
"Kau tahu dia merasa sangat sedih!"
"Baik lah! Aku akan pulang sekarang, dan kau lepas kan tangan mu ini, aku sungguh tidak mengerti mengapa ada wanita galak seperti mu?"
"Manusia seperti mu memang pantas untuk di perlakukan seperti itu!"
Ara langsung melepaskan tangannya dari kuping Jasson, kuping pria itu begitu merah. Pada karyawan mencoba menahan tawa mereka karena takut di pecat oleh Jasson.
Jasson segera pergi, meninggalkan Ara dan karyawan yang lain. Ara kembali ke ruangannya
Ia membalikkan tubuhnya menatap Gerry dengan sinis "Kenapa? Kau ingin aku melakukan hal yang sama padamu?"
Gerry menggeleng bingung, Ara segera masuk untuk duduk
"Tenang kan diri mu, Ara! Jangan seperti singa seperti ini!" Ia mengibaskan tangannya ke arah wajahnya sendiri.
********
Bunga perlahan turun ke bawah, Salvira dan Laras langsung menghampiri Bunga.
"Sayang, mengapa kamu berpenampilan seperti ingin ke makam?" Laras bertanya kepada menantunya "Iya ma, awalnya Bunga memang ingin ke makam papi"
Laras dan Salvira terkejut, mereka mengira jika Bunga sudah mengingat semuanya namun ternyata itu salah "Bunga bertanya kepada Ara, di mana papa kandung ku, Ara Mengatakan jika papi telah tiada. Jadi, aku ingin ke pemakaman papi bersama Jasson namun Jasson entah di mana, mungkin ia sibuk atau memiliki urusan lain,"
Laras tak mengerti mengapa anaknya melakukan itu "Ya sudah, Bunga sama mama saja ke pemakaman papi. Mama juga tidak ada kesibukan lain,"
"Iya sayang, mami juga akan menemani kamu!"
Bunga menggeleng "Tidak usah, ma, mi! Bunga akan menunggu Jasson saja. Bunga yakin kok sebentar lagi Jasson akan kembali, jika memang Jasson suami yang benar. Ia akan mengingat janjinya kepada Bunga!"
Laras meneteskan air matanya, Bunga sungguh sangat mempercayai anaknya Jasson bahkan di saat dirinya kehilangan ingatannya sekali pun. Namun anaknya Jasson, justru mengkhianati dan membohongi Bunga berulangkali dan bodohnya Laras justru mendukung dan menyuruh anaknya melakukan kecurangan berulangkali
__ADS_1
"Mama, kenapa mama menangis?" Bunga bertanya dengan bingung, Laras menggeleng "Tidak, sayang! Mama hanya ingin mengucapkan, terimakasih walau kamu sudah kehilangan ingatan mu, namun kamu tetap mempercayai anak mama," Laras langsung memeluk menantunya.
"Bunga hanya ingin mempercayai kalian orang-orang di sekeliling Bunga, Ma!"
Laras melepaskan pelukannya, benar saja. Mobil Jasson memasuki halaman rumah, ia berlari menemui istrinya "Sayang, maafkan aku. Aku sangat lupa! Ayo, kita pergi sekarang!"
Bunga tersenyum dan mengangguk, ia pun permisi dengan mama dan juga ibu mertuanya "Kalian hati-hati ya! Dan Jasson, tolong lebih perhatian Bunga!"
Jasson mengangguk, ia berjanji kepada mertuanya agar menjaga istrinya Bunga
Keduanya pun pergi menggunakan mobil, di perjalanan Jasson menghentikan mobilnya
"Bunga, ada hal yang ingin aku katakan kepadamu!""
"Apa?"
Awalnya Jasson ragu, namun ia harus mengatakannya dengan Bunga
"Iya, kenapa dia?" Bunga terlihat bingung, namun Jasson mengurung kan niatnya "Tidak, dia katanya kirim salam kepada mu. Kemarin ia pulang ingin berpamitan, namun karena kondisi mu kemarin memburuk, ia tidak sempat berpamitan langsung"
Bunga tersenyum "Oh, aku pikir kenapa. Kamu sungguh membuat ku takut saja, aku mengira jika kamu dan dia memiliki hubungan dari cara mu berbicara tadi!"
Jasson ter-batuk "Iya tentu saja kami berhubungan baik karena suaminya adalah teman dekat ku. Sudah lah, jangan memikirkan hal yang lain ayo!"
Jasson langsung melajukan mobilnya, ia tidak bisa melakukan apapun dan juga tidak bisa memberitahu Bunga yang sebenarnya.
Ia tidak sanggup melihat Bunga drop, lebih baik ia mengurungkan niatnya namun Jasson juga sangat kepikiran dengan permintaan Ade yang memintanya untuk mereka menikah siri
Kepala Jasson terasa sangat mau pecah, ia ingin menceritakan semuanya kepada sang mama namun ini bukan waktu yang tepat.
Keduanya sudah sampai di pemakaman, Bunga dan Jasson turun dari mobil, Jasson pun menunjukkan makam papinya Bunga
__ADS_1
"Ini pemakaman papi!"
Bunga pun menatap makam papinya, air matanya menetes "Hai papi, Bunga datang. Maaf ya papi kalau Bunga tidak mengingat apapun tentang kenangan kita, Bunga juga bingung dengan diri Bunga sendiri. Namun Bunga ingin papi tahu, kalau Bunga sangat menyayangi Papi! Bukan ingin mengingat segalanya tentang masa lalu Bunga. Papi bantu Bunga ya?"
Bunga banyak mengatakan hal apapun, hanya kepada papinya ia merasa senang. Dan nyaman menceritakan segala keluh kesahnya
"Bunga merasa seperti orang bodoh yang kehilangan arah, Papi!"
"Bunga tidak ingat apapun walau sudah berusaha!"
Bunga menangis terisak di depan makam papanya, Jasson yang merasa kasihan dengan istrinya pun memeluk Bunga "Sudah lah! Ini semua bukan kesalahan mu! Aku yakin, ingatan mu akan cepat pulih. Jangan bersedih!"
"Aku tidak ingat Jasson, bahkan aku tidak bisa mengingat kenangan apapun! Aku hanya bisa mengetahui dari cerita kalian saja, namun aku tidak tahu apapun. Aku hanya mencari kebenaran dari ucapan kalian hiks!"
Jasson mengeratkan pelukannya kepada Bunga, memberikan sedikit ketenangan kepada istrinya.
"Aku tahu apa yang sudah kau rasakan sekarang. Sudah lah! Jangan menangis, aku yakin cepat atau lambat semuanya akan kembali seperti semula. Aku ada di sini, bukan hanya aku namun ada mama, mami, papa dan juga Ara. Kami semua sangat menyayangi kamu. Kami akan membantu kamu hingga kamu benar-benar pulih. Jangan terlalu banyak menangis Bunga! Ingat, mami memberi kan nama kamu Bunga agar kamu terus menjadi anak yang bersinar dan tumbuh mekar. Bukannya layu seperti ini!"
Bunga terdiam, Jasson sungguh membuatnya mendapatkan kekuatan "Terimakasih banyak, Jasson! Kamu memang suami terbaik. Aku yakin, jika dulu kamu sangat menyayangi ku dan saat aku seperti ini. Kamu masih mendukung dan menyayangiku!"
Jasson terdiam, andai Bunga tahu jika dirinya tidak sebaik yang Bunga bayangkan. Jasson adalah lelaki yang buruk dan begitu terhina.
Jasson tanpa malu menyakiti bahkan merampok uang Bunga. Saat ini Jasson hanya ingin memberikan kasih dan sayang juga perlindungan kepada Bunga sebagai seorang sahabat.
Ia mau Bunga tidak merasa tersiksa. Jika Jasson tidak bisa menjadi suami yang baik, ia akan menjadi sahabat yang baik untuk Bunga.
Jasson mengajak Bunga untuk kembali kerumah, Bunga pun mengiyakan ucapan Jasson. Sebelum kembali ke rumah, Jasson mengajak Bunga singgah ke tempat favorit mereka sejak kecil.
Jasson memang tidak memiliki kenangan apapun kepada Bunga sebagai suami dan istri. Namun kenangannya dengan Bunga sangat banyak sebagai seorang sahabat.
Bahkan orang-orang selalu iri dengan hubungan persahabatan yang di miliki oleh keduanya.
__ADS_1
"Kau tahu Bunga? Ini adalah tempat favorit kita berdua, bahkan penjualnya sudah memahami makanan yang kita suka!" Jasson tersenyum ke arah Bunga