
Ara terdiam sejenak, ia menoleh ke arah Gerry. Sekarang, lelaki itu sudah mengetahui statusnya "Aku juga sama tidak beruntung di dalam pernikahan, dan di usia muda sudah menjadi janda," Ara meringis, mengutuk nasibnya.
Gerry menoleh ke arah Ara "Tidak ada wanita yang ingin menjadi janda Nona! Anda jangan merasa sedih, saya bisa memaklumi semuanya."
"Apa kau juga seorang duda?"
Tit..!
Gerry mengerem pegal gasnya secara tiba-tiba, ia kaget dengan pertanyaan Ara yang menurutnya sangat polos "Tidak nona! Saya belum pernah menikah!"
"Oh!" Ara membulatkan mulutnya, namun ia memukul lengan Gerry dengan keras "Lain kali hati-hati, jangan sampai kita juga mengalami hilang ingatan seperti Bunga. Namun jika aku bisa memilih, lebih baik aku yang mengalaminya daripada sahabatku!"
Gerry kembali melajukan mobilnya "Nona sangat menyayangi nona Bunga?"
"Iya, aku sangat menyayanginya. Bahkan melebihi diri ku sendiri! Bunga juga wanita yang begitu baik. Kau lihat sendiri saja, karena berlebihan rasa baiknya kepada orang lain suami dan mertuanya memanfaatkan itu! Aku sangat tidak menyukainya, aku dulu sangat mendukung pernikahan Jasson dan Bunga. Karena aku tahu, Jasson adalah lelaki yang Bunga cintai sejak dirinya kecil, dan aku mengira jika kita menikah dengan sahabat, hidup kita akan bahagia. Namun aku salah!"
Ara berbicara panjang lebar tanpa henti, Gerry hanya menjadi pendengar yang baik sambil fokus melajukan mobil.
"Kau tahu Gerry? Teman-teman kami dulu sangat cemburu dengan keromantisan Jasson dan Bunga sebagai sahabat. Bahkan, tidak jarang kita mendoakan agar mereka berjodoh. Dan kau tahu? Saat Bunga membagikan undangannya kepada kami, wah! Kami begitu sangat senang dan heboh. Kami juga merayakan pesta lajang. Merasa doa kami begitu manjur, karena Jasson dan Bunga menikah dan berjodoh. Namun nyatanya Hua...!"
Tiba-tiba saja Ara menangis seperti anak kecil, Gerry merasa bingung. Ia pun meminggirkan mobilnya lalu berhenti.
"Sudah lah nona, jangan menangis! Saya tidak enak, nanti orang-orang mengira jika saya telah menyakiti atau berbuat hal buruk kepada anda!"
Gerry memberikan beberapa lembar tissue kepada Ara, Ara langsung mengeluarkan dan mengelap ingusnya. Membuat Gerry merasa jijik, namun ia tidak bisa melihat wanita menangis
__ADS_1
"Kau tahu? Aku sangat sedih dan juga marah, aku kesal. Andai aku tahu Jasson begitu bajingan. Pasti dahulu aku akan mengatakan, Stop! Jangan lanjutkan pernikahan ini! Pernikahan ini tidak Sah! Sahabat ku akan menderita! Namun nyatanya aku yang bodoh, malah justru berdansa di hari pernikahannya hisk..! Hikss!"
Gerry menahan tawanya, sungguh tingkah Ara membuat perutnya merasa sakit.
Ara melirik ke arah Gerry "Mengapa kau menertawakan aku? Apa aku terlihat seperti badut di mata mu?"
Gerry menggeleng, "Bukan begitu nona! Namun jika nona terus menangis seperti ini kita akan tetap terus berada di sini, dan nona Bunga, begitu juga yang lainnya akan menunggu kedatangan kita yang tak kunjung-kunjung datang!"
Ara menyengir, menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Mengapa tidak mengatakannya sejak tadi? Sudah ayo! Aku tidak menangis lagi! Aku akan kuat, demi sahabat kesayangan ku, Bunga!"
Gerry pun tersenyum, keduanya saling menatap satu sama lain. Gerry langsung melihat ke jalan depan, melajukan mobilnya
Sial! Aku sangat malu! ~batin Ara
Mereka pun sampai di kediaman rumah Bunga, Ara dan Gerry langsung turun dan masuk ke dalam.
"Ara, mengapa lama sekali sampainya nak?"
Salvira bertanya dengan khawatir kepada Ara, ia takut jika Ara bertemu dengan mantan suaminya dan Ara akan di bawa pergi oleh mantan suaminya yang gila itu!
"Maaf mami, tadi ada halangan sedikit saja. Tapi mami jangan khawatir, ada Gerry yang menjaga Ara. Mantan suami Ara enggak akan berani mengganggu Ara."
Salvira menoleh dan tersenyum kepada Gerry "Terimakasih ya sudah menjaga anak mami yang satu itu, dan kamu kekasih barunya Ara ya?"
"Bukan mami! Gerry ini adalah asisten pribadi Bunga yang akan membantu Ara di kantor nanti!"
__ADS_1
"Baik lah, mami percayakan semuanya kepada kalian. Dan sementara Bunga masih kondisi seperti ini, sebaiknya kamu yang mengurus kantor bersama Gerry. Jasson pasti akan fokus menjaga Bunga, begitu juga dengan mami. Iyakan Jasson?"
Jasson mengangguk "Iy-iya, Mi!" Jasson menjawab dengan terbata-bata. Jasson ingin protes namun Laras melarang anaknya.
"Iya, mbak! Jasson akan menjaga Bunga lebih fokus mbak, mbak jangan khawatir!"
Salvira tersenyum, ia mempercayakan anaknya dengan menantunya Jasson. Ara menepuk jidat, namun ia masih yakin jika Jasson bukan manusia yang kejam
Ia tidak mungkin menyakiti Bunga secara fisik! "Sudah lah, lagipula mami ada di rumah, Jasson tidak akan berani melakukan hal yang akan menyakiti Bunga!"
"Ma, Jasson ingin bicara dengan mama sebentar!"
Laras mengikuti anaknya, menjauh dari kerabat-kerabat yang lainnya
"Maksud mama apa? Seharusnya Jasson lebih fokus ke kantor ma, kenapa mama meminta Jasson merawat Bunga di rumah. Dan yang mengurus kantor Ara? Mama sadar enggak dengan apa yang mama ucap kan?" Jasson mengeluh kepada mamanya, namun Laras meyakinkan anaknya itu "Kamu ikuti aja apa kata mama! Jangan banyak protes, percayakan semuanya dengan mama. Dan yang mama katakan tadi, fokus merawat istrimu! Jangan mencoba Menghubungi Ade. Jika kamu melanggar, nanti mertua mu akan curiga! Dan mama enggak akan bisa melindungi kamu, jika kamu saja tidak mendengar ucapan mama!"
Jasson menghela nafas dengan kasar, ia pun tak tahu mau sampai kapan semua ini akan berakhir. Mengapa sulit sekali menyatu dengan kekasihnya, wanita yang sangat ia cintai.
"Mau sampai kapan Jasson ma? Semakin lama kehamilannya akan membesar, ia membutuhkan Jasson! Dan juga anak Jasson yang ada dikandungannya!"
"Cukup! Mama enggak mau mendengar alasan kamu. Baik lah, kamu ingin bersamanya? Ayo ikut mama! Katakan yang sebenarnya kepada mertua mu, ayo! Dan kamu harus menanggung semuanya. Kamu ingin papamu meninggal karena ini semua bukan? Baik lah! Pergi lah dan beritahu semuanya!"
Jasson terdiam, Laras menarik tangan anaknya. Namun Jasson tak bergeming sedikitpun.
"Ma, Jasson akan menuruti semua permintaan mama! Jasson enggak mau papa mengalami hal yang begitu tersiksa. Jasson memang mencintai Ade, namun Jasson lebih mencintai dan menyayangi papa," untuk pertama kalinya, Jasson berbicara dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin ia menggunakan hati, ia khawatir jika jantung papanya kembali bermasalah.
__ADS_1
"Ma, tolong jangan katakan itu lagi! Papa harus tetap hidup bersama kita. Jasson akan melakukan apapun demi kesembuhan dan keselamatan papa!"
Laras mengangguk memeluk anaknya "Terimakasih sayang, terimakasih karena kamu sudah mau menyayangi kami sebagai orang tua kamu, sudah mau mendengarkan ucapan mama."