
"Sayang, kamu jangan sedih lagi ya? Kamu tahu jika Justin itu masih sangat kecil, sulit baginya untuk menerima semuanya namun aku yakin jika nantinya Justin akan mengerti,"
Ara masih senggugukan di pelukan suaminya "Bagaimana jika Justin tidak mau menerima adiknya?" Ia mendongakkan wajahnya keatas menatap sang suami dengan nada yang berat. Gerry tersenyum kepada istrinya "Sayang, kamu jangan khawatir! Kamu harus percaya jika anak kita akan menerima adiknya nanti. Ini hanya butuh waktu, dan Justin akan mengerti semuanya. Bunga dan mami tidak akan tinggal diam, mereka pasti akan memberikan pengertian kepada anak kita,"
"Sayang, aku sangat berharap itu semua terjadi. Kamu lihat bagaimana tadi Justin marahnya dengan aku, dia pergi berlari begitu saja dari rumah,"
Hust!
Gerry menutup mulut istrinya dengan lembut "Sayang jangan mengatakan hal itu lagi, kamu harus percaya sama mami, sama Bunga dan juga aku. Kamu jangan khawatir okey?"
Ara mengangguk, keduanya saling berpelukan lagi dengan erat. Gery mengelus rambut istrinya dengan lembut dan memberikan ketenangan.
*******
__ADS_1
Bunga membaringkan tubuh Justin di tempat tidur "Mommy di sini aja sama Justin!"
Bunga tersenyum, ia pun membaringkan tubuhnya di samping Justin dan memeluk anak sahabatnya itu "Sayang, apakah Justin udah bisa bicara sekarang?"
Justin mengangguk "Hem, mommy boleh bertanya sama Justin?"
"Boleh mom,"
"Bagus sayang ku kamu sangat pintar, tapi apakah Justin akan menjawabnya dengan tenang bisa sayang?"
"Nah, sekarang Justin udah tenang dan mommy udah boleh bertanya sama Justin. Kenapa Justin tidak mau punya adik sayang?"
Justin tidak menjawab, Bunga menatap mata teduh anak itu yang terdapat buliran air mata "Sayang, enggak apa-apa kalau Justin mau meneteskan air mata. Tapi jangan berteriak atau marah-marah ya sayang?" Justin mengangguk, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes juga. Justin tidak bisa menahan kesedihannya "Kalau mami punya baby, nanti mami dan Daddy enggak sayang sama aku,"
__ADS_1
"Kata siapa sayang? Siapa yang mengatakan itu dengan Justin?"
"Kata Justin mami, Justin takut mami dan daddy enggak sayang Justin terus fokus sama baby aja,"
"No sayang! Kamu salah besar, itu enggak seperti yang Justin pikirkan. Iya, mommy akui. Jika Justin memiliki hak atas pemikiran Justin," Bunga membelai rambut Justin dengan lembut, matanya terus menatap anak lelaki itu dengan sangat teduh
"Namun, apa yang kita pikirkan terkadang itu tidak benar sayang. Terkadang, apa yang kita lihat saja belum tentu itu kebenarannya apalagi yang hanya ada dipikiran kita,"
"Tapi mommy, kalau nanti ada baby pasti akan fokus dengan baby,"
"Iya sayang, Mungkin sedikit lebih fokus ke baby, karena baby-nya masih sangat kecil."
"Justin juga masih kecil,"
__ADS_1
Memberikan pengertian kepada anak kecil memang harus memiliki kesabaran yang sangat extra "Iya sayang, Justin masih kecil. Namun nanti asik baby-nya jauh lebih kecil. Justin bisa makan sendiri, baby tidak bisa! Justin bisa berjalan dan minum sendiri baby tidak bisa. Bahkan baby tidak bisa berbicara dan mengatakan apa yang ia ingin kan sepsegi Justin dan kak Jesslyn, jika Justin marah. Justin bisa mengatakannya, Justin sedih juga bisa mengatakannya kepada mami, mommy, Daddy dan Oma, dan jika ada yang sakit Justin juga bisa mengatakannya. Namun baby tidak bisa sayang, sebab itu perhatian ke baby akan jauh lebih fokus namun bukan berarti kami tidak sayang dan melupakan Justin dan kak Jesslyn,"