Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 115


__ADS_3

Jasson yang mulai menyadari semuanya pun ingin merasa bersalah, namun Ia tidak bisa berbuat apapun lagi "Aku sudah menyia-nyiakan mereka. Dan sekarang aku harus menanggung segalanya," batin Jasson.


Jasson memutuskan untuk keluar rumah, berjalan melihat pekerjaan kuli bangunan tersebut. Menghampiri seseorang yang sepertinya mandor


"Permisi pak, apakah di sini ada lowongan pekerjaan untuk saja?"


Lelaki itu melihat Jasson dari atas sampai bawah "Ada, tapi apakah kamu terbiasa dengan pekerjaan kuli bangunan?"


Jasson mengangguk dengan yakin "Pak, saya akan berusaha bekerja dengan baik di sini, terimakasih karena bapak sudah memberikan kesempatan untuk saya,"


Jasson pun bekerja sebagai kuli bangunan bersama pekerja-pekerja yang lainnya. Sungguh berat untuknya, namun Jasson harus bekerja agar mendapatkan uang.


"Hei, kalau kerja yang bener dong! Laki-laki tapi tenaga lembek sekali seperti banci!"


Ketus salah satu pekerja, membuat puncak emosi Jasson meledak. Ia pun membuang batu bata yang ada di tangannya "Biasa aja dong mas kalau bicara! Kita sama-sama Pekerja di sini!"


Jasson menarik kera baju lelaki yang barusan menghinanya "Lihat anak baru ini merasa paling kuat!"


Keduanya pun mengalami perkelahian, hingga mandor tersebut datang "Ada apa ini? Kamu anak baru sudah membuat masalah, lebih baik kamu pergi dari sini!"


Kini Jasson di pecat oleh mandor tersebut, segera Jasson pergi meninggalkan tempat itu tanpa di bayar upah sedikit pun. Hatinya memanas, emosinya memuncak.


"Aku sudah ingin bekerja, namun mereka meremehkan bahkan menghina aku!" Gerutu Jasson, ia pun berjalan pulang ke rumahnya, ia memegang kepalanya yang terasa pusing


Kini Jasson tidak tahu harus mencari uang kemana lagi, bahkan bekerja sebagai kuli bangunan ia sudah di pecat "Mama tolong lah anak mu ini, Jasson tidak bisa melewati semua ini sendirian!" Gumamnya dengan lemah.


Perutnya keroncongan, Jasson hanya bisa menggoreng telur dadar untuk ia makan..


Nasi putih dengan lauk telur dadar sangat sulit untuk ia telan, namun daripada ia kelaparan lebih baik ia memakannya.


Jasson mengambil ponselnya mengirimkan pesan untuk seseorang


*************


Bunga yang sedang bersantai di kamar pun mengambil ponselnya, terlihat satu notif pesan WhatsApp dari Jasson


Sayang, aku tahu jika aku bersalah. Namun aku sudah berusaha kemana pun, saat ini aku membutuhkan bantuan mu. Aku tidak memiliki pekerjaan sehingga tidak mempunyai uang, aku juga membutuhkan makan, jika boleh apakah aku bisa meminjam sedikit uang mu untuk makan sehari-hari ku? Aku janji, setelah aku mendapatkan pekerjaan yang tetap aku akan menggantinya ~Jasson


Awalnya Bunga tidak memperdulikan pesan WhatsApp dari suaminya itu, namun Jasson terus saja menerornya dengan mengirimkan pesan berulangkali


Apakah aku tega membiarkan ayah dari anak kita mati kelaparan? Ini hanya sementara dan aku janji akan segera menggantinya ~ Jasson


Bunga bingung harus menjawab apa, ia pun tidak mau lagi berurusan dengan Jasson. Namun Jasson berulangkali menghubunginya, membuat Bunga memilih mengalah dan mengirimkan yang seratus juta untuk Jasson.


Bunga segera mengetikan pesan untuk suaminya itu dan meminta Jasson untuk tidak mengganggunya lagi


Jasson, aku sudah mentransferkan uang untuk mu senilai seratus juta rupiah. Aku minta kau jangan menganggu aku lagi! Aku sudah muak dengan semuanya, dan aku harap kau bisa mengerti dan cukup tahu diri! Untuk kali ini, aku membantu mu, setelah ini terserah kau mau melakukan apapun. Aku sudah tidak perduli, aku tidak perduli mau kau apakan uang itu namun aku berharap kau bisa menggunakannya dengan baik agar kau bisa memulai usaha, dan membiayai kehidupan mu kedepannya tanpa menyusahkan orang lain lagi ~Bunga


******


Wanita itu berharap, agar suaminya bisa menjalani kehidupan dengan baik. Bunga tahu, uang seratus juta itu bukan lah sedikit "Kau harus bisa hidup di kaki mu sendiri Jasson! Kau harus bisa!"


Bunga meletakan ponselnya, namun ponselnya kembali berbunyi, mungkin Jasson yang membalas pesannya. Bunga tidak mau lagi membacanya, ia ingin mengabaikan semuanya tentang Jasson agar lelaki itu menyadari semua kesalahannya.


"Bunga, kenapa melamun? Ponsel mu berbunyi terus itu!"


Ara pun masuk ke dalam kamar Bunga, ia mendengar ponsel Bunga yang terus menerus berbunyi "Siapa sih yang menghubungi?"


"Jasson!" Jawabnya dengan jujur, Ara pun bertanya kepada sahabatnya untuk apa tujuan Jasson menghubunginya lagi "Kenapa dia menghubungi mu? Dasar lelaki tidak tahu malu!"


"Sudah lah Ara! Jangan lagi membahasnya, aku tidak mau membahasnya lagi!"


"Sini biar aku yang angkat, biar lelaki mokondo itu tahu diri!"

__ADS_1


Bunga mengatakan kepada Ara untuk tidak terpancing emosi lagi "Sudah lah Ara! Kenapa kau selalu saja terpancing emosi dengannya? Biarkan saja! Dia juga karena membutuhkan uang, lalu menghubungi ku,"


"Apa? Dia meminta uang kepada mu?" Bunga menggeleng, dan menjelaskan jika Jasson tidak meminta melainkan ia meminjam uang kepada Bunga


"Dia hanya meminjam, dan akan menggantinya nanti,"


"Kau memberikannya?" Bunga mengiyakan, membuat Ara menggelengkan kepala tak percaya. Mengapa sahabatnya masih saja baik seperti itu kepada lelaki yang sudah menghancurkan kehidupannya


"Kenapa? Kenapa kau masih saja membantunya? Dia sudah banyak menyakiti hati mu!"


"Karena dia masih suami ku, dan ayah dari anak ku. Aku tidak bisa membiarkan ayah dari anak ku mengalami kesusahan, mungkin kau mengira aku bodoh Ara! Namun tidak! Aku hanya tidak bisa melihat orang lain kesusahan, aku sangat menghargainya. Bagaimana pun, Jasson adalah ayah sekaligus anak dari mama Laras. Jika mama Laras tahu anaknya mengalami kesusahan, ia pasti akan sedih dan semakin terpuruk. Sedangkan anak ku? Nantinya ia akan sedih melihat papanya hidup menderita sedangkan ia hidup dengan mewah, aku tidak mau jika suatu saat itu terjadi,"


Ara terdiam, ternyata Bunga memikirkan kehidupan yang sangat panjang kedepannya. Ara tersenyum dan mengatakan kepada sahabatnya itu jika ia sangat bangga dengan Bunga.


Sangat jarang orang memiliki hati yang begitu luas dan lembut seperti Bunga, walau sudah di khianati bukannya Bunga membenci ia justru membantu lelaki yang sudah menyakitinya itu


"Aku sangat bangga kepada mu, Bunga! Aku beruntung memiliki sahabat yang begitu baik seperti mu. Kau bisa merasakan kesakitan orang lain, kau tidak mengingat semua kejahatan orang lain kepada mu. Hati mu begitu luas seperti samudera,"


Bunga mengatakan jika dirinya tidak sebaik itu dan Ara tidak perlu terlalu memujinya seperti itu "Aku tidak sebaik itu Ara! Aku ini hanya manusia biasa, terkadang aku juga memiliki sifat marah dan kesal,"


"Itu manusiawi Bunga! Rasa marah, kesal, sedih itu manusiawi! Tapi kau hebat, bisa mengontrol rasa marah mu!"


Bunga mengapa jika ia seperti itu karena mengingat ajaran dari almarhum papinya.


"Aku begitu karena papi selalu mengajarkan aku untuk bisa mengendalikan amarah, dan tenang di setiap kondisi apapun,"


Bunga mengingat semua kenangannya dengan sang papi


Flashback


Saat Bunga berusia delapan tahun, ia dibelikan mainan boneka yang sangat mahal. Boneka itu bisa bermain, berbicara, menangis, makan, hingga menjawab pembicaraan kita sendiri. Semua teman-teman Bunga sangat menyukai mainan yang dibelikan oleh papinya Bunga dari luar negeri.


Suatu saat, salah satu teman sekolahnya Bunga datang kerumahnya untuk bermain bersama. Temannya itu tidak sengaja merusak mainan kesayangan Bunga, Bunga terlihat sangat marah dan emosi. Bahkan ia mendorong temannya dengan tatapan kemarahan.


"Om, maafkan aku. Aku tidak sengaja merusak mainan Bunga,"


"Diam kau! Kau harus mengganti semua mainan ku! Apa kau tidak bisa membeli mainan ini sehingga kau iri dan merusak semua mainan ku?" Bunga kecil pun berteriak dengan penuh amarah, papinya menenangkan Bunga


"Sayang, kamu tidak boleh berbicara seperti itu kepada teman kamu nak! Teman kamu tidak sengaja melakukannya,"


"Tidak papi! Dia pasti sengaja merusaknya karena dia tidak memiliki mainan yang sebagus aku! Bunga sangat benci dia!"


Bunga kembali mendorong temannya itu, membuat temannya pulang dan meminta maaf


"Sayang, tidak apa-apa! Kamu pulang saja sekarang, biar om yang akan memberikan penjelasan kepada Bunga,"


"Tidak papi! Dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya!" Bunga kecil masih menangis, ia sangat sedih dan kesal karena mainannya di rusak oleh temannya.


Di saat temannya pulang, Papinya Bunga menggendong tubuh Bunga yang mungil, membiarkan Bunga menangis sampai puas. Setelah Bunga tenang baru lah, papinya mendudukkan Bunga di sofa.


Bunga kecil senggugukan sedih "Udah puas menangisnya? Apakah papi sudah boleh bicara?" Bunga kecil mengangguk, baru lah papinya memberikan penjelasan.


"Sayang, kenapa kamu harus marah-marah seperti tadi? Papi mau tanya sama Bunga, memangnya kalau Bunga marah-marah seperti itu apa yang Bunga dapat?"


Bunga menggelengkan kepalanya dengan cepat "Apakah mainan Bunga bisa kembali bagus seperti semula?"


"T-tidak papi!"


Papinya Bunga tersenyum menatap anaknya, ia juga membelai rambut Bunga "Terus apakah di jamin teman Bunga tidak akan takut lagi bermain dengan Bunga saat melihat Bunga marah-marah seperti itu?"


"Tidak papi!"


"Nah sayang, saat kamu marah. Tidak ada yang kamu dapatkan nak! Mainan kamu tetap rusak, dan kamu akan kehilangan seorang teman, semuanya akan sama saja bukan? Namun jika Bunga tenang dan memaafkan teman Bunga semaunya ada solusi. Papi bisa membelikannya nanti, tapi Bunga tidak kehilangan teman Bunga. Dan sekarang, saat Bunga marah-marah. Bunga tidak mendapatkan mainan juga teman lagi, teman-teman Bunga akan berlari, mereka takut berteman dengan seseorang yang sangat pemarah. Mereka takut nak,"

__ADS_1


"Tapi Bunga kesal papi, mainan kesayangan Bunga di rusak! Bunga sangat menyayangi boneka itu!"


"Sayang, teman kamu tidak sengaja melakukannya. Jika dia sengaja, kamu harus bisa memaafkannya, karena barang yang sudah direbut tidak bisa kita ambil lagi.. jika pun bisa kita ambil kembali, semuanya tidak akan sama. Dan kemarahan akan membuat kita kehilangan diri kita sendiri! Kita kehilangan kendali, bahkan kita bisa melakukan hal-hal yang sangat nekat nak!"


Bunga terdiam, papinya pun menenangkannya "Belajar lah untuk memaafkan kesalahan orang lain sayang! Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Dan saat kamu merasa tersakiti, milik kamu di rebut, kamu harus bisa berusaha tenang. Agar bisa mencari solusi atas semua masalah hidup kamu nantinya,"


Bunga pun mengangguk


Flashback end.


*****


Ara menggoncangkan bahu Bunga "Bunga, kenapa kau melamun?"


Bunga hanya menggelengkan kepalanya "T-tidak! Aku tidak kenapa-kenapa hanya merindukan papi saja,"


"Kalau kamu rindu sama papi mu, doakan saja. Agar ia bisa tenang di surganya Tuhan. Percaya jika Tuhan akan memberikan tempat terbaik untuk papi kamu,"


Bunga mengangguk, jika saja papinya masih hidup. Bunga pasti akan menceritakan segala kesedihannya kepada sang papi.


"Bunga, sayang!"


Ara dan Bunga kaget, mendengar suara yang tidak asing ditelinga keduanya. "Jasson?"


Gumam Bunga perlahan, ia tidak mengerti mengapa Jasson kembali datang ke rumahnya. Apakah ia akan membuat keributan lagi? Ara dan Bunga langsung ke luar dari rumahnya, untuk menemui Jasson "Kau jangan keluar Bunga! Biar aku saja yang menjumpainya! Aku akan memberikan pelajaran kepadanya!"


Bunga melarang, ia mengatakan jika dirinya bisa menghandle suaminya sendiri. Ara dan Bunga ingin turun namun Salvira melarang "Mau Bunga atau pun Ara tidak ada yang boleh keluar! Mami akan segera menghubungi polisi, Jasson sudah kelewatan batas!" Kini kesabaran Salvira sudah tak terbendung lagi "Mami sudah lah! Bunga tidak mau jika mama Laras melihatnya, mama Laras bisa drop lagi!"


Salvira meminta maaf kepada anaknya karena kali ini ia tidak akan mendengarkan ucapan anaknya itu "Sayang, selama ini mami mendengarkan ucapan kamu. Namun kali ini, mami tidak bisa! Bukan sekali atau dua kali dia mengganggu ketenangan kita namun sudah berulangkali dia membuat keributan di sini! Mami tidak akan tinggal diam lagi,"


"Tapi mi,"


"Cukup Bunga! Selama ini mami sudah banyak mengalah untuk kamu, dan sekarang kamu harus mendengarkan perintah mami! Mami tidak mau mendengarkan apapun lagi dari mulut kamu, sebaiknya kali ini kamu ikuti ucapan mami!"


Bunga terdiam, ia tidak bisa lagi membantu suaminya, walau sudah berulangkali diperingati namun Jasson Tidak pernah mau mendengarkannya


"Ara, bawa Bunga masuk ke kamar! Jika Bunga turun ke bawah, maka kamu yang harus tanggung jawab!" Salvira memberikan peringatan kepada Bunga dan Ara. Keduanya tidak berani lagi berkutik.


"Bunga, aku harap kau bisa membantu ku. Tolong kasihan lah kepada ku jika kau menganggap aku sahabat mu, jika kau keluar dari kamar aku yang akan di marahi oleh mami!"


Bunga pun tidak tega jika Ara yang harus mendapatkan hukuman atas semua perbuatan yang dilakukan olehnya. Bunga hanya bisa melihat Jasson dari jendela kamar.


*******


"Bunga sayang! Aku mencintai mu! Dan aku tahu kau juga mencintai ku!" Kini Jasson yang sudah kehilangan akal pun berteriak menggunakan toak, membuat satu komplek keluar karena merasa terganggu


"Hey, ini kan menantunya nyonya Salvira. Apakah dia sudah tidak waras berteriak seperti itu?" Gumam salah satu warga komplek!


"Hey, jangan membuat keributan di sini. Kamu juga membutuhkan ketenangan, kau jika tidak bisa diam lebih baik pergi atau kami hubungi polisi!"


Salvira membuka pintu rumahnya, ia pun bertanya apa tujuan Jasson untuk datang "Untuk apa kau membuat keributan lagi di sini Jasson? Lebih baik kamu pergi, atau mami telepon polisi sekarang;"


Namun Jasson tidak mendengarkan teguran dari ibu mertuanya itu, ia hanya ingin bertemu dengan Bunga istrinya "Mami, Jasson ingin bertemu dengan Bunga. Jasson tahu kalau Bunga masih mencintai Jasson, dan Jasson juga sangat mencintai Bunga! Jasson menyesal dengan semua yang sudah Jasson lakukan. Namun Jasson ingin mendapatkan kesempatan, Jasson sangat menyayangi dan mencintai Bunga mami. Bahkan Jasson akan berdiri di sini terus sampai mati! Sampai Bunga keluar dan ingin bertemu dengan Jasson! Apa mami tahu? Tadi Bunga mengirimkan uang kepada Jasson saat Jasson mengatakan Jasson mengalami kesulitan uang. Dan itu tandanya Bunga masih mencintai Jasson! Ia mengirimkan uang seratus juta kepada Jasson! Uang itu tidak sedikit mami! Terlihat jelas Bunga sangat mencintai Jasson!"


Salvira merasa terkejut dengan pengakuan menantunya itu, bahkan anaknya tidak mengatakan apapun tentang mengirimkan uang kepada Jasson.


Salvira memang tidak pernah bertanya dan mempermasalahkan kemana uang anaknya habis, namun Salvira tidak menyangka jika anaknya masih diam-diam membantu lelaki yang jelas-jelas sudah mengkhianati dan mempermainkan pernikahan anaknya itu.


"Dasar tdiak waras, pergi kamu sana!"


Salvira memohon kepada warga komplek untuk pulang, ia akan menyelesaikan permasalahan keluarga mereka sendiri. Salvira juga meminta maaf karena menantunya sudah membuat keributan di daerah perumahan mereka.


Tetangga pun pergi meninggalkan rumah Salvira sendirian "Kamu sudah membuat malu mami dan Bunga di sini Jasson! Kamu sangat keterlaluan!"

__ADS_1


__ADS_2