
"Iya-iya maaf! Sudah kita sebaiknya langsung ke rumah papi kamu aja. Aku takut kemalaman, kasian Justin menunggu kita,"
Gerry segera mengajak istrinya untuk pergi bertemu dengan keluarganya menggunakan mobil pribadi yang biasa mereka lakukan untuk melakukan aktivitas aktivitas di luar rumah.
Sesampai di rumah keluarga Gery, keduanya pun turun awalnya ara. ragu untuk ikut masuk ke dalam namun suaminya itu kembali meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja
Monica dan papinya yang melihat kedatangan Gerry begitu sangat senang dan menyambut Gerry dengan begitu hangat namun keduanya mengabaikan kehadiran ara, Gerry menoleh ke arah istrinya dan meminta istrinya untuk masuk ke dalam namun Monica melarangnya
"Tidak kak! Dia enggak boleh masuk ke rumah kita, untuk apa dia masuk? Jika dia sendiri yang melarang kakak untuk datang, aku tahu kalian datang ke sini karena dia juga udah takut bukan? Aku sudah memberikannya pelajaran, hingga dia tidak berani lagi melarang kakak datang ke sini!"
Gerry menggelengkan kepalanya tidak percaya "Kamu tidak juga sadar Monica! Bukan Ara yang melarang aku datang ke sini!"
"Sudah, kalian jangan bertengkar di luar. Malu dengan tetangga, lebih baik kita masuk. Dan satu lagi, Ara jika kamu tidak mau masuk, kamu bisa menunggu di dalam mobil saja!"
Ara terdiam ia pun mengatakan jika dirinya akan menunggu di dalam mobil saja "Gerry, sebaiknya aku menunggu di dalam mobil,"
Ara ingin kembali ke mobil, namun Gerry menahannya "Tetap lah di sini bersama ku, apakah papi tidak mengizinkan istri Gerry untuk masuk?"
"Papi mengizinkannya hanya saja istri kamu yang tidak mau ke sini, bahkan melarang kamu ke sini bukan? Papi sudah mengetahui segalanya dari Monica,"
"Papi, Gerry tidak menyangka ini terjadi dengan papi! Gerry memaklumi jika Monica masih sangat anak-anak, dan bisa saja salah dalam menilai orang. Namun papi? Bahkan papi Sudah Cukup dewasa untuk memahami segala permasalahan yang ada, tanpa mendengarkan penjelasan apapun dari kami namun papi justru menanggapi semuanya sesuai dengan apa yang dituduhkan oleh monica,"
"Papi tidak menuduh istri kamu! Namun apa yang dikatakan oleh Monica itu ada benarnya dan sangat masuk akal sehingga Papi merasa jika yang bersalah di sini adalah istri kamu,"
"Sudah Gerry! Jangan lagi melawan aku tidak ingin kalian pecah hanya karena aku, aku tidak mau itu terjadi!"
Ara menahan suaminya untuk tidak terpancing emosi, namun suaminya itu sudah sangat tidak sabar. Ia begitu kesal dengan semua tuduhan yang di arahkan untuk istrinya.
"Sudah lah papi, untuk apa papi berdebat dengan mereka. Percuma juga! Gerry sudah sangat terpengaruh oleh ucapan istrinya, bahkan mereka menjauhkan kita dengan cucu kita sendiri!" Sambung maminya Monica. Gerry menatapa wanita itu dengan tidak percaya, apakah dia tidak sadar alasannya semua ini terjadi adalah dirinya?
Dirinya yang selalu saja merendahkan Gerry dan juga kedua orang tua Gerry yang sudah tiada. Bahkan maminya itu tega menyakiti anaknya yang masih kecil dan tidak mengerti apapun.
"Istri kamu itu lebay! Mami sudah menjelaskan jika mami mencubit anak kalian hanya karena mami merasa gemas dengannya! Bukan karena mami sengaja dan tidak menyukai anak kalian. Bagaimana mungkin mami tidak suka dengan cucu mami, bagaimana pun Justin itu cucu mami juga! Ya walau bukan cucu kandung!" Ketus maminya Monica lagi. Gerry sudah tidak tahan dengan semua ucapan istri dari kembaran papanya itu.
Namun ia tetap harus mengendalikan dirinya, jika ia terpancing maka keluarga pamannya akan berantakan. Gerry tidak mau karena dirinya, rumah tangga pamannya menjadi hancur berantakan.
"Mami,"
__ADS_1
"Hust! Diam! Jangan memanggil aku dengan sebutan mami! Tidak sudi di panggil oleh wanita yang tidak mempunyai hati nurani seperti kamu! Bisa-bisanya kamu mempengaruhi pikiran anak mami untuk.tidak berkunjung ke sini! Memang dasarnya orang yang tidak mempunyai orang tua akan bersikap buruk seperti itu!"
"Hentikan semua ini! Gerry dan Ara datang ke sini bukan untuk mendengarkan semua hinaan kalian kepada istri Gerry. Namun Gerry ingin menjelaskan jika semua yang terjadi ini bukan karena Ara. Tapi ini semua karena anda!"
Gerry yang sudah tidak tahan menunjukkan jemarinya ke arah istri pamannya itu."Kak, apa maksud kamu? Kenapa kamu menyalahkan mami? Aku enggak menyangka kamu bisa seperti itu kepada wanita yang sangat menyayangi kamu!"
Monica merasa kecewa dengan sepupunya, bisa-bisanya Gerry mengatakan itu hanya karena membela istrinya
"Gerry! Papi juga kecewa dengan kamu, kenapa kamu menuduh mami kamu seperti itu? Dia selalu menyayangi kamu dan monica tanpa membanding-bandingkan kalian berdua!"
Gerry tertawa sinis, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya "Papi sudah bertahun-tahun dengan wanita ini namun papi masih saja mau tertipu olehnya! Dan anda, seharusnya anda bisa introspeksi diri tanpa harus menyalahkan orang lain! Belajarlah jujur dengan keluarga anda. Jangan bersikap seperti malaikat namun hati anda sangat busuk, apakah saya harus membuka semua perlakuan anda kepada saya mami? Selama ini saya diam dan menghargai Anda, karena anda adalah istri dari paman saya. Namun ternyata bungkam saja tidak merubah anda sedikit pun ya?"
"Kak, jaga ucapan kamu sama mami ya! Kamu apa-apaan sih?" Monica menampar Gerry dengan kuat, lelaki itu hanya memegang pipinya dengan tatapan yang tidak mereka pahami.
"Sayang, apa yang terjadi sama kamu? Kenapa kamu mengatakan itu dengan keluarga kamu?"
Ara bertanya kepada suaminya, karena ia juga belum mengerti. Namun Monica meminta kepada Ara untuk tidak bersandiwara lagi "Jangan bersandiwara kamu Ara! Kamu senang kan ini semua terjadi? Ini yang kamu mau bukan?"
Ara menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah menginginkan ini semua terjadi. Ara pun menenangkan suaminya, namun sialnya puncak amarah Gerry pun semakin memanas. Ia pun tidak mau menghentikan segalanya.
Maminya Monica terlihat sangat takut, bahkan ia meminta Ara untuk membawa Gerry pergi. Ia takut jika kebusukannya akan terbongkar di depan anak dan suaminya "Ara, suami mu sekarang sedang emosi, sebaiknya kamu membawa dia pulang sekarang! Jangan membuat kekacauan dan keributan di sini! Malu, apa nanti kata tetangga?"
"Papi hentikan semua omong kosong keponakan kamu ini! Dia sangat tidak waras dan setidaknya suruh dia cepat pergi dari sini jika dia tidak mau menjaga sikapnya! Apa yang tetangga katakan nanti? Mami sangat malu!"
Wanita itu berdalih malu dengan tetangga yang akan mendengarkannya sebenarnya ia hanya takut jika Gerry membuka semua kebusukannya itu.
"Papi kenapa diam saja? Ayo suruh dia pergi!"
Namun lelaki itu tidak mengusir keponakannya "Gerry, apa yang ingin kamu katakan! Papi ingin mendengarkan semuanya!"
Gerry mengambil nafasnya dengan perlahan "Gerry! Jika kamu tidak mau istri kamu terus di salahkan lebih baik kamu menceritakan semua kebenarannya, kamu enggak mau bukan? Orang yang tidak bersalah harus menanggung semua kebencian dan penderitaan dari kami?"
"Papi, Monica. Gerry tahu ini berat untuk kalian, tapi kalian harus tahu! Jika mami tidak sebaik dan setulus yang kalian lihat! Iya mungkin mami memang tulus menyayangi dan menjaga papi dengan Monica. Namun tidak dengan aku! Seringkali, mami menghina aku bahkan kedua orang tua aku. Sebab itu, aku lebih memilih menjauh dari keluarga ini. Bukan karena tidak mau berkeluarga, namun Gerry tidak mau kedua orang tua Gerry terus di hina oleh mami! Gerry tidak bisa menerima hal-hal buruk yang dilontarkan untuk kedua orang tua Gerry terutama mereka sudah tiada! Anak mana yang tidak hancur hatinya saat mendengar kedua orang tuanya di hina seperti itu? Dan bukan hanya kepada Gerry saja mami berbuat jahat, namun juga kepada anak Gerry. Apakah Gerry harus tetap diam saja saat kedamaian dan kenyamanan keluarga Gerry terancam?"
"Omong kosong! Semua itu omong kosong! Papi jangan percaya dengan ucapan Gerry! Mami menyayanginya dengan sangat baik bahkan mami melayaninya setiap dia datang ke sini. Mami sajikan makanan untuknya, mami masakan dia makanan kesukaannya. Apakah itu tidak tulus?"
"Iya memang benar, mami selalu melayani Gerry dan memberikan masakan kesukaan Gerry. Karena itu di depan papi dan Monica, namun di belakang kalian mami selalu mengatakan kata-kata pedas yang sangat sulit Gerry terima! Kenyataannya adalah, mami tidak menerima Gerry di rumah ini! Mami menganggap Gerry hanya lah beban untuk mami, papi dan juga monica!"
__ADS_1
Monica mendekati maminya dan bertanya apakah semua yang Gerry katakan itu benar atau tidak. Namun maminya tidak menjawab, membuat Monica percaya dengan semua ucapan sepupunya itu..
"Untuk apa ada makanan lezat, fasilitas baik jika setiap hari selalu diberikan hinaan dan kata-kata pedas. Jika itu hanya untuk Gerry saja, Gerry bisa memahaminya. Gerry bisa menerimanya! Namun mami selalu menghina kedua orang tua Gerry yang sudah tiada! Selama ini Gerry bungkam, Gerry juga tidak pernah menceritakan segalanya kepada Ara, walau dia sudah menjadi istri Gerry. Karena apa? Karna Gerry enggak mau mami itu buruk di mata istri Gerry! Gerry enggak mau itu!"
Ara menangis mendengar ucapan suaminya, ia tahu bagaimana perasaan suaminya selama ini. Mengapa ara baru mengetahui segalanya sekarang?
"Itu sebabnya Gerry tidak mau ke sini,.karena Gerry tidak siap mendengarkan semua hinaan untuk kedua orang tua Gerry. Bahkan di saat aku sudah menikah, semuanya masih tetap berlanjut. Mami tidak puas menghina kedua orang tua ku, namun juga istri ku bahkan mami sangat jahat dengan anakku, mami jangan mengira aku tidak tahu semuanya!"
Gerry mengatakan jika seringkali maminya mencubit anaknya, terlihat jelas saat Gerry membuka baju anaknya setelah pulang dari rumah mereka. Namun disaat Ara bertanya, ia selalu mengatakan jika itu hal yang biasa. Padahal itu bekas cubitan!
Monica dan papinya terkejut, mereka juga menangis saat mengetahui semua kejahatan yang sudah dilakukan oleh maminya.
"Mami, apa benar yang Gerry katakan!"
Kini pamannya Gerry membentak istirnya itu, tidak ada pilihan lain selain mengakui semuanya "Iya semua itu memang benar! Mami menang keberatan jika anak ini datang ke rumah kita, sangat menyusahkan saja! Menghabiskan makanan kita, apalagi papi selalu memberikannya uang! Mami sangat tidak suka papi, papi bekerja hanya untuk mami dan Monica saja. Jangan untuk Gerry! Dia itu bukan anaknya papi dan bukan tugasnya papi untuk memberikan dia bantuan! Siapa suruh kedua orang tuanya meninggal,"
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi wanita paru baya itu "Kenapa papi menampar mami? Mami hanya mengatakan yang sebenarnya! Gerry bukan anak kita, untuk apa dia sering ke rumah kita? Anak kita itu Monica dan papi harus fokus dengannya saja!"
"Papi tidak menyangka jika mami begitu jahat dan kejam! Mami tidak punya hati nurani, bagaimana jika itu terjadi kepada anak kita Monica? Apa perasaan mami?"
"Itu tidak akan terjadi karena kita masih hidup dan mami tahu papi akan memberikan yang terbaik untuk anak kita, sudah lah! Mami tidak mau lagi bersandiwara! Lebih baik mereka pergi sekarang dari rumah ini! Mami sangat mual dengan kehadiran mereka, sangat mengganggu."
Monica menggelengkan kepalanya tidak percaya, ia sudah menuduh kakak iparnya bahkan menamparnya kakak iparnya di depan semua orang di kantor. Namun nyatanya, ibu kandungnya sendiri lah dalang dari semua ini terjadi, Monica merasa bersalah dengan Ara ia pun meminta maaf kepada Ara sambil bersujud
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Monica menepis tangan maminya, ia tidak mau mendengarkan apapun lagi dari mulut maminya itu. Selama ini, Monica selalu menjadikan maminya sebagai panutan. Namun panutan kebanggaannya sudah menghancurkan semua mimpi dan kepercayaannya.
"Jangan sentuh Monica mami! Mami jahat, selama ini Monica menjadikan mami sebagai panutan Monica. Mami wanita yang sangat baik dan lembut namun nyatanya mami sangat jahat, mami jahat sekali! Monica kecewa dengan mami!"
Monica menjauh dari maminya saat sang mami ingin mendekat "Kak, aku mohon maafkan aku. Aku bersalah karena sudah menuduh mu yang Tidak-tidak bahkan tanpa bukti, ampuni aku kak! Aku sangat menyesal!"
Monica menangis meminta maaf kepada Ara, Ara pun memaafkan sepupu suaminya itu "Sudah lah Monica, yang terpenting saat ini kamu dan papi mengetahui semua kebenaranya. Aku tidak pernah mempermasalahkan Gerry jika datang ke sini, aku tidak pernah melarang suami dan anak ku untuk bertemu dengan kalian. Aku senang bahkan sangat senang jika anak ku dengan keluarganya."
Ara pun memeluk sepupu suaminya itu, ia memang tidak pernah merasa marah atau sakit hati sedikit pun kepada Monica atau pun papinya. Namun Ara masih tidak menyangka jika suaminya mendapatkan perlakuan yang sangat tidak baik
"Sebaiknya kamu pergi dari sini! Kalian pergi!"
__ADS_1
Maminya Monica yang kesal dengan Gerry dan Ara mengusir keduanya namun Monica dan papinya melarang "Tidak! Mereka tidak akan kemana-mana jika mami tidak suka, mami saja yang pergi dari rumah ini! Papi tidak sudi memiliki istri yang sangat jahat dan tidak memiliki kasih sayang kepada orang lain!"
"Papi mengusir mami? Monica sayang, kamu lihat papi kamu kan nak? Dia lebih memilih orang asing daripada mami! Mami yang sudah melahirkan kamu dan mengandung kamu! Namun nyatanya papi lebih membela mereka!"