
"Iya maaf ya mi, tadi Ara singgah ke taman biar hati dan pikiran terasa sejuk, lebih tepatnya menenangkan pikiran,"
"Memangnya kamu ada masalah?" Ara terlihat gugup, sepertinya ia keceplosan "En-enggak kok mami, enggak ada masalah. Namun pekerjaan kantor membuat terasa penat dan pusing,"
Salvira pun menatap Ara dan tersenyum "Sayang, mami kan sudah bilang sama kamu. Jangan terlalu pusing memikirkan perusahaan, kamu bisa meminta bantuan kepada karyawan yang lainnya. Mami enggak mau karena masalah kantor kamu menjadi stres,"
Mami, ini bukan karena pekerjaan kantor. Namun karena Gerry! ~batinnya.
Ara pun hanya mengangguk, tak lama kemudian dia bertanya kepada mami sahabatnya itu "Mami, cinta itu membuat kita rumit ya?"
"Rumit? Tidak sayang! Cinta tidak membuat rumit, hanya saja terkadang kita sering salah paham karena keadaan. Dan terkadang, apa yang kita lihat itu belum tentu menjadi yang sebenarnya!"
Ara menatap Salvira "Salah paham?" Salvira pun mengangguk "Iya sayang, dahulu mami dan papi juga seperti itu. Mami sering cemburu dan salah paham. Padahal apa yang mami pikirkan dan mami lihat itu bukan lah yang sebenarnya!"
Ara terdiam, masalah mereka jauh berbeda. Karena Gerry sudah mengatakannya sendiri. "kamu ada masalah sama nak Gerry?"
Ara tercengang, mengapa maminya Bunga bisa tahu? "T-tidak mami!"
"Kamu jangan bohong sama mami, mami ini kan ibu keduanya kamu. Mami tahu apa yang anak-anak mami rasakan dan jika kalian sedang sedih, mami juga tahu walau kalian menutupinya,"
Ara pun terlihat sedih, mungkin ia memang harus bercerita kepada maminya Bunga "Mami, sebenarnya Bunga sedang patah hati,"
"Payah hati kenapa?"
Ara tanpa sadar meneteskan air matanya dengan sorotan mata yang kosong "Ternyata Gerry sudah memiliki kekasih hati, bahkan wanita itu bekerja di kantor. Ara merasa sakit dan hancur, namun Ara harus bersikap profesional mami dalam bekerja,"
Salvira memegang bahu Ara "Sayang, kamu harus sabar ya! Mungkin, Gerry bukan jodoh yang terbaik untuk kamu. Mami hanya ingin kamu mendapatkan lelaki yang benar-benar baik dan pantas untuk kamu, ohiya memangnya kamu yakin jika Gerry memiliki hubungan dengan wanita itu?"
Ara mengangguk "Iya mami, Ara yakin. Karena Gerry sudah mengatakannya sendiri, jika dia dengan Monica memiliki hubungan yang spesial."
Kini Salvira tahu jika nama wanita itu adalah Monica "Dan tadi, mereka pulang bareng. Keduanya sangat mesra mami,"
"Sudah, lebih baik kita makan sekarang!" Ara menoleh ke arah Salvira "Mami belum makan?"
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya "Bagaimana mami bisa makan, jika salah satu anak mami belum pulang dan pastinya pulang dengan perut yang kosong,"
Ara semakin merasa bersalah, ia memeluk maminya Bunga "Mami, Ara merasa terharu sekali. Terimakasih ya mami, karena sudah menganggap Ara sebagai anak mami juga, mami selalu perduli dengan Ara bahkan saat Ara pulang larut malam begini mami tidak makan. Mami bisa sakit nantinya,"
"Nak, kamu dan Bunga adalah anak mami, mami tidak bisa tenang jika salah satu di antara kalian pulang terlambat tidak seperti biasanya. Apalagi, Bunga juga tadi pulang dan menangis senggugukan."
"Kenapa mami? Apakah Jasson membuat masalah lagi?" Salvira mengangguk, ia pun menceritakan segalanya. Ara mengeraskan rahangnya, matanya melotot dan mencengkram kedua tangannya dengan kuat
"Kenapa lelaki itu selalu saja membuat masalah untuk Bunga mami? Apa dia tidak bisa membiarkan Bunga hidup tenang? Apa sih yang ada di pikirannya itu!"
Ara beranjak dari duduknya, ia ingin menemui dan melabrak Jasson. Namun Salvira mencegahnya "Sayang, sudah! Jangan terbawa emosi! Bunga juga mengatakan untuk kita tidak memperpanjang masalah, nak saat ini yang harus kita pandang adalah Tante Laras. Kasihan dia, mami tidak mau membuat luka batinnya semakin dalam lagi, jadi kita mengalah saja ya demi Tante Laras?"
Ara sedikit tenang, mengapa orang baik seperti Laras dan juga David memiliki anak yang tidak tahu diri seperti Jasson?
"Mami, Ara tidak mengerti. Om David dan Tante Laras itu orang yang sangat baik, kenapa mereka memiliki anak terkutuk seperti Jasson?"
"Hust! Kecilkan suara kamu sayang! Nanti Tante Laras bisa mendengarnya, dan sedih lagi! Dia bisa merasa bersalah, karena dahulu selalu memanjakan Jasson!"
"Iya mami, sebenarnya Tante Laras itu baik. Dan bijaksana, namun karena cintanya kepada sang anak yang begitu buta. Dia tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah, dia selalu saja mendukung perbuatan Jasson yang jelas-jelas itu salah!"
"Sudah sayang! Lebih baik kita makan sekarang;"
Ara pun mengangguk, ia memakan makanan yang sudah disiapkan oleh Salvira. Begitu juga dengan Salvira, setelah Ara pulang baru lah dia bisa makan dengan enak.
Bunga memandangi keduanya dari atas, ia pun tersenyum "Mami, mungkin dengan Bunga. Mami selalu merasa sedih karena melihat Bunga yang seperti ini, tapi sekarang Bunga enggak merasa khawatir lagi. Karena ada anak mami yang lain yang bisa menjaga mami, bahkan mami makan dengan begitu lahap," gumamnya dengan nada yang lemah. Bunga terlihat sangat bahagia, karena melihat kedekatan ibu dan sahabatnya itu.
Setelah itu, Bunga memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya lagi. Namun saat ia membalikan badan kebelakang, ia melihat ibu mertuanya yang berdiri menatapnya dengan tatapan serius. Bunga pun mendekati mama mertuanya itu "Mama, mama membutuhkan sesuatu?"
Bunga bertanya dengan lembut dan penuh kasih sayang, namun Laras tidak menjawab. Bunga pun membawa mama mertuanya untuk kembali ke kamar, ia menuntun Laras
__ADS_1
Sesampai di kamar, Bunga membantu ibu mertuanya untuk membaringkan tubuh di atas kasur
"Mama istirahat saja ya? Jangan memikirkan apapun lagi? Bunga sangat menyayangi mama,"
Setelah menyelimuti ibu mertuanya, ia pun segera keluar dari kamar. Kini Bunga tidak memaksa ibu mertuanya untuk bicara, mungkin ibu mertuanya itu membutuhkan waktu untuk kembali pulih seperti biasa.
Ia pun segera masuk ke kamarnya untuk kembali istirahat, besok ada jadwal ia memeriksa kandungannya.
**********
Keesokan paginya, setelah selesai sarapan. Ara yang ingin pergi ke kantor melihat mobil jemputan Gerry yang ada di depan rumah, memang begitulah setiap hari Gerry akan selalu mengantar dan menjemput Ara. Ara ragu untuk keluar
"Hai, kenapa enggak berangkat? Dan melamun di sini?" Bunga bertanya sambil memegang bahu Ara, membuat wanita itu kaget bukan main
"Bunga, kamu ini mengejutkan aku saja!"
Ara memarahi sahabatnya, Bunga pun terkekeh kecil "Udah di jemput itu, buruan sana! Kasihan loh dia menunggu kelamaan," Ara bingung harus apa, namun ia juga tidak bisa bercerita dengan Bunga. Ara tidak mau jika Bunga merasa khawatir atau sedih.
"Ak-aku sebenernya lagi enggak enak badan,"
"Loh bukannya tadi pamit sama mami mau ke kantor? Kenapa sekarang tiba-tiba enggak enak badan?"
"Iy-iya, tadinya baik-baik aja. Namun ti-tiba tiba, aku merasa sangat pusing. Sepertinya aku berangkat nanti aja agak siangan,"
"Ya sudah! Istirahat lah dahulu sana," Ara merasa lega, ia pun mengucapkan terimakasih banyak kepada Bunga. Ara pasti akan ke kantor namun nanti setelah Gerry pergi. Ia tidak mau berangkat bersama Gerry lagi, ia ingin melupakan semuanya tentang Gerry.
Ara kembali ke ruangan makan "Sayang kenapa kembali lagi? Apakah ada yang ketinggalan?" Salvira bertanya kepada Ara, Ara mengatakan jika Gerry ada di luar. Dan ia tidak ingin berangkat bersama lelaki itu, Salvira pun tidak mau ikut campur lebih banyak. Ia tidak mau ketenangan dan kenyamanan Ara menjadi terganggu karena lelaki itu.
"Mami, tapi Ara enggak cerita sama Bunga! Ara bilang sama Bunga kalau Ara enggak enak badan, Ara enggak mau karena masalah Ara, Bunga akan sedih lagi. Ara memikirkan kandungannya,"
"Iya sayang, mami mengerti semuanya. Dan mami juga tidak akan mengatakan apapun kepada Bunga, kamu tenang aja ya?"
Ara mengangguk, tersenyum menatap Salvira dengan tatapan teduh. Wanita paru baya itu pun membalasnya.
*******
Bunga tersenyum, membalas sapaan dari Gerry "Selamat pagi tuan Gerry, Ara sepertinya pusing. Lebih baik anda masuk saja dulu ke dalam, menunggu hingga ia udah mendingan,"
"Apakah nona Ara sakit?" Bunga tersenyum bahagia, saat melihat wajah khawatir Gerry saat mengetahui Ara sedang sakit. Gerry pun kebingungan melihat bosnya yang tersenyum tanpa sebab
"Wah khawatir banget ya? Ara enggak kenapa-kenapa namun kepalanya tiba-tiba terasa sakit dan dia membutuhkan waktu sedikit untuk istirahat, mungkin satu atau dua jam lagi udah mendingan. Lebih baik kamu masuk dan sarapan bersama kami,"
"Tidak nyonya! Saya menunggu di luar saja,"
"Hei! Ini perintah dan tidak boleh ada penolakan!"
Gerry pun tak berkutik, ia mengikuti Bunga untuk masuk ke dalam. Ara kaget saat melihat Gerry yang masuk "Bunga, kenapa dia ikut masuk?"
Sontak Ara langsung bangkit, bertanya kepada sahabatnya. Bunga pun mengatakan jika Gerry sudah jauh-jauh menjemput Ara "Gerry udah jauh-jauh dan pagi-pagi sekali datang untuk menjemput kamu, kamu kan lagi sakit. Yaudah aku suruh dia masuk untuk sarapan bersama, sambil menunggu kamu yang agak mendingan nantinya! Kasihan tau kalau Gerry di suruh pulang sendiri, lagipula nanti kamu ke kantor mau sama siapa?"
"Iya aku kan bisa naik taksi?"
Bunga tidak menggubris ucapan Ara, ia meminta Gerry untuk duduk dan makan bersama "Duduk lah tuan Gerry!"
Gerry pun duduk di samping Ara, Gerry menoleh ke arah Ara namun wanita itu tidak melihatnya "Mengapa sulit sekali ingin menjauh darinya?" Batinnya dengan tangan yang gemetar.
Bunga pun mengambilkan nasi dan lauk ke dalam piring Gerry, ia langsung mempersilahkan bawahannya untuk makan.
"Anda harus makan dan menghabiskannya, ini perintah dari saya! Dan saya tidak suka ada penolakan!" Ujar Bunga kepada Gerry, membuat pria itu tidak ada pilihan lain selain memakannya
Kebetulan, Gerry juga belum sarapan. Saat di rumah saudara kembar papanya itu, ia tidak mau sarapan. Karena tahu, jika maminya Monica tidak akan menyukai itu semua. Gerry tidak mau mencari masalah, dan memutuskan untuk pergi lebih cepat sebelum semuanya bangun.
Gerry tahu, jika Monica selalu di antar oleh papi mereka setiap pagi. Jadi, Gerry tidak harus khawatir dengan Monica yang berangkat tanpa dirinya.
__ADS_1
Ara menunduk, setelah melihat Gerry sudah selesai makan. Ia pun berpamitan kepada Bunga dan Salvira untuk berangkat
"Sepertinya pusing ku sudah hilang, kami bisa berangkat sekarang!"
"Nanti dong! Gerry baru saja siap makan, nasinya juga belum turun di perut. Kamu gimana sih Ara?" Bunga terlihat kesal dengan sahabatnya itu, yang terlalu terburu-buru. Tadinya ia mengatakan berangkat nanti karena kepala pusing, dan sekarang secara tiba-tiba memaksa untuk berangkat ke kantor sekarang. Sementara Gerry baru saja siap makan
Bunga juga membuatkan susu hangat untuk gerry, awalnya Gerry menolak dengan lembut. Namun Bunga tidak suka dengan penolakan, tidak ada pilihan lain untuk Gerry menghabiskan susu hangat itu.
Setelah menunggu beberapa menit, dengan perasaan gelisah. Kini Ara dan Gerry berpamitan kepada Bunga dan Salvira untuk berangkat ke kantor. Bunga mengantar mereka sampai depan rumah, Ara juga tidak punya pilihan lain untuk menolak. Ia hanya bisa diam saja, dan naik ke dalam mobil
"Nyonya saya pergi dulu, terimakasih untuk makan dan susunya!"
"Sama-sama! Gerry kamu jangan sungkan-sungkan! Anggap saja kami ini adalah keluarga kamu,"
Gerry tersenyum terharu, mengapa orang lain bisa bersikap seperti saudara. Sedangkan saudara sendiri bisa sangat kejam kepadanya?
Bukan hanya maminya Monica saja yang seperti itu, namun Paman dan Bibi dari keluarga mamanya juga seperti itu. Tidak perduli kepadanya, bahkan mengusirnya saat Gerry berkunjung kerumah mereka.
Gerry seakan tidak di harapkan dalam keluarga mereka semua "Tuan Gerry, kenapa anda melamun?"
Gerry tersentak, menggelengkan kepalanya. Ia pun segera masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya menuju kantor.
Di perjalanan, kini Ara yang membuka suara terlebih dahulu "Mulai besok, kamu jangan jemput aku lagi ya? Aku bisa pergi dan pulang sendiri!"
Ara kaget, saat mobil tiba-tiba mengerem! "Apaan sih? Kamu mau aku mati ya? Tiba-tiba ngerem seperti itu, buat jantungan aja!"
Gerry tersenyum melihat Ara yang bawel seperti biasanya, ia pun meminggirkan mobilnya di pinggir jalan
"Ini kenapa berhenti lagi?" Ara kembali bertanya kepada Gerry, Gerry mendekat, dan lebih dekat dengan wajah Ara. Membuat jantung wanita itu berdegup kencang "Seharusnya saya yang bertanya kepada anda nona, apa yang terjadi dengan anda? Kenapa tiba-tiba anda berubah seperti itu?"
Ara tidak berani menatap mata Gerry, namun lelaki itu memegang dagu Ara agar kedua mata mereka saling bertemu. Ara seperti mati gaya, tidak berani berkutik. Bahkan bernafas saja ia harus hati-hati, Karena keduanya sangat dekat. Jika ada salah gerak sedikit, maka kedua bibir mereka akan bertemu dan menyatu.
Ara menjauhkan tubuh Gerry dari hadapannya!
"Aku enggak apa-apa, kamu apaan sih! Main nyosor aja!" Ketusnya dengan tangan yang gemetar, dan Gerry menyadari itu
"Saya kan tidak menyentuh anda nona! Saya bertanya kenapa anda tiba-tiba seperti menjauh dari saya? Pertama, ruangan yang terpisah padahal nyonya Bunga belum tahu!"
Ara kaget, apakah Gerry membahas hal itu kepada Bunga? "Lancang banget sih membahas itu dengan Bunga! Jangan buat Bunga jadi tambah beban deh!"
Ara pun kini menoleh ke arah Gerry, ia terlihat sangat kesal "Karena saya butuh jawaban! Nona juga tidak membalas pesan dan panggilan saya? Dan masalah tadi pagi, saya tahu jika anda tidak pusing. Hanya mencari alasan biar saya tidak berangkat bersama anda!"
Ara tidak tahu mengapa Gerry bisa mengetahui segalanya, dan pastinya bukan Bunga yang memberitahu itu. Apakah mami Salvira? Tidak!
Ara menggelengkan kepalanya, ia tahu jika bukan maminya yang memberitahu.
"Kamu jangan sok tau ya! Memangnya kamu Tuhan?"
"Saya bukan sok tau, tapi saya memang tahu nona. Karena saya mencintai anda,"
Deg!
Ucapan Gerry membuat Ara salah tingkah namun wanita itu tidak mau terlalu terbawa perasaan "Udah deh! Enggak usah ngomong yang aneh-aneh, kamu itu udah punya Monica! Jangan playboy dong jadi manusia,"
"Ha-ha-ha"
Bukannya merasa bersalah, Gerry malah tertawa dengan keras. Kini ia tahu, jika Ara sedang salah paham dengan hubungannya dengan Monica
"Nona kamu cemburu?"
"Cemburu apanya? Aku enggak cemburu ya? Jangan asal bicara! Lagipula, kamu dan Monica kan sudah memiliki hubungan spesial!"
"Iya memang!"
__ADS_1
Membuat Ara semakin mendidih "Kalau tahu punya pacar, tau diri dong! Ngapain bilang cinta sama aku,"
"Yang bilang dia pacar aku siapa?" Gerry terlihat sangat gemas dengan tingkah Ara