Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 116


__ADS_3

"Jasson tidak bermaksud membuat keluarga malu, namun Jasson ingin bertemu dengan Bunga. Jasson sangat mencintai dan merindukan Bunga, Mi"


Jasson sangat ingin bertemu dengan istirnya namun Bunga yang sudah dilarang oleh maminya pun tidak akan menemui Jasson. Baginya saat ini, maminya lah satu-satunya orang yang akan melindunginya. Ia tidak mau lagi menyakiti hati maminya.


Tak lama kemudian, polisi datang untuk mengamankan Jasson "Pak, bawa dia ke kantor polisi! Dia sudah sangat mengganggu ketenangan hidup kami!"


Polisi itu langsung membawa Jasson pergi dari rumahnya, Salvira merasa kecewa dengan anaknya Bunga yang tidak jujur kepadanya. Segera Salvira masuk ke dalam menghampiri anaknya di atas


Cekrek!


Salvira membuka pintu kamar anaknya, Bunga mendekat namun dengan tatapan sinis Salvira bertanya kepada anaknya "Apakah kamu memberikan bantuan uang kepada Jasson sebesar seratus juta rupiah?"


Bunga terdiam, ia pun meminta maaf kepada maminya "Mami, maafkan Bunga! Bunga tidak bermaksud membohongi mami. Tadinya,"


"Cukup Bunga! Mami tidak mau lagi mendengarkan ucapan kamu! Mami tidak mengerti apa yang kamu pikirkan sekarang, kamu sendiri yang mengatakan tidak mau bersamanya lagi namun kamu membantunya,"


Bunga menangis, meminta kepada maminya untuk mendengarkan semua penjelasannya "Mami harus mendengarkan penjelasan Bunga mami, ini semua bukan kemauan Bunga."


Bunga pun mengambil ponselnya, ia menunjukkan pesan yang diberikan oleh Jasson "Mami bisa lihat sendiri, Jasson meminta bantuan kepada Bunga. Dia mengatakan jika dirinya kelaparan, apakah mami akan tega melihat orang lain kelaparan? Ini bukan hanya tentang Jasson saja, namun ini tentang ayah dari anak Bunga. D-dan mami bisa membaca balasan Bunga kepadanya,"


Salvira pun membaca WhatsApp yang ditunjukkan oleh Bunga. Kini ia sedikit mereda "Sudah berulang kali mami katakan sama kamu, kamu tdiak perlu menggubris semua panggilannya. Jika perlu, kamu ganti nomer ponsel kamu!"


Bunga mengangguk, sekali lagi ia meminta maaf kepada maminya "Mami bukan melarang kamu, namun kamu lihat..karena kamu membantunya, ia menjadi keras kepala dan mengatakan jika kamu mencintainya. Kamu tidak sanggup melihatnya menderita! Udah cukup dong sayang! Mau sampai kapan dia mempermainkan kamu? Mau sampai kapan dia terus mempermainkan hidup kamu?"


Bunga pun hanya bisa menangis, meminta maaf sekali lagi kepada maminya "Maafin Bunga mami, Bunga janji tidak akan melakukan apapun lagi sebelum meminta izin kepada mami,"


Salvira langsung memeluk anaknya "Mami melakukan ini semua karena mami sangat menyayangi kamu,"


Dengan mata yang sembab, Bunga memohon kepada maminya untuk membebaskan Jasson "Mami, tolong jangan penjarakan Jasson! Bunga tidak ingin ayah dari anak Bunga masuk kedalam penjara. Bagaimana saat anak ini besar nanti dan mengetahui jika papanya mantan narapidana? Dan apa yang akan Bunga jawab jika anak Bunga nanti bertanya. Kenapa neneknya mempenjarakan papanya?"


Salvira terdiam sejenak, memikirkan ucapan anaknya namun jika Jasson di bebaskan sekarang, lelaki itu akan semakin menjadi "Maafkan mami sayang! Mami tidak bisa melakukan itu, biarkan Jasson mendapatkan hukuman atas semua perbuatannya! Selama ini kita sudah selalu memaklumi semua perbuatannya, kita selalu memaafkannya. Namun nyatanya dia tidak berubah, bahkan Jasson selalu bertindak sesuka hatinya. Jika mami tidak memberikannya pelajaran sekarang, maka dia akan semakin keterlaluan. Maafkan mami, mami tidak bisa mengikuti permintaan kamu,"


Bunga hanya bisa menangis, ia kini pasrah "Bunga, jika kamu sayang sama anak kamu. Kamu harus bisa memberikan hukuman kepada ayahnya, agar Jasson bisa segera berubah dan menjadi orang yang lebih baik lagi!"


Kini Bunga mengangguk, ia pun setuju dengan ucapan Ara dan maminya.


"Mbak Salvira, Bunga, Ara,"


Ketiganya kaget saat melihat Laras yang menghampirinya. Laras bersujud di kaki besannya membuat Salvira, Bunga mau pun Ara kaget bukan main


"Mbak, apa yang mbak lakukan?"


"Mama, berdiri lah ma!" Bunga membantu mertuanya untuk bangkit, namun Laras tidak mau dan terus bersujud memohon kepada Salvira "Mbak, saya tahu jika anak saya banyak berbuat salah. Tapi jangan mohon, bebaskan anak saya! Jangan penjarakan dia, Jasson masih sangat muda. Masa depannya akan hancur jika ia di penjara," Laras terisak


"Usianya masih dua puluh tahunan, dan anak seusia itu belum bisa berpikir dengan baik mbak. Saya mohon, maafkan sifat ketidakdewasaan anak saya dan lepaskan Jasson!"


Salvira memandang anaknya, Bunga seakan memberikan kode memohon kepada maminya untuk memaafkan Jasson "Mbak Laras, saya sudah memaafkan Jasson. Namun apakah dia bisa menjamin tidak akan membuat kesalahan lagi? Dia tidak akan mengganggu ketenangan anak saya lagi?"

__ADS_1


Laras menatap besannya dengan wajah yang sangat memelas "Mbak, Jasson dan Bunga saat ini masih menjadi suami dan istri. Keduanya belum resmi berpisah, apakah salah jika Jasson menemui istrinya? Apakah salah jika Jasson ingin mengunjungi Bunga apalagi Bunga sedang mengandung,"


Bagaimana pun Laras adalah ibu kandungnya Jasson. Ia pasti akan membela anaknya dan tidak bisa melihat anaknya menderita


"Maafkan saya mbak, tapi Bunga juga anak saya. Dan sebagai ibu saya harus melindungi anak saya, jika saya membebaskan Jasson sekarang. Dia akan kembali berulah, dan siapa yang akan bertanggungjawab untuk itu semua? Tidak ada! Saya adalah orang tua tunggal untuk Bunga dan Ara saat ini. Jadi kewajiban saya untuk melindungi mereka,"


Laras terdiam, ia tahu jika besannya itu tidak akan merubah keputusannya "Daripada saya melihat anak saya di penjara, lebih baik saya mati saja!"


Laras bangkit, berlari menuju dapur. Salvira, Bunga dan Ara pun mengejar Laras, mereka takut jika Laras melakukan hal yang nekat


"Mama jangan!" Bunga sangat kaget saat pisau sudah di leher ibu mertuanya "Lebih baik saya mati, Bunga! Daripada saya harus melihat anak saya di penjara seperti itu. Saya sudah kehilangan suami dan sekarang anak semata wayang saya masuk penjara," suara Laras sudah begitu serak, Bunga kebingungan


"Mbak, jangan melakukan hal nekat seperti itu! Mbak harus sadar dengan semua yang mbak lakukan!"


Laras menggelengkan kepalanya "Mbak tidak memahami apa yang saya rasakan, saya hancur karena perbuatan anak saya sendiri,"


Akhirnya Salvira pun mengalah dan akan mencabut laporannya "Baik, saya akan mencabut laporan untuk Jasson. Namun mbak letakkan pisau itu mbak! Jangan nekat!"


Akhirnya Laras menjatuhkan pisau itu, ia pun ikut tidak sadarkan diri. Salvira meminta bantuan kepada pelayan laki-laki untuk menggendong Laras dan di bawa ke kamar.


Bunga menangis, ia gemetaran melihat ibu mertuanya yang begitu nekat "Kenapa keluarga kita hancur seperti ini?"


Ara menenangkan sahabatnya "Tenang lah Bunga! Kenapa kamu merasa khawatir seperti ini? Kita akan menyelesaikan semua masalah ini!"


"Kamu lihat! Bagaimana cara mama Laras ingin mengakhiri hidupnya, aku sangat tidak mengerti dengan semua ini. Kenapa mama Laras begitu nekat,"


"Sudah! Kalian jangan memperpanjang masalah ini lagi. Sudah mami katakan kepada kamu Bunga, untuk membawa ibu mertua kamu ke psikiater agar jiwanya bisa kembali terkontrol seperti dahulu!"


"Kamu lihat Bunga, mami sekarang seperti orang yang tidak berdaya! Kenapa? Karena harus mengikuti semua permintaan kalian! Bahkan mami hanya bisa diam saja saat melihat Jasson menyakiti kamu!"


Salvira terlihat kesal, ia bahkan memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Ia tidak sanggup melihat ketidakadilan berpihak kepada anaknya, sekuat tenaga Salvira membela anaknya. Namun Bunga lebih mementingkan perasaan ibu mertuanya daripada ibu kandungnya sendiri.


"Jika kamu bisa tegas kepada mereka, mereka tidak akan seenaknya dengan keluarga kita!"


Bunga tidak menjawab, ia hanya bisa menangis saja. Bunga tahu apa yang di rasakan oleh maminya, namun ia juga tidak bisa menutup mata untuk penderitaan ibu mertuanya "Bunga tahu mami marah sama Bunga, Bunga tahu jika mami kecewa. Tapi mami harus tahu, kalau Bunga tidak pernah menyayangi orang lain seperti Bunga menyayangi mami. Mami dan papi yang selalu mengajarkan Bunga untuk terus berbuat baik kepada orang lain bukan?"


"Iya, dan itu kesalahan terbesar mami! Karena mami selalu menyuruh kamu untuk berkorban dan baik kepada orang lain, sehingga kamu menyiksa diri kamu sendiri. Kamu enggak perduli dengan penderitaan kamu Bunga! Dan mami sangat kesal karena itu semua!"


Bunga mendekat dan menggenggam tangan maminya "Mami, kita enggak akan pernah rugi jika berbuat baik kepada orang lain. Jika bukan orang itu yang membalasnya, pasti di kehidupan lain kita akan diperlakukan dengan baik juga mami. Percayalah!"


Salvira tidak menjawab ucapan anaknya itu, Bunga langsung memeluk maminya "Bunga percaya, kebaikan tidak akan membuat kita merasa menderita dan rugi."


Ara juga memeluk Salvira untuk menenangkannya "Mami juga selalu mengatakan kepada Ara, jika kita berbuat baik. Tuhan akan selalu berpihak kepada kita. Jika orang lain tidak bisa berbuat baik kepada kita, maka jika harus menjadi salah satu orang yang berbuat kebaikan. Mami ingat itu bukan? Dan karena sebuah kebaikan, kita di pertemukan dan dijadikan keluarga seperti ini,"


Salvira pun mengangguk, karena Ara yang bukan siapa-siapa begitu kuat menjaga anaknya Bunga. Bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri demi melindungi anaknya Bunga.


"Mami, tolong mami lembutkan hati mami. Untuk membebaskan Jasson,"

__ADS_1


"J-jasson anakku!" Lirih Laras dengan suara pelan. Bunga, Salvira dan Ara pun mendekat perlahan Laras membuka matanya. Ia bangkit untuk duduk "Mama pelan-pelan!"


"Bunga, bagaimana? Apakah kalian akan membebaskan Jasson?" Bunga mengangguk, membuat Laras tersenyum lalu memeluk menantunya "Terimakasih banyak sayang, mama tahu kamu orang yang sangat baik,"


Bunga melepaskan pelukannya dari ibu mertuanya "Mama salah paham, Jasson akan dibebaskan namun dengan bebas bersyarat,"


Laras, Ara dan Salvira kaget mendengar ucapan Bunga. Salvira juga Ara tidak mengerti maksud tujuan Bunga mengatakan hal itu "Bebas bersyarat?""


Laras bertanya dengan kebingungan, Bunga mengangguk dan tersenyum kepada ibu mertuanya


"Iya ma, Bunga tidak akan mencabut laporan begitu saja! Bunga akan membebaskan Jasson dengan bebas bersyarat,"


"Kenapa Bunga? Kenapa kamu memperlakukan suami kamu begitu? Dia kan masih suami kamu?"


"Iya ma, Jasson memang masih menjadi suami Bunga. Namun itu hanya di atas kertas saja, selama ini hubungan kami sangat salah. Dan tidak sehat! Mama tahu itu semua! Dan mama tahu, begitu banyak yang sudah Jasson lakukan. Bahkan, bukan hanya mengganggu ketenangan Bunga, mami, dan Ara. Namun Jasson juga menganggu ketenangan satu komplek ini!"


Salvira dan Ara tercengang, keduanya saling pandang. Tidak mengerti dengan semuanya, mengapa Bunga mengatakan itu semua?


"Ma, mama sangat menyayangi Jasson bukan!"


Laras mengangguk, Bunga pun tersenyum kepada ibu mertuanya dengan pandangan yang begitu teduh "Jika mama menyayangi Jasson, seharusnya mama bisa memberikan jasson pengertian. Dan mama juga harus setuju dengan semua yang Bunga katakan! Selama ini bukan diam, Karena Bunga menghargai papa David. Bunga tidak mau papa menjadi drop, namun nyatanya karena ulah Jasson, papa drop dan meninggal dunia. Lalu untuk apa lagi Bunga memberikan keringanan kepada Jasson? Dan mama pasti tidak lupa, dengan semua perbuatan mama dahulu kepada Bunga,"


Laras terdiam, seakan dia malu memandang wajah menantunya "Jangan selalu bersikap paling tersakiti jika sebenarnya mama dan Jasson yang paling menyakiti Bunga! Namun Bunga tidak pernah membahas ini, Bunga menyayangi Mama, Bunga mengormati mama. Namun nyatanya, mama tidak menyayangi Bunga sama sekali! Mama hanya memperdulikan luka yang dibuat oleh Jasson sendiri! Mama hanya perduli dengan sakitnya Jasson, namun mama tidak perduli dengan duka dan penderitaan Bunga yang disebabkan oleh Jasson!"


Seperti mimpi bagi Ara mendengar sahabatnya mengatakan itu, selama ini Bunga banyak diam dan mengalah. Namun nyatanya, ia banyak menyimpan luka dan kepedihan.


"Sayang, mama sangat menyayangi kamu!" Bunga menggelengkan kepalanya "Tidak ma! Mama tidak menyayangi Bunga, mama hanya menyayangi Jasson dan diri mama sendiri! Mama tidak pernah perduli dengan perasaan Bunga. Apa mama ingat saat Jasson memiliki kekasih lain? Jauh sebelum ia memutuskan menikah dengan wanita itu? Mama membiarkannya, iya mama melarangnya. Bukan karena mama menyayangi Bunga, namun karena mama takut kehilangan harta Bunga, mama takut kehilangan kemewahan Yang sudah mama dapatkan dari Bunga dan Mami,"


Bunga mengatakan itu dengan nada yang berat, dadanya terasa sesak. Seharunya ia tidak mau membahas masalah ini, namun menurutnya sudah saatnya ia melupakan semua yang ia rasakan selama ini ia pendam.


"Bahkan mama juga penyebab Bunga kecelakaan mobil hingga membuat Bunga hilang ingatan,"


"Apa?" Teriak Ara dan Salvira secara bersamaan "Sayang, apa yang kamu katakan?" Salvira bertanya kepada anaknya, ia tidak mau anaknya asal menuduh tanpa bukti


"Benar kan ma?" Bunga menatap ibu mertuanya dengan sorotan mata yang begitu sendu, Laras mengangguk ia juga meminta maaf kepada menantunya "Bunga, maafin mama! Mama sungguh tidak bermaksud menyakiti kamu. Saat itu mama salah paham dengan kamu, mama mengira jika kamu menantu yang sombong dan hanya mengandalkan harta saja,"


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Laras, Salvira menarik tubuh besannya hingga besannya terjatuh ke lantai "Anda orang yang selama ini saya hormati, ternyata anda penyebab anak saya kecelakaan!"


Bunga pun menenangkan maminya "Sudah mami! Jangan melakukan kekerasan apapun! Itu tidak akan mengubah segalanya yang sudah terjadi,"


Bunga membantu ibu mertuanya untuk bangkit, Laras menatap Bunga dengan malu "Kamu tahu semuanya? Tapi kenapa kamu diam nak?"


"Karena Bunga menghargai papa David! Bunga tidak mau karena masalah ini kesehatan papa David terganggu,"


Laras meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Bunga "Sayang, mama bersalah. Memang saat itu mama tidak menyadari kasih sayang yang kamu berikan kepada mama! Namun percayalah, saat semuanya terjadi. Mama menyesal! Mama sangat menyesal, karena sudah menyakiti wanita sebaik kamu,"

__ADS_1


Bunga menyeka air matanya "Bunga udah nggak perduli dengan semua masa lalu itu mama. Bunga sudah ikhlas dengan semua yang terjadi, dan sekarang mama ingin Bunga membebaskan Jasson bukan? Baik lah! Bunga akan membebaskan Jasson, tapi maaf. Bukan dengan percuma Bunga bebaskan, Bunga akan membebaskan bebas bersyarat. Dan jika Jasson melakukan kesalahannya lagi, Dia akan di penjara seumur hidup. Dan mama harus menandatanganinya! Mama saksinya,"


"Sayang, jika kamu tahu ibu mertua mu yang sudah melakukan itu namun kenapa kamu masih baik kepada orang tidak tahu diri seperti mereka? Semuanya sudah kita berikan, rumah, fasilitas yang mewah namun dia masih berniat menyakiti kamu? Mami tidak menyangka begitu buruknya ibu mertua kamu! Dan mami tidak ingin dia tinggal lagi di rumah kita! Kamu harus mempunyai pilihan Bunga! Ibu mertua mu angkat kaki dari rumah ini, atau mami yang pergi dari sini!"


__ADS_2