
"Terimakasih kau sudah begitu perhatian dengan ku, dan kapan mami akan kembali?"
Bunga bertanya kepada sahabatnya, padahal ibunya baru saja berangkat "Aku tidak tahu Bunga! Apa kau ingin mami pulang?"
Bunga pun menggeleng"Lebih baik jangan! Aku enggak mau mami kepikiran dengan ku, biar kan mami selesaikan masalahnya dulu setelah itu baru aku akan bicara dengan mami!"
Bunga terlihat lebih tenang sekarang "Bunga, kamu enggak apa-apa?"
Ara khawatir dengan sahabatnya, Bunga pun mengatakan jika dirinya baik-baik aja "Langkah apa yang akan kau ambil sekarang?"
"Apalagi? Perceraian lah! Aku tidak ingin tinggal bersama pengkhianat sepertinya, Ara!" Mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Jasson membuat Bunga terluka.
Ia tidak menyangka jika Jasson bisa melakukan ini "Bunga, kau jangan marah kepadanya. Kau marah seperti ini, karena kau tidak mengingat apapun, namun saat ingatan mu kembali pulih. Kau pasti tidak kaget mendengar berita ini!"
Ara mengatakan itu karena ia yakin jika Bunga akan ikhlas dengan pernikahan Jasson, saat ini sahabatnya tidak bisa terima karena Bunga sedang mengalami amnesia
"Kau tahu Ara, aku tidak mengingat apapun. Namun kejadian ini sungguh membuat ku terluka, hati ku merasa sakit! Apa salah ku kepadanya? Kurang apa aku kepadanya sehingga ia tega mengkhianati aku dan menikah dengan wanita lain saat kondisi ku seperti ini?"
Ara terdiam sejenak, pandangannya lurus ke depan dengan begitu kosong "Mungkin saja ia kurang bersyukur!"
Hanya itu yang bisa Ara jawab, karena memang sahabatnya Bunga tidak ada duanya terutama tentang ketulusan
********
Ade dan Jasson menyusun barang-barangnya. Terlihat Jasson sangat sedih, Ade bisa melihat kesedihan di mata suaminya "Kau sedih Jasson?"
"Sudah lah! Aku tidak ingin membahas ini! Lebih baik cepat kemas barang-barang," jawabnya dengan ketus, Jasson tidak pernah ketus seperti ini padanya.
"Jasson, jika kau tidak ingin pergi dari sini. Biar aku saja!"
Jasson menatap Ade dengan kesal "Kau tidak dengar apa yang dia katakan tadi? Dia juga mengusir aku!"
Ade terdiam, ia tidak lagi membantah dan menyusun semua barangnya setelah selesai bergegas, mereka pun memutuskan pergi dari rumah. Jasson berpamitan kepada mama dan papanya terlebih dahulu.
Terlihat David yang duduk lemas di ujung tempat tidur "Pa," panggilnya pelan, David menatap anaknya dengan sorotan mata yang penuh kecewa "Kamu sudah membuat keluarga kita malu Jasson! Kamu tidak hanya mengkhianati istri mu namun juga mengkhianati papa, papa tidak menyangka anak yang selama ini papa banggakan tega melakukan perbuatan hina seperti ini!"
"Pa tenangkan diri papa!" Laras meminta suaminya untuk tenang, David menatap istrinya "Mama juga, papa enggak percaya. Karena cinta buta mama kepada anak ini! Mama menutupi semua kebusukannya! Mama mendiamkan segala perbuatannya! Apa yang ada di pikiran mama saat ini? Apa ma?"
"Maafkan mama, Pa! Tapi mama juga tidak tahu harus apa. Mama juga tidak rela Jasson menikah dengan wanita murahan ini, namun saat ini dia sedang mengandung anak Jasson!"
Ade kembali lagi di hina oleh ibu mertuanya namun kali ini, Jasson hanya diam! Tidak mengatakan satu kata pun "Jasson sekarang kamu minta maaf dengan istri mu, Bunga! Sana!" Laras meminta anaknya untuk meminta maaf namun Jasson menolak
"Tidak ma! Percuma Jasson meminta maaf kepadanya, dia pasti tidak akan memaafkan Jasson! Lebih baik Jasson pergi saja, Jasson enggak mau membuatnya semakin histeris dengan melihat Jasson ma!"
__ADS_1
"Iya, lebih baik sekarang kamu pergi. Bawa istri dan anak tidak sah mu dari sini!"
David pun menghina Ade, ia memang tidak akan menganggap Ade sebagai menantunya..Ade pun menangis, mengapa kedua mertuanya begitu menganggap ia terhina?
Ia tidak masalah jika hanya dirinya yang di hina, namun anaknya yang tidak tahu apa-apa pun ikut di hina "Om, Tante! Cukup! Kalian bisa menghina saja sepuas kalian tapi tolong jangan hina anak saya. Apakah kalian merasa jika anak kalian suci? Jika saya hina,.lalu apa yang pantas untuk anak kalian? Menghamili wanita lain di saat sudah punya istri. Apa? Bisa kalian jelaskan? Mengapa di saat semuanya sudah terjadi, kalian hanya menyalahkan saya? Saya capek selalu diam mendengar hinaan yang selalu kalian lontarkan!"
"Ade, diam lah!"
"Kau yang diam Jasson! Mengapa saat kedua orang tua mu menghina aku, kau hanya diam. Dan saat aku membela diri ku, bukan diri ku! Tapi anak kita kau meminta ku diam? Apa orang tua mu lebih berharga daripada anak ini? Iya? Jika iya, kau tinggalkan saja aku! Aku bisa mengurus anak ku sendiri! Anak ku tidak butuh ayah pengecut seperti mu!" Ade mengatakan itu dengan nada yang berat, dadanya terasa sesak.
Di sini bukan hanya Bunga yang tersakiti, namun juga dirinya. "Bukan hanya Bunga saja yang terluka, saya juga! Apa kalian memahami penderitaan saya? Tidak! Bertahun-tahun saya dengan Jasson lalu tiba-tiba kekasih saya menikah dengan wanita lain karena ayahnya sakit dan mengalami kebangkrutan, saya sudah coba memahaminya, dan sekarang. Kalian menyalahkan saya setelah pengorbanan yang saya berikan kepada kalian? Dan kau Jasson! Aku tidak menyangka ternyata kau seorang pengecut!"
Ade berteriak kesal kepada suaminya, emosinya meledak-ledak. "Sudah lah, sebaiknya Jasson pergi sekarang. Jasson enggak mau lagi ada keributan di rumah ini, Jasson pamit ma, pa!"
Saat Jasson ingin pergi, Bunga memanggilnya "Tunggu!" Mereka pun menghentikan langkah. Jasson menoleh ke arah Bunga, ia mengira jika istrinya memaafkannya "Sayang, aku tahu kau pasti akan memaafkan aku?"
"Cih!" Umpat Bunga ia bahkan tidak mau menoleh ke arah suaminya itu "Mobil yang kau gunakan sekarang itu, kau beli menggunakan uang ku. Dan juga kartu kredit mu! Perusahaan yang membayarnya. Dan itu perusahaan ku! Aku harap kau tahu diri untuk meninggalkan semuanya. Ponsel, kartu kredit, kartu ATM dan juga kunci mobil! Karena itu punya ku!"
Jasson pun mengeluarkan dompetnya dari saku, ia juga memberikan kunci mobil kepada Bunga. Saat ini dirinya tidak memiliki apapun "Anda dan selingkuhan anda bisa pergi sekarang!" Setelah mengambil fasilitas Jasson, Bunga pun kembali ke kamarnya.
Laras tidak tega dengan anaknya, ia ingin memberikan sejumlah uang untuk pegangan Jassin namun David melarang "Yang di katakan Bunga itu benar. Ia sudah mengambil keputusan sebesar ini, biarkan ia hidup mandiri tanpa bantuan siapapun! Jangan berikan uang itu kepadanya ma, lagipula uang mama juga Bunga yang memberikannya setiap Bulan. Jika Bunga saja tidak ingin uangnya di gunakan oleh Jasson kita jangan lancang menggunakan uang menantu kita!"
Laras pun terdiam, tidak bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa berdoa agar anaknya bisa hidup layak di luar sana walau dirinya merasa tidak yakin.
Jasson mengajak Ade untuk pergi dari rumah itu, Ade pun ikut dengan suaminya "Kau jangan khawatir Jasson! Aku masih memiliki tabungan! Itu akan cukup untuk hidup kita beberapa bulan kedepan, jika perlu aku akan menjual barang-barang branded ku agar bisa memenuhi kebutuhan kita,"
Jasson bingung. Ia harus pergi kemana di saat seperti ini? Uang juga ia tidak punya sama sekali "Kita akan ke rumah ku! Kita akan tinggal di saja, ya memang rumah ku tidak sebesar rumah istri pertama mu namun masih layak untuk kita tempati,"
Jasson pun mengangguk, ia merasa menjadi suami yang tidak berguna. Saat bersama Bunga, ia menumpang hidup dengan Bunga dan sekarang ia menumpang hidup dengan istri keduanya "Aku akan mencari pekerjaan secepat mungkin, Ade! Aku janji kepada mu, kesulitan ini tidak akan berlangsung lama,"
Ade tersenyum, ia percaya dengan ucapan Jasson lagipula Ade tahu jika Jasson tidak akan membiarkan ia dan anak yang ia kandung Hidup susah.
*****
"Yang kamu lakukan itu sudah tepat Bunga! Jasson pantas mendapat itu dari mu, selama ini ia menghabiskan uang mu demi pelakor itu, dan kau sudah mengambil segalanya. Kau sudah tepat!" Ara senang, karena setidaknya sekarang sahabatnya lebih menggunakan akal sehatnya daripada hati. Karena ia tahu, Bunga yang dulu, tidak akan melakukan ini.
Bunga yang dulu jauh lebih bersabar dan pasrah sehingga Jasson dengan seenaknya saja menyakiti hatinya.
Bunga menatap lantai dengan tatapan yang kosong "Aku melakukan ini karena aku tidak rela, Jasson memakai harta ku untuk wanita itu! Jika ia ingin selingkuh, dia harus bisa berusaha sendiri mencari uang.. jika dia menggunakan uang ku, sama saja aku yang menghidupi istri keduanya!"
"Iya Bunga! Apa yang kau katakan memang benar! Itu akan membuat Jasson dan pelakor itu tidak akan menyadari kesalahannya! Bahkan mereka akan berfoya-foya hidup di hotel. Card kredit yang kau berikan itu kan unlimited!"
Bunga masih tidak paham, kesalahannya di mana hingga suaminya tega menikah lagi dengan wanita lain. Walau tidak di ukur dari materi namun Bunga begitu tulus mencintai Jasson.
__ADS_1
Bunga meminta kepada Ara untuk mempersiapkan surat cerai! "Tidak bisa Bunga! Kau tahu, agama kita melarang perceraian apalagi saat kau mengandung seperti ini!"
Bunga terdiam, "Baik lah, aku akan bercerai dengannya setelah anak ini lahir. Jamin aku tidak ingin satu rumah atau bertemu lagi dengannya!" Ujar Bunga dengan perasan yang masih kecewa begitu dalam.
Namun satu hal yang Ara tidak mengerti, mengapa Bunga membiarkan mertuanya tetap tinggal dengannya?
"Bunga, mengapa kau tetap mengizinkan mertua mu tinggal di sini? Jika akhirnya kau akan bercerai dengan Jasson?"
"Kau tahu Ara, papa mertua ku sedang sakit dan membutuhkan perawatan yang khusus. Biayanya juga tidak murah, jika papa keluar dari rumah ini aku takut papa tidak akan melanjutkan pengobatannya karena mahal..namun jika papa tetap di sini, papa akan tetap melanjutkan pengobatannya, lagipula. Yang salah di sini Jasson, bukan orang tuanya. Tidak mungkin aku menyalahkan orang yang tidak bersalah!"
"Kau memang benar Bunga! Apalagi kita tahu jika om David itu memang baik, dia orang yang sangat baik!"
"Iya papa mertua ku memang baik, dan aku tidak bisa menyalahkannya atas apa yang telah di perbuat oleh anaknya Jasson!"
"Dan setelah anak ini lahir, aku akan memberikan anak ini kepada kedua orang tuanya Jason."
Ara terkejut mendengar ucapan Bunga "Maksud mu? Kau tidak ingin merawat anak ini? Namun kenapa Bunga? Kasihan anak mu!"
"Kau jangan khawatir Ara, aku yang akan merawatnya namun nenek dan kakeknya juga berhak atas cucunya. Jika mereka ingin merawat cucu mereka aku tidak akan melarangnya!"
Ara bernafas dengan lega, ia mengira jika sahabatnya itu akan memberikan anaknya nanti kepada keluarga Jasson karena merasa sakit hati. Jadinya ia tidak mau mengurus anak itu "Jika kau tidak mau mengurus anak itu, aku saja yang mengurusnya tapi kau jangan berikan dia dengan bapaknya!"
Bunga terkekeh kecil, bagaimana bisa Ara berpikiran seperti itu? "Tidak Ara aku tidak segila itu!"
"Mana tahu kau merasa marah dengan bapaknya, jadi enggak mau mengurus anaknya!" Bunga menggeleng "Tidak Ara! Ini adalah anak ku, dan aku yang akan merawatnya bahkan aku tidak membutuhkan Jasson merawat anak ku! Dia juga memiliki anak lain nantinya dari wanita itu. Jadi tidak ada lagi yang harus aku pikirkan! Dan aku tahu, jika Jasson pasti akan lebih menyayangi anak wanita itu, daripada anak yang aku kandung! Tapi enggak apa-apa ya sayang? Masih ada mama, ada Tante Ara, ada Oma, Ada nenek dan kakek yang sayang sama kamu!"
Bunga membelai perutnya yang masih sangat rata itu, ia sudah bisa merasakan keibuannya kepada sang anak yang belum lahir.
Ara tersenyum melihat Bunga yang kembali mekar dan cerita, ia mengira jika Bunga akan layu mengetahui kabar itu, namun tidak! Bunga lebih bersemangat, mungkin karena anak yang ia kandung!
"Aku tidak ingin karena orang lain. Kesehatan anak ku jadi berpengaruh Ara! Anak ku harus tetap sehat hingga ia ke dunia ini! Aku akan memberikan yang terbaik untuknya!"
******
Laras mengkhawatirkan anaknya namun ia tidak berani mengatakan apapun kepada suaminya "Anak ku Jasson, kemana kamu pergi sayang? Tanpa membawa uang? Dan juga mobil?" Batinnya. David paham jika istrinya itu memikirkan anak mereka
"Mama jangan mengkhawatirkan anak itu! Biarkan dia menjalani kehidupannya! Lagipula, itu langkah yang ia ambil kan ma? Biarkan saja. Menantu kita benar, selama ini Jasson bukan hanya Jasson namun juga kita menikmati fasilitas yang mewah dari Bunga dan maminya..namun apa yang di lakukan anak kita? Ia justru menyakiti hati orang yang sudah memberikannya kehidupan baru!"
"Pa, mama tahu kalau Jasson itu salah! Namun papa juga harus tahu, kebahagiaan itu enggak di ukur dengan uang saja! Materi saja, mungkin Jasson lebih bahagia dengan Ade kita juga enggak bisa menyalahkan anak kita pa! Dan papa dengan sendiri tadi, jika hubungan Ade dengan Jasson sudah lama. Jasson juga menikah dengan Bunga itu terpaksa, karena papa harus di rawat dan membutuhkan pertolongan khusus dari medis!"
"Jadi semua ini karena papa ma? Papa yang akan bertanggung jawan dengan semuanya!"
"Bukan begitu maksud mama pa! Ini juga bukan kesalahan papa!" Laras bingung harus menjelaskan bagaimana lagi dengan suaminya. Suaminya selalu salah paham, dan lebih sensitif akhir-akhir ini "Iya ma, mama benar! Ini semua kesalahan papa. Andai saja papa bisa mengurus bisnis dengan baik, Kita enggak akan bangkrut dan andai papa tidak sakit. Mungkin Jasson tidak akan melakukan pengorbanan sebesar ini, dan jika mereka tidak menikah. Bunga tidak akan di khianati seperti ini,"
__ADS_1
"Pa bukan begitu maksud mama! Papa jangan menyalahkan diri papa seperti itu dong!"
David tersenyum kecut, karena memang dirinya lah yang bersalah. Ia yang bertanggung jawab atas perbuatan anak dan istrinya