namun sifat usilnya tidak pernah berubah!" Bunga menggerutu mengadu kepada maminya. Salvira bukannya membela Bunga, ia hanya tertawa saja melihat tingkah dari keduanya.


"Kalian sudah menikah bahkan memiliki anak, namun tingkah kalian masih saja seperti anak-anak, namun mami senang dengan ini semua. Karena persahabatan kalian tetap kekal abadi sampai tua nanti!"


"Iya mami, seperti yang papi katakan dahulu. Seringkali papi mengatakan jika Ara dan Bunga akan tetap terus bersama hingga kamu tua nanti. Awalnya Bunga tidak percaya, Bunga tidak yakin dengan ucapan papi, namun semuanya menang benar adanya. Ara dan Bunga tetap bersama, walau kami sudah memiliki keluarga masing-masing!"


Salvira pun mengangguk, ia mengatakan kepada anaknya untuk tetap akur dan saling menyayangi kepada Ara "sayang, tetap lah seperti itu kalian. Saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Dan nanti di saat mami pergi mami tidak akan khawatir lagi!"


"Mami bicara apa sih mami? Mau pergi ke mana? Mami akan tetap di sini, bersama Bunga, Ara, Gerry, Jesslyn dan juga Justin. Kita akan berkumpul bersama-sama hingga Jesslyn dan Justin dewasa dan memiliki keluarga kecilnya,"

__ADS_1


__ADS_2