Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 118


__ADS_3

Laras mengangguk, ia berharap agar menantunya kembali seperti dulu. Yang tetap sabar menunggu dan mencintai anaknya. Namun sepertinya sekarang Bunga telah berubah, dia sangat berbeda. Dan tidak memperdulikan Jasson kembali.


Jika Laras memiliki kesempatan untuk bertanya, ia akan bertanya apakah ada sedikit saja rasa cinta Bunga untuk Jasson? Laras menatap menantunya dengan serius


"Tante kenapa melihat Bunga begitu?" Ara yang gemas dari tadi bertanya kepada ibunya Jasson. Wanita paru baya itu menggelengkan kepalanya, ia mengatakan jika dirinya tidak memikirkan apapun


"Tidak ada!" Bunga sangat tidak tega melihat ibu mertuanya yang begitu terluka. Namun semuanya sudah terjadi, dan tidak ada lagi yang harus disesali. Selama ini, Bunga sudah sangat sabar dan bertahan dalam pernikahan yang begitu menyakitkan itu, ia sudah sekuat mungkin mempertahankan pernikahannya namun nyatanya semua itu sia-sia.


Salvira memegang dan merangkul anaknya "Mami yakin, anak mami akan kuat!" Seorang ibu yang memberikan dukungan seribu persen kepada sang anak.


"Mbak saya pamit dulu,"


Salvira tidak mau menoleh atau menatap besannya itu, hatinya sudah sangat hancur dan kecewa dengan semua kejahatan yang sudah Laras lakukan. Padahal Salvira sangat menghormati dan menyayangi besannya itu, namun apa balasannya? Besannya dengan tega membuat kecelakaan itu terjadi.


********


Jasson yang sedang berada di kantor polisi pun kini sudah dibebaskan, ia merasa senang karena istrinya mencabut laporan itu


"Aku tahu Bunga, jika kau masih mencintai ku! Aku percaya dengan semua cinta mu kepada ku, aku akan mempertahankan rumah tangga kita. Dan aku akan berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi!"


Ia pun ingin kembali pulang ke rumah, namun terlihat mamanya yang sedang menunggunya di depan pagar.


"Mama,"


"Jasson!" Keduanya saling berpelukan, Laras mengecupi anaknya dengan penuh kasih dan sayang.


"Mama sangat sedih melihat kamu di sini nak, kenapa kamu selalu saja mencari masalah dengan keluarga Bunga! Nak, saat ini kamu bebas bersyarat dan mama mohon kamu jangan melakukan kesalahan kamu lagi! Mama tidak ingin kamu melakukan apapun yang nantinya akan membuat hidup kamu menderita! Saat ini ibu mertua kamu sangat marah dengan kamu, mama tidak ingin mereka menjebloskan kamu ke dalam penjara!"


Jasson pun berjanji kepada ibunya akan berubah, ia tidak akan membuat masalah apapun lagi kepada keluarga Bunga. "Maafkan Jasson mama! Jasson memang bersalah dan Jasson janji tidak akan mengulanginya lagi!"


"Iya sayang! Kamu memang harus berubah! Jika kamu memang benar mencintai Bunga kamu harus bisa hidup lebih baik lagi! Tinggalkan semua kebiasaan buruk kamu nak! Jangan lagi! Mama mohon kepada mu!"


Jasson kita menyerah, ia berjanji akan merubah hidupnya untuk yang lebih baik. Keduanya pun memutuskan untuk pindah ke luar kota, menggunakan uang yang Bunga berikan dengan sebaik mungkin..


Memutuskan untuk memulai usaha kecil-kecilan.


"Kita akan pergi sayang, kamu harus membuang semua kenangan-kenangan buruk kamu di sini! Kita akan memulai kehidupan kita yang baru!"


Jasson mengangguk, ia pun memutuskan untuk memperbaiki kehidupannya menjadi yang lebih baik lagi


********


Lima tahun kemudian


"Selamat pagi mommy, selamat pagi Tante Ara, selamat pagi Oma!"


"Wah cucu Oma sudah bangun ternyata, sini dong cium Omanya dulu!"


Gadis kecil yang memiliki tubuh mungil dan putih, rambut ikal, hidung yang mancung dan bola mata yang sangat indah. Anak itu bernama Jesslyn dan saat ini berusia lima tahun. Anak dari pernikahannya Bunga dengan Jasson.


Jesslyn sangat menggemaskan dan begitu pintar "Sayang, di mana baby Justin?"


"Itu lagi main sama Daddy,"


Kini Ara dan Gerry pun sudah menikah dan memiliki anak bernama Justin yang saat ini berusia tiga tahun. Gerry dan Ara kini tinggal satu rumah bersama Bunga dan juga Salvira.


Sebenarnya Ara dan Gerry ingin tinggal terpisah, namun Bunga dan ibunya memohon untuk Ara tidak meninggalkan mereka. Mereka pun mengurus Jesslyn dengan Justin bersama-sama sedangkan Gerry mengurus perusahaan yang di bantu oleh Ara dan Bunga.


"Sayang, kamu sarapan dulu ya?"

__ADS_1


"No mommy! Jesslyn tidak mau makan!"


"Kenapa nak?" Bunga mendekati anaknya, terlihat mata anaknya yang berkaca-kaca


"Justin bilang, kalau Daddy itu bukan Daddy Jesslyn namun Daddy-nya Justin! Dan justin mengatakan jika Jesslyn tidak mempunyai Daddy,"


Bunga sedih mendengar ucapan anaknya, namun Ara menghampiri keduanya "Hey, siapa bilang? Daddy Gerry juga Daddy-nya kamu, kenapa kamu mendengarkan ucapan adik kamu yang sangat payah itu?"


"Ara, jangan mengatakan itu kepada anak kecil, Justin juga anak mu!"


Bunga menegur sahabatnya "Jesslyn lihat wajah mami, apakah mami penuh dengan kebohongan?" Jesslyn menggelengkan kepalanya, membuat Ara merasa gemas


"Nah sayang! Jadinya kamu jangan memikirkan apa yang Justin katakan, dia itu masih sangat kecil dan tidak mengerti apapun! Kenapa kakak Jesslyn memikirkan ucapan adiknya yang masih kecil ya?"


Ara mencoba menghibur Jesslyn, Bunga menahan tangisnya, walau sudah lama tidak bertemu dengan Jasson. Dia tidak bisa menikah lagi, hatinya memilih untuk sendiri.


Mungkin kah sebenarnya Bunga masih memiliki perasaan kepada Jasson?


"Jesslyn!" Gery memanggil Jesslyn dengan manja, ia sangat menyayangi Jesslyn seperti anaknya sendiri bersama Ara


"Jesslyn, lihat lah! Daddy memanggil kamu! Sekarang, kamu main dulu ya sama Daddy Gerry!"


Salvira meminta cucunya untuk bermain di luar bersama Gerry dan Justin. Setelah mereka pergi, baru lah Salvira membuka suaranya


"Sudah berulang kali mami meminta kamu untuk menikah lagi,.karena apa? Buat anak kamu Jesslyn, semakin lama dia semakin besar dan dia akan mengerti jika Gerry itu bukan Daddy-nya! Melainkan Daddy-nya Justin! Namun kamu tdiak pernah mendengarkan mami Bunga!"


Bunga bungkam, tidak menjawab apapun "Sudah lima tahun kamu pisah darinya, apakah sulit untuk kamu melupakannya?"


"Mami, melupakan bukan lah suatu hal yang mudah!" Kini Bunga menjawab ucapan maminya, sedangkan Ara hanya diam saja. Ia tidak pernah berani mencampuri masalah antara ibu dan anak itu


"Bunga, mungkin saja dia sekarang sudah menikah dengan wanita lain! Sedangkan kamu? Hanya selalu merenung dengan kepergiaannya!"


"Mami, sebaiknya mami minum obat dulu!" Ara memberikan obat kepada Salvira, Bunga mengatakan kepada Ara untuk tidak memberikan obat kepada maminya, ia tidak mau maminya kecanduan dan ketergantungan obat.


"Apa yang harus aku lakukan Bunga? Jika aku tidak memberikan mami obat, mami bisa drop nantinya!"


Ara terlihat kesal dengan Bunga "Kamu jangan egois, mami juga butuh ketenangan Bunga!"


Ara dan Bunga kini berdebat, membuat Salvira membentak kedua anaknya itu "Diam kalian berdua!" Ara dan Bunga pun terdiam "Kalian sudah memiliki anak apa tidak malu bertengkar seperti ini?"


"Maaf mami!" Ujar keduanya secara bersamaan, namun Salvira tidak mau mendengarkannya


"Mami tidak mau kalian bertengkar lagi, dan kamu Bunga. Jika kamu menyayangi anak kamu, kamu harus menikah lagi! Ini semua demi anak kamu, ia membutuhkan sosok ayah yang baik untuknya!"


Namun Bunga belum siap untuk menikah kedua kalinya, entah apa yang ia pikirkan. Mungkin Bunga masih menanti kedatangan Jasson Kembali


"Kenapa kamu diam Bunga? Apa kamu tidak mendengarkan apa yang mami katakan?"


Bunga terdiam, sebenarnya ia Mendengar semua yang maminya katakan. Namun ia tidak mau meresponnya


"Mi, sepertinya Bunga lupa memberikan Jesslyn vitamin. Bunga permisi dulu ingin memberikan Jesslyn vitamin!"


Bunga beranjak dari duduknya, ia pun membawa anaknya masuk ke dalam kamar.


"Mommy ada apa? Jesslyn masih mau bermain dengan Daddy!"


Namun Bunga tidak menjawabnya, membuat Jesslyn menangis histeris.


"Lihat lah! Bunga begitu keras kepala dan sangat egois. Di saat mami memberikan ia nasihat, ia langsung membawa anaknya masuk ke dalam kamar. Dan satu harian nanti, mereka tidak akan keluar dari kamarnya, mami tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di pikiran sahabat kamu itu!"

__ADS_1


Ara menenangkan Salvira "Mami jangan marah-marah! Ara enggak mau nanti kesehatan mami tadi terganggu, kita tahu bagaimana kerasnya Bunga dan sebaiknya kita memaklumi segalanya!"


"Tidak ara! Mau sampai kapan mami memaklumi semua perbuatannya? Mau sampai kapan?"


"Ini hanyalah masalah waktu saja mami! Mami harus percaya sama Ara dan juga Bunga!"


Salvira tidak tahu mau sampai kapan ia melihat anaknya terus begitu "Mami hanya ingin kalian semua bahagia, kamu dan Bunga bahagia bersama pasangan kalian masing-masing. Kasihan Jesslyn dia sangat membutuhkan sosok ayah,"


"Maaf nyonya, tapi saya akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk nona Jesslyn dan juga Justin. Saya akan adil dengan mereka berdua,"


Salvira menatap Gerry, ia tahu jika Gerry sangat menyayangi cucunya..namun mereka tidak bisa melupakan takdir jika Gery sebenarnya bukan ayahnya Jesslyn. Gerry itu hanya ayahnya Justin saja.


"Tidak Gerry! Suatu saat nanti, Jesslyn akan menyadari semuanya. Dia akan bertanya-tanya kenapa Daddy-nya tidak pernah tidur dengan mamanya Bunga. Hanya tidur dengan maminya saja. Dia akan bertanya-tanya dengan hubungan kalian berdua!"


Gerry dan Ara terdiam sejenak namun Ara berusaha menyakinkan Salvira


"Mami tenang saja! Mami jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Dan sekarang, Jesslyn juga sudah besar jika ia melihat mamanya Bunga menikah lagi, ia akan bertanya-tanya kenapa mamanya akan menikah dengan orang asing?"


"Namun dia mendapatkan peran yang ia butuhkan selama ini!! Dia tidak harus berbagi Daddy bersama Justin setiap harinya!"


"Mami, memangnya kenapa jika Justin dan Jesslyn memiliki Gerry sebagai Daddy-nya? Apa karena Jesslyn bukannya anak Gerry? Mami lupa ya, aku juga bukan anaknya mami. Namun aku dan Bunga bisa berbagi dan mami bisa menyayangi kami dengan adil tanpa membedakan-bedakan kami. Mami menyayangi aku dengan sangat tulus dan baik, hingga aku dan Bunga bisa menerima semuanya tanpa ada rasa cemburu yang berlebihan di hati kami. Kenapa? Karena ketulusan yang mami berikan dan ajarkan dengan kami,"


"Mami, kenapa kakak Jesslyn masuk kamar?"


Kini Justin bertanya kepada Ara, walau usia Justin baru tiga tahun, namun anak itu sudah bisa berbicara dengan lancar tanpa ada sedikit pun yang tidak jelas


"Sayang, kamu bawa anak kita ke atas dulu. Aku masih ingin berbicara dengan mami!"


Ara meminta suaminya untuk membawa anak mereka ke dalam kamar, Ara tidak mau jika Justin mendengarkan segalanya


"Jagoan Daddy, ayo kita ke kamar!" Gerry memeluk jagoannya, membuat Justin tertawa senang


"Mami, Ara tahu apa yang saat ini mami rasakan. Ara juga tahu apa yang saat ini Bunga rasakan, baik mami ataupun Bunga tidak ada yang salah di sini. Namun Ara mau bilang, kalau kita enggak bisa memaksa Bunga menikah lagi, terutama kepada lelaki yang Bunga cintai! Itu akan semakin menghancurkan hidupnya mami! Bunga tidak akan bahagia, mami juga tahu jika Bunga hanya mencintai Jasson!"


Salvira terlihat sangat kesal "Untuk apa Bunga terus mencintai orang yang tidak pernah peduli dengannya bahkan Jasson dengan mamanya tidak pernah sekali pun menghubungi dan menanyakan kabar Bunga mau pun Jesslyn? Apa mereka lupa jika mereka mempunyai anak dan cucu yang mereka tinggalkan di sini?"


Ara mengelus bahu maminya Bunga, mencoba menenangkan kembali "Bahkan sekali saja, mereka tidak bertanya apakah anak yang Bunga lahiran itu lelaki atau perempuan! Mereka seperti tidak memperdulikan keturunan mereka sendiri! Mami tidak masalah untuk itu semua, karena mami masih sanggup membiayai Cucu-cucu mami Jesslyn dengan Justin. Mami masih sanggup, tapi apa mereka pernah berpikir jika mereka memiliki Jesslyn? Tidak! Mereka tidak pernah bertanya apa kabar Bunga, apa kabar Jesslyn! Lalu untuk apa lelaki seperti itu yang terus menerus Bunga pikirkan? Mungkin saja, Jasson sudah menikah dengan wanita lain.. kita juga enggak tahu bukan?"


"Mami mungkin saja Jasson dan Tante Laras sedang memperbaiki diri mereka di suatu tempat,"


Salvira hanya menggeleng, alasan itu sangat tidak masuk akal bagi dirinya. Setidaknya, Jasson dan Laras memiliki ponsel dan jika mereka menanyakan kabar Bunga dan anaknya dengan ponsel sudah lebih dari cukup namun nyatanya, baik Jasson atau pun ibunya tidak pernah mencoba menghubungi Jasson!


******


"Mommy, kenapa kita di kamar? Jesslyn tidak mau di kamar! Jesslyn mau main dengan adik Justin, dengan Daddy juga!"


Bunga meminta anaknya untuk istirahat saja, tidak perlu memikirkan bermain


"Jesslyn kamu harus belajar nak! Jesslyn kan udah mau masuk sekolah, masa maunya main terus sih? Kan udah besar!"


"Tidak mommy! Jesslyn mau dengan Daddy, mau dengan Oma, dengan mami dan dengan adik Justin!


"Nak, kamu jangan keras kepala dong seperti ini! Kalau mommy bilang enggak tandanya apa?"


"Enggak mommy!"


Bunga mencium kening anaknya "Sangat pintar! Anak mami sangat pintar sekali, terimakasih sayang sudah mengerti tanpa harus mami menjelaskan dengan panjang lebar. Mami sangat menyayangi kamu. Mami sangat mencintai kamu nak, i love you!"


"I love you too mommy! Apakah nantinya setelah Jesslyn selesai belajar. Jesslyn boleh bermain dengan Daddy dan Justin?"

__ADS_1


Bunga terdiam, bukannya ia melarang anaknya bermain dengan Justin dan Gerry. Namun Bunga sengaja menghindari maminya yang selalu saja membahas tentang pernikahan. Bunga merasa tidak tertarik lagi dengan sebuah pernikahan itu! Karena itu hanya membuat hatinya hancur saja!


__ADS_2