
Bunga takut karena maminya mengatakan hal itu, seperti maminya akan pergi meninggalkan mereka semua. Salvira tersenyum "Sayang, di dunia ini tidak ada yang abadi, dan jika suatu saat mami di panggil oleh yang maha kuasa, mami siap sayang. Mami tidak perlu khawatir, karena mami percaya ada Ara yang akan menjaga kamu di sini,"
Bunga cemberut, ia mengatakan apalah arti semua itu jika tidak ada maminya di rumah "Tidak mami! Tidak ada gunanya, jika mami tidak ada bersama kami. Kebahagiaan Bunga jika kita semua berkumpul di rumah ini, bukan ada yang terpisah. Apalagi arti rumah besar dan mewah kalau tidak lengkap tanpa adanya mami, Bunga, Jesslyn, Ara, Justin dan juga Gerry?"
Salvira pun meminta maaf kepada anaknya, ia tidak bermaksud membuat anaknya menjadi sedih "Maafin mami sayang! Mami tidak pernah bermaksud membuat kamu sedih seperti itu, mami sangat menyayangi kalian semua."
"Mommy!" Jesslyn berlari dengan tubuh mungilnya, Bunga heran kenapa rambut anaknya begitu berantakan "Jesslyn sayang, kenapa rambut kamu berantakan seperti ini? Apakah suster tidak merapikan rambut kamu?"
Bunga memanggil pengasuhnya yang lama sekali datang, hal itu membuat Bunga menjadi kesal dan tidak sabaran.
"Sayang, kamu jangan marah-marah kasian mbaknya jika kamu terlalu keras kepada mereka!"
"Mami, bagaimana Bunga enggak tegas kalau mereka enggak becus! Lihat rambut Jesslyn sangat berantakan sekali!"
"Sayang, sudahlah jangan memperpanjang masalah ini kita akan menanyakan ini kepada suster secara baik-baik, Kamu juga jangan terlalu gampang emosi sekarang! Mami tidak mengerti mengapa sekarang kamu mudah sekali marah tentang hal-hal kecil dan sebenarnya tidak perlu diperbesar,"
Bunga mengatakan jika itu bukanlah masalah kecil ia tidak suka jika anaknya tidak diperdulikan seperti itu sementara ia sudah mengaji seluruh pekerja bahkan memberikan bonus yang terbaik untuk mereka Namun nyatanya mereka tidak bekerja dengan baik dan mengabaikan anak semata wayangnya itu
"Mami mereka bekerja dan dibayar untuk mengurus Jesslyn ku, namun mengapa mereka mengabaikan tugas mereka? Lihatlah rambut Jesslyn begitu sangat berantakan Apa pekerjaan mereka jika mengurus rambut anak saja tidak bisa?"
Salvira mencoba menenangkan anaknya dan mengatakan jika hal ini tidak perlu diperpanjang lagi. Namun emosi Bunga yang memuncak tetap memanggil pengasuh anaknya
"Mbak pengasuh!" Ia berteriak, bahkan Ara dan Gerry sampai turun ke bawah "Bunga, kenapa? Ada apa sehingga kau berteriak seperti ini?"
Bunga menatap pelayan itu, dan bertanya apa saja yang sudah mereka lakukan "Apa yang kalian lakukan? Apa tugas kalian? Rambut anak saya berantakan seperti ini, dan kalian diam saja? Dua pengasuh aku pekerjakan di sini, namun merapihkan rambut anak ku saja tidak bisa?"
Bunga berteriak kepada kedua pengasuh itu, mereka pun meminta maaf "Nyonya maafkan kami, kami sudah mau merapikan rambut nona Jesslyn namun nona Jesslyn langsung berlari saja, kamu tidak berani mengejar karena takut nona Jesslyn jatuh nantinya. Dan nyonya besar mengatakan jika jangan memaksakan kehendak terhadap nona Jesslyn dan tuan Justin," ujar salah satu pengasuh dengan nada yang gemetar, Ara pun menenangkan sahabatnya itu
"Bunga sudah lah! Kasihan mereka jika kau memarahi mereka seperti ini. Jangan terlalu keras kepada mereka, mungkin mereka juga sudah lelah menjaga Jesslyn dan Justin satu hari ini. Mereka juga belum tentu istirahat atau makan, kau tahu jika Justin dan Jesslyn sangat Aktip terutama dengan justin. Pengasuh pasti lelah menjaga kedua anak ini,"
"Jika hanya satu suster, aku bisa memahaminya! Namun ini dua suster, apakah tidak ada yang bisa bergantian?"
Dua pengasuh itu pun gemetaran mereka ketakutan dan takut jika keduanya pun di pecat "Nyonya, tolong jangan pecat kami! Kami salah dan kami minta maaf!"
Salvira pun meminta anaknya untuk tidak memperpanjang masalah lagi "Sudah lah sayang! Jangan memperpanjang masalah ini lagi! Kasihan mereka, mungkin mereka terlalu lelah karena menjaga Justin dan juga Jesslyn, Kenapa kamu sekarang menjadi sering marah pada hal-hal sepele?"
Salvira pun memanggil cucunya, dan segera merapihkan rambut Jesslyn "Sini sayang, Oma rapikan rambut kamu!"
Jesslyn mendekati Omanya, Salvira segera mengikat rambut anaknya dengan rapih.
"Sekarang permasalahannya sudah beres, rambut Jesslyn juga sudah rapih. Sudah jangan ada lagi yang dipermasalahkan, dan kalian jangan lagi mengulang kesalahan yang sama ya?"
"Terimakasih banyak nyonya, maafkan kami. Dan kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi,"
__ADS_1
Pelayan itu segera pergi ke kamar membuat Bunga masih kesal "Aku sangat kesal sekarang! Mami selalu saja memanjakan mereka semua, lihat mereka menjadi manja dan melupakan tugas mereka di sini!"
"Sayang, mereka hanya tidak sengaja. Lagipula, memang mami yang meminta kepada mereka untuk tidak terlalu tegas dengan anak-anak kasihan!"
Bunga meminta kepada maminya untuk tidak terlalu lembek dengan anak-anak "Mami jangan memanjakan mereka, itu akan membuat mereka semakin nakal. Mami lihat mereka sangat kurang sopan sekarang, Bunga enggak mau jika anak-anak diluar batas!"
Salvira hanya menghela nafas panjang, karena ia tidak mengerti dengan jalan pikiran anaknya itu "Sayang, kamu terlalu pemarah sekali sekarang..mami tidak mengerti dengan kamu padahal kamu tahu jika masalahnya juga sudah selesai, namun kenapa kamu tetap seperti itu?"
"Mami sudah lah! Mungkin Bunga seperti itu karena dia tidak mau anak-anak menjadi anak yang nakal dan tidak tahu aturan. Mami jangan marah lagi dengannya! Kasihan Bunga jika mami terus memarahinnya."
Salvira memilih mengalah dan tidak mau ribut lagi dengan anak-anaknya "Gerry, kamu sudah memesan tiket liburan kita nak?"
"Sudah mami, semuanya sudah Gerry pesan dan kita akan berangkat besok siang."
"Mommy, kita mau kemana?"
Bunga menjelaskan kepada anaknya jika mereka akan pergi liburan, hal itu tentu membuat Jesslyn merasa senang "Yeey, kita akan holiday. Jesslyn sangat senang karena kita tidak pernah pergi holiday!"
"Yeee, naik pesawat!"
Terlihat Jesslyn sangat Senang, Bunga Sangat merasa bersalah kepada anaknya karena selama ini tidak pernah memikirkan kebahagiaan Jesslyn. Jesslyn menjadi kesepian sekarang "Maafin mami sayang! Mami selama ini tidak memikirkan kebahagiaan kamu, mami sangat egois!"
Bunga terlalu memikirkan kesedihannya sehingga ia tidak pernah berminat mengajak anaknya untuk sekedar liburan.
Hati Bunga meringis, apalah arti kekayaannya selama ini jika ia tidak pernah membahagiakan sang anak. Padahal saat umur Jesslyn dahulu, kedua orang tuanya sering mengajak ia berlibur ke luar negeri
"Kamu kenapa Bunga?" Ara bertanya kepada sahabatnya, namun Bunga hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Bunga, kenapa kamu malah melamun?"
"Tidak! Aku tidak memikirkan apapun, seharusnya kita lebih sering mengajak anak-anak untuk jalan-jalan namun kita tidak pernah mengajak mereka liburan keluar kota atau pun luar negeri. Ini juga karena kamu, jika tidak mungkin ini juga tidak terjadi!"
Bunga terlihat sedih, namun Ara menghibur sahabatnya "Sudah lah bunga! Jangan menyalahkan diri mu sendiri. Kamu juga tidak perlu sedih yang terpenting sekarang kamu sadar betapa pentingnya liburan untuk anak-anak. Bukan hanya untuk anak-anak namun untuk kita semua,"
Bunga mengangguk, Salvira juga mengatakan kepada anaknya untuk tidak sedih dalam keadaan apapun.
"Sayang sudah lah! Kamu jangan sedih lagi ya? Mami enggak mau membuat kamu terus saja sedih dengan semua ini,"
Salvira tahu alasan anaknya seperti ini karena jasson, namun semuanya sudah terjadi dan tidak bisa diperbaiki. Salvira berharap agar anaknya bisa segera melupakan Jasson.
Bunga berpamitan untuk ke kamar, menyusun barang-barang yang akan ia dan anaknya bawa
"Bunga mau menyusun barang-barang Bunga dengan Jesslyn. Bunga ke kamar dulu ya mi?"
__ADS_1
"Iya sayang, Ara kamu juga yaaa susun barang-barang kamu. Biar besok saat kita pergi, enggak kebingungan lagi."
"Iya mami," Ara mengajak suaminya untuk masuk ke dalam kamar, mereka juga harus bersiap.
*********
Monica menangis di kamarnya, ia tidak mau bertemu dengan maminya itu "Karena mami aku menjadi orang yang sangat jahat, aku marah dengan orang yang tidak bersalah. Aku sangat menyesal papi. Kenapa Monica terlalu mudah terpancing,"
Monica pun di hibur oleh papinya "Sayang, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri ta nak? Papi tidak mau kamu merasa bersalah. Sudah lah! Lagipula mereka juga sudah memaafkan kita sayang! Kita bukan sengaja menyakiti hati mereka, sudah jangan menangis lagi ya?"
Papinya menyeka air mata monica, monica ingin berkunjung dan meminta maaf langsung kepada Ara besok di kantor untuk membersihkan nama baik Ara.
"Tidak monica! Mami tidak setuju! Kamu menjatuhkan harga diri kamu demi orang lain! Mami tidak suka itu! Kamu mengerti!"
Monica tetap tidak mau mendengarkan ucapan maminya, bagi dia semua ini terjadi karena maminya itu.
"Sudah lah mami! Monica tidak mau lagi mendengarkan semua ucapan mami dan Monica ingin memperbaiki segalanya,"
"Tidak sayang! Mami tidak setuju jika kamu melakukan hal konyol seperti itu! Mami tidak mau kamu mempermalukan diri kamu sendiri sayang! Kenapa kamu tidak mengerti? Mami sangat menyayangi kamu! Mami tidak bisa nak, mengerti lah!""
"Tolong jelaskan segalanya kepada mami dan biarkan Monica mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang sudah Monica perbuat lakukan kepada ara,"
Maminya tidak mengerti mengapa anaknya sangat keras kepala seperti itu "Sayang mami melakukan itu semua karena kamu, demi kamu namun kamu tidak mengerti dengan perasaan mami! Kamu tahu enggak, jika mami sangat sedih karena kamu dan papi kamu lebih membela mereka daripada mami sendiri! Hancur sekali hati mami!"
******""
"Apa mami tidak menyadari kesalahan mami kepada Gerry keponakan kita? Mami sangat kejam memperlakukan dia. Dan Bukannya merasa bersalah, mami masih saja membenci mereka. Apa yang ada di pikiran mami pun Monica dan papi tidak mengerti, Monica sayang papi setuju dengan kamu lebih baik kamu datang ke kantor dan meminta maaf di depan semua karyawan. Seperti kamu mempermalukan Ara kemarin, bertanggung jawablah nak atas semua yang sudah kamu lakukan. Papi tahu jika kamu anak yang hebat! Kamu bisa mempertanggungjawabkan semua perbuatan kamu. Papi bangga sama kamu!"
Monica tersenyum kepada papinya karena papinya selalu menjaga dan mendukung disetiap yang ia lakukan "Kalian itu jangan keras kepala! Dengar apa yang mami katakan! Monica, jangan membuat diri kamu malu sayang, apa kamu tidak menyayangi diri kamu? Mami sangat minta tolong sama kamu, kamu jangan seperti itu ya sayang? Dan papi, papi ini ayah seperti apa? Kenapa papi seperti itu? Papi sudah membuat mami kesal dan kecewa!"
"Mami jangan menyalahkan papi, ini semua terjadi juga karena mami!"
"Terus saja kalian menyalahkan mami atas semuanya, terus saja! Mami sangat tidak menyangka dengan kalian!"
Wanita paru baya itu membanting pintu dengan emosi, Monica dan Papinya hanya bisa mengelus dada dengan semua yang dilakukan oleh maminya itu
"Papi lihat bagaimana kerasnya mami, bukannya mami menyadari semua kesalahan mami. Mami justru menyalahkan orang lain."
Monica pun memeluk papinya, apakah menjadi orang baik itu salah?
"Sayang, tidak ada yang salah menjadi orang baik. Namun itu lah tantangan menjadi orang baik, kita akan selalu diberikan cobaan dan akan ada saja yang menghalangi kita berbuat kebaikan, kamu tidak perlu merasa takut. Terus lah berbuat baik nak dan perbaiki semua kesalahan kamu dengan kakak ipar kamu sayang. Semuanya belum terlambat nak, percaya sama papi!"
Monica pun mengangguk
__ADS_1
********