
"Kau sudah gila ya? Aku tidak pernah melakukan apapun untuk mengusik kehidupan mu! Kenapa kau melakukan ini kepada ku?"
"Iya, kau tidak menggangu ku tapi kau mengganggu rumah tangga sahabat ku! Dan aku benci pelakor seperti mu!"
"Dasar wanita tidak waras!" Ade yang membersihkan pakaian itu pun menggerutu kesal, mengapa hidupnya seperti ini? Padahal Jasson adalah kekasihnya sejak lama.
Setelah puas mempermalukan pelakor itu, Ara pergi meninggalkan Ade dan teman-temannya.
"Aku puas sekarang, Bunga andai kamu enggak hilang ingatan pasti dengan bangga aku menceritakan ini kepada mu huft!"
"Nona mengapa anda membuat keributan pada orang lain?" Ara menoleh ke arah Gerry, ia berpikir apakah lelaki itu mengikutinya namun Ara tak mau ambil pusing, ia pun menyebrang dan menuju jajanan kaki lima yang sebelumnya ingin ia tuju
"Mas, bakso ukuran jumbo satu ya. Sama es jeruk satu, es batunya banyakin! Satu lagi, bakso besarnya kasih dua ya mas?"
Ara merasa sangat lapar, walau tubuhnya mungil namun porsi makannya sangat banyak. Gerry menelan ludahnya sendiri mendengar pesanan dari atasannya itu.
"Itu yang makan nona atau setan nona?"
__ADS_1
"Setannya, kau mau juga aku makan?"
Gerry terdiam, tak menjawab. Ia pun memesan hal yang serupa dengan Ara.
"Mas, saya mau seperti pesanan Ara kimochi ini ya!" Menunjuk kepada Ara, Ara menatapnya dengan galak.
"Kau harus memasak bubur merah putih atau urap untuk ku. Jika ingin mengganti nama ku! Sembarangan saja mengganti-ganti nama orang!"
"Baik, besok saya akan memasaknya!"
Pesanan keduanya datang, Ara menikmati bakso itu dengan lahap. Begitu juga dengan Gerry, namun ia sudah merasa kenyang. Padahal baru makan setengah, Gerry menatap Ara yang masih menikmati baksonya
"Tubuhnya sangat mungil namun porsi makannya seperti raksasa!" Gumam Gerry yang sangat jelas terdengar di kuping Ara "Setidaknya aku tidak memakan uang mu! Jangan banyak komentar tentang hidup ku, urus saja kehidupan mu!"
Mungkin wanita itu sedang menstruasi sehingga dirinya begitu sinis
Ara sudah menghabiskan makanannya terlebih dahulu, namun Gerry tidak menyentuh lagi.
__ADS_1
"Hey, habisin! Kau tidak tahu mubazir?"
Gerry menggeleng "Jika anda mau, anda saja yang menghabiskan ini!"
Ara pun mendekatkan mangkuk bakso Gerry di hadapannya, tanpa rasa malu ia menghabiskan sisa makanan Gerry
Gerry terkejut melihat itu, untuk pertama kalinya ia melihat wanita yang begitu aneh
"Nona, ini sudah kotor!"
"Kotor apanya? Kau tidak tahu bagaimana rasanya kelaparan dan tidak punya uang untuk membeli sekecil roti pun? Aku sudah mengalami itu dulu, dan di luar sana juga banyak orang yang ingin makan namun tidak bisa karena keadaan. Dan kau? Di berikan menikmatan kesehatan atau materi. Malah membuang-buang makanan seperti ini, jika tahu tidak sanggup. Jangan pernah berlebihan memesannya! Masih banyak orang yang membutuhkan tau!""
Gerry merasa takjub dengan jawaban Ara, terlihat senyuman tipis dari bibirnya "Nona, kau wanita yang luar biasa. Bahkan, saat kau bisa membeli apa saja yang kau inginkan sekarang kau tidak pernah sombong," puji Gerry
"Untuk apa sombong? Dan biar kan aku di nilai rakus oleh mu aku tidak perduli, asalkan makanan ini tidak Mubazir! Sedih tau kalau kita kelaparan, membutuhkan makanan namun kita tidak bisa mendapatkannya,"
Jika mengingat masa-masa sulit itu, Ara merasa hancur dan sedih!
__ADS_1