Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 15


__ADS_3

"Mami akan tinggal di sini, apakah kalian keberatan?"


Bunga hanya diam, ia merasa senang jika mamanya tinggal disini namun ia tahu jika Jasson tidak akan nyaman. Kehadiran Ara saja sudah membuatnya tidak nyaman apalagi kehadiran mamanya yang akan tinggal disini.


"Enggak kok mi, Jasson pun senang jika mami tinggal bersama kita. Apalagi mami di rumah hanya sendirian." Ade menatap Jasson dengan kesal, Jasson hanya memberikan kode kepada kekasihnya itu.


Ara pun menuruni anak tangga, Salvira langsung mendekati Ara.


"Sayang, kamu di sini juga?" Ara sudah begitu dekat dengan keluarga Bunga. Salvira melihat memar di wajah dan tubuh Ara.


"Sayang, apa suamimu yang melakukan ini?"


Ara menatap ibu sahabatnya dengan tatapan sendu, ia mengangguk. Salvira langsung memeluk Ara.


"Kurang ajar! Mami akan memberikan pelajaran kepada suamimu, mami tidak terima jika kamu diperlakukan seperti ini!"


Jasson hanya menelan slavinanya dengan kasar, ibu mertuanya sangat marah mengetahui Ara di perlakukan buruk seperti itu. Bagaimana jika ibu mertuanya tahu apa yang sudah ia lakukan kepada Bunga, anak semata wayangnya.


Salvira langsung menghubungi beberapa pengacara untuk menuntut suami Ara, orang yang berpengaruh di kota ini. Namun jika dibandingkan dengan kekuasaan Salvira, suaminya Ara bukan lah apa-apa.


Apalagi hanya seorang Jasson? Mudah sekali untuk Bunga menghancurkan menantunya. Salvira mengajak Ara untuk sarapan bersama.


Mereka duduk bersama, biasanya Ade dekat dengan Jasson kini duduk sangat jauh dari kekasihnya.


Bunga duduk berdekatan dengan Jasson, keduanya pun bersikap mesra dihadapan Salvira hanya untuk membuat ibu dari istrinya tidak curiga.


"Sayang, masakan mu begitu lezat." Didepan semua orang Jasson mengecup kening Bunga.


Bunga merasa kaget, sekaligus terharu! Untuk pertama kalinya Jasson mengecup dirinya walau hanya di kening. Detak jantung Bunga berdegup kencang, ia bahkan tidak berani menatap Jasson.


Ting!


Terdengar suara piring dipukul oleh sendok, semua menoleh ke arah Ade. Ade menatap Jasson dan Bunga dengan kesal namun ia langsung tersadar jika di sini ada ibunya Bunga.


"Ada apa denganmu?" Salvira bertanya dengan wanita disampingnya.

__ADS_1


"En-enggak Tante, Ade tidak sengaja. Maaf Tante," Salvira tersenyum kepada wanita itu, kini ia tahu jika namanya adalah Ade.


"Nak Ade, suami mu bekerja apa?" Ade kebingungan. Jasson pun langsung menjawab


"Bekerja di laut, Mi. Dan pulangnya bisa berbulan-bulan, kasihan jika dia harus tinggal dirumah sendiri. Apalagi kondisi dia sedang hamil muda."


Salvira mengangguk, Bunga kaget mendengar jika Ade sedang mengandung.


Apakah itu benar? Jika benar, Jasson sungguh kejam kepadanya, bisa-bisanya Jasson menghamili wanita yang bukan istrinya.


Sedangkan istrinya sendiri selama ini tidak pernah di sentuh.


"Sedang hamil? Pantes saja, memang orang hamil tidak boleh sendirian di rumah. Takut terjadi apa-apa, Tante juga akan tinggal di rumah ini sampai Bunga hamil."


Huk...! Huk...!Huk....!


Ketiganya tersedak mendengar ucapan Salvira, Salvira pun bingung melihat anak dan menantunya. Mengapa mendengar kata itu seperti terkejut, apalagi teman dari menantunya itu?


"Ada apa? Apa ucapan mami salah?"


"Tapi nyatanya Ara biasa saja?"


Jasson bungkam, bingung harus mengatakan apalagi.


"Mi, kita kan sedang makan sekarang. Lebih baik kita menghabiskan makanan kita dulu, nanti kita akan mengobrol. Enggak baik mi, mengobrol di depan makanan"


Bunga terpaksa harus mencari alasan, ia tahu bagaimana mamanya. Mamanya tinggal bersama mereka bukan karena merasa kesepian, namun karena mamanya ingin memastikan apakah Bunga bahagia bersama Jasson.


Setelah selesai makan, Salvira mengajak mereka untuk mengobrol di ruang keluarga. Ade merasa risih namun ia tidak memiliki pilihan lain.


"Ara kamu jangan khawatir ya, mami akan melindungi kamu dari suamimu itu. Ara jangan sedih lagi, percaya ini semua sama mami!"


"Terimakasih banyak mi," Ara duduk di samping Salvira. Ia pun memeluk ibu sahabatnya itu, Salvira memang sudah menganggap Ara sebagai anaknya


Jasson dan Bunga juga duduk begitu dekat, sedangkan Ade duduk menyendiri.

__ADS_1


Bunga gemetar, pertama kalinya ia begitu dekat dengan suami setelah menikah.


"Mami lihat, kalian ini enggak ada romantisnya ya? Kamu Jasson, lingkarkan tanganmu di pinggang istri kan nyaman di lihat"


"Iya, Mi" Jasson pun menuruti ucapan ibu mertuanya, Bunga sudah salah tingkah.


Mereka pun mengobrol, suasana semakin cair. Jasson dan Bunga yang awalnya canggung sudah mulai terbiasa bermesraan dihadapan Salvira.


Bahkan Jasson melupakan kehadiran kekasihnya, Ade.


Ade semakin tidak nyaman dengan keberadaan ibunya Bunga. Ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk dekat dengan Jasson, bahkan keduanya bermesraan di depan matanya.


Ingin sekali rasanya Ade mengatakan yang sebenarnya kepada Salvira. Namun ia berpikir, saat ini dirinya belum memiliki status yang kuat. Ia hanya mengandung anaknya Jasson saja, jika keluarga tahu. Mungkin Ade akan tersingkir dengan mudah!


Apalagi Ade mendengar sendiri bagaimana Salvira mempertahankan harga diri dari sahabatnya Ara. Itu hanya orang luar, bagaimana jika Salvira tahu kalau anaknya di sakiti, dengan mudah ia akan menghancurkan karir Ade sebagai model terkenal.


Ade menahan emosinya, ia memikirkan karir dan juga masa depannya. Jika dirinya sudah menikah dengan Jasson, mungkin ia berani melawan semua keluarga Bunga dan juga Jasson.


Ade hanya cukup bersabar, hingga Jasson menikahinya.


Jasson berpamitan kepada mertuanya untuk pergi kekantor, bahkan sekali lagi Jasson mencium kening Bunga. Bahkan memeluk Bunga dengan mesra, hal yang biasanya Jasson lakukan dengan Ade. Kini justru dengan Bunga..


Jasson tidak menoleh ke arah Ade, hal itu membuat wanita itu sangat murka.


Jasson langsung pergi ke kantor.


Bunga menatap Ade yang terlihat marah, ia pun menunduk. Mengapa Bunga harus takut? Bukankah itu hak dirinya? Namun Bunga masih teringat dengan ucapan Jasson yang mengatakan jika Ade sedang hamil muda. Apakah benar Ade mengandung anak dari suaminya?


Bunga meminta agar ibunya dengan Ara mengobrol di kamar saja. Ia ingin berbicara kepada Ade.


"Mi, sebaiknya mami dan Ara di kamar saja. Lebih nyaman mengobrol nya, Bunga juga ingin mengobrol dengan Ade."


"Baik lah sayang, namun jika kamu merasa terancam. Kamu panggil saja mami!"


Kata-kata itu seakan menyindir, Salvira memang memperhatikan gerak-gerik yang mencurigakan dari Ade dan juga menantunya Jasson. Setiap kali Jasson dan anaknya bermesraan, wanita itu pasti menatap dengan sinis.

__ADS_1


Salvira pun ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara rumah tangga anaknya. Ia sudah sangat gelisah melihat kedua besannya yang hanya memanfaatkan Bunga. Kini melihat wanita lain berada dan bahkan tinggal bersama anak dan juga menantunya, walau Jasson sudah menjelaskan alasannya. Entah mengapa hati kecilnya menolak untuk percaya.


__ADS_2