Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 155


__ADS_3

Bunga tidak tahu harus bagaimana lagi, bukannya ia sengaja namun memang Jasson tidak bisa dihubungi.


Bunga menangis memeluk maminya "Mi, kenapa semua ini harus di rasakan oleh Jesslyn? Dosa apa yang sudah Bunga lakukan di masa lalu? Kenapa harus anak Bunga yang menanggung semuanya?"


Di saat dirinya seumuran Jesslyn, dirinya penuh dengan perhatian, kasih sayang dan waktu yang banyak dari papinya. Namun, mengapa anaknya tidak seberuntung itu? Bunga selalu berdoa agar anaknya beruntung di dalam ikatan pernikahan kelak.


"Sayang, kamu harus kuat dan tenangkan diri kamu! Kalau kamu seperti ini, Jesslyn akan lemah,"


"Bunga sudah menebus kesalahan Bunga karena memaksakan kehendak menikah dengan Jasson dahulu. Apakah itu belum cukup? Kenapa anak Bunga juga harus menderita hiks,"


Ara dan Salvira menenangkan Bunga "Bunga, tenang kan diri mu!"


"Jangan khawatir nona, saya berjanji membawa tuan Jasson ke sini untuk bertemu Jesslyn,"


Bunga menatap Gerry dengan penuh harap "Saya mohon, bawa dia kesini untuk Jesslyn. Kau menganggap Jesslyn seperti anak mu bukan?"

__ADS_1


Gerry mengangguk, sekali lagi Bunga memohon agar Gerry dapat segera menemukan Jasson. Ia tidak bisa melihat putrinya seperti ini.


Liburan yang seharusnya penuh bahagia justru penuh dengan air mata, masalah datang bertubi-tubi setelah Jasson kembali hadir di kehidupan Bunga setelah bertahun-tahun.


Gerry pun berpamitan dengan semua orang, terutama istrinya. Tanpa sadar, air mata Gerry menetes. Ia sedih melihat keadaan Jesslyn karena dirinya sangat menyayangi dan mencintai Jesslyn seperti putri kandungnya sendiri.


"Sayang, kamu adalah Daddy-nya Jesslyn. Jadi, Daddy Jesslyn harus kuat! Agar putri kita bisa kuat di dalam," Ara memeluk suaminya, ia tahu bagaimana hancur dan terlukanya Gerry. Sama seperti sang suami, Ara juga sudah menganggap Jesslyn seperti putrinya sendiri. Orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya lemah tak berdaya di ruangan?


Gerry mengangguk "Aku akan kuat, dan aku berjanji kepada kalian semua akan membawa tuan Jasson,"


Namun demi kebahagiaan Jesslyn, apapun akan mereka lakukan. Gerry segera pergi setelah berpamitan.


"Mami, kemana Daddy?" Kini, Justin bertanya kepada ibunya kemana sang ayah akan pergi.


"Sayang, Daddy pergi untuk membawa obat untuk kakak kamu,"

__ADS_1


Justin mengangguk, ia senang karena kakaknya akan diberikan obat. Justin tahu, jika orang yang sedang sakit diberikan obat pasti akan segera sembuh.


Bunga meremas tangannya dengan perasaan hancur, ia masuk ke dalam ruangan sang anak.


Jesslyn belum sadarkan diri dan terus memanggil "Papa,"


"Nak, kamu tidak pernah dekat dengan papa mu, namun saat kamu tahu dia adalah papamu. Kamu langsung merindukannya,"


Bunga mencium tangan anaknya dengan lembut "Sayang, kamu harus sadar! Mommy sangat khawatir sama kamu nak, kamu enggak sayang sama mommy?"


"Nak, kenapa kamu hanya sayang dengan papa kamu? Apa mommy enggak penting bagi Jesslyn nak? Nak, jawab mommy sayang!"


Bunga terisak, menginginkan anaknya segera sadar "Sayang, kamu jangan seperti ini! Ayo bangun, kamu sendiri yang mengatakan kepada mommy jika kamu adalah anak kuat dan mommy ingin kamu membuktikannya hari ini!"


Salvira memeluk anaknya, merasa tidak tega dengan Bunga "Bunga, kamu jangan seperti ini! Kasihan Jesslyn, kamu harus kuat!"

__ADS_1


"Enggak mi! Jesslyn yang harus kuat, dan jangan seperti ini!"


__ADS_2