Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 71


__ADS_3

Laras menatap anaknya tajam "Saya ini mama kamu, jangan karena wanita itu kamu menjadi kurang ajar dengan mama kamu Jasson! Lihatlah! Dia sudah kurang ajar dengan kamu, kenapa kamu masih saja membelanya?"


"Ma, hentikan ma! Dia tidak bersalah, kenapa mama begitu kesal dengannya! Ma, di sini hanya Jasson yang salah. Tolong jangan menyalahkannya ma!"


Tanpa mereka sadari, Bunga mendengarkan ucapan mereka


"Ma, Jasson mencintai Ade! Dan dia sekarang adalah istri Jasson! Tolong dong mama sayangi dia seperti mama menyayangi Bunga,"


Bunga hanya menggelengkan kepala dan tersenyum, mengapa bisa mertua dan suaminya menyembunyikan hal sebesar ini?


Walau ingatannya belum kembali pulih, namun kebenaran itu sudah membuatnya sadar jika selama ini suaminya telah berkhianat!


"Jasson, aku telah salah mempercayai mu!"


Bunga pun tak mengerti, mengapa ibu mertuanya juga bekerjasama dengan Jasson. Mengapa ibu mertuanya yang begitu terlihat menyayanginya justru berkhianat yang paling dalam?


Bunga pergi dari sana, ia malas mendengarkan perdebatan itu lagi


"Sudah Jasson! Jangan bertengkar lagi dengan mama mu, apa yang mama mu katakan itu memang benar!" Ade menangis, ia hanya bisa keluar kamar mertuanya.


Jason menatap mamanya dengan mata yang sendu, sedangkan Laras membuang wajahnya ke sembarang arah "Ma, Jasson enggak ngerti kenapa mama begitu membencinya. Padahal sebelumnya mama mendukung segala perbuatan Jasson!"


Jasson pergi setelah mengatakan itu dengan mamanya.


Bunga yang terlihat santai justru memasak, "Hey, Ade! Sini bantuin aku masak dong!" Pintanya dengan santai. Wanita yang sedang mengandung itu pun menghampiri madunya


"Iy-iya," jawabnya dengan terbata-bata, Bunga memotong sayuran dengan tak biasa. Membuat Ade pun merasa takut karena kaget


"B-bunga, mengapa kamu memotong sayuran seperti orang yang sedang kesal?"


"Ah apa iya? Benar kah? Ti-tidak! Aku hanya mengingat film yang aku tonton barusan," Bunga mengarahkan pisau itu ke arah wajah Ade


"Apa kau tahu? Suaminya berani sekali berselingkuh bahkan menikah dengan wanita lain! Aku mengingatnya sangat kesal, ingin sekali aku cabik-cabik wajah cantiknya itu menggunakan pisau ini. Tapi syukurlah itu hanya sebuah film, jika nyata wah puas sekali aku mencabik-cabik wajahnya!"


Bunga masih mengarahkan mata pisau itu ke wajah Ade, membuat wanita itu ketakutan. Dahinya berkeringat "Hey, mengapa kamu terlihat sangat takut? Dahi mu juga berkeringat. Wah, pasti kamu juga membayangkan bagaimana wajah wanita itu jika aku cabik-cabik ya?"


"Heeem, iy-iya!" Ade hanya menjawab dengan singkat, mengapa Bunga mengatakan itu seperti orang yang kesal.


"Jika Bunga mengetahui aku sudah menikah dengan suaminya maka habis lah wajah ku!" Batinnya.


Bahkan Ade memegang wajah mulusnya "Kau tahu Ade? Mengapa ada seorang wanita yang tega merusak dongeng wanita lain demi dongeng yang ia ciptakan sendiri?"


Ade pun terdiam mendengar ucapan Bunga, andai Bunga tidak hilang ingatan pasti ia tahu jika wanita yang ada di hadapannya sekarang pun sedang merusak dongengnya demi dongeng yang Ade ciptakan sendiri


"Mengapa ya wanita bisa menjadi musuh dari wanita lain?"


"Aku tidak tahu Bunga, namun yang aku tahu aku mencintai suami ku. Kami sudah lama berpacaran, dan dunia ku sudah terlebih dahulu di hancurkan oleh wanita lain,"

__ADS_1


Hanya itu yang bisa Ade katakan, setelah itu ia berpamitan kepada Bunga untuk pergi ke kamar


"M-maaf Bunga, jika boleh apakah aku bisa istirahat di kamar?"


"Iya tentu saja! Istirahat lah di kamar Ade!"


Bunga mengatakan itu dengan penuh penekanan namun Ade tidak menyadarinya. Setelah memastikan Ade berjalan menjauh dari pandangannya Bunga meletakan pisaunya.


Ia tidak mengerti, mengapa wanita itu mengatakan hal itu kepadanya. Apa yang sebenernya terjadi?


Namun Bunga tidak tahu harus bertanya kepada siapa tentang kegelisahannya.


"Kepada siapa aku bertanya? Aku juga tidak mengerti mengapa semua ini terjadi!" Gumamnya. Bunga menoleh ke arah Jasson yang menuruni anak tangga satu persatu. "Lelaki pengkhianat!" Ketusnya, membuat Jasson langsung menoleh ke arahnya..


Apa aku tidak salah dengar? Ya, aku tahu jika Bunga mengatakan aku pengkhianat tadinya, Jasson langsung menghampiri Bunga. Setelah mendekat, Bunga tersenyum kepada suaminya


"Sayang, mengapa kamu berteriak dan mengatakan lelaki pengkhianat?" Tanyanya, namun Bunga mengelak "Tidak! Aku tidak mengatakan itu Jasson, kau mungkin salah dengar!"


Jasson pun sedikit lega, karena istrinya tidak mengatakan hal itu "Baik lah sayang, aku mengira kau sedang kenapa,"


Bunga terdiam, lalu ia memanggil suaminya "Jasson, di mana ponsel ku? Maksud ku, pasti aku dulu menggunakan ponsel kan? Lalu di mana sekarang ponsel ku berada Jasson?"


Jasson terlihat gugup, mengapa tiba-tiba Bunga meminta ponselnya


"Sayang, ponsel kamu mama yang simpan,"


"Iya sayang, saat itu mami mu memberikannya kepada Jasson. Dan Jasson yang panik dengan keadaan kamu pun meminta mama yang menyimpan ponselnya,"


"Lalu, di mana ponsel Bunga ma?"


"Sebentar-sebentar, mama ambil dulu di lemari kamar mama,"


Jasson heran, mengapa tiba-tiba sekali istrinya meminta ponsel itu. "sayang, mengapa kamu meminta ponsel mu? Maksud ku kemarin kamu tidak mempermasalahkannya,"


"Iya Jasson, aku ingin menghubungi mami. Aku merindukan mami, dan tidak mungkin saat aku ingin berbicara dengan mami ku. Aku harus menunggu kau terlebih dahulu,"


Laras Kembali, ia pun memberikan ponsel itu kepada menantunya "Sayang, ini milik mu!"


Bunga melihat wallpaper di ponselnya Poto pernikahannya dengan Jasson. Ingin rasanya Bunga melempar ponselnya ke lantai namun ia berusaha untuk tetap tenang.


"Bahagia sekali ya pernikahan kita," Jasson tersenyum, menatap Bunga dengan teduh


"Iya, karena pernikahan kita di awali dengan cinta," Jasson kembali berbohong


Cih! Ia mengira aku tidak mengetahui segalanya, mengapa ia masih tetap berbohong? Geramnya!


"Bukan kah pernikahan ini karena perjanjian saja Jasson? Kau lupa, jika mami sudah memberitahu yang sebenarnya kepada ku,"

__ADS_1


Jasson dan Laras terdiam, entah mengapa sikap Bunga tiba-tiba saja berubah, apakah Bina sudah mengingat semuanya


"Mama, Jasson. Kenapa kalian sepertinya tegang? Aku hanya bercanda, ya walau aku tahu pernikahan ini awalnya terpaksa namun aku juga yakin jika kau mencintai ku, iyakan Jasson?"


Jasson mengangguk, ia sendiri tidak yakin dengan perasaannya mungkin saja yang Bunga katakan memang benar. Ia sudah memiliki perasaan dengan wanita yang ada di hadapannya itu


"Jasson, apa sandi ponsel ku?"


Jasson segera memberitahu sandi ponselnya "Sandi ponsel mu adalah tanggal lahir ku Bunga!"


"Wah! Sepertinya aku sangat mencintai mu ya Jasson? Sampai sandi ponsel ku saja tanggal lahir mu, apakah kau mengingat tanggal ulang tahun ku Jasson?"


Lelaki itu terdiam, karena ia sendiri tidak tahu tanggal ulang tahun Bunga "Sayang, tentu saja suami mu tahu tanggal ulang tahun mu. Bagaimana sih pertanyaan kamu nak?"


"Siapa tahu Jasson lupa ma. Dan mengingat tanggal lahir orang lain,"


Huk...! Huk... Huk...!


Jason ter-batuk mendengar semuanya "Jasson kenapa kau batuk? Apa yang aku katakan itu benar?"


Jasson dengan cepat menggelengkan kepalanya "Tentu saja tidak sayang! Kamu jangan bergurau yang berlebihan. Sudah lah!"


Jasson pun langsung memilih menghindar dari istrinya saat Jasson ingin pergi. Bunga terlihat mual


Huek..! Huek...!


Sontak membuat Jasson menghampiri istrinya "Sayang, kau kenapa?"


Bunga yang di sentuh oleh Jasson pun merasa jijik "Tidak! Aku tidak apa-apa Jasson!"


"Sayang, mengapa kau seperti menghindar dari ku?"


Bunga pun menggelengkan kepalanya "Tidak Jasson! Aku tidak menghindar dari siapapun hanya saja kepala ku terasa pusing aku akan istirahat sebentar!"


"Baik lah, sayang! Jaga diri mu baik-baik ya?" Jasson langsung mengecup kening istrinya, tentu saja hal itu membuat Bunga merasa jijik namun ia tidak mengatakan apapun.


Bunga langsung ke kamar, ia menangis


"Ada apa ini? Takdir apa yang terjadi kepada ku? Mengapa aku tidak bisa mengingat apapun?"


Bunga memeriksa ponselnya, namun tidak ada kenangan-kenangan yang bisa ia lihat dari chatingannya kepada Jasson.


"Mengapa aku tidak bisa mengingat apapun? Aku tahu dia telah mengkhianati ku tapi aku tidak memiliki bukti." Berulang-kali Bunga memukul kepalanya agar ia mengingat sesuatu. Namun tidak ada yang bisa ia ingat sedikit pun.


Dirinya merasa kesal dan sangat marah. Namun tidak bisa melakukan apapun. Bunga melihat dinding tembok kamarnya, dengan kuat ia memukul kepalanya ke dinding namun usahanya sia-sia!


Hanya ada rasa pusing dan sakit yang luar biasa namun tidak membuatnya ingat sama sekali.

__ADS_1


Bunga meringis kesakitan "Awwww! Sakit sekali," pekiknya


__ADS_2