
"Mami benar, demi kebahagiaan keluarga. Bunga harus kuat demi mama, mami dan yang lainnya. Salvira tersenyum, ia tahu jika anaknya akan membuktikan ucapannya. Salvira mengecup kening anaknya "Mami bangga dengan kamu sayang! Mami tahu jika anak mami terbaik,"
**********
Jasson telah sampai di rumah kedua orang tuanya, ia menatap album dirinya bersama keluarga bahkan ada Poto pernikahannya dengan Bunga "Aku bodoh, mengapa aku menyakiti wanita yang tulus menyayangi ku dan keluarga ku, bahkan dia saat Bunga tahu jika aku mengkhianatinya dia tetap menjaga dan merawat kedua orang tua ku."
Ujarnya dengan suara gemetar, Jasson mengingat bagaimana ucapan Eyden kepadanya. Ia tidak menyangka jika Ade bisa melakukan itu "Aku tidak habis pikir, wanita yang aku pikir sangat mencintai ku. Bahkan mengorbankan karir dan nama baiknya untuk ku justru melakukan itu,"
*******
Seminggu telah berlalu, namun kepergian David membuat Laras tidak ada semangat untuk hidup. Bunga, Ara dan Salvira sudah melakukan berbagai cara agar Laras kembali seperti dahulu. Bahkan berbagai psikiater yang sudah mereka datangin, namun tidak membuat Laras bisa tersenyum. Kondisinya juga menurun
Pagi harinya, mereka sarapan seperti biasa namun suasana sangat berbeda. Laras makan dengan tatapan kosong, ia tidak selera melakukan apapun lagi
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Suara pintu rumah diketuk oleh seseorang yang mereka sendiri tidak tahu siapa. Pelayan pun membukakan pintu
"N-nona, di-di luar sana ada mbak Ade,"
Mendengar nama Ade, membuat yang lainnya menghentikan kegiatan sarapan mereka. Bunga beranjak dari duduknya "Bunga kamu di sini aja, biar aku yang menemui pelakor itu!"
Ara ingin bangkit namun di larang oleh Bunga "Tidak Ara, kamu, mami dan mama tetap lah di sini. Kalian jangan keluar! Aku enggak mau jika kalian emosi dan membuat suasana menjadi kacau, aku mohon!"
Ara, Salvira dan Laras pun menuruti permintaan Bunga "Bibi juga bisa melanjutkan pekerjaannya di belakang,"
Bunga meminta kepada pelayan untuk melanjutkan tugasnya, ia berjalan ke depan menemui Ade.
Bunga mendekat ke arah Ade dengan bingung, wanita itu berdiri di depan pintu, enggan untuk masuk walau Bunga sudah menyuruhnya
"selamat? Untuk apa?" Bunga yang bingung langsung bertanya tanpa basa-basi "Selamat karena kamu udah menang! Akhirnya kamu menang,"
__ADS_1
"Menang untuk apa?" Bunga bertanya kembali kepada Ade "Karena kamu sudah memiliki Jasson,"
"Memang aku memilikinya sebelum kamu merebut suami ku!" Ujar Bunga dengan datar "Dan aku turut berduka atas meninggalnya anak kamu,"
"Kamu senang?"
Dengan elegan Bunga menggeleng "Enggak sama sekali! Mungkin aku senang kalau yang mati itu sifat jahat kamu, bukan kamu, Jasson atau anak mu yang mati. Namun sifat jahat mu dan Jasson yang mati!"
Bunga mengatakannya dengan tegas, Ade menyeka air matanya yang membasahi pipi "Aku udah kehilangan segalanya, aku kehilangan anak aku. Juga kehilangan suami aku,"
"Yang pastinya itu bukan karena aku! Tapi itu karena kamu sendiri Ade! Jangan lupa, yang memutuskan untuk pisah bukan Jasson, namun kamu!"
"Oh, ternyata dia sudah menceritakan segalanya kepada istri pertamanya?"
"Iya, bahkan dia juga mengatakan jika anak itu bukan anaknya."
__ADS_1
Ade terdiam sejenak, tersenyum ketir "Aku tahu, pasti ia mengatakan segalanya karena ingin kembali dengan mu,"
"Tidak! Jasson tidak kembali kepada ku, memang benar kemarin dia ada ke sini. Namun aku tidak bisa dan menolaknya,"