
"P-papa hanya ingin kamu dan Jasson terus bersama,"
Setelah mengatakan itu, David mengambil nafas yang panjang, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya
"Papa!" Bunga berteriak histeris, begitu juga dengan Laras yang menangis. Bunga berlari ke luar memanggil dokter dan beberapa perawat!
Melihat istrinya yang sangat khawatir membuat Jasson mendekati Bunga
"Bunga, ada apa?" Jasson bertanya kepada Bunga, ia melihat bibir dan tangan Bunga yang gemetar dan pucat
"P--pa!" Belum sempat Bunga menyelesaikan ucapannya. Laras dan Salvira pun keluar dari ruangan, Jasson menoleh ke arah mamanya yang menangis "Ma, ada apa?"
Laras tidak menjawab, ia hanya memeluk anaknya terisak "Ma tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mama, Bunga dan mami keluar dengan menangis?"
Tim medis keluar dari ruangan "Nona, tuan! Kami telah melakukan yang terbaik untuk pasien namun Tuhan berkehendak lain! Maafkan kami,"
__ADS_1
"Tidak! Ini tidak mungkin! Suami saya pasti akan baik-baik saja!" Laras histeris, masuk ke dalam ruangan menemui suaminya
"Papa bangun! Tolong bangun papa! Jangan tinggalkan mama seperti ini! Mama enggak sanggup hidup tanpa papa! Tolong bangun dan maafkan mama!"
Laras memeluk jasad suaminya yang sudah membiru, semua orang masuk ke dalam ruangan.
Bunga pun menangis merasa kehilangan papa mertuanya "P--pa! Jangan tinggalin Bunga, papa harus bangun! Cucu papa membutuhkan papa!"
Ujarnya dengan nada gemetar. Ruangan di penuhi dengan tangis kehilangan, Jasson menatap jasad papanya dengan penuh penyesalan.
"Pa, maafin Jasson!"
"Pergi kamu Jasson! Pergi dari sini! Ini semua karena kamu! Andai kamu tidak membuat papa mu merasa sedih semua ini tidak akan terjadi. Dan kamu Ara, kamu puas dengan semua yang telah terjadi? Kamu puas?"
Laras mendekat dan menunjuk ke arah Ara, Ara tidak menjawab. Ia hanya menangis, ia tahu jika saat ini Laras sedang berduka. Bahkan Ara tetap diam saat Laras menampar dirinya
__ADS_1
"Mama, tolong tenang lah! Sebaiknya kita segera menyelesaikan pemakaman papa! Mama jangan seperti ini! Bunga enggak mau mama sakit,"
"Sayang, mama sekarang sendirian. Mama sudah menjadi janda, mengapa papa mu sangat tega meninggalkan mama? Bagaimana mama tanpa papa" Laras mengatakan itu dengan tangisan sendu, Bunga merasa terluka melihat ibu mertuanya yang seakan meratapi kepergian papa mertuanya.
Jasson ingin mendekat, namun Laras kembali melarang anaknya mendekat "Pergi kamu Jasson! Saya tidak ingin melihat wajah kamu lagi. Sebaiknya kamu pergi dengan pelakor itu! Karena ulah kalian, suami ku langsung drop! Dia mudah sakit! Sudah mama katakan sejak awal kepada mu. Jangan membuat suami ku sakit, namun kau tetap saja bersikap semau mu! Pergi! Aku tidak sudi memiliki anak seperti mu!"
Laras kembali mengusir anaknya dengan penuh murka. Begitu juga saat melihat wajah Ara, ia menyalahkan Ara dan Jasson dengan semua yang terjadi.
Salvira mengajak Ara untuk mengurus semuanya. "Ara sayang, sebaiknya kamu ikut mami mengurus pemakaman tuan David!" Dengan wajah kesedihan, Ara mengangguk.
Ia juga merasa kehilangan David, walau Ara sangat membenci Jasson dan Laras. Namun ia menyayangi David seperti ayah kandungnya sendiri, Salvira dan Ara pun keluar dari ruangan menuju administrasi
"Mami, ini semua kesalahan Ara! Andai saja Ara tidak membuat,"
"Sudah lah sayang, jangan menyalahkan diri kamu sendiri! Lebih baik kita mengurus untuk semua pemakaman tuan David,"
__ADS_1