
Terdengar suara roda koper yang menuruni anak tangga satu persatu, semua memandang Jasson dan Ade.
Bunga bingung mengapa keduanya membawa koper? Apakah Jasson dan Ade akan pergi dari rumah dan mengatakan yang sebenarnya kepada seluruh keluarga?
Jika memang benar, Bunga sudah siap menerima segalanya.
"Jasson, mengapa kamu membawa koper?" Salvira bangkit, dan mendekat kearah menantunya. Begitu juga semua orang yang ada di meja makan.
"Begini mi, tadi suaminya Ade menelpon dan mengatakan sudah sampai di rumah. Ia meminta tolong kepada Jasson untuk mengantarkan Ade."
"Mengapa suaminya tidak menjemput saja?"
"Mungkin suaminya kecapekan, Ma."
Salvira mengangguk acuh, ia hanya memberikan pesan kepada menantunya untuk segera kembali kerumah setelah mengantarkan Ade.
"Mengantarkannya tidak membutuhkan waktu lebih dari sejam bukan?" Salvira bertanya dengan tegas, Jasson terdiam dan lagi Bunga membela suaminya "Mi, suaminya Ade itu teman dekatnya Jasson. Pasti mereka akan mengobrol, tidak mungkin dong mi jika mengobrol hanya sejam? Belum lagi perjalanan Jasson, mami gimana sih."
"Kalau begitu kamu sebagai istri ikut dong?"
"Tante, Ade bisa sendiri kok. Naik taxi, Jasson dan Bunga di rumah saja, lagipula keluarga juga sedang berkumpul. Enggak enak kalau harus di tinggal."
"Bagus kalau kamu paham, Tante enggak harus capek menjelaskan kepada kamu. Anak dan menantu Tante ini memang begitu naif orangnya!"
Ade hanya bisa memalsukan senyumannya walau sebenarnya ia merasa kesal.
Ade pun berpamitan kepada semua orang, Jasson hanya terdiam. Tidak melakukan apapun, Bunga merasa senang. Ia pun merasa menang, akhirnya Jasson menjadi miliknya.
Bahkan Jasson tidak menoleh kepada Ade sedikit pun saat wanita itu pergi, mereka kembali ke meja makan setelah Ade pergi dari rumah.
__ADS_1
Jasson menyuapi istrinya makan didepan semua orang, bahkan bercanda..
Terlihat Jasson tidak memikirkan sesuatu, ia merasa lempang saat bercanda dengan seluruh keluarga.
Bunga menganggap jika dirinya telah menang, namun ia salah!
Jasson melakukan itu semata-mata hanya karena didepan keluarga.
Hati dan pikirannya masih dengan Ade.
Setelah selesai sarapan, Jasson mengajak istrinya untuk berbicara. Bunga mengikuti suaminya masuk kedalam kamar.
"Apa kau puas?"
Bunga kaget, Jasson kembali kasar seperti awal mereka menikah. Dahinya berkeringat ketakutan, namun ia tahu Jasson tidak akan berani melakukan apapun, apalagi ada keluarganya dibawah.
"Mengapa kau seperti ini kepadaku? Kau munafik Bunga!"
"Jangan berpura-pura lagi, Bunga! Kau tahu segalanya! Bahkan kau tahu jika Ade merasa sakit, namun kau sengaja meminta mamamu untuk tinggal bersama kita!"
Bunga menggeleng, karena ia memang tidak pernah berniat untuk melakukan itu, apalagi memanfaatkan keluarga agar dirinya bisa dekat dengan Jasson.
"Jangan berbohong! Jika kau saja bisa memanfaatkan kekuasaan mu untuk menikah denganku, pasti kau juga melakukan itu untuk memisahkan aku dengan Ade!"
"Tidak Jasson, aku tidak melakukan itu..Bahkan"
Tok! Tok! Tok!
Belum sempat Bunga melanjutkan ucapannya, seseorang mengetuk pintu kamar mereka, Bunga segera menghapus air matanya.
__ADS_1
Melihat siapa yang mengetuk pintu kamar, seseorang yang berdiri didepan kamar Bunga adalah Ara, sahabat dekat Bunga.
"Mami memanggil kalian, mami marah karena kalian belum menghabiskan sarapan."
"Iya, aku akan datang sebentar lagi."
"Sekarang, Bunga! Kau tahu bagaimana mami mu!"
Bunga pun mengikuti Ara yang menemui maminya di ruang makan, begitu juga dengan Jasson. Ia tidak mau mencari masalah!
"Kalian ini mami perhatian sejak kemarin sangat mencurigakan, apa rumah tangga kalian sedang retak?" Salvira langsung mengatakan itu dengan ketus, ia ingin kejujuran anak dan menantunya. Salvira melihat hubungan rumah tangga anaknya begitu aneh dan tidak sehat.
"Kamu Jasson, mami perhatikan mengapa kamu lebih perduli dengan Ade ketimbang istri kamu sendiri?"
"Mungkin maksud Jasson enggak begitu, Mi! Bagaimana pun Ade itu titipan suaminya kepada kami, jadi kami berusaha yang terbaik untuknya." Bunga terus membela suami yang selalu menyakiti hatinya, ia ingin Jasson sadar betapa tulis cintanya.
"Mami tahu jika suaminya itu menitipkan Ade kepada kalian, tapi kalian jangan seperti itu juga. Mami khawatir jika rumah tangga kalian yang menjadi korban!"
"Maksud mami apa?"
Jasson mulai tersulut emosi, namun kedua orangtuanya melerai "Jasson, yang dikatakan oleh mertua mu itu benar! Kamu jangan membantah kalau ibu mertua mu bicara!"
Laras yang kesal dengan anaknya langsung memarahi Jasson, Jasson pun pergi meninggalkan mereka memilih berangkat ke kantor.
Bunga pun mengikuti suaminya, naik ke mobil
"Apa sekarang tugas mu menjadi pengikut?"
"Iya! Aku marah Jasson! Mengapa kau bersikap kurang ajar kepada mami ku? Aku selalu menutupi segala keburukan mu dengan kekasih mu itu! Kau boleh melakukan apapun kepadaku, tapi tidak kepada mami!"
__ADS_1
Jasson hanya diam, Bunga langsung turun dari mobil meninggalkan Jasson.