
Keesokan paginya, Bunga menyiapkan anak-anak dan mereka akan sarapan bersama "Mami sudah selesai?" Tanyanya kepada Salvira dengan lembut, wanita paru baya itu mengangguk "Sayang, kamu sebaiknya membersihkan tubuh mu terlebih dahulu. Anak-anak biar mami yang mengurus mereka,"
Mengurus dua anak sekaligus memang sangat melelahkan apalagi Jesslyn dan Justin yang masih kecil dan belum bergenap usia lima tahun. Kenakalan kecil keduanya membuat semua orang merasa kewalahan.
"Sayang, kalian jangan banyak usil dong. Oma lelah ini, katanya mau mendengarkan kabar baik, bagaimana mau cepat selesai jika kalian lari sana sini, enggak kasihan sama Oma, mommy dan mami?"
Jesslyn dan Justin pun meminta maaf kepada Omanya karena sudah membuat Omanya kelelahan "Maafin kita Oma, kita Janji tidak akan membuat Oma marah lagi," ujar Jesslyn dengan wajah polosnya, Salvira tersenyum kepada kedua cucunya itu dan memeluk mereka dengan erat "Oma sangat menyayangi kalian berdua,"
**********
Kini, semuanya sudah kumpul untuk sarapan di hotel, makanan yang disediakan juga sangat lezat dan bergizi. Begitu banyak menu-menu yang bisa mereka makan dengan nikmat
"Oma-oma, katanya ada kabar gembira. Kabar apa?" Kini Justin yang bertanya kepada Omanya, Justin anak yang sangat pintar walau usianya masih tiga tahun namun ia sudah lancar berbicara
__ADS_1
Salvira tersenyum kepada cucunya, begitu juga dengan Ara, Gerry dan Bunga
"Ara sayang, coba beritahu kabar gembira apa untuk anak-anak?"
"Justin, Jesslyn sekarang kalian akan menjadi kakak. Sebentar lagi kalian akan punya adik karena mami Ara sedang hamil,"
Jesslyn yang mendengar kabar itu merasa gembira, ia pun bersorak namun jauh berbeda dengan Justin. Anak lelaki itu justru menolak dan histeris "Justin enggak mau punya adik!" Bentaknya sambil menangis, membuat Salvira, Bunga, Ara dan Gerry terkejut dengan respon Justin.
"Justin sayang, kenapa kamu marah-marah? Bukannya bagus jika mami hamil, dan Justin punya adik?"
Justin turun dari kursi dan berlari, Ara ingin mengejar namun Bunga melarang "Kau tetap lah di sini Ara, biar aku yang memberikan pengertian kepada Justin,"
Ara pun mengangguk, Bunga mengejar Justin yang diikuti oleh Gerry dan Jesslyn "Daddy, Jesslyn mau ikut!"
__ADS_1
Gerry mengangguk, dan menggendong Jesslyn. Sementara Salvira menemani Ara dan menghibur Ara yang menangis "Sayang, kamu jangan menangis! Mungkin Justin terkejut mendengar kabar ini, tapi mami yakin jika nanti Justin akan menerima kehamilan kamu,"
Ara mengangguk, memeluk Salvira dengan erat sambil senggugukan "Sayang, kamu jangan menangis seperti ini dong! Ingat kandungan kamu, kita berlibur di sini untuk bahagia, bukan untuk menangis seperti ini,"
"Mami, Ara sangat merasa bersalah. Justin menangis bahkan pergi seperti ini, pasti dia takut jika kasih sayang Ara akan terbagi nantinya," Ara merasa sedih, seharusnya ini adalah kabar kebahagiaan namun nyatanya kehamilan kedua dia justru menyakiti hati anak sulungnya Justin.
******
"Justin sayang, tunggu mommy nak!"
Bunga masih berlari, mengejar Justin yang terus berlari sambil menangis "Justin enggak mau mami hamil lagi, Justin enggak mau!"
Justin berteriak dengan histeris sambil berlari "Sayang, tunggu mommy nak! Nanti kamu bisa ditabrak mobil sayang! Justin, mommy mohon tolong jangan berlari seperti itu nak, nanti kamu jatuh. Sayang, dengarkan mommy sayang!"
__ADS_1
Justin tidak mau mendengarkan ucapan Bunga, ia terus berlari dan mengatakan jika dirinya tidak mau mempunyai adik