
Bunga menatap sahabatnya, ia pun menggelengkan kepala "Aku turut sedih karena meninggalnya anak kalian,"
Jasson menggelengkan kepalanya "Tidak Bunga! Itu bukan anak ku! Dia telah mengkhianati ku, anak yang dia kandung anak lelaki lain," Bunga tersenyum sinis menatap lelaki yang masih menjadi suaminya "Setidaknya kau dan dia sering melakukan hubungan intim bahkan disaat kalian belum menikah. Dan kemungkinan besar itu memang anak mu Jasson! Jangan mengatakan jika itu bukan anak mu, dan di saat kondisinya seperti ini. Kau jangan meninggalkannya seorang diri,"
"Tidak sayang! Dia yang ingin bercerai dengan ku, walau ia tidak mengatakan itu. Aku pasti akan menceraikannya," Jasson memegang tangan Bunga yang lembut, namun wanita itu menghindar
"Lebih baik kau pergi dari sini Jasson! Saya tidak ingin melihat wajah kamu! Saya malu memiliki anak yang pengecut seperti kamu!"
Laras mengusir anaknya, Salvira meminta besannya untuk tenang "Jasson, kamu sebaiknya pergi sekarang! Jangan membuat kekacauan di sini. Kamu tahu jika suasana saat ini sangat tidak stabil Jasson!"
Salvira masih bersikap baik kepada menantunya karena ia menghargai dan menjaga perasaan besannya. Jasson mendekat ke arah mamanya, ia berlutut kepada mamanya "Ma, saat ini Jasson tidak mempunyai siapa-siapa. Hanya mama yang Jasson punya, Jasson juga tidak mempunyai tempat tinggal ma!"
Seorang ibu pasti akan luluh dengan anaknya walah semarah apapun dia "Ma, Jasson boleh ya tinggal di rumah mama dan papa? Saat ini Jasson tidak memiliki tempat tinggal ma, dan Jasson enggak punya siapa-siapa,"
Bunga yang mendengar itu pun merasa kasihan, ia tidak bisa melihat lelaki yang ia cintai menjadi sedih dan menderita "Ma, Jasson tahu jasson salah. Namun Jasson anak mama, sampai kapan pun Jasson tetap anak mama," Jasson menangis berlutut di kaki Laras. Laras menangis, ia tidak tahu harus apa.
Rasa sayangnya kepada Jasson sangat besar, namun ia juga kecewa dengan anaknya. Andai Jasson mendengarkan segala ucapannya waktu itu mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi.
Bunga ingin mendekat ke arah ibu mertuanya, namun Salvira menahan anaknya. Ia pun membisikan sesuatu di telinga Bunga
"Sayang, biarkan Jasson dan mamanya menyelesaikan masalah mereka. Kamu jangan ikut campur dengan masalah ibu dan anak,"
"Tapi mi, Bunga enggak tega melihat Jasson seperti ini."
"Nak, mama Laras mu itu adalah mama kandungnya Jasson. Ia yang mengandung dan melahirkan Jasson, ia juga merawat anaknya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Saat ini ia hanya kecewa namun mama tahu jika rasa sayang mama Laras tidak akan berkurang untuk Jasson,"
Bunga tahu bagaimana sifat ibu mertuanya dan ia ragu jika ibu mertuanya mau memaafkan Jasson. Benar saja, Laras menepis lelaki itu hingga membuat Jasson terjatuh di lantai "Apakah saya harus mengasihani orang egois seperti kamu? Dulu, saya memohon kepada kamu untuk tidak melakukan hal yang akan membuat papa kamu sakit. Namun kamu perduli? Tidak! Bahkan dengan bangga kamu membawa wanita murahan itu ke keluarga kita dan memperkenalkannya sebagai istri kamu! Bahkan kamu enggak perduli apakah papa kamu akan hidup atau mati setelah mengetahui segalanya! Kenapa Jasson? Kenapa?"
Laras menatap anaknya dengan sinis, Jasson hanya menatap dengan tatapan mata yang memelas, ia tahu dirinya bersalah. Dan ia menyesali segalanya. Laras menatap Bunga dan menunjuk menantunya "Dia! Wanita yang selalu sabar, selalu mengalah dengan semua tindakan dan perbuatan mu. Bahkan ia mengorbankan hati dan perasaannya demi kesehatan papa mu! Sedangkan kau? Kau tidak peduli dengan mama dan papa mu. Kau hanya peduli dengan wanita itu, dan saat wanita itu mengkhianati dan mencampakkan mu kau datang ke sini?"
"Pergi kau! Aku tidak sudi memiliki anak seperti mu!"
Laras terlihat murka, ia tidak bisa kehilangan suaminya. Apalagi karena perbuatan anaknya itu
Salvira meminta kepada Ara dan Bunga untuk masuk ke dalam "Bunga, Ara. Lebih baik kalian masuk ke dalam, mami enggak mau masalah ini akan membuat pikiran Bunga kembali kacau dan kesehatannya menjadi buruk,"
Awalnya Bunga menolak, ia tidak tega melihat kondisi Jasson yang begitu kasihan "Mi, biarin Bunga di sini. Bunga tidak tega melihat suami Bunga seperti itu,"
"Suami? Bunga tolong lah nak! Mami tidak mau berbicara atau berdebat masalah ini. Kamu tahu bagaimana mami bukan?" Bunga mengangguk, Salvira tersenyum mengelus pipi anaknya "Lebih baik sekarang kamu masuk, Ara bawa kakak mu masuk sekarang!"
"Baik mami!" Ara langsung membawa Bunga masuk ke dalam, Jasson yang melihat Bunga masuk ingin mengejar namun di cegah oleh Salvira
"Jasson, jika kedatangan mu kesini bertemu dengan mama mu. Mami tidak akan melarang, kau bisa berbincang dengan mama mu hingga puas, namun jika tujuan mu kepada anak mami. Kamu tahu mami tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, kamu sudah sangat menyakiti hati anak mami. Dan jangan mengganggu kehidupan anak mami lagi dan satu lagi! Jangan karena kamu sudah berpisah dari istri kedua mu baru kau kembali dengan anak mami, anak mami bukan tempat di mana kamu datangi jika butuh. Dan kamu campakan jika kamu mendapatkan mainan baru!"
"Mami tolong izinkan Jasson bertemu dengan Bunga walau hanya sebentar,"
"Jasson, saat ini mami masih bersikap baik dengan kamu bukan karena mami takut. Namun mami menghargai mama dan almarhum papa kamu, mami masih merasakan duka karena kepergian suami mama mu. Dan itu semua karena ulah anak semata wayangnya, sebab itu sampai sekarang mami tidak melakukan apapun untuk kelakuan kamu yang kurang ajar, namun bukan berarti sabar mami bisa berlanjut! Tolong lebih baik kamu pergi sekarang! Jangan memancing keributan lagi di sini?"
__ADS_1
Jasson hanya diam, ia mendengarkan ucapan ibu mertuanya karena ia tahu jika ibu mertuanya kehilangan kendali maka semuanya akan hancur berantakan.
"Mami,. tolong maafkan Jasson!"
Salvira tidak menggubris ucapan menantunya, ia berpamitan kepada besannya "Mbak Laras, saya harus masuk dulu. Dan selesaikan lah masalah kalian dengan baik-baik mau bagaimana pun Jasson adalah anak mbak. Dan jangan biarkan anak mbak merasakan sendiri, saya tahu jika Jasson bersalah. Namun hanya mbak sekarang yang dia punya, jika bukan kepada ibunya mau kepada siapa lagi anaknya mengadu dan meminta perlindungan?"
Ucapan Salvira berhasil membuat Laras berpikir sejenak. Salvira tahu jika Laras akan mempertimbangkan ucapannya.
Salvira langsung masuk ke dalam rumah, Jasson menoleh ke arah mamanya "Ma, tolong jangan seperti ini! Jasson sudah sangat terluka sekarang, hanya mama yang Jasson punya. Mama tahu bukan? Sejak kecil saat Jasson mengalami masalah atau pun terjatuh Jasson selalu mengadu kepada mama!"
Laras terisak mendengar ucapan anaknya, namun ia tidak menatap Jasson. Laras memalingkan wajahnya "Ma, Jasson menyadari kesalahan Jasson. Jasson memang bodoh, dan sungguh ma kemarin Jasson mau menikah dengan Ade karena Jasson memikirkan tentang kesehatan papa, dia mengancam akan memberitahu semua orang waktu itu,"
"Tapi mama tahu tentang itu. Dan kenapa kamu tidak bertanya dulu sama mama?"
Jasson mengakui kesalahannya "Ma, Jasson memang bersalah. Maafkan anak mama yang satu ini ma! Maafkan kelakuan Jasson yang selalu membuat mama malu dan sedih. Jasson salah ma! Jasson sangat bersalah,"
Laras menepis anaknya yang ingin memeluk ia "Pergi lah dari sini, kamu bisa menepati rumah itu. Bagaimana pun, itu juga rumah mu dan mama ingin kamu tidak menunjukkan wajah mu di sini! Perbaiki diri mu jika memang kau ingin berubah, tapi jangan sesekali kau datang lagi ke sini! Dan jika hati ku sudah tenang dan dia memaafkan mu, aku yang akan mendatangi mu kerumah ku sana!"
Jasson mengangguk, ia memeluk mamanya dengan erat, bahkan mencium tangan mamanya berulang kali "Terimakasih banyak mama! Jasson janji, Jasson akan memperbaiki diri Jasson! Jasson tdiak akan membuat kesalahan sama sekali. Dan Jasson tdiak akan menganggu mama juga Bunga,"
Setelah mengatakan itu Jasson segera pergi meninggalkan Laras seorang diri.
Wanita paru baya itu pun terjatuh ke tanah, ia menangis menumpahkan semua rasa sakit dan kesedihannya.
"Mengapa keluarga ku menjadi seperti ini? Anak ku seperti itu dan suami ku juga pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Aku sangat tidur beruntung Tuhan! Mengapa engkau menghukum hamba seberat ini!"
Bunga yang mengintip ibu mertuanya dari jendela merasa tidak tega "Mama Laras pasti merasa sangat terpukul dengan semua kejadian ini,"
Bunga meneteskan air matanya, Ara memeluk sahabatnya "Iya Bunga, Tante Laras pasti merasa sedih. Ia hanya memiliki satu anak yang memiliki sifat yang tidak baik dan suami yang ia cintai pergi meninggalkan ia untuk selama-lamanya. Dan semenjak kejadian itu, kondisi Tante Laras juga drop, wajahnya pucat makan tidak teratur. Bahkan jarang sekali makan, aku khawatir dengan kesehatan Tante Laras,"
Ara dan Bunga terkejut, saat ada yang menyentuh bahu mereka secara bersamaan. Keduanya pun membalikan tubuh menoleh siapa yang memegang bahu mereka "Mami!"
Ujar keduanya secara bersamaan, "Mami kenapa ngagetin kami?"
"Iya mami, jantung Ara juga mau putus!"
Salvira melihat ke arah luar jendela "Kalian lagi ngapain? Liatin mbak Laras?" Keduanya mengangguk secara bersamaan "Mami, Bunga merasa enggak tega dengan mama Laras. Pasti hatinya sangat terpuruk dengan ini semua,"
"Iya Tante, dan Ara merasa bersalah karena semua ini juga kesalahan Ara. Ara menyesal karena kemarin udah jahat sama Tante Laras,"
Salvira menatap keduanya dengan gantian "Kalian memang anak-anak mami yang baik hati," Salvira mengecup tangan keduanya secara bergantian
"Mami bangga dengan kamu Bunga dan kamu Ara, kalian selalu memahami dan bisa merasakan kesedihan dan penderitaan orang lain..namun kita juga harus membiarkan mama Laras untuk tenang, ia juga harus memiliki ruang untuk sendiri. Jika selalu ada kita, takutnya mama Laras akan semakin tidak bisa menerima segalanya,"
"Maksud mami? Apakah kita harus meninggalkan Tante Laras sendirian di saat seperti ini?"
"Tidak sayang! Kita akan tetap mensupport dan menjaganya. Namun biarkan dia sendirian. Biarkan ia berfikir dengan memiliki ruang sendiri. Biarkan mama Laras meluapkan segala kesedihannya. Dan itu hanya sementara, tidak selamanya! Biarkan semua kesedihan, kepedihan dan kekecewaannya ia keluarkan sekarang. Daripada harus selalu di pendam dan itu akan membuatnya semakin drop,"
__ADS_1
Bunga juga Ara mengerti maksud dari maminya Salvira "Mami selalu berdoa agar mama Laras bisa melewati badai ini. Dan kita akan hidup bahagia di rumah ini tanpa ada pria,"
Bunga tersenyum "Akan ada pria di rumah ini mi, jika anak Bunga lelaki,"
Ia memegang perutnya, lalu dirinya mengingat ucapan Jasson yang mengatakan jika Ade kehilangan anaknya.
"Sayang, kenapa melamun?" Salvira bertanya kepada Bunga anaknya yang tiba-tiba saja memasang wajah sedih "Mi, Bunga mengingat ucapan Jasson,"
"Ucapan apa? Ucapan yang ia meminta balikan kepada kamu Bunga?"
Bunga menggelengkan kepalanya "Kamu ih! Suka banget menuduh yang bukan-bukan!" Ara menatap jengah sahabatnya "Ya apalagi? Katanya memikirkan ucapan Jasson!"
Huft!
Bunga membuang nafas dengan kasar "Aku bukan memikirkan Jasson yang meminta balikan kepada ku, namun aku memikirkan tentang Ade. Katanya ia kehilangan anaknya, pasti dia merasa sedih dengan kepergian anaknya, aku bisa merasakan duka yang ia rasakan."
Ara tidak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya. Walau Ade sudah menyakiti Bunga dan membuat hatinya terluka namun Bunga tetap saja memikirkan tentang perasaan orang lain
"Bunga, bunga! Hati kamu itu terbuat dari apa sih? Padahal wanita itu sudah menyakiti hati kamu dan ngapain sekarang kamu perduli dan memikirkan tentang keadaannya? Dia aja enggak pernah peduli dengan perasaan kamu!"
"Ara! Sudah berapa kali mami katakan jangan berbicara dengan emosi sayang! Kamu harus tenang nak,"
"Mami, Ara sudah tenang. Namun jika mendengar nama pelakor itu darah Ara mendidih banget!"
*****
Salvira menggelengkan kepalanya, ia pun mencoba menenangkan Ara dan tidak henti-hentinya memberikan nasehat kepada Ara agar tidak terlalu mengikuti emosinya
"Nak, kamu harus tenang di saat apapun. Jangan selalu menggunakan emosi nak! Mami enggak mau kamu memiliki sifat benci atau dendam kepada orang lain,"
Ara pun mencoba untuk tenang "Maafkan Ara mami, namun Ara bingung dan tidak mengerti dengan pemikiran Bunga. Kita semua tahu bagaimana,"
Ara tidak melanjutkan ucapannya, saat melihat Laras masuk ke dalam rumah. Ia berjalan dengan pandangan yang kosong, Ara tidak mau lagi membuat masalah dan Laras mendengar semua perdebatan mereka
"Mama," Bunga berjalan mendekati ibu mertuanya, Laras yang kosong bahkan tidak menyadari jika Bunga ada dihadapannya
"Mama?"
Kembali Bunga memanggil ibu mertuanya namun Laras tidak ada tanggapan. Bunga yang melihat itu sedih, ia menangis. Khawatir dengan kondisi ibu mertuanya
"Ma?"
Bunga langsung memeluk Laras, namun wanita paru baya itu hanya bungkam dengan pandangan yang kosong. Ara ikut menangis melihat pemandangan yang ada didepan. Entah kapan badai ini berlalu untuk keluarga Bunga namun Bunga, Ara dan Salvira berdoa agar Laras bisa merasakan kebahagiaan dan senyuman seperti dahulu lagi.
"Nak, lebih baik kamu membawa mama mertua mu ke dalam kamar. Ara sayang, kamu bantu Bunga ya nak?" Ara mengangguk, dengan air mata yang terus menetes.
"Mama kenapa begini," Bunga semakin terisak melihat kondisi ibu mertuanya yang tidak memiliki aura kehidupan lagi
__ADS_1