
Salvira mengakui kesalahannya, tidak seharusnya ia memaksa anaknya atau memberitahu Bunga yang akan membuat anaknya sakit.
Jasson masuk ke dalam kamar mama mertuanya, ia pun langsung menggendong tubuh istrinya yang ringan ke dalam kamar mereka. Salvira, Laras dan juga David pun mengikuti Jasson
"Apa yang terjadi mi?" Jasson bertanya kepada ibu mertuanya "Tadi Bunga datang ke kamar mami, dan dia bertanya mengapa kalian menikah. Mami menjelaskan semuanya, lalu tiba-tiba kepalanya terasa sakit,"
Mendengar hal itu, Jasson terlihat emosi. Rahangnya mengeras, ia pun membaringkan tubuh istrinya di atas kasur
"Mami tahu enggak apa yang mami lakukan ini salah! Lihat akibatnya! Bunga seperti ini!" Untuk pertama kalinya Jasson membentak Salvira
"Jasson! Jaga ucapan kamu dengan ibu mertua kamu!"
"Jasson enggak akan seperti ini, kalau mami enggak seperti ini. Dokter sudah mengatakan kalau kita enggak boleh memaksa Bunga, namun apa yang mami lakukan? Ia memaksa Bunga hingga seperti ini!"
Jasson merasa kesal, Salvira mengakui kesalahannya "Maafkan mami, mami memang bersalah,"
Salvira menangis, Laras menenangkan besannya itu "Tidak! Mbak tidak bersalah di sini, mbak hanya menjawab apa yang di tanyakan oleh Bunga. Dan kamu Jasson, begini cara kamu bicara dengan orang yang lebih tua? Mama tahu kamu khawatir dengan istri mu tapi bukan berarti kamu bisa berbicara kasar kepadanya. Mami Salvira itu adalah ibu mertua kamu, sama seperti mama. Kamu harus menghormati dan menyayangi kami!"
Jasson terdiam, lalu ia sadar. Jasson menoleh ke arah ibu mertuanya "Mi, maafkan Jasson. Sungguh, Jasson merasa panik dengan kondisi Bunga. Ja-jasson tidak bermaksud untuk menyakiti hati mami, sungguh! Maafkan Jasson mi!"
"Tidak nak! Kamu tidak salah, ini bukan lah kesalahan kamu! Jangan menyalahkan diri kamu seperti ini!"
"Jasson sungguh menyesal sekali, Mi!"
Bahkan pria itu berlutut di kaki ibu mertuanya memohon ampun. Karena se-brengseknya Jasson pria itu selalu menghormati orang tua. Entah mengapa ia kehilangan kendali hanya karena masalah sepele
"Sudah, bangkit lah Jasson!"
Salvira meminta menantunya untuk bangkit, ia tahu jika menantunya sangat cemas dengan keadaan anak semata wayangnya itu. Jasson melakukan itu hanya semata-mata karena panik dengan anaknya
"Sekali lagi, maaf kan Jasson mi!"
Pembicaraan terhenti, dan Jasson segera bangkit saat Bunga sudah kembali sadar.
"Bunga, kamu enggak apa-apa nak?"
Semua bertanya dengan sangat panik, wanita itu menggelengkan kepalanya "Apa yang terjadi?"
"Kamu tidak sadarkan diri!"
__ADS_1
"Sudah lah! Kamu tidak perlu memikirkan apapun, sekarang kamu istirahat saja oke?"
Bunga menganggukkan kepalanya, ia merasa kepalanya sangat berat. Salvira, Laras dan David pun keluar dari kamar meninggalkan Jasson dan Bunga berdua
"Kamu enggak apa-apa?"
Jasson duduk di samping Bunga, ia merasa sangat khawatir dengan kondisi Bunga
"Masih sakit kepalanya?"
"Masih,"
Jasson memijit kepala Bunga dengan lembut, Bunga pun merasa lebih ringan saat Jasson memijit kepalanya. Namun keduanya saling bertemu mata dan bertatapan cukup lama.
Jasson tersenyum, mencium kening Bunga dengan lembut dan penuh kasih dan sayang. Lalu, kecupan itu pindah ke bibir merah milik Bunga.
Hanya sebuah kecupan namun berulang-ulang. Keduanya semakin terbawa suasana..
Tangan Jasson pun bergerak menjelajahi bagian dada Bunga. Keduanya semakin hanyut dalam permainan itu dan menghabiskan waktu bersama sebagai suami dan istri hingga pencapaian kenikmatan itu.
*******
Bunga menutupi tubuh polos tanpa sehelai benang dengan selimut. Hanya terlihat wajahnya saja, Jasson pun menatap Bunga. Keduanya terlihat sangat lelah, nafas masih ter-enga
Ia hanya mengucapkan itu setelah selesai bermain dengan kekasihnya, Jasson menatap Bunga dengan mata yang teduh.
Bunga merasa begitu nyaman dengan suaminya, begitu juga dengan Jasson yang merasa nyaman tanpa ada yang mengganjal atau karena terpaksa.
Mungkin, karena sekarang Jasson selalu mengerjakan apapun dengan hati. Bukan karena terpaksa.
Jasson memeluk Bunga, hingga keduanya tertidur dengan lelap.
Bunga berharap, jika kebahagiaan mereka akan selamanya.
Sementara itu ponsel Jasson terus saja bunyi, Bunga membangunkan suaminya namun Jasson tidak perduli "Sudah biarkan saja! Lebih baik kita tidur," gumamnya dengan lembut, matanya masih terpejam memeluk Bunga dengan erat di dalam dekapannya
"Jasson, ponsel mu terus saja berbunyi. Biar aku yang angkat,"
"Sudah biarkan saja, kita tidur saja lebih baik. Jangan di hiraukan oke?" Jasson semakin memperdalam pelukannya kepada Bunga. Bunga pun hanya bisa menuruti ucapan suaminya, ia pun kembali memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Jasson tahu yang menghubunginya tidak lain pasti kekasihnya Ade, namun Jasson lebih memilih tidur dengan memeluk istrinya daripada mengangkat telepon.
Jasson takut, jika Bunga sering merasa sakit di kepalanya itu akan berakibat fatal seperti yang dokter katakan.
Ia tidak mau Bunga menderita lagi.
******
Di sisi lain, Salvira masih merasa bersalah "Saya bersalah, saya meminta kalian untuk menjaga anak saya. Namun saya sendiri yang membuat anak saya sakit," Ibu mana yang hatinya tak hancur melihat kondisi anaknya yang seperti itu
"Sudah mbak, jangan bersedih. Maafkan anak saya, Jasson ya mbak. Jika Jasson tidak mengatakan hal yang kasar kepada Mbak, mungkin sekarang mbak enggak akan sesedih ini."
Laras menenangkan besannya namun Salvira mengatakan jika ia tidak sedih karena ucapan Jasson. Ia justru sedih, karena dirinya yang sudah membuat anaknya kembali merasakan sakit
"Saya tidak merasa sakit hati dengan ucapan anak kita Jasson, namun saya sedih. Mengapa saya ceroboh dan membuat anak saya merasa sakit seperti itu,"
"Itu semua bukan kesalahan mbak kok! Sudah mbak, yang terpenting saat ini adalah Bunga tidak apa-apa!"
Salvira mengangguk, ia pun berharap jika ucapannya tadi tidak menganggu kesehatan anaknya, Bunga.
*******
Ara masih tidak bergeming dari duduknya, sedangkan Gerry menatap Ara yang sedang menikmati makanannya "Anda harus tetap sehat nona, jangan karena pekerjaan anda melupakan kesehatan anda."
"Melupakan kesehatan apa? Kamu jangan asal bicara deh! Males aku!"
Ara terlihat sangat kesal dengan Gerry, namun pria itu tidak perduli. Saat Ara makan, ia membereskan semua pekerjaan yang tinggal sedikit
"Mengapa nona merombak ini semua?"
"Terserah aku! Ini kan sekarang menjadi ruangan aku!"
Gerry pun diam, menyerah menghadapi wanita yang ada dihadapannya.
"Gerry!" Ara tiba-tiba saja memanggilnya, Gerry pun menoleh "Ya?"
"Aku ingin sekali minum es, pasti rasanya nikmat dan segar!"
"Ya sudah, beli saja!"
__ADS_1
Mata Ara terbelalak mendengar ucapan lelaki itu "Aku meminta kau untuk membelikannya!" Ia pun langsung mengatakan itu dengan nada yang sedikit tinggi.
"Oh, tapi itu bukan pekerjaan saya!"