Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 113


__ADS_3

"Ngapain liatin aku senyum-senyum gitu? Awas nanti pacarnya marah!"


Gerry hanya menggelengkan kepalanya geli, namun ia juga tidak memberitahu apapun kepada Ara. Biarkan Monica sendiri yang menjelaskan kepadanya. Memang ini kesalahan Gerry, seharusnya ia mendengarkan ucapan Monica namun dirinya terlalu naif dan mengatakan Ara tidak serumit itu.


Gerry kembali melajukan mobilnya menuju kantor, hati Ara masih campur aduk. Mengapa lelaki itu tidak membiarkannya hidup tenang?


Mereka pun sampai di kantor, Ara keluar terlebih dahulu. Monica mendekati Gerry "Kenapa kamu tadi pergi enggak pamit dulu? Papi mencari kamu, kamar kamu juga udah bersih. Kamu beresin dulu ya sebelum berangkat?"


Ara mendengarnya dan semakin salah paham "Apa? Ternyata Gerry sudah satu rumah dengan pacarnya? Dasar kau bodoh Ara! Kenapa kau tetap membiarkan pacar orang lain menjemput mu, jangan menjadi benih-benih pelakor Ara!" Batinnya.


"Iya tadinya buru-buru jemput calon kakak ipar mu,"


Apa? Calon kakak ipar? Aku enggak salah dengar kan ini? Batin Ara kembali


Monica tersenyum kepada Ara, Ara juga membalas senyuman Monica dengan malu


"Sekarang karena ada Monica sayamau menjelaskan sama nona, saya dan Monica memang memiliki hubungan khusus. Monica ini adalah sepupu saya, papa kami saudara kembar."


Kini Ara tahu hubungan Gerry dan Monica yang sebenarnya. Betapa malunya ia, sudah marah-marah dan mencoba menjauh dari Gerry


"Se-sepupu? Tapi,"


"Karena aku manja dengan Gerry? Sejak kecil kami memang tumbuh bersama, namun semenjak kedua orang tuanya meninggal. Gerry seakan menjauh dan jarang main ke rumah ku. Sebab itu, papi meminta aku bekerja di sini. Padahal papi memiliki perusahaan yang bersaing dengan perusahaan ini juga, namun aku di sini bukan untuk mata-mata perusahaan Bu, tapi agar bisa mengajak Gerry untuk kembali pulang ke rumah kami,"


Ara mengerti, Gerry menatap Ara namun wanita itu tidak berani menatapnya balik. Ia sudah sangat malu sekali "Kamu masuk saja terlebih dahulu Monica, dan katakan dengan papi. Sebaiknya nanti aku tidak pulang ke rumah kalian, aku akan kembali ke kostan ku saja!"


"Kenapa Gerry?"


"Monica, tolong lah! Sekarang kita berada di kantor, dan jangan membahas masalah keluarga di sini. Aku ingin kita profesional!"


Monica kini bungkam dan mengangguk, Gerry pergi meninggalkan Ara dan Monica berdua dia luar.


"Nona, jika bisa. Saya mohon, beritahu Gerry jika ia harus pulang kerumah! Papi sangat menyayanginya, papi khawatir jika dia tinggal sendirian. Dan tolong tanyakan juga kepadanya, mengapa dia sekarang menjauh dari kami? Padahal aku, mami dan papi sangat menyayanginya,"


Ara mengangguk, ia berjanji kepada Monica akan membantu mereka untuk berbicara kepada Gerry nantinya "Nanti akan aku coba ya Monica? Tapi enggak sekarang, tunggu semuanya reda dulu. Dan aku janji, akan membuat Gerry kembali bersama kalian,"


"Terimakasih nona!"


"Jangan panggil aku nona! Panggil saja Ara," Monica pun mengangguk, keduanya masuk ke dalam kantor.


Ara mencari keberadaan Gerry di ruangannya, benar saja lelaki itu duduk melamun "Gerry!" Lirihnya, Gerry pun menoleh ke arah wanita yang ia cintai.


"Ada apa nona?"


"Maafkan aku atas semua yang terjadi, atas semua tingkah anak-anakku. Tapi jangan panggil aku nona lagi! Panggil saja aku Ara,"


Gerry mengangguk, tersenyum. Walau sorotan matanya terlihat jelas kesedihan namun Gerry berhasil menutupinya. Ia tidak mau membuat Ara merasa sedih lagi.


"Iya ada apa Ara?"


"Boleh aku bertanya?" Gerry mengangguk "Semuanya boleh anda tanya, asal jangan tentang masalah pribadi atau keluarga saya. Terutama tentang hubungan saja dengan keluarga Monica,"


Ara terdiam, ia pun tidak mau memaksakan kehendaknya "Apa sih! Sok tau banget, aku itu mau tanyak. Kita bisa engga satu ruangan lagi?"


Kini Gerry meledek dan mengatakan bukannya itu permintaan dari Bunga, membuat Ara salah tingkah "Isss aku kan hanya bertanya, kalau kamu enggak mau yaudah! Ngapain sih bawa-bawa nama Bunga!"


Saat Ara ingin pergi dari ruangan Gerry, lelaki itu mencegahnya, keduanya kini lebih dekat "Aku mencintai mu Ara!" Jantung Ara berdegup kencang, ia juga mencintai lelaki itu. Namun apakah dirinya pantas untuk Gerry? Secara Gerry masih lajang sementara dia hanya lah wanita janda


Ara menjauh, menepis tangannya dari Gerry "Maafkan aku Gerry! Namun aku tidak pantas untuk mu, aku ini hanyalah janda. Dan kau tahu itu,"


"Siapa yang berhak memutuskan yang pantas di hati ku Ara? Aku mencintai mu dan aku tidak perduli dengan masa lalu mu, aku hanya ingin kita memiliki masa depan bersama. Aku tidak perduli bagaimana kisah masa lalu mu dulu, dan biarkan itu tetap menjadi masa lalu mu. Aku menerima semuanya,"


Ara terdiam, matanya berkaca-kaca. Apakah ucapan Gerry itu benar? Namun terlihat ketulusan di mata Gerry


Gerry memegang tangannya dengan lembut "Mau kah kau menikah dengan ku?"


"Aku akan berusaha membahagiakan kamu, mungkin aku tidak sekaya dan memiliki fasilitasi yang mahal. Namun apapun akan aku lakukan demi kebahagiaan mu,"


Ara merasa terharu, apakah Gerry melamarnya? Ara masih diam tanpa bergeming dan mengatakan apapun "Mau kah kau menjadi istri ku?"

__ADS_1


"Apakah aku bermimpi?"


"Aw!" Ara meringis kesakitan saat Gerry mencubit tangannya "Kamu tidak bermimpi, ini nyata!" Ara membalas Gerry dengan pukulan


"Iya enggak usah di cubit juga dong, sakit tau!" Ara memonyongkan mulutnya, membuat Gerry merasa gemas. Namun lelaki itu masih membutuhkan jawaban "Kau belum menjawab ku!"


"Menjawab apa?" Tanyanya grogi, Gerry menghela nafas dengan kasar "Mau menjadi istri ku?"


"Ak-aku butuh waktu!"


"Kenapa? Apa kamu tidak mencintai ku?"


Terlihat wajah sedih Gerry saat mengatakan itu, semenjak mama dan papanya meninggal. Gerry merasa kesepian dan tidak ada yang benar mencintainya. Namun Ara masih trauma, dengan yang namanya pernikahan "Ak-aku masih butuh waktu untuk ini semua. Bukan karena aku tidak mencintai mu, namun aku harus bisa memikirkannya dengan matang. Dengarkan aku Gerry! Aku pernah gagal dalam berumah tangga dan aku takut,"


Gerry tersenyum memegang tangan Ara dengan lembut "Aku sangat mengerti, dan aku akan menunggu hingga kau bisa menerima ku,"


"Terimakasih!"


Ara dan Gerry saling memandang satu sama lain dengan tersenyum penuh cinta. Keduanya pun melanjutkan tugas mereka.


*************


Bunga dan Salvira memutuskan untuk berbelanja keperluan baby-nya Bunga "Sayang, kita akan membeli semua keperluannya dari sekarang!"


Namun Bunga seakan kehilangan selera untuk berbelanja "Mami, apa tidak terlalu cepat?"


"Kenapa sayang? Apakah kamu tidak ingin?" Bunga menggeleng dengan cepat, ia bukannya tidak ingin namun moodnya hari ini sangat buruk. "Apakah tidak besok saja mi?"


"Sayang, baik lah jika kamu tidak mau sekarang. Mami tidak akan memaksa kamu, tapi kamu jangan sampai sedih lagi ya?"


Bunga mengangguk, namun tiba-tiba saja ia berubah pikiran "Mami, Bunga mau sekarang,"


Salvira bingung dengan sikap anaknya itu, namun ia mencoba memahami mungkin karena bawaan hami hingga membuat anaknya seperti itu.


"Kamu siap-siap saja, mami akan menunggu di bawah!"


Laras menatap menantunya, ia mengatakan jika pamali jika membeli peralatan bayi sebelum memasuki usia tujuh bulan


"Sayang, usia kandungan kamu baru memasuki empat bulan. Pamali menurut orang tua, sebaiknya nanti aja beberapa bulan ke depan,"


Bunga diam, namun satu sisi ia tidak enak dengan maminya yang sudah menunggu di bawah "Mama enggak usah khawatir ya? Itu hanya sebuah mitos semata saja. Lebih baik kita sekarang pergi, mama juga pasti bosan jika berada di rumah saja,"


"Kalau begitu, kamu saja dengan mami mu ya sayang? Mama tidak bisa ikut, mama masih ingin membayangkan papa mu sekarang,"


Bunga menatap ibu mertuanya dengan mata yang berkaca-kaca, hatinya sangat sedih melihat perubahan ibu mertuanya sekarang. Namun Bunga juga tidak mau memaksakan kehendak yang akan membuat ibu mertuanya merasa tertekan lagi


"Ya sudah kalau mama maunya begitu, mama jaga diri baik-baik ya di rumah? Bunga dan mami akan segera kembali,"


Laras mengangguk, membuat Bunga sedikit tenang membiarkan ibu mertuanya di rumah. Lagipula, ada pelayan yang akan menjaga ibu mertuanya itu.


Bunga segera bersiap-siap memakai baju baby doll yang sangat pas di tubuhnya. Terlihat tubuhnya semakin cantik, dengan polesan di wajah yang tidak terlalu menor. Rambut di Cepol dengan asal. Kehamilannya ini membuat dirinya malas untuk berdandan, ia pun segera turun menemui maminya.


Walau Bunga berpenampilan sangat sederhana, namun wajahnya semakin terlihat bersinar. Dengan tubuh yang begitu seksi, membuat siapapun melihatnya akan jatuh cinta "Sayang, kamu cantik sekali!"


Bunga tersenyum, karena maminya selalu memuji ia sejak dirinya masih kecil. Dan memang benar, Bunga begitu cantik layaknya bidadari


Bukan hanya cantik parasnya, namun hatinya juga sangat cantik dan polos, bahkan ia tidak pernah berpikir untuk menjahati orang lain, dan selalu memaafkan orang-orang yang menyakitinya sebelum orang itu meminta maaf sekali pun.


"Ayo mami!"


Salvira menatap atas "Sayang, kamu tidak mengajak ibu mertua mu?"


"Bunga sudah mengajak mi, tapi mama enggak mau. Mama masih ingin menenangkan pikirannya,"


Salvira pun memahaminya, karena memang tidak mudah di posisi Laras sekarang. Salvira dan Laras mungkin sama-sama pernah kehilangan suami, namun takdir mereka sangat jauh.


Salvira memiliki anak yang sebaik Bunga, sedangkan Laras memiliki anak yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak memikirkan perasaan orang tuanya dan selalu saja melakukan apa yang ia pikir benar tanpa menjaga perasaan kedua orang tuanya sekali pun.


Tidak perduli, apakah kedua orang tuanya bahagia atau tidak, bahkan mati atau hidup Jasson tidak perduli, yang ia perduli kan hanyalah kesenangannya sendiri.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat Laras semakin merasa depresi "Saat papi kamu meninggal, mami punya kamu. Kamu kekuatan mami, dan mami harus bertahan untuk kamu. Sedangkan mertua mu, bahkan di saat seperti ini anaknya tidak perduli,"


"Mami, sudah lah! Jangan membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Dan jangan pernah menyamakan sifat seorang. Lagipula, Bunga juga tidak sebaik yang di pikir semuanya. Bunga hanya lah manusia bisa yang tak luput dari kesalahan mami!"


"Iya sayang! Mami mengerti, sudah lah! Ayo kita berangkat sekarang!"


Keduanya pun berangkat pergi ke toko baby, sesampai di sana. Baik Bunga mau pun Salvira sangat antusias memilih untuk anak yang ada di kandungan Bunga.


Bunga melirik ke arah sepasang suami yang ada didepannya, keduanya sangat harmonis. Dikehamilan istrinya yang sudah besar, suaminya bahkan tidak segan-segan menggendong istrinya di depan banyak orang.


"Sayang, ini sangat bagus!"


"Iya sayang, tapi bulan depan kita beli ya? Uang mas belum cukup membeli itu, atau nanti mas akan mencari pekerjaan tambahan agar mas bisa membelikan barang itu ya? Kamu sabar ya sayang?"


Terlihat sepasang suami itu sedang berbincang, dan Bunga tahu jika keduanya sedang mengalami kesulitan keuangan. Namun tidak membuat istri atau suaminya itu bertengkar, keduanya semakin mesra. Membuat Bunga merasa iri


Mengapa dia tidak seberuntung itu? Andai saja ia memiliki suami yang benar-benar perduli dengannya, bahkan Jasson Tidak pernah memperdulikannya semenjak mereka menikah.


Bunga pun menghampiri pasangan suami istri itu, ia melihat barang yang diincar oleh pasangan itu, harganya di bandrol dengan dua juta rupiah. Menurut Bunga, itu harga yang biasa saja, namun bagi pasangan itu sangat mahal


"Maaf, apakah kalian ingin membeli ini?"


"Tidak nona! Jika anda ingin membeli, anda bisa mengambilnya. Kami bisa membeli ini lain kali," sambung suaminya. Penjaga itu mendekat dan mengatakan jika itu barang limited edition dan hanya tersisa satu saja. Setelah itu tidak akan ready lagi, terlihat wajah sedih dari pasangan suami istri itu..


"Mbak, bungkus saja ini ya! Nanti masuk ke hitungan saya saja, berikan ini kepada mbak dan mas ini!"


"Baik nona!" Penjaga toko itu langsung membungkusnya untuk pasangan suami istri itu "T-tapi nona? Apakah anda yakin. Kita tidak kenal dan pertemuan kita juga baru ini, mengapa anda membelikannya untuk kami?"


Bunga tersenyum kepada pasangan suami istri itu "Tidak apa-apa, kalian menyukainya. Dan anak ini pasti menyukainya, saya doakan ibu dan anaknya sehat selalu ya?" Bunga mengelus perut buncit wanita itu. Pasangan suami istri itu pun menangis, mengucapkan terimakasih berulangkali kepada Bunga


"Sayang, kamu dari mana saja? Mami mencari kamu,"


Salvira menghampiri anaknya, dan melihat anaknya berbincang dengan pasangan suami istri itu "Sayang, ayo!"


Salvira mengajak anaknya untuk mencari barang lagi "Nona, sekali lagi terimakasih banyak. Anda sangat baik, dan semoga anda akan selalu diberikan kebahagiaan, orang baik seperti anda pantas untuk bahagia,"


Bunga tersenyum dan tersentuh dengan doa yang diberikan oleh pasangan suami istri itu, Bunga pun berpamitan kepada mereka.


Dan berjalan bersama maminya menjauh dari pasangan muda itu


"Sayang, mereka siapa?" Bunga menggeleng dan mengatakan tidak kenal "Bunga enggak kenal mi, tadi Bunga mendengar mereka ingin membeli barang yang ada di toko ini. Namun suaminya mengatakan jika mereka akan membeli bulan depan, barang itu limited edition. Dan tidak akan keluar lagi, jadi Bunga memberikannya untuk mereka. Kasihan anaknya, jika nanti ngiler karena enggak kesampaian keinginan mamanya,"


Salvira sangat bangga dengan anaknya yang begitu baik dan berhati dermawan "Sayang, mami sangat bangga sekali dengan kamu. Kamu memikirkan orang-orang di sekitar kamu, dan walau tidak kenal kamu mau membelikan mereka barang yang mami yakin tidak murah harganya,"


"Mami, Bunga hanya ingin bermanfaat untuk orang-orang sekitar Bunga. Untuk apa Bunga di sini, jika Bunga mematung saat melihat orang lain kesusahan, mami Bunga percaya harta yang kita miliki saat ini, sebagian juga milik orang-orang yang tidak mampu,"


"Iya sayang, kamu benar. Dan semua ini hanya titipan, kita hanya perantara yang Tuhan tunjuk untuk membantu orang lain,"


Bunga tersenyum, bukan hanya membantu pasangan itu saja. Namun Bunga dan maminya sering memberikan bantuan kepada anak-anak yang hidup di jalanan, anak-anak panti asuhan, dan juga orang tua yang tinggal di panti jompo.


Setiap harinya, mereka selalu memberikan makan kepada seribu anak-anak jalanan dan anak yatim piatu. Bahkan mereka juga memiliki rumah singgah, di mana orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal bebas tinggal di sana dengan fasilitas yang sangat berkecukupan.


Karena kebaikan dan kebijaksanaan mereka, Tuhan terus melipat gandakan harta mereka. Tidak rugi bersedekah, karena Tuhan menggantinya dengan berkali-kali lipat lebih besar dari apa yang sudah mereka berikan.


Salvira dan Bunga juga memiliki yayasan yang membantu mereka menyalurkan semua bantuan itu. Bunga dan maminya percaya, jika berbuat kebaikan tidak akan pernah rugi atau membuat orang merasa miskin.


Keduanya kembali memilih dan membeli banyak barang-barang untuk anak Bunga yang akan lahir nanti "Mami sepertinya ini sudah banyak dan cukup, lain kali saja kita berbelanja lagi. Bunga sudah lelah mami,"


"Baik lah sayang! Kita akan pulang sekarang! Mami juga tidak mau anak mami merasa lelah karena ini yang akan membuat kamu nantinya menjadi sakit,"


Bunga mengangguk, keduanya pun membayar semua belanjaan mereka. Tidak lupa, Bunga membayar tagihan yang dibeli oleh pasangan muda tadi.


Total belanjaan mereka semua senilai dua puluh juta, Bunga tidak terkejut dengan itu semua karena sejak kecil ia sudah terbiasa dengan semua itu. Namun tidak membuatnya menjadi sombong dan angkuh, dia semakin sering membantu orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Sayang, ini belum lengkap. Kita akan membelinya lagi bulan depan, mami ingin cucu mami mendapatkan perlengkapan yang terbaik. Ini cucu pertama mami! Dan mami tidak mau kamu menolak lagi,"


"Iya mami ku sayang!"


Keduanya pun berjalan menuju mobil, sedangkan belanjaan mereka di bawa oleh supir dan beberapa karyawan yang ada di toko. Salvira juga memberikan tips kepada semua karyawan yang bekerja sebagai bentuk ucapan terimakasihnya karena sudah membantu mereka membawakan barang belanjaan.

__ADS_1


__ADS_2