
Gerry mendekati istirnya, ia pun mencium kening Ara agar wanita itu jauh lebih tenang dan tidak emosi lagi "Maafkan aku, bukannya aku tidak mau memberitahu mu apapun. Tapi percaya lah, aku tidak ingin membuat kamu merasa khawatir sedikit pun. Dan kamu tahu, jika keluarga kita sudah banyak berhutang Budi kepada Bunga dan keluarganya. Walau aku ingin mencoba mandiri dan kita keluar dari rumah namun mereka tidak memberikan izin untuk kita pergi. Jika kamu menjadi lelaki, kamu tahu pasti bagaimana rasanya jadi aku. Bahkan jika itu adalah mama kandung mu aku merasa sangat tidak berguna menjadi suami. Apalagi ini hanya keluarga dari sahabat mu,"
Ara terdiam, memikirkan ucapan suaminya. Memang benar, keluarga Bunga sudah sangat berjasa untuk mereka. Bahkan, semua fasilitas yang di miliki oleh anak mereka Justin itu semua karena maminya Bunga. Salvira tidak pernah membeda-bedakan antara Jesslyn dengan Justin. Ia menyayangi keduanya dengan sangat baik, bahkan Gerry sadar itu. Jika keluarga Bunga begitu tulus kepada mereka.
"Aku tahu, tapi kamu juga tahu. Berulangkali, aku meminta untuk kita bisa pindah dan memulai kehidupan dengan mandiri. Namun mami dan juga Bunga tidak mengizinkan kita keluar dari rumah itu, aku juga tidak tahu harus apalagi,"
Gerry mengatakan jika dia tidak menyalahkan istirnya namun ia ingin Ara tahu batasan-batasan
"Sayang, jika kita semua ikut berlibur. Mau berapa uang mereka yang akan habis? Kamu, aku, dan anak kita Justin. Itu pasti tidak sedikit! Sedangkan gaji kita juga tidak bisa untuk berlibur untuk kita sekeluarga,"
Ara terlihat sedih, Gerry meminta istirnya untuk tidak sedih "Sayang, kamu jangan sedih seperti ini! Aku tidak mau kamu sedih seperti ini!"
"Bagaimana aku tidak sedih, jika kamu mengingatkan aku dengan semua kebaikan yang sudah mami dan Bunga lakukan?"
Gerry memeluk wanita yang ia cintai dengan erat, namun satu hal yang Ara juga tidak mengerti mengapa Gerry menjauh dari keluarganya Monica.
"Sayang, aku ingin tahu alasan kamu menolak semua bantuan dari papinya Monica. Kenapa? Padahal kamu bisa bekerja di kantor papinya Monica? Bukan kah dia juga papanya kamu, papinya Monica itu kan saudara kembar dari papa kamu,"
"Iya sayang, aku tahu itu. Namun aku tidak mau terlalu bergantung kepada siapapun. saat aku bekerja di kantor papi, pasti aku akan segan meminta gaji. Dan apa yang akan di pikirkan oleh maminya Monica, aku meminta imbalan Karena membantu mereka? Jika aku tidak meminta gaji, bagaimana aku bisa memberikan kamu nafkah?"
Gerry memang orang yang sangat mandiri, ia bekerja di perusahaan Bunga juga layaknya karyawan yang bekerja di perusahaan itu. Dia juga mengerjakan pekerjaannya dengan baik dan profesional.
Ara pun mengerti apa yang suaminya katakan, Iya tidak mau membahasnya lagi karena ada tahu itu akan membuat keduanya menjadi renggang.
*******
Jesslyn dan Justin yang sedang bermain dengan Omanya Salvira terlihat sangat senang
"Maaf nyonya, sudah waktunya untuk nona Jesslyn dan tuan Justin tidur siang!"
Salvira pun meminta kepada kedua cucunya untuk tidur siang namun Jesslyn dan Justin membujuk neneknya itu "Oma, kami masih ingin bermain. Sebentar lagi ya Oma? Please Oma! Biasanya jika mommy di rumah, Jesslyn akan di paksa tidur walau Jesslyn belum ingin tidur. Jesslyn mohon Oma, sekali ini saja. Jesslyn janji akan segera tidur jika sudah benar-benar mengantuk. Iyakan Justin?"
Jesslyn menoleh ke arah Justin, anak lelaki itu hanya mengangguk tanpa mengerti apa yang dikatakan oleh Jesslyn.
Salvira merasa lemah jika melihat sorotan mata kedua anak itu yang begitu polos "Baik lah, kalian boleh bermain tapi ingat jangan lama-lama ya?"
"Iya Oma, terimakasih! Jesslyn sayang Oma!"
"Oma juga sayang Jesslyn, Oma juga sangat dengan Justin. Kalian cucu-cucu kesayangan Oma!"
Jesslyn mau pun Justin terlihat sangat bahagia, karena Omanya menuruti semua permintaan mereka.
"Enggak apa-apa, biarin mereka bermain lebih lama lagi."
"Ma-maaf nyonya, jika nanti nyonya Bunga tahu dia akan marah besar kepada kami,"
"Jangan khawatir! Saya yang akan bertanggungjawab untuk itu semua. Yang penting kalian melihat mereka bermain, jangan biarkan mereka terluka sedikitpun!"
"T--tapi nyonya, ini jadwal anak-anak yang tidak bisa di ubah. Mereka bisa sakit jika tidak mengikuti aturan yang sudah di perintahkan oleh nyonya Bunga, "
"Hei kamu pikir dahulu saya tidak mengurus Bunga? Saya mengurus anak saya dengan tangan saya sendiri, jadi kamu tidak perlu memberitahu saya mana yang harus dan tidak saya lakukan!"
Salvira terlihat sangat kesal, membuat kedua pengasuh itu tidak bisa berkata apapun lagi. Keduanya takut, jika mereka di marahi oleh Bunga namun mereka lebih takut dengan Salvira.
"Bagaimana ini? Nona Jesslyn akan sakit nantinya, dan akan mimisan jika jadwal tidurnya tidak teratur sesuai dengan anjuran dokter?" Bisik salah satu pelayan kepada temannya itu, namun mereka tidak berani lagi bersuara apapun.
"Sudah lebih baik kita lakukan saya tugas kita. Nyonya besar juga sudah mengatakannya! Jadi jangan ada yang harus di takutkan!"
"Ta-tapi,"
"Kamu tidak percaya dengan saya? Saya ini neneknya mereka. Apa mungkin saya akan menyakiti cucu-cucu saya?"
Jesslyn dan Justin terlihat sangat bahagia mereka pun berlindung di belakang tubuh Omanya "Oma, lihat lah mereka sangat galak dengan kami. Setiap hari kami di paksa untuk tidur jika tidak mau kami akan diberikan hukuman,"
__ADS_1
"Apakah yang cucu saya katakan itu benar?" Salvira terlihat sangat marah, namun sebenarnya yang menghukum anak-anak bukan lah pengasuh, melainkan Bunga sendiri.
"Maafkan kami nyonya, namun itu perintah yang sudah diberikan oleh nyonya Bunga. Dan bukan kami yang memberikan hukuman kepada nona Jesslyn dan tuan Justin tapi nyonya Bunga sendiri!"
Salvira tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran anaknya, kenapa Bunga begitu ketat sekali dalam melakukan aturan terhadap Jesslyn dan Justin?
"Sudah lebih baik kalian kembali ke tempat kalian! Dan selama ada saya, kalian tidak berhak mengatur cucu-cucu saya, mereka akan melakukan apa yang mereka mau. Bukan apa yang kalian inginkan, apa kalian mengerti?"
"Mengerti nyonya!"
"Terimakasih banyak Oma, Jesslyn sangat sayang dengan Oma,"
"Oma juga sayang banget sama kamu!"
********
"Sayang, bagaimana? Apa yang kakak kamu balas!" Papinya Monica bertanya kepada anaknya apakah Gerry bersedia datang ke rumah mereka.
"Papi, sudah lah kenapa papi masih saja berharap mereka datang sementara mereka tidak mau datang? Lihat, setiap hari kita memohon agar mereka datang, namun nyatanya Gerry sangat keras kepala! Semenjak dia menikah, dia semakin angkuh! Bukan kita yang tidak mau berkeluarga dengan mereka namun Gerry sendiri yang memutuskan ikatan keluarga kita!"
"Tidak mami! Kenapa mami mengatakan itu? Itu tidak seperti yang mami pikirkan!"
"Lalu apalagi yang harus mami katakan Monica? Mami sangat kesal dengan kakak sepupu kamu itu, dia begitu sombong! Padahal kita ingin bertemu dengan anaknya, jika dia tidak mau membawa anaknya ke sini juga tidak masalah untuk mami. Untuk kita semua! Lagipula, sebentar lagi kamu akan menikah dan akan memiliki anak!"
"Hentikan mami! Apa yang mami katakan! Walau pun Monica menikah dan memiliki anak, anak Gerry itu tetap cucunya kita! Kamu jangan keterlaluan dengan Gerry bagaimana pun dia juga anak aku! Anak dari saudara kembar aku yang telah tiada!"
"Terserah sama mami juga Monica! Mami tidak perduli namun yang pastinya bukan kita yang tidak sayang dengan mereka. Tapi mereka yang memutuskan untuk tidak kerumah kita!"
Maminya Monica yang terlihat kesal pun meninggalkan suami dan anaknya "Papi, menurut Monica. Alasan kak Gerry tidak mau kesini karena sikap mami yang begitu,"
"Sayang, apa yang kamu katakan nak? Memang mami mu berbicara seperti itu namun papi tahu jika mami mu sangat menyayangi Gerry dan juga keluarganya,"
Monica menggeleng, karena berulangkali saat Gery dan keluarganya datang ke rumah. Maminya seperti tidak senang dan Monica mengingat saat Justin Begitu ketakutan dengan maminya itu.
"Sayang, mami kan juga sudah menjelaskan waktu itu. Mami memang mencubitnya namun tidak kuat. Itu karena mami merasa gemas dengan cucunya Justin. Wajar dong mami seperti itu karena dia sangat gemas dengan Justin. Apa Gerry tidak mau datang karena itu?"
Monica berpikir hal yang sama dengan papinya "Mungkin saja istrinya kak Gerry marah karena anaknya menangis. Lalu ia melarang kak Gerry dan Justin datang berkunjung ke sini. Ara memang terkenal sangat pemarah papi!"
Monica tahu bahagia sifat Ara, begitu mudah emosi dan dia yakin jika Ara yang melarang anak dan suaminya berkunjung "Jika memang benar, dia sangat keterlaluan papi! Monica akan bicara nanti dengan Ara, dia enggak boleh seperti itu! Apalagi kita ini keluarganya kak Gerry, enggak berhak Ara melarang kak Gerry dan Justin datang. Jika dia tidak mau datang, cukup dia saja yang tidak datang!"
Papinya pun setuju dengan ucapan Monica. Mereka salah paham dengan Ara, padahal sebenarnya dalang alasan Gerry tidak mau datang adalah maminya Monica sendiri.
Gerry memaklumi jika sebenarnya maminya tidak menyukai dia, namun ia tidak bisa menerima jika maminya Monica juga berbuat jahat kepada anaknya Justin. Gerry percaya jika sebenarnya maminya Monica mencubit anaknya Justin dengan kuat hingga membuat Justin menangis ketakutan, Gerry tahu bagaimana anaknya. Anaknya bukan lah anak yang cengeng, di sengggol sedikit langsung menangis. Jika itu tidak terlalu sakit baginya, Justin juga tidak akan merasa ketakutan yang begitu besar.
"Papi, Monica harus pergi sekarang!"
"Kamu mau kemana sayang?"
"Monica harus menemui Ara, dan memberikannya peringatan! Dia tidak boleh mencoba menjauhkan Gerry dan Justin dari kita keluarganya. Ara tidak memiliki hak untuk itu semua, tidak!"
Monica terlihat' marah besar, ia pun menyalami papinya dan segera pergi.
********
Ara dan Gerry sedang bermesraan di ruangan mereka sambil memantau pekerjaan mereka "Sayang, kamu sangat menggoda ku. Apakah kau ingin kita memiliki adik untuk Justin?" Gery pun berbisik di telinga istrinya, membuat Ara tersipu malu
"Tidak sayang! Aku tidak menggoda mu,"
"Jika tidak menggoda, lalu apa namanya ini?"
Gerry perlahan mengecup kening Ara dengan lembut, kecupan itu juga berpindah di bibir merah milik Ara, hanya sekedar kecupan namun berulang-kali.
Gerry masih mengingat jika ini masih di daerah kantor dan dia harus menahan semuanya "Emmm, sayang!"
__ADS_1
Ara bergeliat saat Gerry mulai bermain di telinganya, terasa sangat geli baginya. Bahkan tubuhnya berulangkali merasakan getaran-getaran
"Emmmm," Ara hanya terpejam saat menikmati lidah Gerry yang terus bermain di telinganya, gelegar yang begitu aneh yang Ara rasakan.
Gerry pun menghentikan permainannya, keduanya bertatapan dengan mata yang sayu
Ini sangat gila namun menyenangkan, apakah mungkin mereka harus bermain di ruangan kerja kantor? Namun Ara sudah tidak tahan lagi, insting wanitanya memuncak, ia pun mencium bibir Gerry dengan perasaan yang menggebu-gebu seolah tubuhnya membutuhkan yang lebih daripada sekedar ciuman.
"Sayang, aku kunci pintunya dulu!" Bisik Gerry di telinga Ara, wanita itu hanya mengangguk
Gerry berjalan ke arah pintu dengan sangat cool, ia segera mengunci pintu ruangan mereka. Lalu ia mendekati istrinya, dengan cepat Ara menarik tangan Gerry dengan perasaan yang tidak sabar.
"Cepat sayang!"
Ara mengulum bibir suaminya dengan gerakan begitu cepat, seakan tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Gerry kesulitan mengikuti permainan lidah Ara namun perlahan ia bisa mengikuti permainan istirnya itu.
Tangannya turun ke bawah, membuka satu persatu kancing baju Ara, tidak semuanya hanya sebagian saja. Tangannya memegang kedua bukit gundul milik sang istri.
Ara semakin terlena dengan sentuhan yang diberikan oleh suaminya. Ia akan menjadi si pasrah jika Gerry mempermainkan Tubuhnya itu.
Ara meremas rambut suaminya dengan gairah yang tidak terkendali, berulangkali membuka dan menutup mata, menggigit bibir bawahnya. Saat tangan Gerry bermain dengan cepat di bawah sana.
"Emmm, sayang!"
Gerry menikmati setiap ******* yang keluar dari bibir Ara, keduanya tidak perlu merasa khawatir karena mereka tahu ruangan itu kedap suara. Walau sebesar apapun mereka berteriak, tidak akan ada yang mendengar
Hingga keduanya mendapatkan pelepasan kenikmatan, ini sangat gila bagi keduanya.
Bermain di ruangan kantor, namun keduanya sangat menikmati permainan itu. Memang sempit namun keduanya bisa mengganti gaya dengan leluasa. Ara selalu menikmati semua permainan yang diberikan oleh Gerry.
"Sayang, aku mencintai mu!"
"Aku juga mencintai mu!" Keduanya kembali ******* bibir masing-masing dengan nafas yang masih terengah-engah.
Mungkin keduanya akan melanjutkan ronde kedua atau ketiga. Karena baik Ara mau pun Gerry sangat menikmati bermain di kantor daripada di kamar mereka sendiri. Seakan keduanya mendapatkan tantangan yang lebih membuat keduanya bersemangat.
Sudah tiga kali keduanya mencapai kenikmatan secara bersamaan, Gerry mengucapakan terima kasih kepada istrinya karena sudah mau menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk keluarga mereka.
Ara segera merapihkan bajunya, takut jika ada yang masuk ke dalam ruangan terutama Bunga. Begitu juga dengan Gerry
Setelah keduanya melihat jam di tangan, mereka sudah menghabiskan waktu tiga jam untuk bersama. Keduanya pun saling pandang dan tertawa, seperti pasangan pengantin baru. Keduanya pun begitu bahagia, saling berpelukan
"Sayang, aku sangat mencintai mu!"
"Aku juga sangat mencintai mu, dan rasa ku kepada mu tidak akan pernah berkurang sampai kapan pun,"
Ara merasa bahagia, karena Gerry sangat memperlakukannya begitu baik. Sangat jauh dengan pernikahannya yang pertama
"Sayang, kenapa kamu melamun?"
Ara menggelengkan kepalanya, ia mengatakan jika dirinya merasa sangat terharu
"Aku merasa sangat beruntung, memiliki suami yang begitu baik seperti mu!"
Gerry memeluk Ara dengan mesra, ia menatap mata istrinya dengan penuh cinta "Aku akan selalu melakukan yang terbaik untuk keluarga kecil kita, aku sangat menyayangi kamu dan Justin."
"Sayang, apakah kamu menyayangi Jesslyn?"
Gerry tentu saja mengangguk, ia sangat menyayangi Jesslyn seperti putrinya sendiri "Aku tahu, jika aku bukan lah ayah biologis nona Jesslyn, dan dia adalah anak dari bos kita. Tapi aku sangat menyayangi Jesslyn, aku tidak pernah membedakan antara Jesslyn dan juga Justin. Keduanya adalah anak-anak yang sangat manis dan baik,"
"Iya sayang, namun seringkali Justin menyakiti hati Jesslyn, aku juga tidak mengerti bagaimana Justin bisa berbicara seperti itu kepada Jesslyn!"
"Entah lah sayang, tapi aku selalu berdoa kepada keduanya agar selalu akur sampai besar nanti,"
__ADS_1
"Iya sayang, aku tahu keduanya saling menyayangi. Namanya mereka masih anak-anak dan belum mengerti,"