Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 34


__ADS_3

"Bu-bukan begitu maksud aku, Sayang!" Jasson terlihat takut saat Bunga mengetahui isi kepalanya.


Ia harus membuat Bunga percaya dengan dirinya kembali, namun semua itu sia-sia! Bunga sudah mengetahui semua kebusukan suaminya, Jasson!


"Ak-aku hanya kasihan kepadanya, bagaimana pun aku pernah dan masih mencintainya. Dia sedang hamil, walau itu bukan anakku namun aku harus memiliki hati bukan? Kau sendiri yang mengatakan kepada ku jika kita harus baik kepada orang!"


Bunga tersenyum, Jasson begitu pintar bersandiwara. Namun Bunga tidak bodoh seperti dulu! "Sebab itu aku katakan, aku akan memberikan mu gaji. Setiap bulan dengan sepuluh juta. Kau bisa memberikan gaji mu setengah padanya, dan memberikan nafkah mu untukku!"


Jasson tercengang mendengar ucapan Bunga, sejak awal mereka menikah. Bunga tidak pernah menuntut nafkah, lagi pula memang selama ini uang Bunga. Namun mengapa sekarang Bunga menuntut nafkah darinya?


"Apa kau merasa keberatan Jasson?"


Bunga menatap suaminya dengan serius "Pasti kau berpikir mengapa aku meminta nafkah darimu? Karena sebagai suami kau harus memberikan nafkah kepada istrimu! Kau bekerja di perusahaan ku dan mendapatkan gaji. Walau aku yang memberikan mu gaji itu,.namun di rumah. Aku ini hanya istri biasa yang membutuhkan uang belanja, orang lain yang bukan mengandung anak mu saja kau berikan nafkah. Apakah aku tidak berhak atas itu juga?"


"K-kau berhak sayang! Sangat berhak sekali, baiklah. Aku akan memberikan gaji ku setengah kepadamu!"


"Setengah? Adil sekali ya suamiku kepada istri dan selingkuhannya. Bahkan sama rata pembagiannya!"


"Ti-tidak begitu, Sayang! Maksud ku setiap bulan aku akan memberikan gaji ku kepadamu, aku hanya membutuhkan tiga juga saja untuknya. Tidak lebih!"


Bunga begitu senang, langsung memeluk suaminya. Jika Jasson bisa memainkan sandiwara maka dirinya juga bisa berakting lebih baik lagi! "Terimakasih banyak suami ku, aku mencintaimu! Dan sekarang, aku semakin yakin untuk memiliki anak darimu!" Jasson yang mendengar ucapan Bunga pun tersenyum, ia hanya perlu bersabar sampai Bunga hamil dan memiliki anak saja.


Jasson tidak tahu jika Bunga mengkonsumsi pil penunda kehamilan, itu hanya akan membuang waktu Jasson saja!


Jasson hanya akan memberikan pengertian kepada Ade kekasihnya. Walau Jasson tahu jika kekasihnya akan marah dan tidak terima, namun Jasson tidak memiliki pilihan lain.


"Sayang, aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu di kantor ini!" Jasson membisikan itu di telinga Bunga, seakan ia meminta haknya sebagai suami "Tidak sayang, aku ini wanita berkelas! Tidak mungkin aku melakukan itu di kantor!"


Bunga tidak ingin di samakan oleh kekasih suaminya yang bisa melakukan itu di mana saja, sebagai CEO yang terhormat Bunga tidak akan mempertaruhkan harga dirinya!


"Sayang, kamu jangan khawatir. Ayo!"

__ADS_1


Jasson menggenggam tangan Bunga, ia membawa Bunga ke ruang yang Bunga sendiri tidak tahu!


"Mengapa ada ruangan ini?" Bunga tercengang melihat ada ruang rahasia yang berisi kamar, terlihat sangat nyaman. "Ini sengaja aku buat, agar jika aku lelah. Aku bisa istirahat di sini!"


Di lengkapi dengan fasilitas yang mewah, bahkan ada tempat tidur, tv, AC dan kulkas mini. Jasson langsung mendorong tubuh Bunga dengan lembut ke atas tempat tidur. Ia menatap Bunga begitu dalam


Entah mengapa, Jasson selalu memperlakukan Bunga dengan lembut hingga wanita itu pun terhanyut dalam buaian Jasson.


Bunga menyadari jika suaminya hanya bersandiwara namun ia tidak bisa menolak jika Jasson menginginkan lebih dari tubuhnya.


Gelegar yang tak bisa dijelaskan, Bunga akan menjadi si pasrah jika Jasson sudah bermain dengan tubuhnya.


*******


"Di mana Bunga?" Gerry menggeleng saat Ara mencari keberadaan sahabatnya "Saya tidak tahu di mana keberadaan nona Bunga. Bukan kah tadi bersama anda?"


"Iya, tadi Bunga bersama ku. Sudah lah! Terimakasih ya!"


Keduanya saling memandang satu sama lain, Ara yang segera sadar langsung membenarkan posisi tubuhnya. "Terimakasih sudah menolongku!"


"Sama-sama, Nona!"


Gerry lebih tua dari Bunga dan Ara yang masih memasuki usia 23 tahun.


Ara masih sangat muda namun sudah menjadi janda, tidak ada yang salah dalam menikah di usia muda namun jika diri tidak siap maka menjadi buruk.


Ara segera pergi meninggalkan Gerry sendirian, entah mengapa ia merasa deg-degan jika didekat pria lain


Jiwa mudahnya mungkin masih terlalu kuat. "Tidak Ara! Kau jangan mudah jatuh cinta, sudah cukup kesalahan mu dahulu. Jangan lagi!"


Ara menang wanita yang begitu mudah jatuh cinta, berbeda dengan sahabatnya Bunga.

__ADS_1


"Dia hanya menolongku dengan tidak sengaja, namun mengapa jantung ku berdegup kencang seperti ini!"


Ia memegang jantungnya yang masih tidak stabil, Ara pun meneguk segelas air.


"Di mana kamu Bunga?"


Ara masih mencari keberadaan sahabatnya. Tangannya masih gemetar, Ara tidak tahu jika sahabatnya sedang mendapatkan surga dunia yang hanya sesaat.


*******


Salvira yang merasa bosan di rumah anaknya memutuskan untuk pergi berziarah ke makam suaminya.


Saat ia mau pergi, besannya datang. "Mbak Laras, silahkan masuk!"


Salvira masih memperlakukan besannya dengan baik, "Mbak salvira sangat cantik sekali, mau pulang ya?" Laras yang seakan senang jika besannya pergi dari rumah itu "Pulang? Mbak lupa ya, ini kan rumah saya juga. Mau pulang kemana?"


Salvira mengatakan itu dengan santai, sambil menggelengkan kepalanya. Laras terdiam "Bu-bukan begitu maksud saya mbak! Ta-tapi mana tau mbak ingin pulang ke rumah lama mbak yang biasa mbak dan suami mbak tinggalin. Begitu banyak kenangan di sana antara mbak dan almarhum mengapa mbak tidak tinggal di sana?"


Laras seakan ingin besannya segera pergi. Wanita itu menang sangat tidak tahu malu, padahal kemana pun Salvira tinggal itu bukan urusan besannya!


"Memang begitu banyak kenangan antara saya, anak dan suami saya. Namun suami saya sudah pergi, dan saya hanya memiliki anak. Sebab itu, saya ingin tinggal bersama anak saya, lagipula anak saya juga tidak keberatan. Mertuanya yang hanya menumpang makan saja ia tidak keberatan, apalagi maminya tinggal disini. Lagi pula, saya loh mbak yang membeli mansion ini! Mbak tahu juga betul harganya?"


Salvira menyindir besannya, memang Laras yang keterlaluan. Salvira tidak bermaksud merendahkan besannya namun manusia seperti Laras memang harus diberikan pelajaran!


Laras masih bungkam, "Jangan bengong dong mbak! Ayo masuk!"


Salvira mengurungkan niatnya untuk berziarah ke makam suaminya. Ia tidak mau mengabaikan tamu yang datang kerumahnya.


"Ayo masuk!"


Laras masuk, ia bertanya di mana keberadaan menantunya Bunga "Mbak, saya tidak melihat Bunga. Di mana dia?"

__ADS_1


__ADS_2