
Ara mendekati Bunga, kini kondisinya sudah mulai tenang "Kamu baik-baik aja, Bunga?" Bunga menoleh ke arah sahabatnya dan mengangguk "Belum, tapi sudah sedikit lebih tenang. Tapi, aku juga harus tetap kuat dan waspada. Aku tahu, bagaimana Jasson dan mamanya. Dia akan melakukan apapun demi mendapatkan tujuan mereka,"
"Iya aku tahu itu, kau jangan khawatir. Kami semua ada untuk mu," Ara memegang bahu Bunga dengan penuh dukungan.
"Aku tahu, kalian akan selalu ada untukku!"
Ara dan Bunga saling menatap satu sama lain, namun tiba-tiba suaranya terdengar sedih. Ia mengingat sikapnya beberapa waktu lalu "Masalah sikap ku tadi, aku minta maaf ya?"
"Jangan meminta maaf, aku mengerti kehamilan mu membuat mu jauh lebih sensitif. Aku sudah memaafkan mu sebelum kamu meminta maaf,"
Ara menggelengkan kepalanya "Aku terlalu egois dan tidak mengerti dirimu. Padahal, kau menyayangi Justin seperti putra mu sendiri, namun aku justru cemburu kepada sahabat ku sendiri, wanita yang sudah rela memberikan ASI-nya kepada anakku dengan gratis dan penuh kasih sayang. Namun, aku malah memiliki hati cemburuan,"
__ADS_1
Bunga tersenyum, ia mengatakan kepada sahabatnya agar Ara tidak memikirkan itu, Bunga merasakan apa yang Ara rasakan. Wajar saja jika Ara cemburu, itu hanya instingnya sebagai seorang ibu "Tidak masalah, aku memahami perasaanmu, jika aku ada diposisi mu pasti aku akan merasakan hal yang sama,"
Ara menggelengkan kepalanya dengan cepat "Tidak! Seharusnya aku tidak seperti itu, kita sudah seperti keluarga namun aku bertingkah seolah kau orang asing,"
"Kau tahu Ara? Bahkan, aku saja cemburu melihat Jesslyn lebih dekat dengan mami. Bahkan aku memiliki perasaan yang sangat takut saat Jesslyn bertemu dengan Jasson. Padahal, Jasson adalah papa kandungnya bukan? Namun, itu perasaan kita sebagai seorang ibu. Enggak bisa disalahin, aku dan Justin terlalu dekat melebihi batasan yang seharusnya,"
"Tidak Bunga, tolong jangan mengatakan hal itu! Itu akan membuat aku merasa bersalah, aku salah,"
Bunga memegang perut sahabatnya dengan lembut dan penuh cinta "Anak ini harus lahir dengan sehat, dan untuk mendapatkan anak yang sehat. Kau juga jangan memikirkan hal-hal yang akan membuat mu stres nantinya,"
"Terimakasih Bunga, walau aku sudah membuatnya sedih kemarin, namun kau tetap perduli dan perhatian kepada ku dan anakku yang ada dikandungan,"
__ADS_1
"Aku akan tetap peduli kepada mu, dan juga keluarga mu. Karena kita adalah keluarga,"
Ara merasa terharu dengan ucapan Bunga, ia kembali memeluk sahabatnya "Aku sangat menyayangi mu Bunga, dan kau tahu? Aku sangat bersyukur memiliki sahabat dan kakak seperti mu, kau dan mami membuat ku tidak pernah merasakan kesepian. Aku sangat bahagia memiliki kalian,"
"Aku juga bersyukur memiliki sahabat sekaligus adik seperti mu, Ara! Kau selalu menjaga ku, dan selalu mensupport aku. Bahkan, disaat aku sangat down mental ku. Kau ada,"
Ara mengingat ucapan suaminya beberapa waktu lalu.
Keluarga Bunga sudah banyak berjasa untuk mereka, lalu mengapa Ara marah hanya karena masalah sepele?
Bunga melepaskan pelukan mereka satu sama lain, melihat sahabatnya yang melamun Bunga langsung menanyakan penyebab sahabatnya melamun itu
__ADS_1