Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 45


__ADS_3

Jasson tak menyangka jika Ara begitu galak, bahkan wanita itu berkacak pinggang "Kau jangan pernah lagi menyakiti Bunga ku! Dan ingat, saat ini Bunga hanya mengetahui dan mengingat jika kau suami yang baik. Jadi bersikap lah seperti itu! Aku akan berusaha menutupi segala keburukan mu dan juga ibu mu. Namun jika sekali saja aku tahu, kau membodohi atau menyakiti sahabatku, akan ku pastikan kau dan ibu mu hancur! Jangan menganggap aku lemah, Jasson! Aku sudah menjadi wanita pemberani untuk menghadapi bajingan seperti mu!"


Jasson terdiam, ia langsung pergi meninggalkan Ara seorang diri. Jasson tak menyangka jika wanita payah seperti Ara akan menjadi wanita yang begitu galak. Bahkan, junior kesayangannya menjadi korban dari galaknya Ara!"


Ara juga kembali ke bawah berkumpul dengan orang-orang. Gerry memandangi wanita itu saat ia menuruni anak tangga satu persatu, pria itu berharap jika Ara tidak melakukan sesuatu yang akan merusak semuanya.


Ara mendekati Gerry dan berbisik di kuping pria itu."Kau jangan khawatir! Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak, jangan mengira aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentang ku!"


Gerry tak menjawab, pandangannya fokus ke depan. Lalu ia berpamitan untuk kembali kepada maminya Bunga "Nyonya, saya permisi pulang terlebih dahulu! Semoga nona Bunga segera pulih!"


"Terimakasih ya nak Gerry, tidak perlu panggil saya nyonya. Panggil saja mami, mami lihat kamu dan Ara sangat cocok," Salvira bergurau namun Ara yang terlihat malu pun membantah "Mami apaan sih! Enggak gitu mami!"


Salvira mengekeh, menggeleng kan kepalanya "Lihat wajah kamu seperti kerang rebus,"


Ara semakin malu, namun ia tak bisa berbuat apapun. Salang tingkah akan membuat dirinya semakin merasa terhina.


Gerry pun pergi, meninggalkan semua orang yang ada di sana. Ara menatap kepergian Gerry, ia cemberut saat Gerry tak mengatakan apapun kepadanya.


"Menyebalkan sekali, mengapa dia tidak berpamitan kepada ku? Memang iya sih, aku bukan siapa-siapanya namun setidaknya kan ia harus berpamitan!" Ara mendumel dalam hati, lalu dirinya terdiam saat Gerry berbalik dan berjalan ke arahnya "Nona, saya pulang dulu!"


Gerry tersenyum tipis menatap Ara, membuat jantung wanita itu bedegup kencang. Pipinya merah merona


"Apa? Aku tidak bermimpi? Gerry berpamitan kepadaku?" Ara salah tingkah, mencubit dirinya sendiri lalu meringis kesakitan.


Gerry hanya tersenyum, dan kembali berlalu pergi meninggalkan Ara dan yang lainnya.

__ADS_1


Ara pun senyum-senyum tak karuan namun saat melihat Laras wajah Ara kembali berubah, suasana hatinya menjadi gerah.


Ara yang malas pun memilih untuk pergi istirahat di kamarnya "Daripada aku naik tensi, lebih baik aku di kamar saja!" Gumamnya kembali


Ara pun menaiki anak tangga satu persatu, menuju kamarnya. Namun di salah satu anak tangga ia berpas-pasan dengan Jasson. Ara menatap suami sahabatnya dengan jengah


"Huft! Di bawah menghindari emaknya. Malah ketemu sama anaknya, ibu dan anak sama aja! Membuat ku ingin muntah!"


Ara mengatakan itu dengan ketus, namun Jasson tak berani menjawab perkataan Ara. Ia takut, jika wanita itu melakukan hal yang buruk lagi kepadanya. Lebih baik ia mengalah dan berlari menuruni anak tangga


"Sungguh Bunga, mengapa kau sangat tahan menghadapi suami dan mertua yang begitu menyebalkan! Untung saja,ayah mertua mu sangat baik. Tidak seperti Ibu mertua mu!"


Ara melihat sahabatnya yang melamun, ia mengetuk pintu kamar Bunga.


Saat Bunga menoleh dan mempersilahkannya untuk masuk, baru lah Ara masuk. Walau Ara dan Bunga begitu dekat, namun Ara masih memiliki etika saat di rumah orang lain


"Kamu lagi apa? Kenapa melamun?"


Bunga menggeleng "Aku sangat bingung, bingung dengan diri ku!"


"Sudah jangan bingung! Walau kamu enggak ingat sama masa lalu kamu, kamu harus fokus dengan kehidupan di masa sekarang! Jangan memikirkan hal yang membuat mu merasa pusing!"


"Namun, aku ingin mengingat semua kenangan aku! Ara, kamu sahabat aku kan? Pasti kamu tahu bagaimana perjalanan hidup aku, tolong beritahu aku. Dan di mana papa ku? Mengapa hanya ada mami, dan kedua mertua ku? Juga kerabat-kerabat yang lainnya, namun di mana papa ku?"


Ara terdiam sejenak, apakah ia harus memberitahu Bunga tentang papanya yang sudah lama tiada? Dan bagaimana jika Bunga bertanya penyebab kematian papanya. Apa yang harus ia jawab? Ara takut jika kebenaran akan membuat hati Bunga hancur, dokter sudah memberitahu agar Bunga tidak terlalu memaksakan ingatannya.

__ADS_1


"Ayo katakan Ara!"


"Papa mu sudah tiada beberapa tahun yang lalu, sudah lah Bunga! Aku tidak ingin kepalamu menjadi sakit! Lebih kamu istirahat!"


"Sayang?" Terdengar suara Jasson yang memanggil Bunga, Jasson merasa tidak nyaman jika ada Ara. Ia takut jika Ara akan memberitahu semuanya kepada Bunga.


"Tadi aku mengambil minum untuk mu, dan Ara terimakasih ya karena sudah menemani Bunga. Sebaiknya kamu istirahat, kamu pasti lelah!" Ara menatap Jasson dengan jengah, dia lelah melihat sandiwara Jasson yang tiada hentinya


"Bunga, aku istirahat dulu ya? Kamu jangan lupa istirahat, dan jangan memikirkan hal-hal aneh yang akan menganggu kesehatan kamu. Jika kamu santai, aku yakin ingatan mu akan kembali pulih, intinya jangan memaksakannya!"


Setelah mengatakan itu, Ara langsung pergi meninggalkan Jasson dan Bunga


"Sayang, apa yang Ara katakan? Apakah dia mengatakan sesuatu?" Jasson terlihat cemas, Bunga mengangguk "Iya, Ara mengatakan sesuatu yang seharusnya aku tanyakan sejak awal"


Jasson bercucuran keringat di dahinya, apakah Ara telah memberitahu semua kelakuan Jasson? Jika memang benar, tamat lah riwayat Jasson dan mamanya.


"Ara mengatakan jika papi telah tiada sejak beberapa tahun lalu. Aku sangat bingung Jasson, aku melihat semua orang namun tidak melihat papa ku. Dan sekarang, aku sudah menemukan jawabannya."


Jasson menghela nafas dengan lega, ia memeluk Bunga "Sudah lah! Jangan kamu pikirkan hal itu, papi sudah tenang di sana. Sebaiknya kita mendoakan saja untuk ketenangan dan kedamaian papi di sana."


"Aku ingin ziarah ke makam papi, Jasson!"


"Baik lah, kita akan pergi berziarah namun tidak sekarang, Kita akan pergi besok! Sekarang kau harus istirahat, mami juga akan marah kepada ku jika aku membawa mu di saat kau lemah seperti ini. Aku mohon mengerti lah!"


Bunga mengangguk menuruti ucapan suaminya, namun ia berharap jika Jasson tidak akan melanggar janjinya.

__ADS_1


"Aku akan tidur sekarang, tapi besok kita harus pergi berziarah! Tolong jangan menolak lagi, aku ingin mengenal papi ku. Saat ini aku tidak mengingat apapun, dan aku ingin mengingat semuanya!"


__ADS_2