
Sudah larut malam, namun Jasson belum juga pulang. Bunga menunggunya di ruang tamu, mobil Jasson berbunyi.
Ia segera beranjak bangkit, membuka pintu untuk suaminya.
"Jasson, aku ingin bicara!"
Jasson mengatakan jika dirinya lelah sekali, Bunga melihat cap kepemilikan di leher Jasson, hatinya meringis sakit..
Ia tahu jika Jasson habis bercumbu dengan wanita lain.
"Aku ingin pisah!" Jasson terhenti mendengar ucapan Bunga, ia pun tersenyum senang mendengar ucapan dari Bunga
"Jika itu mau mu, baiklah! Aku juga ingin mengatakan itu tadinya, namun karena ini terlalu malam. Aku rasa pembicaraan kita bisa di lanjut besok!"
Bunga mengangguk, kini Jasson sudah setuju untuk perceraian mereka. Mungkin ini jauh lebih baik daripada suaminya harus berbuat hal yang menjijikkan setiap hari
Bunga menyiapkan makanan untuk Jasson, Jasson segera membersihkan dirinya.
Setelah selesai membersihkan diri, Jasson pun menuju dapur. Ia sangat lapar, Ade tidak pernah mengurusnya dengan baik
Jasson makan masakan Bunga, masakan itu begitu lezat.
"Kau sudah makan?" Bunga mengangguk, padahal dirinya belum makan apapun.
"Besok aku akan mengurus perceraian kita!" Bunga mengatakan itu dengan wajah datar, Jasson menghentikan aktifitasnya.
"Secepat itu? No! Kita masih ada waktu sebulan lagi." Jasson mengatakan itu dengan entengnya
"Tidak perlu menunggu satu bulan lagi, besok atau satu bulan lagi tidak akan ada bedanya!"
Jasson meminta Bunga untuk diam, ia tidak mau pembicaraan mereka didengar oleh ibu mertuanya.
"Kau jangan mengatakan apapun lagi!" Setelah selesai makan, Jasson meninggalkan Bunga seorang diri di meja makan.
Bunga menatap punggung belakang Jasson yang semakin menghilang dari pandangannya, ia menangis. Mengapa Jasson tidak pernah memikirkan perasaannya.
Sulit baginya menjalani pernikahan seperti ini, Bunga pun menghapus air matanya. Masuk kedalam kamar, terlihat Jasson yang sedang tertidur di atas tempat tidur.
Bunga pergi ke balkon kamar, jam sudah menunjukkan pukul dua malam.
Bunga menatap langit-langit yang begitu sunyi. Air matanya terus berlinang, bahkan Jasson tidak melihat kearahnya sedikit pun.
__ADS_1
Bunga terduduk, ia sudah pasrah dengan semuanya. Jika pun perpisahan itu yang terbaik maka dirinya siap.
"Aku mencintaimu, Ade!" Terdengar suara Jasson, dalam tidurnya ia masih memikirkan Ade, kekasihnya itu.
"Aku akan melepaskan mu jika memang itu yang membuat mu bahagia!"
Ia kalah dengan tantangan yang ia buat sendiri. Bunga hanya bisa menenangkan dirinya. Malam ini dia tidak bisa tidur, memikirkan esok hari yang begitu menakutkan.
Jasson terbangun, melihat Bunga tidak ada disampingnya.
Ia pun melihat Bunga yang melamun di balkon kamar, Jasson menghampiri istrinya.
"Mengapa belum tidur?" Bunga yang mendengar suara Jasson segera menghapus air matanya.
"Aku belum mengantuk!" ucapnya datar, Jasson memegang tangan Bunga dengan lembut. Membawa istrinya untuk tidur di atas kasur..
Bunga berbaring di samping Jasson, mengikuti arahan dari sang suami "Kau habis menangis?" Bunga menggeleng, namun Jasson tahu jika Bunga habis menangis.
Ia merasa bersalah, karena sudah membuat Bunga sedih seperti ini. Bagaimana pun mereka sudah berteman sejak kecil, Jasson tidak tahan dengan kesedihan Bunga.
Jasson pun berbaring begitu dekat dengan Bunga, menatap mata Bunga yang begitu sendu.
Tanpa mengatakan apapun, Jasson langsung memeluk sahabat sekaligus istrinya itu. Ia membelai kepala Bunga
"Lepaskan aku, Jasson! Aku Bunga!"
Jasson tertawa kecil, ia melonggarkan sedikit pelukannya namun tangannya masih melingkar di perut Bunga
"Aku tahu, apa kau merasa dirimu bukan Bunga?" Bunga terdiam, seringkali Jasson sikapnya berubah-ubah. Jika Jasson seperti ini, akan sulit baginya untuk melepaskan Jasson.
"Lepaskan aku! Aku tidak suka di peluk!"
Jasson tidak mendengarkan ucapan Bunga, ia semakin mengeratkan pelukannya. "Tidurlah!"
Bunga pun menyerah, ia memilih mendengarkan ucapan Jasson.
Ia tahu, jika dirinya segera tidur maka Jasson akan melepaskannya.
Bunga mencoba memejamkan matanya dan Jasson memandangi wajah cantik Bunga. Ia tahu jika Bunga belum tidur.
"Kau ingin kita bercerai bukan? Kita akan bercerai, namun satu bulan lagi!""
__ADS_1
Bunga yang kesal membuka matanya, ingin melepaskan dirinya dari Jasson. Namun Jasson tidak melepaskan Bunga, mengeratkan pelukannya.
"Kau gila! Mengapa satu bulan lagi?"
"Karena kau meminta waktu kepadaku, kau meminta waktu selama tiga bulan. Agar aku jatuh cinta kepadamu, dan waktumu masih ada satu bulan lagi!"
"Tidak! Aku tidak membutuhkan satu bulan lagi, aku sudah menyerah!"
"Bunga yang aku kenal, tidak mudah menyerah seperti itu!"
Jasson menatap mata Bunga begitu dalam, Bunga tidak membalas tatapan itu, ia akan semakin sulit melupakan Jasson.
"Aku masih ingin melihat kerja kerasmu, untuk sebulan kedepan!"
Bunga menggeleng, Jasson pun mengancamnya jika dia tidak melakukan itu maka Jasson akan mengadukan semuanya kepada keluarga mereka.
"Jika kau tidak mau, aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Dan biar saja papaku terkena serangan jantung, kau yang akan menanggungnya!"
Bunga terdiam, mengapa Jasson mengancam dirinya? Yang salah di sini itu Jasson, bukan Bunga! Namun mendengar tentang penyakit papa mertuanya Bunga menjadi lemah.
"Apa kau senang membuatku tersiksa?" Bunga menatap Jasson dengan sendu, Jasson yang tanpa aba-aba mencium bibir Bunga membuat wanita itu murka.
Ia menonjok bibir Jasson dengan keras, hingga lelaki itu melepaskan pelukannya
"Mengapa kau memukul bibirku?"
"Kau keterlaluan, mengapa mencium ku!"
"Aku ini kan suamimu!"
"I-iya memang kau suamiku, tapi kau tidak bisa seenaknya mencium ku!"
Jasson mengerutkan dahinya, ia tertawa geli melihat Bunga yang menghapus bekas ciumannya di bibir.
"De-dengarkan aku! Selama tubuh mu masih sembarang jangan pernah menyentuhku!" Bunga memberikan larangan keras untuk Jasson, ia pun tidak Sudi jika harus berbagi
Apalagi Jasson sudah jelas-jelas bercumbu dengan wanita lain.
"Maafkan aku, ayo kita tidur!"
Jasson kembali mengajak Bunga untuk tidur namun Bunga tidak ingin..
__ADS_1
"Aku tidak mau tidur dengan pria mesum sepertimu!"