
"Bodoh sekali aku! Mengapa aku melukai diri ku demi lelaki yang telah mengkhianati aku?" Bunga meneteskan air matanya, ketidakberdayaan seperti apa ini? Perselingkuhan sudah ada di depan matanya namun Bunga belum bisa membuktikan apapun.
Ia ingin membanting ponselnya namun terlihat satu notifikasi. Namun itu bukan dari WhatsApp utamanya.
"WhatsApp web? Apa ini?"
Ia pun membuka pesan masuk namun jelas itu bukan WhatsApp-nya "Ini WhatsApp-nya Jasson? Mengapa ada di ponsel ku?"
Bunga pun membuka aplikasi tersebut, begitu banyak Chattingan Jasson dengan Ade. Bunga pun tersenyum puas, ia akan mengeprint percakapan suaminya dengan selingkuhannya itu untuk di jadikan bukti nanti
"Terima banyak Tuhan, engkau telah menolong hamba!"
Bunga bersyukur karena ia diberikan petunjuk, sesekali ia meringis sakit membaca Chattingan suaminya yang begitu mesra dengan wanita lain "Bahkan sekarang selingkuhannya pun menumpang di rumah ku!" Bunga hanya bisa menggeleng. Hatinya terasa sangat sesak, ia pun tidak percaya orang yang sudah berkhianat malah tidak tahu malu menumpang hidup dengannya
"Mereka sudah keterlaluan!"
Bunga sudah bulat mengambil keputusan, ia ingin bercerai dengan suaminya walau saat ini ingatannya belum kembali namun ia tahu jika perceraian itu sudah menjadi keputusan yang terbaik! Bunga tidak harus menunggu waktu lama lagi untuk berpisah!
Ia pun turun ke bawah, saat ini Bunga tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Ia ingin bertemu dengan sahabatnya Ara. Hanya Ara yang bisa membantunya sekarang, Bunga mencari nama sahabatnya di layar
__ADS_1
Ia segera menghubungi Ara
Panggilan terhubung
"Ara, tolong pulang lah sekarang! Ada sesuatu yang ingin aku katakan sangat penting!"
Setelah mengatakan itu, Bunga langsung mematikan panggilannya. Ia tidak mau terlalu basa-basi berbicara melalui ponsel.
Berbicara secara langsung itu jauh lebih baik daripada harus berbicara melalui telepon baginya
Bunga menunggu dengan perasaan yang gelisah, ia begitu gelisah mengapa sahabatnya lama sekali
Satu jam ia menunggu di kamar, akhirnya Ara pun datang "Bunga, ada apa? Apakah sesuatu terjadi kepada mu? Mengapa kau menghubungi aku dan seperti orang yang gelisah?"
Bunga menatap temannya, namun belum sempat Bunga berbicara kepada sahabatnya ia pingsan, Ara yang panik langsung memanggil semua orang di rumah
"Tante Laras, om David! Tolong, Bunga pingsan!" Tidak ada yang mendengar, Ara langsung berlari keluar dengan rasa yang begitu panik
"Siapapun yang ada di rumah tolong Ara! Bunga tidak sadarkan diri sekarang,"
__ADS_1
Ade yang mendengar itu langsung berlari "Ada apa?" Ara merasa gemas dengan wanita yang ada di hadapannya namun ini bukan waktunya untuk ia dan pelakor itu berdebat
"Bunga pingsan, kau hubungi Jasson untuk segera ke sini. Dan panggil orang yang ada di rumah!"
Ade dengan sigap menghubungi dokter terlebih dahulu, baru ia menelpon suaminya Jasson.
Baginya saat ini Bunga membutuhkan dokter yang lebih utama setelah itu baru lah Jasson.
"Ara ada apa? Mengapa kamu berteriak?"
"Om, Bunga enggak sadarkan diri. Ara juga enggak tahu bagaimana pasalnya,"
"Astaga!" David dan Laras langsung menuju kamar untuk melihat kondisi menantu mereka "Sayang, Bunga! Bangun nak!"
"Pa, sudah dua kali menantu kita pingsan seperti ini. Segera telepon Dokter dan Jasson!"
"Tante, Ade sudah menghubungi dokter dan Jasson. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai, Tante tenang lah!"
"Diam kau! Siapa yang memberikan mu hak untuk berbicara?" Laras berteriak kepada menantu keduanya, Ade hanya diam namun David membelanya "Mama, kenapa mama marah dengannya? Nak Ade itu baik dia sudah mau menghubungi dokter untuk melihat kondisi anak kita, namun mengapa mama marah kepadanya?"
__ADS_1