Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 154


__ADS_3

"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat mu merasa tidak nyaman,"


Bunga tersenyum "Tidak apa-apa, aku tidak merasa keberatan,"


"Dan di mana anak mu?" Bunga pun mengatakan jika Jesslyn berada di kamar hotel "Anakku bersama mami ku di kamar hotel, tadinya aku hanya ingin jalan-jalan mencari udara segar saja,"


Angga mengangguk, terlihat jelas dirinya sangat gugup "Maaf Angga, aku harus kembali ke kamar hotel dulu,"


"Tunggu Bunga," saat Bunga berlalu pergi, Angga memanggilnya. Wanita itu langsung menoleh ke belakang "Ada apa Angga?"


"Bisa kah aku meminta nomer ponsel mu?" Bunga terdiam sejenak, lalu ia tersenyum dan memberikan nomernya kepada Angga. Namun itu bukan lah nomer pribadi yang khusus untuk keluarga


"Terimakasih banyak Bunga,"


"Sama-sama," Bunga pun berlalu pergi, menjauh dari Angga. Pria itu menatap punggung belakang Bunga yang semakin jauh dari pandangan matanya "Kau masih terlihat cantik dan mempesona Bunga, itu sebabnya aku tidak bisa melupakan mu. Kau wanita yang cantik dan juga baik,"


*******

__ADS_1


Bunga yang telah kembali ke kamar hotel, melihat anaknya yang mengigau, ia mendekat. Salvira juga mencoba membangunkan cucunya itu "Badannya sangat panas nak, mami tadinya mau membawa Jesslyn ke rumah sakit,"


"Mi, ayo kita bawa Jesslyn ke rumah sakit,"


Bunga memanggil Ara dan Gerry. Keduanya kaget melihat keadaan Jesslyn yang demam tinggi "Apa yang terjadi dengan Jesslyn? Mengapa dia seperti ini?"


"Aku juga enggak tahu, Ra! Ak-aku baru kembali mencari udara segar,"


Gerry langsung menggendong tubuh mungil Jesslyn, mereka langsung membawa Jesslyn ke rumah sakit terdekat. Semuanya sangat cemas "Mommy, kakak Jesslyn kenapa?" Justin yang masih kecil bertanya sambil menangis, walau keduanya saling bertengkar namun Justin dan Jesslyn saling menyayangi satu sama lain.


Walau merasa khawatir, Bunga mencoba menenangkan Justin yang menangis. Ara melihat sosok yang begitu luar biasa dari sahabatnya.


Jika Ara ada di posisi Bunga, pasti dia sudah sangat panik dan marah kepada semua orang yang ada disekitar. Namun, Bunga tetap bersikap tenang apalagi di hadapan Justin.


"Mommy, kakak enggak kenapa-kenapa kan?"


"Justin, mommy sedang khawatir sekarang dengan kakak. Kamu jangan banyak bertanya yang akan membuat mommy bingung nak!"

__ADS_1


Justin semakin sedih, karena Ara membentaknya "Sudah lah Ra! Kenapa kamu marah kepada Justin? Ia hanya khawatir dan ingin tahu kondisi kakaknya, enggak lebih! Sudah lah! Kamu jangan terlalu berlebihan dengan semuanya!"


Bunga pun memarahi sahabatnya, ia tidak mau karena masalah ini Ara memarahi Justin dan membuat Justin takut.


"Sudah! Kalian jangan bertengkar lagi, kita semua dalam keadaan panik. Jangan berdebat itu akan membuat kondisi semakin memburuk,"


Semuanya terdiam, dan membawa Jesslyn kerumah sakit. Bunga meminta dokter memeriksa anaknya "Dokter, tolong periksa keadaan anak saya! Lakukan sesuatu, kenapa anak saya tiba-tiba demam tinggi seperti ini?"


Dokter mengangguk, mereka membawa Jesslyn ke ruangan UGD. Memeriksa keadaan Jesslyn yang demam tinggi


"Papa," gumamnya dengan pelan, setelah memeriksa dokter menemui keluarga Bunga dan memberitahu Bunga


"Di mana papanya?"


Bunga terdiam, Salvira maju dan terpaksa berbohong "Papanya sedang kerja di luar kota dok, ada apa?"


"Sepertinya dia merindukan papanya, karena di saat tidak sadarkan diri. Pasien memanggil papanya saja,"

__ADS_1


__ADS_2