
Seakan tidak memiliki harga diri atau rasa malu lagi, Jasson yang hanya menumpang kehidupan dengan istri dan mertuanya sanggup berbuat curang seperti itu.
"Bagaimana jika ia semakin memiliki perasaan kepadamu?" Ujar Ade, Jasson hanya menggelengkan kepalanya. Ia pun tidak tega terus menyakiti hati dari Bunga, bagaimana pun Bunga adalah teman kecilnya. Namun, Jasson tidak memiliki pilihan.
Lelaki itu memang bodoh, ia membohongi Bunga dan mengatakan anak yang di kandung oleh Ade adalah anak orang lain, namun kenyataannya memang itu yang terjadi. Namun Jasson tidak mengetahuinya.
Sandiwara yang sebenarnya kenyataan. Bahkan, orang seperti Jasson pantas mendapatkan pelajaran.
Di luar ruangan, Bunga mendengar percakapan antara Jasson dan juga Ade.
30 menit lalu
Bunga datang kerumah Ade untuk memastikan hatinya yang gelisah.
"Hai," Bunga tersenyum saat wanita cantik membuka pintu "Apakah benar ini rumah Ade?"
Ratu yang tidak terlalu perduli pun menyuruh Bunga untuk langsung ke kamar kakaknya saja, ia pun mengarahkan di mana kamar kakaknya berada.
Awalnya Bunga ragu, namun Ratu kembali menyuruhnya.
Bunga pun menaiki anak tangga satu persatu, saat ia berdiri didepan pintu kamar Ade. Ia begitu kaget mendengar pembicaraan antara Jasson dan juga Ade "Baiklah, permainan kalian akan aku ikuti" Bunga tersenyum sinis, ia sudah menemukan alasan hatinya begitu gelisah.
__ADS_1
Bunga pergi, tanpa berpamitan. Ia langsung masuk kedalam mobil. Bunga memang tidak percaya dengan ucapan suaminya begitu saja.
Bunga tidak langsung pulang kerumah, ia menuju kantor.
Sesampai di kantor, Bunga menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari seseorang yang bisa menjadi asisten pribadinya.
Bunga terduduk di santai di ruangannya, walau hatinya merasa sakit dan hancur. Ia sudah tidak mau menangis. Mungkin hatinya sudah terlalu kebal dengan luka yang selalu Jasson berikan.
"Selama ini aku memaafkan mu, Jasson. Namun hari ini, kau sangat keterlaluan. Kau memasang sandiwara yang begitu licik. Baiklah, aku akan mengikuti semua permainanmu!"
"Permisi Nona!" Wanita cantik dan elegan masuk ke dalam ruangannya, menunjuk seorang pria sederhana. Namun terlihat sangat gagah dan dingin.
"Nona, perkenalkan ini Gerry! Orang yang akan menjadi assisten pribadi anda!"
"Baik, dan saya minta tolong. Suruh orang lain memisahkan ruangan saya dengan tuan Jasson! Ruangan ini akan menjadi ruangan saja pribadi dan juga assiten saya!"
"Baik, Nona." Wanita itu mengangguk patuh, terlihat ia sangat menghormati Bunga.
Bunga tak lupa mengucapkan terimakasih kepada bawahannya itu.
Bunga meminta kepada asisten barunya untuk duduk, namun pria itu menolak dengan lembut "Tidak nona! Saya bekerja untuk menjaga anda bukan untuk duduk!"
__ADS_1
"Dan, kau! Aku pekerjakan untuk menuruti keinginanku, dan sekarang aku meminta mu untuk duduk. Tidak perlu berdiri di belakang ku seperti itu. Aku tidak suka itu!"
Bunga mengatakan dengan tegas, pria itu mengangguk. Namun tidak menatap Bunga, Bunga pun mengabaikan Gerry. Bukannya ia sombong, namun ia hanya membutuhkan Gerry di saat waktu tertentu.
"Sa-sayang, kau di sini?" Jasson masuk kedalam ruangan Bunga secara tiba-tiba. Terlihat wajah pucat dari Jasson, seperti orang yang takut. Bunga tersenyum dengan tenang.
"Iya, ini kan perusahaan keluargaku. Apa kau merasa keberatan, Sayang?" Bunga bertanya dengan nada yang penuh arti.
Jasson menggeleng, ia mengatakan jika dirinya senang kalau harus bekerja sama dengan Bunga. Apalagi mereka akan satu ruangan terus.
"Tidak, aku bahkan senang. Kita satu ruangan dan kita akan menjadi dekat!" mata Jasson tertuju kepada lelaki kekar yang berdiri di belakang Bunga "Dia adalah assisten pribadiku mulai sekarang!"
"Assisten pribadi? Untuk apa?"
"Untuk aku butuhkan, dan maaf sayang! Ruangan mu, aku pindah kan!" Jasson masih bingung, ia bingung mengapa Bunga yang kemarin mengatakan tidak akan kembali ke kantor justru kembali lagi, bahkan menggunakan assisten pribadi. Lalu memisahkan ruangan mereka.
"Sayang, aku tidak keberatan kau kembali ke perusahaan. Dan juga memakai assiten pribadi, namun mengapa ruangan kita harus di pisahkan?"
"Karena kita berdua membutuhkan privasi di saat bekerja," Bunga tersenyum dan mengatakannya dengan sangat tenang tanpa emosi. Padahal ia mengingat pembicaraan Jasson dan Ade beberapa waktu yang lalu.
Gerry melihat ada hal yang tak biasa di antara kedua pasangan ini, namun ia tidak mau mencampuri urusan bosnya itu. Tugasnya hanyalah menjadi assisten pribadi bosnya. Bukan mencampuri masalah pribadinya.
__ADS_1
Jasson sedikit lega, setidaknya mereka berpisah ruangan. Jadi ia masih bisa menghubungi kekasihnya dengan bebas.