
Jasson pun membawa istirnya kembali ke kamar. Setelah memastikan Bunga dan Jasson menjauh dan tidak mendengarkan pembicaraan mereka baru lah David berbicara
"Nak Ara, bisa kita duduk?" Ara pun mengangguk bingung, ia duduk di sofa. Begitu juga dengan Laras dan suaminya
"Iya om, ada apa?"
"Begini, om ini bertanya. Seringkali, om melihat kamu seakan tidak menyukai Tante Laras, istrinya om dan juga Jasson. Apakah kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran kami di sini nak? Atau apakah istri dan anak om ada melakukan kesalahan dengan kamu?"
Ara terdiam, "Pa, sudah lah! Papa jangan ambil pusing! Kenapa papa merasa khawatir?" Laras takut jika Ara dengan terang-terangan mengatakan yang sebenarnya
"Enggak om, Ara enggak pernah keberatan dengan tinggalnya om, Tante di sini. Om jangan salah sangka, Ara enggak benci sama om! Bahkan, Ara menghormati dan menghargai om sebagai orang tua di sini. Iya, mungkin Ara memiliki masalah pribadi dengan Jasson juga dengan Tante Laras. Namun bukan berarti Ara membenci mereka, maafin Ara ya om kalau terkadang sikap Ara suka membuat om sakit hati atau tidak nyaman. Tapi percaya jika Ara enggak pernah merasa keberatan dengan om di sini. Ini juga bukan rumahnya Ara! Dan Ara enggak pernah ada masalah sama om, Ara tahu kalau om juga orang yang baik,"
"Iya nak Ara, pasti kamu juga paham. Saya ini kepala keluarga dan saya tidak enak jika terus menumpang di sini, takut orang mengira jika saya memanfaatkan kebaikan menantu dan besan saya mbak Salvira,"
"Enggak kok om! Ara enggak pernah berpikiran jika om David seperti itu. Bagi Ara, om David seperti ayah Ara sendiri. Om David enggak perlu merasa khawatir sekarang, om harus fokus dengan kesehatan om David ya? Sekali lagi, maafin Ara!"
Laras tidak menyangka, jika Ara adalah anak yang baik dan begitu sopan kepada orang yang lebih tua. Ia jauh lebih menghargai David, jauh berbeda dengan sikapnya kepada Laras. Mungkin Ara juga begitu karena Laras yang salah, "Sekarang om lega dengan jawaban kamu nak. Agar om juga tidak merasa terus karena menumpang di sini,"
David terlihat sedih, ia merasa tidak berguna sebagai kepala keluarga "Om jangan begitu ya? Om berhak di sini, karena om adalah mertuanya Bunga. Dan mami sendiri ingin kalian tetap di sini, kalian itu juga orang tuanya kami di sini. Om enggak perlu memikirkan hal-hal yang aneh ya om?"
David tersenyum kepada Ara, setelah mengatakan itu Ara berpamitan pergi "Om, Ara harus ke kantor sekarang. Ara pergi dulu ya?"
Bahkan ia menyalami ayah mertuanya Bunga, la pun beranjak pergi meninggalkan rumah. Namun baru beberapa langkah, Ara menghentikan langkah kakinya, ia menoleh ke belakang "Om David juga jangan sungkan menegur Ara kalau Ara salah! Sebagai orang yang lebih tua di rumah ini. Om berhak atas itu,"
David pun tersenyum, Ara membalas senyumannya dengan begitu ramah dan sopan
Setelah Ara pergi, David mengatakan jika dirinya lega "Papa lega ma, karena tidak ada yang membenci kita di sini. Awalnya papa merasa tidak enak karena Ara yang selalu ketus selama ini. Dia hanya baik dengan mbak Salvira"
"Sudah mama katakan sama papa, kalau semuanya baik-baik aja dan papa enggak harus khawatir. Papa tunggu di sini dulu ya, mama mau bicara sebentar sama anak itu,"
David mengangguk, Laras mengejar Ara yang belum jauh dari lingkungan rumah
"Tunggu Ara!" Laras mendekati wanita itu. Ara tidak menoleh "Saya mau mengucapkan terimakasih sama kamu, karena kamu tidak mengatakan apapun dengan suami saya!"
Ara tersenyum kecut, menggelengkan kepalanya tak percaya "Maaf Tante, saya memang tidak memiliki urusan apapun dengan suami Tante. Dan saya juga tahu jika suami Tante orang yang baik, dia tidak bersalah. Saya cukup waras untuk mengenali siapa yang harus menjadi musuh saya dan siapa yang tidak!"
Seakan Ara menyindir Laras, Laras pun ingin meminta maaf dengan Ara namun ia urungkan. Karena wanita itu langsung pergi meninggalkan dirinya "Saya tau saya memang bersalah, namun sekarang saya sadar. Kalau kalian anak-anak yang baik, kamu dan Bunga wanita baik. Dan Tante sudah salah membenci dan bersikap buruk kepada kalian," gumamnya yang menatap kepergian Ara yang semakin jauh dari pandangannya
Ara menunggu angkutan umum untuk ke kantor, entah mengapa Gerry tidak menjemput dirinya namun Ara tidak mau berharap lebih kepada pria itu
Lagipula, ia sudah terbiasa sendiri. Saat ia ingin menyebrang ada tangan kekar yang mencengkram tangannya dengan kuat. Itu adalah mantan suaminya, Ara terlihat gemetar matanya juga berkaca-kaca "K-kau! Sedang apa kau ke sini?"
"Aku menemukan mu, dan aku tidak akan melepaskan mu!"
Wanita itu kaget, mengapa mantan suaminya ada di sini padahal ibunya Bunga mengatakan jika mantan suaminya itu sedang di penjara
"Kau kaget? Karena aku di sini? Haha! Percuma kau meminta orang untuk memasukan aku ke dalam penjara! Karena aku sudah di bebaskan dan aku akan membunuh mu Ara!"
'"Lepaskan aku! Dasar tidak waras! Aku membenci mu!"
Ara berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman mantan suaminya yang kejam itu "Apa kau berpikir aku akan melepaskan mu?""
Dengan amarah pria itu membawa Ara, namun sekuat tenaga wanita itu melawan agar pria itu mau melepaskan cengkramannya
"Lepaskan dia!" Ara melihat ke arah suara itu berasal
"Gerry, tolong aku Gerry! Dia sudah tidak waras, dia ingin membunuh aku!"
"Siapa Kau? Jangan ikut campur!"
"Aku katakan lepaskan dia!"
Ara memijak kaki mantan suaminya, lelaki itu pun meringis kesakitan membuat Ara mendapatkan kesempatan langsung melepaskan tangannya dari cengkraman lelaki itu, Ara memeluk Gerry dan meminta bantuan "Tolong aku, dia sungguh tidak waras. Dia bisa membunuh ku!" Ara terlihat sangat ketakutan, namun tidak sempat untuk Gerry membalas pelukannya
Mantan suami Ara langsung menyerang Gerry, lelaki itu pun menjauhkan tubuhnya dari Ara. Ia dan mantan suami Ara terlihat pertarungan antara lelaki yang merebutkan satu wanita.
"Hati-hati Gerry! Dia sangat berbahaya!"
__ADS_1
Namun Gerry tidak mendengarkan ucapan Ara, ia pun bertarung untuk membela Ara. Hingga warga yang melihat langsung melerainya
"Pak, tolong bawa dia ke kantor polisi! Dia orang yang sangat berbahaya, dia ingin membunuh saya!" Ujar Ara kepada para warga, akhirnya mantan suami Ara pun di bawa ke kantor polisi.
Ara menggigit bibir bawahnya, untuk menutupi rasa takut dan traumanya. Gerry menghampiri Ara dan mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil "Ayo nona!" Gerry ingin memegang tangan Ara namun wanita itu menolak. Ia merasa trauma, "M-maaf!" Ujarnya dengan bibir gemetar
"Nona mengapa mantan suami anda masih mengejar anda?" Gerry bertanya saat mereka sudah masuk dalam mobil, lelaki itu memberikan sebotol aqua baru yang di sediakan untuk dirinya sewaktu-waktu jika haus kepada ada
"Minum lah nona! Agar anda merasa tenang!"
Ara meneguknya perlahan, bertemu dengan mantan suaminya bagaikan mimpi buruk untuk dia "Nona, mengapa anda melamun?"
"T-tidak apa-apa, aku hanya kaget mengapa dia bisa ada di sini. Kamu mengatakan jika ia masuk penjara, namun mengapa ia bisa bebas? Pasti keluarganya menggunakan kekuasaannya untuk membebaskan dia. Aku sangat takut, Gerry! Dia bisa melakukan apa saja, bahkan ia mengatakan ingin membunuh ku tadi!"
"Jangan khawatir nona! Tidak ada yang mau membunuh Anda! Anda jangan cemas begitu!"
"Kau tidak tahu Gerry, dia sangat berbahaya. Dia bisa melakukan apapun yang ia inginkan, bahkan jika kau tidak segera datang dia mungkin akan membunuh ku!"
"Tidak akan ada yang membunuh Anda! Percaya dengan saja nona!"
Walau mereka sudah di dalam mobil, Gerry tidak melajukan pegal gasnya. Ia masih menunggu Ara agar tenang terlebih dahulu
"Gerry, aku takut. Aku takut masuk ke kantor, namun aku juga takut ke rumah. Aku tidak memiliki teman bercerita, mami pergi dan kau tahu bagaimana kondisi Bunga sekarang,"
"Maaf Nona, namun menurut saya sebaiknya kita ke kantor. Anda bisa istirahat di kantor dan saya akan menjaga anda. Karena saya tidak tahu harus membawa anda kemana. Jika ke tempat umum, anda pasti tidak merasa aman."
Ara pun setuju, namun ia meminta kepada Gerry untuk tetap di sampingnya "Aku mohon Gerry, tetap di samping ku ya? Jangan kemana-mana?"
"Nona jangan khawatir! Saya akan menjaga Nona di kantor nanti!"
Ara pun setuju, setelah memastikan wanita itu agak lebih tenang, baru lah Gerry melajukan mobilnya
Mereka sampai di kantor, Ara tidak langsung turun. Ia takut jika dirinya turun mantan suaminya akan menodongkan senjata tajam seperti biasanya
Gerry turun dari mobil terlebih dahulu, ia berlari memutar untuk membuka pintu Ara "Ayo nona!"
Ara duduk di kursinya, bahkan ruangan ia dan Gerry sudah terpisah karena ara kemarin meminta kepada orang kantor memisahkan ruangannya dengan Gerry. Kini ara merasa menyesal dengan perbuatannya
"Gerry, aku salah karena kemarin telah mengusir mu. Namun tetap lah di sini!"
"Nona jangan khawatir, saya akan menjaga anda di sini. Bahkan jika harus terus berdiri pun saya tidak merasa keberatan!"
"Gerry bagaimana jika ia bisa kabur dari para warga dan datang ke sini?"
Gerry terdiam, ia tidak takut untuk melawan lelaki itu namun Gerry lebih takut dengan kepanikan yang di miliki oleh Ara.
Di dalam ruangan Ara, terdapat kamar yang hanya bisa di akses oleh orang dalam "Nona, sebaiknya anda masuk ke dalam ruangan istirahat saja! Saya akan menunggu dan menjaga anda dari luar. Anda jangan takut, saya tidak akan meninggalkan anda sedetik pun."
Namun Ara tidak yakin, ia datang ke kantor untuk bekerja bukan untuk tidur bagaimana jika karyawan yang lain membutuhkan tanda tangannya?
"Tidak Gerry! Aku tidak bisa istirahat karena kedatangan aku ke kantor untuk bekerja. Dan bagaimana jika karyawan membutuhkan tanda tangan atau membutuhkan uang?"
"Saya akan memanggil anda nona! Daripada anda di sini merasakan kekhawatiran yang berlebihan,"
Ara pun mendengarkan ucapan Gerry, ia masuk ke dalam ruangan istirahat yang berisi seperti kamar. Setidaknya ia merasa aman sekarang jika mantan suaminya datang.
Saat Ara menutup pintu itu, ia melihat Gerry dari pemantau cctv.
Ara menangis, ia merasa takut dan traumanya kembali lagi. Mantan suaminya sangat ia cintai dulu, awalnya suaminya juga memperlakukannya dengan baik entah mengapa tiba-tiba saja sifatnya berubah semenjak mengenal wanita lain. Seringkali, suaminya melakukan hal yang nekat, jika saja kemarin Bunga dan Jasson tidak menolongnya mungkin Ara telah di bunuh oleh mantan suaminya itu.
Sekarang, Bunga mengalami amnesia dan ibunya Bunga ke luar negeri karena ada urusan bisnis.
Hanya Gerry saat ini yang bisa ia harapkan untuk menolongnya dari lelaki psikopat seperti mantan suaminya.
*******
"Jasson, aku penasaran apa yang papa tanyakan kepada Ara,"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, sayang. Namun kamu dengar sendiri mama mengatakan apa. Kita juga tidak bisa mendengarkan jika mama dan papa tidak mengizinkan,"
"Iya kau sangat benar suami ku, namun aku sangat penasaran mengapa papa yang jarang berbicara tiba-tiba saja ingin bicara dengan Ara. Apakah Ara membuat kesalahan? Atau ada yang terjadi?"
"Tidak sayang! Mungkin saja karena mereka sudah lama satu rumah namun tidak pernah berbicara dan mami juga mau pergi. Mami bukan hanya menitipkan kamu kepada mama dan papa. Namun juga menitipkan Ara, mungkin sebab itu papa ingin mengobrol agar lebih dekat dengan Ara!"
"Kau benar suami ku," saat Bunga berjalan, ia terpeleset dan ingin jatuh namun dengan cepat Jasson memegang tubuh istrinya, memeluk Bunga dengan erat. Keduanya bertatapan dengan begitu penuh arti dalam waktu yang cukup lama.
Ade yang ingin mengambil minum ke bawah tidak sengaja melihat pemandangan itu, hatinya merasa sakit. Dan membuatnya tidak sengaja memecahkan gelas.
Kebisingan dari gelas itu membuat Bunga dan Jasson tersadar. Bunga memposisikan dirinya seperti semula, Jasson melihat Ade yang pergi tanpa mengatakan apapun.
Ia ingin mengejar namun Jasson takut membuat Bunga merasa curiga. Walau memang istrinya sudah menaruh curiga
"Kenapa Ade sepertinya sedih dan memecahkan gelas itu?" Bunga langsung bertanya dengan suaminya Jasson sekarang. Ia tidak mau dengan pemikirannya sendiri
"Tidak sayang! Mungkin saja Ade tidak enak melihat kita bermesraan. Sebab itu ia langsung pergi, dan masalah gelas yang jatuh aku yakin dia tidak sengaja. Kamu jangan memikirkan hal-hal yang aneh sayang ku!"
"Bukan begitu sayang, dia pergi tanpa mengatakan apapun seperti melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain,"
"Hust! Kamu ini ngomong apaan sih sayang, kamu kan udah lihat sendiri suaminya Ade tadi. Temannya aku, jadi kenapa kamu masih curiga? Atau kamu tidak nyaman kalau dia di sini? Kalau kamu tidak nyaman, aku akan membawanya kembali ke rumahnya. Aku akan mengatakan kepadanya jika istri ku tidak nyaman,"
"Jangan! Jangan lakukan itu! Aku takut dia tersinggung dengan ucapan kamu. Enggak enggak kenapa-kenapa sayang! Aku merasa nyaman kok dia di sini," Jasson pun memasang senyuman palsunya. Hanya itu yang bisa ia lakukan agar Bunga tidak menaruh curiga kepadanya.
Ia tahu kalau Bunga sudah curiga kepadanya, dan dia harus membuat Bunga melupakan keraguannya itu.
*******
Di dalam kamar, Ade menutup pintunya. Ia menangis, mengapa melihat Jasson bermesraan dengan Bunga membuat hatinya sakit?
Membayangkannya saja membuat ia tak sanggup "Jasson, mengapa kamu melakukan itu kepada ku? Kenapa kau melupakan cinta mu kepada ku? Apakah kau sudah mencintai istri pertama mu? Dan apa aku di mata mu? Aku apa?" Gumamnya perlahan, entah mengapa akhir-akhir ini Ade sangat sensitif dan lebih suka menangis semenjak menikah dengan Jasson.
Padahal sebelumnya Ade selalu keras dan hampir tidak pernah menangis.
"Aku lelah Jasson! Mengapa kau membawa ku di posisi sulit begini,"
Ade memegang perutnya yang mulai membuncit, "Sayang, apa yang harus mami lakukan sekarang? Mami pusing nak, mami ingin meninggalkan Jasson namun mami takut jika Jasson adalah ayah biologis kamu,"
Ade merasa bingung anak siapa yang ia kandung. Apakah itu anak Eyden atau anak Jasson?
Karena Eyden bersih keras mengatakan jika itu adalah anaknya. "Nak, kita harus kuat ya demi hak kamu di sini! Mami janji akan kuat demi kamu,.mami enggak mau kamu lahir tanpa seorang ayah! Dan Jasson memang milik mami, mami berhak atas dia. Yang di katakan oleh Tante ratu itu benar, mami enggak boleh mengalah. Mami harus memperjuangkan hak kita di sini nak, kamu harus kuat ya!"
Ia mengelus perutnya perlahan. Terasa sakit, namun ia menahannya, Ade tidak mau lemah ia takut anaknya kenapa-kenapa. Hanya anak yang ada di kandungan ya yang bisa memperkuat statusnya sebagai istri Jasson!
Jasson yang mulai gelisah pun membawa Bunga masuk ke kamar agar istrinya istirahat saja, setelah itu ia akan menjenguk Ade
Jasson tidak ingin Ade kembali salah paham karena melihat pemandangan tadi
"Aku takut Ade marah, dia akan salah paham. Jika Ade marah, semuanya akan runyam. Jika Bunga sudah kembali mengingat segalanya itu tidak akan sulit!" Batin Jasson
"Jasson, kamu memikirkan apa?" Bunga bertanya kepada suaminya, sejak Ade melihat mereka tadi. Jasson lebih banyak melamun seakan memikirkan sesuatu.
Jasson menyangkal "Tidak sayang! Aku tidak memikirkan apapun, kamu jangan banyak berpikir yang aneh-aneh! Nanti kamu sakit!"
"Jasson, aku ingin kita berbulan madu,"
"Apa? Berbulan madu?" Jasson kaget dengan ucapan Bunga. Bunga pun mengangguk "Iya, bulan madu. Apa kau merasa keberatan?"
"Tidak sayang! Aku tidak keberatan, tapi mami enggak ada di rumah,"
"Iya Jasson, karena mami tidak ada makanya aku ingin kita pergi berbulan madu!"
"Tapi sayang, kamu tau kan? Kalau kita ada tamu, enggak enak dong kalau meninggalkan tamu, Ade itu kan istri dari teman aku, enggak enak dong aku tinggalin dia. Nanti apa kata teman aku? Pasti dia berpikir kalau kita merasa keberatan dengan kehadiran istrinya?"
"Tapi kan ada mama, ada papa, ada Ara juga. Dan kita juga paling hanya sehari dua hari,"
"Sayang, aku paham. Tapi aku mohon kamu juga paham dan ngerti ya posisi aku? Nanti saat suaminya kembali, dan Ade sudah tidak di sini. Kita akan pergi berbulan madu, selama dan sebebas yang kamu mau. Aku janji, tapi tidak sekarang sayang!"
__ADS_1
Bunga cemberut, Jasson mengelus pipi Bunga dengan lembut "Jangan cemberut sayang, itu hanya sebentar kok. Atau paling Tidak sampai kita menunggu mami pulang. Kalau ada mami, Ade kan ada temannya. Tapi kalau sekarang, kamu tahu kan Ara sibuk di kantor, mama juga sibuk dengan papa. Kasihan kan tamu kita nanti merasa terabaikan?"