Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 75


__ADS_3

"Pa, maafin mama atas semua kesalahan mama! Mama bersalah karena sudah menutupi keburukan anak kita, tapi sungguh mama juga tidak ingin ini terjadi. Namun apa yang bisa mama lakukan? Tiba-tiba saja Jasson sudah menikah dengan wanita itu, dan wanita itu sudah mengandung anak Jasson. Cucunya kita, pa! Mama tahu jika Jasson bersalah. Namun anak itu tidak bersalah, dia tidak tahu apapun. Kedua orang tuanya lah yang berdosa, buka anak itu!"


David tahu, jika memang anak yang di kandung oleh Ade tidak berdosa namun sulit baginya untuk menerima semua itu.


"Sudah lah, papa enggak mau membahas ini lagi! Biarkan Jasson menyelesaikan masalahnya sendiri! Papa lelah jika harus memikirkan dirinya saja!"


Laras tidak menjawab apapun, memang anaknya yang bersalah. Dan ia tidak bisa membela anaknya.


*******


Bunga masih merenung, ia meminta kepada Ara agar dirinya ikut ke kantor. Namun Ara menolak "Tidak Bunga! Saat ini kau sedang hamil muda dan aku tidak mau kau terlalu lelah! Lebih baik kamu istirahat saja di rumah,"


Bunga pun menurut, karena maminya sudah berpesan agar Bunga menuruti segala ucapan sahabatnya itu "Baik lah, namun aku merasa bosan. Dan Ara, bisa kah kau membantu ku mengingat segalanya?"


Bukannya Ara tidak mau, namun dokter berpesan jika wanita itu tidak boleh terlalu keras memikirkan hal yang lain. Jika mereka memaksa Bunga untuk mengingat segalanya itu bisa berpengaruh fatal untuk Bunga sendiri "Bunga sudah lah! Bukannya aku tidak mau membantu mu, namun aku tidak mau kamu merasa sakit karena memaksakan ingatan itu. Lebih baik kamu bersantai saja ya? Jangan memikirkan hal yang yang lain oke?"


Bunga pun mengangguk, ia menuruti semua permintaan Ara. Baginya Ara yang bisa memahami dirinya


Tok..! Tok...!


Pintu kamar Bunga berbunyi, seseorang pun masuk ke dalam kamarnya itu adalah ibu mertuanya Bunga


"Ada apa ma?" Jawabnya dengan ketus, Laras melirik ke ara, dan wanita itu yakini jika Laras tidak nyaman dengan kehadirannya "Bunga ada yang ingin aku ambil di kamar, aku pergi dulu!"


Bunga pun mengiyakan, setelah Ara pergi. Laras mendekati menantunya "Sayang, mama tahu jika mam sangat bersalah kepada kamu. Mama menutupi segala perbuatan dan kesalahan anak mama. Tapi nak, saat ini kamu sedang mengandung dan anak kamu membutuhkan ayahnya,"


"Anak ini enggak butuh papanya kok, ma! Bunga akan menjaga dan merawatnya dengan baik. Mama jangan khawatir jika mengenai cucu mama,"


"Nak mama tahu, jika kamu bisa memberikan fasilitas yang layak untuk anak kamu. Mungkin Jasson tidak akan mampu, tapi kamu juga harus ingat nak! Anak itu tidak hanya butuh materi saja, namun ia juga membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Bukan hanya dari ibunya!"


"Ma, yang wanita punya adalah harga dirinya.. Dan saat ini, yang Bunga pertahanan hanya harga diri Bunga! Mama jangan khawatir masalah anak ini, Bunga akan memberikan yang terbaik untuk dia! Dan mengenai kasih sayang, Jasson bisa berkunjung dan menemui anaknya sebebas yang ia mau. Bunga tidak akan melarang, lagipula ada mama di sini,"


"Sayang, mama tahu itu. Namun agama kita juga melarang wanita hamil itu bercerai atau di ceraikan,"


"Iya ma, Bunga tahu itu. Mama jangan khawatir! Bunga menahan segalanya, Bunga akan bercerai dengan Jasson setelah anak ini lahir ma!"


"Dan sekarang, Jasson akan kembali ke sini?" Laras tersenyum senang. Bunga menatap ibu mertuanya dengan serius "Mama salah sangka! Menunda perceraian bukan berarti Jasson akan kembali ke rumah ini! Kami akan tetap pisah rumah sampai anak ini lahir dan kami berpisah. Bunga tidak mau satu atap lagi dengan Jasson!"


"Tapi nak?"


"Ma tolong lah! Bunga sudah begitu sakit dengan perbuatan Jasson juga mama. Jangan lagi mama memaksa Bunga untuk memaafkan anak mama! Dan mama juga harus tahu jika Bunga masih sangat kecewa dengan mama! Hati Bunga masih sangat sakit, dan mama berharap Bunga akan mendengarkan segala permintaan mama? Maaf ma! Bunga enggak bisa!"


Laras terdiam, ia tidak bisa lagi mengatakan apapun kepada menantunya "Iya nak, mama memang bersalah dan mama tidak pantas mengatakan apapun lagi dengan kamu, maafkan mama. Hanya itu yang bisa mama lakukan, mama hanya bisa meminta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu!"


Bunga pun diam, tidak menjawab ucapan ibu mertuanya. Ia tidak membenci Laras, namun hatinya masih terlanjur sakit dengan semua kebohongan yang di lakukan oleh mertua dan suaminya.


"Bunga sangat menyayangi mama, semoga saja hati Bunga begitu lapang dan memaafkan segala perbuatan mama perbuat dengan Bunga. Maafin Bunga ma, kalau Bunga berbicara kasar dan mungkin menyakiti hati mama. Bunga enggak bermaksud begitu, namun Bunga tidak bisa membohongi hati Bunga kalau Bunga merasa kecewa dengan semua tindakan mama yang bungkam dengan semua ini,"


Bunga pun meminta maaf kepada ibu mertuanya jika ucapannya mungkin akan menyakiti hati Laras namun Bunga juga tidak bisa membohongi diri sendiri jika dirinya merasa kecewa


Laras pun mengelus rambut menantunya "Mama mengerti dengan apa yang kamu rasakan nak, mama juga tidak merasa sakit hati. Karena ini semua mama yang salah!"

__ADS_1


*******


Ade dan Jasson menaiki taksi menuju rumah Ade, ia pun mengetuk pintu.


Ratu membuka pintu, melihat kakaknya membawa koper besar "Kalian? Kenapa membawa koper? Seperti ingin tinggal di sini saja!"


Terlihat Ratu yang sudah berdandan cantik, ia akan melakukan pemotretan sebentar lagi


"Kakak dan suami kakak akan tinggal di sini," ucapan Ade berhasil membuat ratu terbelalak, ia heran sekaligus terkejut "Kenapa? Memangnya kenapa di rumah kak Jasson? Kenapa harus di sini?"


Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut ratu "Ratu, sudah lah! Ini juga rumah ku dan terserah aku ingin tinggal di mana. Kenapa kau banyak sekali memberikan pertanyaan kepada kami seperti wartawan,"


"Santai aja kak! Aku kan bertanya! Enggak lucu soalnya suami numpang di rumah istri!"


Ucapan Ratu berhasil membuat Jasson merasa tersindir, ia pun hanya menunduk malu. Jasson berlalu pergi menjauh dari Ade, Ade pun mengejar suaminya


"Dasar lelaki banyak drama! Padahal yang aku katakan memang benar!" Ratu menggeleng heran, mengapa Jasson marah padahal yang ia katakan memang benar!


"Jasson, kau mau kemana?" Ade memanggilnya, Jasson pun mengatakan jika ia tidak akan tinggal lagi di rumah itu "Tidak Ade! Apa yang adik mu katakan itu sungguh membuat aku merasa malu. Seharusnya istri yang ikut suami bukan sebaliknya!"


Ade mencoba menjelaskan kepada Jasson "Sudah lah! Mengapa kau memikirkan atau mendengarkan ucapan ratu? Dia itu masih kecil, tidak tahu apapun! Lagipula, aku yang membeli rumah ini. Kau jangan seperti anak kecil Jasson! Jika kita tidak tinggal di sini, kau mau kemana lagi? Bahkan kedua orang tua mu saja menumpang di rumah Bunga!"


"Aku masih punya rumah, tapi memang sangat kecil tapi kita lebih baik ke sana! Kita tinggal di sana,"


Ade pun mengalah "Baik lah! Ayo ke sana tapi jika aku tidak nyaman. Jangan paksa aku di sana, kita akan kembali rumah ku bagaimana?"


Jasson pun setuju, kini mereka kembali membawa koper untuk menuju rumah lama kedua orang tua Jasson.


Ade pun memesan taksi online, lebih baik dia mengalah. Namun jika dia tidak nyaman, dia akan meminta suaminya untuk tinggal di rumahnya saja. Ade tidak takut jika adiknya sudah pergi karena ia juga memiliki kunci cadangan.


Mereka pun naik ke dalam taksi, Ade hanya diam begitu kesal di dalam taksi. Jasson hanya membuang-buang uang saja, menggunakan taksi juga tidak murah.


Taksi pun sampai di alamat tujuan yang diberikan, Ade menelan Slavina-nya dengan kasar "Rumah apa ini Jasson?"


"Ayo turun!"


Jasson mengajak istrinya untuk turun namun wanita itu menolak. Sungguh, rumahnya jauh lebih layak daripada rumah kedua orang tua Jasson.


Ade tahu jika dahulu Jasson tidak susah seperti itu, rumah mewah yang selama ini mereka tempati sudah digantikan oleh rumah yang hanya sepetak


"Ayo turun sayang!"


"Enggak! Aku enggak mau! Udah Jasson kita tinggal di rumah ku saja! Kau tahu aku tidak akan nyaman tinggal di tempat kumuh seperti ini!"


"Kumuh kata mu? Orang tua ku membelinya dari hasil jual rumah kami, dan ini masih cukup layak! Mengapa aku mengatakan seperti itu?"


Ade menggeleng, ia bahkan tidak sudi menginjak rumah itu "Terserah apa katamu Jasson! Namun yang pasti aku tidak ingin tinggal di tempat kumuh seperti ini! Aku tidak mau!"


Jasson pun bingung dengan sikap Ade yang begitu manja "Mengapa kamu manja seperti ini Ade?"


"Manja kata mu? Hey, aku walau pun tidak memiliki kedua orang tua namun aku berusaha dan memiliki rumah yang layak. Aku tidak pernah hidup susah, dan sekarang saat menikah kau meminta ku hidup susah begini? Tidak Jasson! Aku tidak mau!"

__ADS_1


"Nona, kita sudah sampai. Saya harus menerima orderan lain!"


Supir melerai pertengkaran mereka, Ade terpaksa turun dari taksi dan membayar sejumlah uang yang tertera di aplikasi


Setelah mereka membayar, taksi itu pun pergi "Kita enggak punya pilihan lain! Kita harus tinggal di sini, jika kita kembali. Akan membuang-buang ongkos! Mengertilah sayang! Saat ini aku tidak memiliki uang,"


"Iya emang! Dan sedari tadi aku yang membayar ongkosnya! Sudah lah Jasson, aku tidak ingin berdebat dengan mu intinya aku tidak ingin kita tinggal di sini!"


"Apakah rumah ini terlalu buruk untuk mu?"


"Iya Jasson! Sangat buruk! Kau lihat, ini begitu kecil. Dibandingkan dengan rumah ku tiga kali lipat besar rumah ku! Dan kau meminta aku tinggal di rumah seperti ini? Kau gila Jasson! Aku tidak bisa!"


"Bunga yang tinggal di mansion mewah dan megah saja tidak sombong seperti mu!"


Ade semakin emosi karena suaminya membandingkan ia dengan madunya itu "Itu karena dia terlalu naif! Terlalu sok suci, dan jangan kau sama kan aku dengan dia! Dia itu wanita manja, hidup mewah karena harta maminya. Sedangkan aku? Aku berjuang sendiri untuk memenuhi hidup ku dan adik ku agar layak dan berkecukupan. Dan saat aku menikah, kau meminta ku untuk hidup susah? Haha tidak Jasson! Aku realistis sedangkan istri pertama mu terlalu naif!"


Jason dan Ade kembali bertengkar hebat "Terserah kau saja. Kau ingin tinggal di sini, ya sudah! Kau di sini lah! Tapi aku tidak akan tinggal di rumah seperti ini! Aku akan pulang!"


Ade pun memesan taksi online kembali, saat ia ingin pergi perutnya terasa sangat sakit "Sayang kamu kenapa?" Walau saat ini Jasson begitu emosi, namun rasa khawatir dan perhatiannya kepada Ade tidak berubah.


"Lepasin!" Ade menepis tangan Jasson "Jangan sok perhatian sama aku! Udah kamu di sini aja, aku bisa sendiri!"


"Maafin aku sayang! Baik lah, aku akan menurunkan segala ego ku, kita akan tinggal di rumah kamu!"


Ade tersenyum mendengar ucapan suaminya, ia langsung memeluk Jasson "Terimakasih banyak sayang! Aku mencintai mu!"


Jasson membalas pelukan Ade, namun tiba-tiba saja ia memikirkan tentang Bunga. Mengapa dirinya merasa begitu bersalah dengan Bunga? Seharusnya ia bisa bersikap santai saja.


Jasson tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, namun bagaimana pun ia harus menerima segalanya.


Memang benar Bunga dan Ade adalah wanita yang berbeda, sifat mereka juga sangat berbeda namun tidak seharusnya Jasson membanding-bandingkan di antara keduanya bukan?


Seharusnya sebagai suami, Jasson bisa menghargai istrinya!


Keduanya pun kembali ke rumah Ade, namun kali ini. Ratu sudah tidak ada di rumah, Jasson melihat rumah Ade yang begitu mewah dan tersusun rapih.


Walau memang tidak semewah rumah Bunga, namun jauh lebih layak daripada rumah dirinya


"Aku sungguh lelaki bodoh! Bahkan membelikan rumah yang layak untuk kedua orang tua ku saja aku tidak mampu. Seharusnya aku belajar dari Ade, ia bisa mandiri. Sebagai wanita, ia bisa bangkit bahkan membiayai kehidupan adiknya," batin Jasson.


Ia pun akan mencari pekerjaan agar bisa menafkahi istri dan anaknya dengan baik


"Jasson, ini kamar kita. Mungkin tidak sebesar kamar di rumah Bunga namun juga tidak sekecil kamar di rumah orang tua mu!"


Jasson merasa tersindir dengan ucapan Ade "Iya rumah kedua orang tua ku tidak sebesar ini. Namun sangat nyaman kok!"


"Jasson, sudah lah sayang! Aku juga tahu jika kau tidak nyaman di rumah kecil itu, rumah lama mu begitu besar dan luas seperti istana!"


"Tidak sayang, itu sudah berlalu. Karena keluarga ku sudah bangkrut, jadi aku harus bisa menerima segalanya. Semuanya sudah berubah, namun aku janji akan merubah semuanya. Aku akan memperbaiki segalanya, dan aku akan membelikan rumah untuk kedua orang tua ku jauh lebih layak!"


Jasson memikirkan kedua orang tuanya, apakah Bunga juga mengusir mama dan papanya? Jika ia, mereka akan kembali ke rumah kecil seperti itu sedangkan Jasson masih layak tinggal di rumah Ade

__ADS_1


"Sayang, apakah mama dan papa ku bisa tinggal di sini?"


"Enggak! Apa kamu mengira aku akan membiarkan mereka tinggal di rumah ku? Setelah mereka menghina aku? Enak saja! Jika mereka juga di usir oleh Bunga, ya biarkan saja! Urusan mereka tinggal di rumah kecil itu, rumah ku bukan panti jompo!"


__ADS_2